
"Maksudnya?" manik mata Gavin menelisik air muka Nayuwan lekat-lekat bersemaan dengan Nayuwan yan menoleh menatap manik mata Gavin yang terlihat gelap, binar matanya bergetar seolah berkata "tenanglah Tuan, aku akan baik-baik saja" namun pada akhirnya ia tak mampu lagi menahan air matanya agar tak jatuh saat manik mata mereka saling beradu.
Sepersekian detik Nayuwan memalingkan wajahnya dari Gavin dan segera menyeka lelehan air mata dari wajahnya,
"Ya artinya Orang yang diikat dengan tali putih ini akan kembali tertarik ke dunia paralel disaat tali ini terpotong tepat di tanda merah ini meski tanpa aku" ujar Nayuwan tersenyum polos seolah tidak akan terjadi apa-apa.
Tatapan semua orang berubah sendu, Gina,Ardilla, Moya, dan Reva segera menghampiri perempuan yang selalu mereka anggap sebagai pelindung mereka itu. Mereka menangis tanpa bersuara hanya sesekali saja terdengar isakan yang terasa menyayat. Bahkan Haidar yang seharian ini begitu cerewet dan menyebalkan, menunduk menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya.
Nayuwan masih berusaha tegar meski kedua bahunya dan lengan sudah basah oleh air mata para sahabatnya "patokan adalah jam pasir ini" Nayuwan memperlihat jam pasir yang masih tertidur di dalam kotak kayu. "Nanti pada saat orang yang menjadi pusat itu merahpal bacaannya jam pasir ini akan dengan sendirinya menunjukan batas waktunya." jelas Nayuwan dengan suara yang mulai sedikit hilang, lehernya terasa tercekat, meradang menahan agar tangis tidak ikut pecah.
"Sudah ihh, kok malah paduan nangis. Rendra tenangkan pacar mu ini, Vit, Satria, Haidar" segera mereka mengajak pasangan mereka masing-masing, walau pada awalnya Haidar bingung kenapa dirinya di sebut, ternyata masih ada Ardilla si ukhty bar-bar yang harus ia tenangkan.
"Udah ih, kaya gue mau mati aja" celetuk Nayuwan asal bicara.
"Ibuu iihh !!," seru Gina, Moya, Reva, dan Ardilla bersamaan, membuat Nayuwan merengut bergedik ngeri.
"Kalian udah cocok jadi paduan suara" celoteh Nayuwan lagi.
Gavin mengalihkan pandangannya agar tidak bersiborok dengan manik mata wanita yang duduk bersila di sampingnya.
"Oiya Tuan, " suara Nayuwan kembali memecah keheningan saat itu, sekilas ujung mata Gavin melirik pada Nayuwa tanpa menyahuti panggilannya.
"Boleh aku minta sedikit bantuan lagi" ucap Nayuwan dengan ekspresi ragu, membuat Gavin menghela nafas kasar. Gavin tetap diam namun gerak alisnya sudah menjawab Nayuwan.
"Hmm bisa pertemukan aku dengan keluarga Mahendra secepatnya" ringis Nayuwan tak berani menatap wajah Gavin yang sedang memelototinya.
"Untuk apa?" ujar Gavin ketus.
"Aku ingin melakukan penawaran kepada mereka"
"Penawaran apa?"
"Aku ingin membebaskan mereka dari jerat perjanjian tersebut," Gavin menatap Nayuwan dengan serius, ia benar-benar tidak memahami pemikiran Nayuwan, padahal jelas-jelas dirinya juga saat ini sedang dalam keadaan terancam.
"Jelaskan" ucap Gavin datar. Sudut bibir Nayuwan berkedut saat melihat ekspresi Gavin yang sama sekali tidak bersahabat padanya.
"Intinya aku ingin membantu mereka terlepas dari perjanjian mereka, tapi tentu saja ada yang harus di korbankan, dan apapun yang harus dikorbankan nanti masing-masing dari kedua belah pihak tidak boleh menuntut apapun." sorot mata Gavin makin memicing, serta kedua alisnya makin bertautan jaraknya. Gavin diam seribu bahasa.
__ADS_1
"Tuan,," Nayuwan mulai berbicara manja padanya. Gavin masih tidak bergeming.
"Tuan,, ayolah bantu aku pertemukan aku dengan keluarga Mahendra" ucap Nayuwan merengek menggoyang-goyang lengan Gavin, tingkah Nayuwan yang makin menjadi membuat semua yang sedang merasakan kalut, seketika berubah eskpresi seakan geli melihat Nayuwan sedang berusaha merayu Gavin seperti anak kecil yang minta jajan.
"Yus, dia masih Nayuwan kan? Dia ngga lagi kerasukan hantu b***l kan??" bisik Haidar pada Yusuf,
"Tidak Tuan, beliau masih Diajeng Ayu, lagipula tanpa seizin Diajeng Ayu tempat ini tidak bisa dimasuki sembarangan. Mendengar penuturan Yusuf, Haidar makin tidak bisa menghilangkan raut "menjijikan" kepada Nayuwan yang terus merayu Gavin.
"Baiklah, tapi aku harus ikut" ucap Gavin akhirnya menyetujui permintaan Nayuwan.
"Hmmm,, "
"Ada lagi?" Nayuwan melempar pandangannya kepada Haidar beberapa kali.
"Sayang" Gavin dan yang lainnya terhenyak begitu mendengar Nayuwan memanggil Gavin sayang. Dan sudah bisa dipastikan permintaan Nayuwan kali ini pasti lebih besar resikonya hingga membuat seorang Nayuwan melakukan hal yang tidak lazim ia katakan. Dan yang paling dibuat syok tentu saja Gavin, ia sampai dibuat terperangah tak percaya dengan apa yang Nayuwan ucapkan, kelopak matanya mengerjapkan beberapa kali diakhiri dengan menelan salivanya dengan susah payah.
"Satu lagi, tolong beri pengawalan ketat kepada Haidar, tolong awasi dia 24jam selama 2 bulan ini, pastikan dia tidak berhubungan atau menyentuh wanita manapun atau jenis apapun "tutur Nayuwan.
"DUAAARRR!!!"
Benar saja, permintaan Nayuwan yang ini memang sepadan dengan apa yang ia lakukan kepada Gavin barusan. Seketika Haidar merasakan tubuhnya seolah tertindih gunung batu, bola mata Haidar membulatkan sempurna, terbelalak menatap Nayuwan yang tersenyum polos padanya.
"Ibu minta, agar Pak Haidar mendapat pengawalan ketat untuk mengawasi bapak supaya tidak menyentuh wanita manapun atau jenis apapun, 24/7 selama 2 bulan."sahut Gina mengulas senyum puas pada Haidar.
"Kok gitu? Cewek gue gimana?"protes Haidar.
"Halah cewek lu nanti bisa lu restok lagi" sahut Vito sambil tersenyum jahil.
"Ga bisa pokoknya !! Lagian masa gue doang??" ucap Haidar mencak-mencak pada perempuan yang duduk manis di samping Gavin, jelas ia menolak mentah-mentah permintaan aneh Nayuwan, apalagi itu masalah keberlangsungannya jatah "si Alex".
"Ya terus masa gue di kawal, kan gue udah ada pawang!" ucap Rendra menaikan alisnya tersenyuman jumawa. Haidar mendecih dibuat makin meradang jawaban Rendra yang terdengar seperti ledekan untuknya.
"Vito sama Reva juga ngga mungkin macem-macem, speknya aja udah macem akhi sama ukhty syar'i begitu" ujar Nayuwan. Haidar makin meradang.
"Gina sama Satria aman, mereka cukup tau diri kalo bossnya mereka belum ijab kabul, jadi mereka ngga bakal berani buang ngelangkahin bossnya" timpal Vito.
"hmppfft .." Ardilla menutup mulutnya agar tak tertawa.
__ADS_1
Haidar menatap tajam pada Ardilla " Jangan ketawa kamu, emang ada yang lucu apa?" omelnya.
"Buahhahahaa" bukannya berhenti, Ardilla malah makin tak bisa menahan lagi untuk tidak tertawa lepas.
"Awas lo ya, ukhty bar-bar! Setelah ini gue pastiin, lo yang bakal ada di ranjang gue" gumam Haidar dalam hati.
Sementara Ardilla dan yang lainnya masih tertawa, Gavin ikut bersuara
"Udah lah Dar, toh cuma dua bulan ini, ya siapa tau selama dua bulan itu lo dapet hidayah terus istiqomah kan al hamdulillah." ucap Gavin terdengar bijak.
"Nah bener tuh Dar"timpal Vito menyahuti Gavin.
"Tapi masa gue dikawal 24/7 sih? Terus apa-apaan tadi pake bilang "wanita manapun atau jenis apapun" emang gue apaan" Haidar masih tak terima Nayuwan ikut campur urusan pribadinya.
"Ya siapa tau kamu liat bencong di lampu merah jadi nepsong, atau liat kucing be**na gemoy jadi kamu juga ngeces, gimana?" ujar Nayuwan begitu saja.
Seketika mata Haidar melotot lagi pada Nayuwan ia benar-benar dibuat kesal oleh perempuan itu.
"Maksud lo gue man**k gitu?" Haidar makin geram mendengar kata-kata Nayuwan.
"Udah gini aja Dar, gue kasih lo pilihan, lo ikutin permintaan bini gue atau lo mau dimutasi+ diturunin jabatan?" Gavin menoleh, menatap Haidar dengan serius. Haidar membuang muka sambil mendengkus kesal,
"Iissh !!!" desis Haidar tak bisa lagi berkelit apalagi menolak jika sang Presdir sudah memberinya pilihan atau mungkin lebih tepatnya sebuah ancaman kepadanya.
"Cuma dua bulan lho ya, kasih bonus kek biar guenya buat kompensasinya" oceh Haidar mendumel karena tak bisa lagi melawan. Nayuwan membuang nafasnya terlebih dahulu.
"Ok, karena aku yang punya permintaan itu, aku bakal kasih kamu bonus, kamu boleh minta apa aja, tapi yang masuk akal, yang kira-kira bisa aku laksanain" ucap Nayuwan sembari mengulas senyum hangat agar Haidar tidak merajuk lagi kepadanya. Mendengar tawaran tersebut, terbitlah seringai jahil di sudut bibirnya. "Kesempatan gue bales dendam" gumannya dalam hati.
"Bener nih gue boleh minta apa aja?"tanya Haidar sekali lagi. Nayuwan mengangguk,untuk meyakinkan Haidar.
******
sarangheo.
haturnuhun anu tos mampir
😊
__ADS_1
🙏🏻
*******