
"Maaf aku ajak kalian ke sini" Nayuwan berdiri disamping mobilnya.
"Ngga apa-apa tempatnya bagus, nyaman, sejuk, hijau lagi, cocok buat pacaran" sahut Haidar cengengesan.
"Ayo ikuti aku" kata Nayuwan dengan wajah khasnya yang datar. Rendra dan Vito saling menoleh, entah kenapa begitu turun dari mobil mereka merasakan atmosfir yang berbeda, tempat ini terlalu sunyi, terlalu sepi, membuat bulu roma mereka terus merinding berdiri. Ditambah jalan yang mereka lewati kini hanyalah jalan setapak seperti tak berujung.
"Apapun yang kalian dengar, jangan ada yang menoleh ke belakang, dan jangan bertanya apapun sebelun kita sampai" mendengar ucapan Nayuwan yang kurang lazim, Moya segera bergegas menyusul Nayuwan dan memegang erat tangannya, Nayuwan menoleh pada Moya yang terlihat sedikit ketakutan.
"Tenanglah, ada aku mereka tidak akan berani menyentuhmu" ujar Nayuwan sembari menggenggam erat tangan Moya agar perempuan itu sedikit lebih tenang.
Semakin jauh mereka berjalan menyusuri jalan setapak itu makin terasa terasa pula tekanan dari tempat tersebut, bahkan Haidar sudah banjir keringat karena ketakutan.
"Ren, gue mending diajak berantem sama mafia dari pada diajak ke tempat yang nyeremin macam ini" kata Haidar dengan suara bergetar. Sebenarnya bukannya hanya Haidar yang merasakannya, tapi semua orang, terkecuali Nayuwan tentu saja. Bahkan Gavin tak bicara sepatah katapun sejak Nayuwan menyuruh untuk mengabaikan apapun yang mereka dengar.
Hampir 30 menit mereka berjalan, namun terasa sangat lama bagi mereka. Nayuwan menghentikan langkahnya tepat di depan dua buah batu besar, jika dilihat-lihat lagi ke dua batu itu lebih mirip dengan sebuah gerbang atau gapura. Nayuwan menoleh kebelakang memeriksa jika teman-temannya masih berjumlah sama seperti saat mereka berangkat tadi.
"Diajeng Ayu" sambut seorang pria terlihat sedikit membungkuk dengan takzim kepada Nayuwan. Tinggi badannya hampir sama dengan Haidar, kulitnya terliht bersih kuning langsat, wajahnya cukup tampan, sorot matanya tajam seperti elang.
"Hmmm" jawab Nayuwan mengangguk.
Begitu melewati 2 buah batu itu, semua orang terkecuali Nayuwan berekspresi terkejut sekaligus bingung, heran dengan pemandangan yang di depan mereka. Jelas-jelas mereka tadi tidak melihat bangunan apapun di tempat itu, namun kini mereka di sebuah pekarangan sebuah rumah tidak terlalu besar atau mewah, bangunan rumah itu terlihat sederhana, tidak aneh-aneh, terasa asri dengan tanaman dan pohon-pohon berukuran sedang tertata apik. Dan yang paling mengherankan segala perasaan yang menekan mereka selama perjalan tadi sirna hilang begitu saja,
"Beristirahatlah dulu, nanti setelah penat kalian benar-benar hilang baru kita bicarakan lagi, dan aku berusaha menjawab pertanyaan kalian semua yang sekarang sedang memenuhi isi otak kalian itu"ujar Nayuwan dengan wajah santai sambil bertolak pinggang, Gavin CS saling melempar pandangan satu sama lain. Tak ada satupun yang berani berbicara, mulut mereka seolah menjadi kelu karena terlalu banyak pertanyaan dalam pikiran mereka. Berbeda dengan Nayuwan Cs, meski sepanjang perjalanan mereka sama-sama merasa ketakutan tapi begitu mereka melewati 2 buah batu besar tadi mereka nampak sepertinya ini bukan kali pertama mereka ke sini.
__ADS_1
" Kenapa kamu?" Nayuwan mengulas senyum pada Haidar yang masih celingak celinguk bingung dengan tempat yang sedang mereka jejaki sekarang.
"Kita masih hidup kan, Yuwan?" tanyanya polos. Nayuwan kemudian mendekatinya lantas mencubit lengan Haidar sekuat mungkin.
"Aduh duh duhh duuh Nayuwan sakit eeh !" teriaknya sembari mengusap lengannya yang mulai memerah.
"Artinya kamu masih hidup." ucap Nayuwan sembari menempatkan bo**ngnya diatas busa bantalan kursi rotan.
Sedang yang lain masih melihat-lihat keadaan rumah yang di dominasi oleh kayu itu, sorot manik mata Gavin hanya tertuju pada lelaki yang terus berdiri di samping Nayuwan, ia perkirakan umurnya sepantaran dengan Nayuwan. Delikannya terus memperhatikan lelaki itu nampak masih muda dan tampan. Namun yang menjadi perhatiannya, sejak mereka tiba lelaki itu terua saja berada di samping Nayuwan.
Bebepa menit berlalu,
"Yus, apa benda-benda yang aku minta kemarin sudah kamu dapatkan?" tanya Nayuwan sembari meregangkan tubuhnya yang terasa kaku.
"Ok, apa kalian sudah merasa lebih baik?" mendengar pertanyaan itu Gavin Cs serta Nayuwan Cs yang tadi leyeh-leyeh di atas karpet segera bangun lantas duduk bersila di tempat yang mereka gunakan untuk bersantai. Tempat itu memang hening, sama sekali tidak terdengar kebisingan apapun memberi efek keheningan yang menenangkan, begitu nyaman dan damai.
"Jadi kalian mau tanya aku apa?" tanya Nayuwan beranjak dari kursi rotannya kemudian duduk bersila di samping Gavin diikuti oleh Yusuf duduk disebelahnya.
"Boleh aku tau siapa lelaki ini?" ekor mata Nayuwan mendelik pada Gavin yang tengah cemburu pada Yusuf yang terhalang oleh Nayuwan.
"Kenapa? Kamu cemburu?"
"Kalo iya kenapa? Lagi pula kalopun aku cemburu juga wajar kok" ucap Gavin tidak suka, sedang yang lain tak berani menyahuti, mereka juga pesaran dengan sosok lelaki tampan itu, kecuali geng nya Nayuwan yang nampak mengulas senyum begitu mendengar penuturan Gavin.
__ADS_1
"Namanya adalah Yusuf, berusia sekitar ...hmmm...mungkin... 150tahunan.. bener ngga sih Yus?" ucap Nayuwan sembari menoleh pada Yusuf.
"Saya juga lupa Diajeng, mungkin bisa lebih tua lagi" jawaban jelas Yusuf jelas bisa diartikan jika dirinya bukanlah manusia biasa. Gavin terbeliak makin terkejut setelah mendengar jawaban aneh dari Nayuwan dan lelaki itu.
"Jadi kamu masih cemburu sama dia Tuan?" Nayuwan menatap Gavin lekat-lekat, masih sedikit menyimpan rasa kesal Gavin akhirnya hanya menggelengkan kepalanya.
"Lalu di mana kita sekarang?" tanya Vito serius.
"Kita berada di antara dunia manusia dan gaib." jawab Nayuwan begitu saja. Kembali Gavin, Rendra, Haidar, dan Vito dibuat terbeliak sangat terkejut dengan jawaban Nayuwan, itu artinya jelas Yusuf bukanlah manusia sebenarnya.
"Zona waktu kita sedikit lebih lambat dari dunia manusia, jika di sini satu hari paling di dunia manusia hanya baru beberapa menit, berbanding terbalik dengan dunia gaib yang beberapa jam di sana sama dengan beberapa hari di dunia manusia. mungkin aku akan menyebutnya dengan sebutan dunia paralel agar lebih mudah."
"Jadi benar apa yang dikatakan Gina bahwa ibu bisa melihat hal tak kasat mata?" giliran Satria yang bertanya.
"Hmmm.. ya.. Bisa dikatakan seperti itu, tapi aku bukan dukun, bukan cenayang, aku juga tidak bisa meramal masa depan, jika aku bisa meramal masa depan, tentu tidak akan pernah mengalami depresi, tidak juga mau bekerja jadi TKW,, ya anggaplah aku diberi anugrah khusus "jawab Nayuwan mengulas senyum lebar yang terasa agak menyeramkan auranya, sembari melempar tatapannya ke arah Haidar seakan dia bisa menebak apa yang sedang Haidar pikirkan, Haidar yang mendapat tatapan itu langsung membuang muka menghindari kontak mata dengan Nayuwan, senyum yang dianggap menyeram oleh yang lainnya malah nampak mempesona di mata Gavin yang sudah terbuai sendiri tanpa disadarinya.
"Lalu kenapa kita ke sini?" tanya Rendra menatap Nayuwan lekat-lekat.
"Karena hanya disini tempat yang paling aman untuk aku busa menjawab semua pertanyaan kalian. Jika di rumah, aku tidak bisa sebebas di sini, ada ibu ku dan orang lain, serta sosok-sosok yang mungkin bisa menguping apa saja yang sedang kita diskusikan sekarang. Intinya ditempat ini hanya kita dan Tuhan saja tau apapun yang terjadi dan apapun yang kita diskusikan di tempat ini" jelas Nayuwan sembari menengadahkan tubuhnya kebelakang dengan ditumpu oleh kedua tangannya agar lebih santai.
****** sarangheo...
lanjut yang masih penasaran...
__ADS_1