
Beberapa hari menjelang hari H
Semuanya orang nampak sibuk dengan tugasnya masing-masing, Nayuwan pun tidak segan membantu crew dekorasi yang sedang mengubah wajah tanah lapang yang biasa warga sekitar untuk bermain bola atau upacara bendera 17an menjadi venue acara ulang tahun putrinya, Alea.
Nayuwan sengaja memilih tempat tersebut agar tendanya di esok hari bisa langsung di pakai untuk acara bakti sosial, sunatan masal, serta tabligh akbar di penutupan acaranya.
Meski pada awalnya ia mendapat pertentangan dari Gavin dengan alasan, mereka mengundang cukup banyak rekan bisnis, namun sekali Nayuwan menekankan ini adalah pesta ulangtahun putrinya, yang sebenarnya ia sendiri enggan mengundang banyak relasi bisnis karena memang kurang berkepentingan.
Nayuwan menolak mentah-mentah usulan Gavin untuk diadakan di hotel saja yang bisa menampung ribuan undangan, tapi Nayuwan menolaknya, ia tetap bersikeras ingin acaranya ada di dekat lingkungan rumah ibunya saja, selain akan lebih hemat waktu, juga bisa bisa menjadi hiburan para warga sekitar. Gavin akhirnya menyerah dengan usulannya untuk mengadakan pesta megah di hotel biar bagaimana Nayuwan benar, inu adalah ulangtahun Alea yang tentu saja acara yang lebih dikhususkan untuk keluarga dan teman-teman Alea yang jadi prioritas. Kemudian menyuruh Satria untuk menyuruh beberapa vendor EO untuk membuat venue di tanah kosong yang biasa digunakan warga sekitar.
Petang menjelang hiruk pikuk di sekitar venue yang sudah seluruhnya berdiri dengan kokoh. Lampu-lampu hiasan dan beberapa ornamen dekorasi sudah seperti bunga-bunga segar beberapa kursi dan meja sudah 80% tertepasang dengan indah menampilkan pemandangan yang cukup cantik yang tentu saja menarik banyak perhatian warga sekitar, yang pastinya mengundang para pedagang keliling untuk mencoba peruntungan di sana. Melihat hal itu Nayuwan menyuruh beberapa orang dari EO untuk menyedikan dan mengatur tempat untuk para pedang agar bisa berjualan dengan nyaman namun tetap kondusif mengingat di pesta nanti akan hadir beberapa rekan bisnis yang di undang oleh Gavin, yang pastinya hal itu disambut baik oleh para pedang tersebut.
Nayuwan tersenyum dari kejauhan suasana hangat menyelimuti tempat tersebut padahal acaranya baru akan di mulai esok lusa,
"Liat apa?" suara bariton Gavin sedikit mengejutkan Nayuwan yang memang tengah memperhatikan kegiatan para warga dan para pedagang yang tiba-tiba saja sudah mengubah venue menjadi pasar dadakan, namun begitu Nayuwan tidak khawatir, para warga cukup tertib dengan tidak melewati garis pembatas yang di buat EO, pembatas itu tetap diperlukan karena mereka harus menyelesaikan pekerjaan mereka paling lambat hingga jam 4 sore, sebelum orang-orang catering datang untuk menata makanan di meja yang nanti mereka sediakan.
"Liat mereka, ngga keliatan emang?"
"Ya liat, cuma kirain kamu lagi senyum-senyum sama abang tukang cilor itu,"oceh Gavin yang tanpa sengaja mendapati seorang pedagang cirol yang cukup mencolok karena penampilannya yang cukup rapi, postur tubuh tinggi serta wajah yang cukup manis, mungkin itu penyebab dagangan dari tadi terus menerus dikerubuti para anak gadis.
"Hah? Yang mana?" cicit Nayuwan sembari mencari sosok yang dimaksudkan Gavin, tidak butuh waktu lama untuk menmukan orang yang dimaksud.
"Ya udah kalo ngga liat ngga usah di cari" ketus Gavin. Sekilas melirik pada Gavin yang nampak gusar timbul dalam pikirannya umtuk mnegerjai Gavin.
"Kesana yuk, kita harus cobain juga" seru Nayuwan seraya menarik tangan Gavin. Hingga membuat Gina dan Satria harus makan sambil setengah berlari sempolan yang baru siap mereka pesan.
"Seporsinya berapa bang?" tanya Nayuwan sembari melihat-lihat dagangan si abang yang ternyata menjual menu lain selain cilor. Masih ada basreng mekar, bakso yang di goreng namun di iris menyerupai bunga yang sedang mekar, ada juga papeda gulung, serta telur gulung.
__ADS_1
Untuk sesaat pemuda itu menatap Nayuwan tanpa berkedip, maklum saja meski Nayuwan sudah berusia hampir 38tahun namun tetap terlihat cantik dan muda.
"Bang istri saya nanya seporsinya berapa? malah bengong." ujar Gavin mulai terpancing cemburu.
"Ah iya maaf Pak. " jawab pemuda itu merasa tidak enak hati, sedang Nayuwan berusaha menahan tawanya.
"Untuk cilor gulung, telur gulung, dan papeda seribuan aja pak pertusuknya. Sedang bakso mekarnya tiga ribuan, berbedamungkin karena ukurannya yang memang sedang untuk ukuran bakso.
"Kalo begitu tolong buatkan saya masing-masing dua puluh ribu seporsinya"ucap Nayuwan sembari tersenyum pada pemuda itu, dan lagi-lagi pemuda itu dibuat melongo yang tentunya saja langsung mendapat teguran yang sengaja berdehem cukup keras. Si pemuda itu kembali tersadar dan segera mengerjakan pesanan Nayuwan,
"Ah baik bu, sebentar kami buatkan dulu," ucap pemuda itu sungkan. Namun sebelum ia mengerjakan langsung pesanan Nayuwan ia nampak pergi ke belakang dulu seperti mencari sesuatu. Tidak lama kemudian dia membawa dua buah kursi plastik untuk Nayuwan dan Gavin duduk sementara menunggu pesanannya siap. mengingat pesanan Nayuwan cukup memakan waktu pastinya.
Dengan di bantu seorang temannya ia nampak begitu cekatan dalam membuat pesanan Nayuwan.
"Bang itu yang udah jadi ngga apa-apa angetin lagi aja, kasian yang lain nanti numggu lama" mendengar hal itu si pemuda segera menghangatkan kembali beberapa tusuk cilor dan menambahkan sedikit adonan lagi pada setiap tusukan yang cilor dan telur gulung.
Nayuwan tersenyum melihat pemuda dan seorang temannya yang sedang sibuk mengerjakan pesanannya. Dia seakan bernostalgia saat dirinya dulu sering menemani Raka berjualan di peron kereta Bogor.
"Abang udah lama jualan jajanan kaya gini?" tanya Nayuwan sembari mengambil satu tusuk cilor yang sedang ditiriskan lalu mencelupkannya ke mug yang saus.
"Queen, panas itu" Gavin menegur Nayuwan seolah Nayuwan anaknya dan memberikan Nayuwan tissu untuk melapisan tusukan cilor.
"Hmm sudah mau 2 tahun bu, sejak saya kena PHK" jawab pemuda itu ramah.
"BGM bu,"
"Bintang Graha Multimedia?" kini Gavin ikut bertanya
"Iya pak, saya dulu kerja di sana, di bagian pemasaran divisi management informasi pemasaran."
"Alasan dipecat?"
"Saya tidak sengaja memergoki senior saya sedang nesum di kantor saat jam lembur. Besoknya saya dipecat hehhe" kenang pemuda itu.
"Lalu banting stir jualan sekarang keterusan, gitu?" sahut Nayuwan dengan nada ramah.
"Iya begitu lah bu. Al hamdulillah berkah jualan saya bisa bantu keluarga saya biar dapurnya tetap ngebul." seloroh pemuda itu.
"Iya lah harus gitu, biar suatu saat kalo abang sukses tetap jadi orang yang rendah hati karena tau prosesnya seperti apa" sahut Nayuwan. Berbeda dengan Gavin yang langsung mengisyarat pada Satria untuk mencari tahu siapa senior yang dimaksud pemuda itu. Karena ternyata BGM merupakan anak cabang asuhan VM Soft, yang itu artinya masih termasuk ke dalam FJC grup.
__ADS_1
Tengah asyik mengobrol itu tiba-tiba Alea dan Nadia datang ke tempat itu dan mengejutkan Nayuwan dan Gavin,
"Hayooo Om sama Mommy lagi mojok pacaran ya" kejut Alea menyergap Nayuwan dari belakang.
"Issh kamu ini bikin kaget aja!" omel Nayuwan.
"Makanya kalo pacaran itu ajak kita biar ngga dibikin kaget, iya kan teh" ucap Alea membela diri, yang diiyakan Nadia dengan anggukan.
"Kalo pacaran ajak kalian mah sama aja boong, bukan mesra berdua, malah jadi Tadika mesra dong" kata Gavin.
"Iih ya kali kita berdua ini Upin ipin" ucap Alea memutar bola matanya. Gavin mengekeh tanpa suara.
"Boleh deh, mau Ale pengen... Cilo..r . Mih ini yang jualannya?" tanya Alea sedikit tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Bukan, dia lagi bagi-bagi sembako,"ucap Nayuwan ngasal.
"Iiissshh Mommy ini." decih Alea.
"Napa naksir? Bang anak saya naksir nih, mau jadi mantu saya ga?" gurau Nayuwan menggoda putrinya, eh siapa sangka kedua bocah itu malah tersipu malu mendengar kelakar Nayuwan barusan.
"Ah ibu bisa aja." sahut si pemuda.
"Nama kamu siapa?" tanya Nayuwan sembari menyerahkan uang dua lembar seratus ribuan padanya.
"Patra bu, Patra Dewananda"
"Nama yang bagus. Kembaliannya buat kamu aja, lagian anak saya tukang jajan. Nah A, ini ada ibu yang bontot, namanya Alea. Titip ya" Ujar Nayuwan sembari beranjak dari tukang duduknya.
"Tuh, Le. udah Mommy titipin sama si Aa-nya. Dah ya Mommy mau lihat- lihat yang lain dulu."sambung Nayuwan.
"Mommy iissh bikin malu aja da" ucap Alea menggerutu pada Ibunya yang sudah mulai menjauh dari dari tempat itu. Nadia yang sejak tadi hanya menyimak tersenyum mengulum tawanya.
"Ini neng, cilornya" ucap Patra, Alea benar-benar dibuat kikuk dan salah tingkah oleh pemuda itu.
"Udah kenalan aja toh bunda udah kasih lampu ijo, jarang-jarang lho" goda Nadia
"Iiish teteh mah" kesah Alea pada Nadia yang ikut-ikutan menggodanya.
*********
__ADS_1
sarangheo..
***