Merpati Hitam

Merpati Hitam
Canggung


__ADS_3

Nayuwan membuang nafasnya terlebih dahulu.


"Ok, karena aku yang punya permintaan itu, aku bakal kasih kamu bonus, kamu boleh minta apa aja, tapi yang masuk akal, yang kira-kira bisa aku laksanain" ucap Nayuwan sembari mengulas senyum hangat agar Haidar tidak merajuk lagi kepadanya. Mendengar tawaran tersebut, terbitlah seringai jahil di sudut bibirnya. "Kesempatan gue buat bales dendam" gumannya dalam hati.


"Bener nih gue boleh minta apa aja?"tanya Haidar sekali lagi. Nayuwan mengangguk, untuk lebih meyakinkan Haidar.


"Gue minta, saat lo udah nikah sama Pak Presdir.." Haidar diam sesaat memasang wajah julid yang ditujukan kepada sang bigboss sekaligus sahabatnya itu,


"Lo jangan kasih masuk "burung" dia selama 2 bulan ke goa lu !!"spontan Gavin menoleh ke arah Haidar dengan tatapan seolah siap menerkam Haidar saat itu juga begitu mendengar kompensasi yang diinginkan Haidar. Sedang yang lainnya lagi-lagi semua orang seisi ruangan itu saling menoleh ke satu sama lain lantas terbahak-bahak lepas berjamaah, termasuk Yusuf yang kali ini tak lagi bisa menahan diri untuk tidak ikut tertawanya.


"Gimana ? Bisa ?" Haidar mendelik pada Nayuwan yang masih terkekeh sembari mengusap air matanya.


"Queen .." Gavin menggelengkan kepalanya.


"Udah Janji lho Yuwan" Haidar kali ini tak mau terintimidasi oleh Gavin.


"Hmhh.. karena kamu juga udah mau nurutin permintaan ku yang pastinya itu sangat menyiksa mengingat dirimu seorang PK, jadi..."


"Queen.. masa kamu tega sih sama aku" potong Gavin memasang wajah memelas pada Nayuwan.


"Mampus lho,," ujar Haidar merasa puas.


"Sayang, aku udah janji lho buat ngabulin apapun permintaannya dia, ngga apa-apa. Lagi pula banyak cara kok buat nyenengin suami tanpa harus masuk goa" ucap Nayuwan tersenyum licik pada Haidar.


"WHAT ???!!!" seketika Haidar dibuat menganga saat mendengar jawaban out of the box dari Nayuwan.


"Pak Haidar, cuma mau ngasih tau aja, si ibu itu udah punya dua orang anak, jadi kalo soal yang begitu mah udah pro dia mah" ujar Moya terkekeh melihat wajah cengo Haidar.


"Harusnya tadi mintanya setelah nikah jangan bersentuhan selama 2 bulan, fixx si Gavin merana tuh jadi penganten baru hahhaaa" ujar Rendra ikut menimpali.


"Anjrrott !! Bisa-bisanya gue lupa kalo si Nayuwan itu jendes" sesal Haidar sembari menepok jidak lantas mengacak-acak rambutnya dengan kesal.


"Udah ya, permintaan kamu udah aku sanggupin tuh. Sekarang kita balik dulu ke topik diskusi, apa masih ada yang mau kalian tanyain?" tanya Nayuwan sekaligus melerai kegaduhan. Semua menggeleng menandakan mereka sudah cukup faham dengan semua jawaban Nayuwan serta situasi urgent saat ini.


"Ok, kalo ngga ada, kita siap-siap pulang" namun tiba-tiba mengalir darah segar dari hidung Nayuwan.

__ADS_1


" Ibu dar*h bu !!" teriak Gina menunjuk Nayuwan yang belum sadar jika dirinya mimisan. Nayuwan dengan santainya melap dar*h itu dengan telapak tanganya begitu saja seolah bukan apa-apa.


Gavin menoleh pada perempuan disampingnya tengah berusaha membersihkan dar*h yang terus mengalir "Queen !!" pekik Gavin, segera mengambil sapu tangan dari saku celananya, kemudian menempelkannya dihidung Nayuwan sembari menengadahkan kepala Nayuwan. Semua orang menghampirinya dengan raut wajah cemas. "Aku ngga apa-apa" Nayuwan segera bangun dan kembali duduk bersila seperti semula.


"Are you sure? " Haidar terlebih panik


"hmmm," Nayuwan menganggukan kepalanya.


"Aku beneran ngga apa-apa" ucap Nayuwan.


"Ngga apa- apa gimana, darahnya masih ngalir gitu"


"Iya makanya ayo kita bersiap pul.." Nayuwan kini seolah ingin memuntahkan sesuatu.


"Yus, sudah berapa lama aku di sini?" tanya Nayuwan tiba-tiba.


"Hampir setengah hari Diajeng" jawab Yusuf. Nayuwan terdiam beberapa saat.


"Ini artinya, aku hanya bisa menggunakan sebagian dari energiku jika aku harus melawan makhluk itu" ucap Nayuwan dalam hati.


"Ya sudah kami pulang ya" pamit Nayuwan kepada kepada Yusuf, Yusuf pun dengan takzim membungkuk kepada Nayuwan teman-temannya, lantas di terima dengan sebuah anggukan.


Nayuwan menoleh pada Gavin yang memegangi kedua lengannya agar Nayuwan bisa berdiri. Perlahan tangan Nayuwan meraih handle pintu,


"Ceklek"


Nayuwan, Gavin dan lainnya kini sekarang berada di dalam sebuah mesjid.


"Baru pulang neng?" tanya seorang pria paruh baya.


"Iya mang"


"Ya sudah mamang mau ke belakang dulu, mau bersiap wudlu sebentar lagi adzan ashar."


"Oh ini baru mau ashar yang mang?" tanya Nayuwan

__ADS_1


"Iya neng, mari" pamit lelaki paruh baya itu lalu ngeloyor pergi melewati mereka. Meski masih belum terbiasa dan tetap merinding disko saatmelihat Nayuwan seolah bicara sendiri tapi mereka sudah mulai bisa berkompromi dengan pemandangan semacam itu.


"Ayo kita juga bersiap untuk sholat ashar," ajak Nayuwan, mereka hanya mengangguk sambil mengikuti Nayuwan tanpa banyak bertanya.


Suara Haidar menggema tatkala dirinya dipaksa menjadi imam sholat ashar sore itu. Siapa sangka suaranya akan mengalun semerdu itu. Setelah selesai melaksanakan sholat berjamaah, mereka pun saling bersalam-salaman. Tiba giliran Haidar dan Ardilla, suasana seketika berubah memjadi canggung.


Haidar nampak ragu untuk menyodorkan tangannya pada Dilla, begitupun Dilla nampak salah tingkah dihadapan Haidar. Manik matanya terus melirik ke sana kemari supaya tidak bersiborok dengan manik mata milik Haidar.


" Ish ish,, macam pengantin baru saja kalian ini, mau salaman aja banyak drama" ucap Satria dengan logat Medannya.


"Biarin aja bang, mungkin mereka emang lagi latihan" sahut Gina tertawa kecil, lebih tepatnya meledeki Haidar dan Dilla yang terjebak dalam suasana canggung.


"Iiish paan sih lu Gin?" hardik Dilla dengan mata sedikit melotot, namun kembali salah tingkah saat ia mendapati Haidar tengah memperhatikan dirinya, lantas bergegas keluar dari mesjid setelah mencium tangan Haidar yang ternyata ia juga sudah mematung canggung dihadapannya Ardilla.


"Eh Vit, kapan lo mau tunangan jadinya?"


Netra Reva spontan melirik pada Rendra dan Vito secara bergantian saat memakai sepatunya.


"Kayanya setelah beresin semua masalah si Mahendra dulu deh, lumayan lah ada jeda waktu lagi buat saling mengenal satu sama lain. Lagian ngga bakal konsen juga kalo masalah ini belum kelar" jelas Vito pada Rendra.


"Iya sih, lo bener" sahut Rendra menimpali.


"Eh kalian, lagi ngobrolin apa?" tegur Haidar tiba-tiba muncul dari belakang.


"Tadi gue nanyain kapan si Vito mau lamaran?" jawab Rendra


"ohh kirain apa? By the way.. kalian nyangka ngga sih kita bakal terlibat perkara seperti ini? Jujur otak gue rasanya mau meledak" Rendra dan Vito yang berjalan beriringan bersama Haidar saling melempar pandangan satu sama lain, lantas Rendra pun hanya menghendikan bahunya.


"Ya pasti lah soalnya ini awam banget buat kita mana pernah kita berurusan sama hal kelenik, ini juga kalo bukan karena si Mahendra ngundang si Nayuwan ke acara perjamuan malam itu ya pastinya ngga akan ada masalah sebesar ini, kita bantu doa dan ambil hikmahnya aja toh cuma itu yang bisa lakukan kan?" ucap Vito yang belakangan makin bijak tutur katanya.


*******


sarangheo.


********

__ADS_1


__ADS_2