
"Hei gengs gue ngga salah liat ini? Buahahhahahaa,," ucap Haidar terpingkal di tempat tidurnya. Vito yang sedari tadi asyik bermain game dan Rendra sibuk berchat ria dengan Moya saling menoleh satu sama lain lantas beranjak menuju Haidar yang masih terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.
"Eeehh huahahahhahahaa si Gavin lucu banget sih " ujar Rendra setelah melihat tayangan vidio amatir yang di up di yutub.
"Eh tapi kok ini ada si Mahendra ada Teressia juga guys, terus ini sikonnya kayak ada kebakaran" ucap Vito setelah melihat keseluruhan dari unggahan Vidio tersebut. Haidar segera mengambil remote Tivinya lantas menyalakan Tivi tersebut.
Mereka bertiga saling menatap satu sama lain, begitu melihat tayangan berita yang tengah menyiarkan tentang kebakaran di hotel Mulia tadi malam.
Rendra mengambil ponselnya kemudian menghubungi Nayuwan.
"Hallo Assalamualakum" seseorang yang bukan suara Nayuwan mengangkat telepon Nayuwan.
"Hallo waalaikumsalam, Maaf Nayuwannya kemana ya." Rendra berbasa basi.
"Oh kalo jam segini Mommy masih jogging Om, 15 menit lagi baru pulang"
"Ah, kalo begitu nanti minta tolong Mommy mu segera menghubungi Om ya"
"Baik Om nanti Alea sampein sama Mommy"
"Terima kasih de"
"Sama-sama Om" kemudian Rendra menutup sambungan teleponnya. Rendra menatap pada dua sahabatnya tanpa banyak bicara mereka segera menuju ke kediaman Gavin, selain penasaran sudah sejauh mana hubungan antara Gavin dan Nayuwan, mereka juga penasaran kenapa mereka bisa bersama dengan Mahendra.
"Tid tid" seorang satpam bergegas membuka gerbang, lantas menyilahkan Rendra memasuki halaman dengan sopan,
"Pak, Gavin ada di rumah?" tanya Vito dari dalam mobil.
"Ada den, beliau tadi sedang olahraga" jawab pak Min satpam yang bertugas pagi itu.
" Oh ok lah Pak, makasih ya pak" ucap Vito seraya menutup kembali kaca pintu mobil Rendra. Begitu turun dari Mobil mereka segera bergegas menuju bagian teras samping Gavin di mana Gavin sedang berenang ternyata.
"Ooy Vin pagi-pagi udah ngelamun aja berubah jadi dugong baru tau rasa lo" teriak Haidar saat melihat Gavin yang sedang melamun menyandarkan tubuhnya serta merentangkan bahunya di dalam dinding kolam renang. Gavin menanggapinya dengan datar tanpa menyahuti gurauan Haidar.
__ADS_1
"Hai bro, napa lu, pagi-pagi kusut amat?" tanya Rendra sembari menepuk punggung Gavin.
"Pck! Berisik kalian" ujar Gavin ketus.
"Wuahh.. kenapa nih Mr. Presdir kita? Lagi dateng bulan ya?" celetuk Vito berdiri santai dengan tangan melipat berdiri di pinggir kolam.
"Pck ! Gue lagi mikirin semalem itu gimana Nayuwan bisa keluar dari aula yang kebarakan tanpa lecet sedikitpun sedang Mahendra terluka cukup parah di bagian kakinya" ungkap Gavin menatap kosong ke arah riak kolam renang.
"Lah bukan bagus dong, bokin lu kagak ada lecet, ini kok malah kayak ngga seneng gitu" ujar Haidar heran dengan pemikiran Gavin.
" Ngomong-ngomong kok lo bisa ada di sana tumben-tumbenan juga lo mau hadir dijamuannya si Mahendra itu?" ujar Rendra langsung menodong ke pertanyaan inti.
"Gue ke sana nemenin si Nayuwan, kalo bukan karena bini gue mana mau gue ke sana" ujar Gavin nampak acuh saat menjawab pertanyaan Rendra, yang makin membuat ketiga sahabatnya makin mengerutkan dahinya.
"Emang lo beneran udah jadian sama si Nayuwan" Vito jadi penasaran.
"Hmmm"
" Gue malah udah ngelamar si Nayuwan, cuma ya itu si Nayuwan belum kasih gue jawaban pasti katanya gue mesti datang sama keluarga gue ke rumahnya dia dulu dengan resmi baru dia jawab lamaran gue waktu di Korea"
"Eh buset, udah maen lamar aja, bukan maen Mr. Presdir kita ini." ungkap Haidar menggelengkan kepalanya tak menyangka Gavin sudah seserius itu sampai melamar perempuan yang selama ini selalu berdebat dengannya dalam hal apapun pasti terjadi perselisihan. Gavin diam saja tak banyak menanggapi ocehan Haidar.
"Terus soal berita kebakaran itu gimana ceritanya?" selidik Vito. Gavin melonjak keluar dari kolam renang lantas meminum jus jeruk yang sudah tersedia di gazebo di pelataran kolam renang, lalu mulai menceritakan apa yang ia alami.
"Jadi intinya lu ngga bener-bener tau gimana kejadian pas kebaran itu?" Vito nampak seolah sedang memikirkan sesuatu yang memang terasa janggal.
"Tapi apa lu semua pernah denger kalo keluarga si Mahendra itu memiliki semacam pesugihan gitu, makanya bukan rahasia umum lagi kalo tiap ada perjamuan makan malam kayak tadi malam nanti beberapa minggu kemudian pasti ada kabar meninggal dari salah satu tamunya itu" ucap Haidar memaparkan gossip yang memang sudah menjadi rahasia umum di kalangan pebisnis mengenai keluarga Mahendra yang "katanya" menganut ajaran tertentu yang selalu minta tumbal pada waktu-waktu tertentu.
"Gue sih lebih percaya kalo mereka itu berafiliasi dengan mafia, kalo dengan hal semacam kelenik begitu .. apa iya jaman sekarang orang masih ada yang percaya sama pesugihan?" ucap Rendra.
"Ngomong-ngomong asisten lu kemana? Biasanya standby 24 jam udah kayak bayangan?" ujar Haidar sembari mencari keberadaan Satria.
"Ada, gue tadi suruh beli ketoprak di depan" jawab Gavin nampak acuh.
__ADS_1
"Hahh? Sejak kapan lu jadi suka ketoprak pinggir jalan?"lece Haidar.
"Dari dulu juga gue suka lunya aja hobi ngajak gue ke tongkrongan yang hype" jawab Gavin.
Tak lama kemudian Satria datang dengan membawa pesanan bossnya, ketoprak dengan pedas level 5 buah cabe rawit lengkap dengan toping kerupuk udang.
"Wah panjang umur nih bocah," sambut Vito, Satria hanya merengut mendapat sambutan dari para sahabatnya Gavin.
"Kenapa pak? Bapak mau saya belikan ketoprak juga? atau mau sate padang? ada kok pak di depan ujubg jalan lengkap" ujar Satria polos.
"Ngga kita udah sarapan kok, sini sini duduk sini" ajak Vito menarik Satria agar duduk di sampingnya, lantas ia merangkul bahu Satria yang terlihat sedikit canggung agar lebih santai, meski mereka satu angkatan di univesitas yang namun tetap saja terkadang Satria merasa sungkan.
"Sat, lu kan pas kemaren itu ikut kan ke acara jamuannya si Mahendra, nah kira-kira selama perjamuan itu ada yang janggal ngga?" Haidar mulai mengintrogasinya.
"Hmm..." Satria menegakan tubuhnya kemudian bersedekap melipat tangannya di depan d**anya yang bidang, satu tangannya menyentuh bibirnya nampak sekali ia sedang mengingat kejadian malam itu.
"Ssshht, seingat saya semua berjalan normal pak, tapu sejujurnya ada hal yang memang menggangu pikiran saya" ucap Satria terkihat serius, Gavin yang sedari ketopraknya tersaji tak begitu memperhatikan obroal mereka nampak ikut menyimak.
"Apa? " Rendra makin penasaran.
"Entahlah,, tapi ucapan Gina sebelum terjadi insiden itu tetap membuat saya sedikit cocokologi dengan peristiwa kebakaran di hotel Mulia itu"
"Memang si Gina bilang apa?" Gavin kini ikut penasaran.
" Gina sempat nanya ke saya "Bang, kamu percaya hal Gaib ngga?" gitu katanya, " wajah semua orang berubah makin penasaran.
"Oiya pak, bapak ingat pas kita mau sampe ibu Nayuwan kan kaya orang yang sakit, tapi begitu sampai di area hotel ibu Nayuwan terlihat baik-baik saja" lanjut Satria, penuturan Satria membuat Gavin mengingat kejadian tadi malam saat akan turun dari mobil Nayuwan seperti terkena serangan panik begitu sampai di area Hotel dan seingatnya juga Nayuwan malam itu memang terlihat lebih pucat dari biasanya.
*********
sarangheo
*******
__ADS_1