Merpati Hitam

Merpati Hitam
Tetap julid


__ADS_3

Akhirnya Nayuwan dan Gavin bisa memiliki kesempatan untuk makan siang bersama esok harinya, schedule mereka terlalu padat hari kemarin, belum lagi Nayuwan harua menjadi client dari Jepang, Mr. Tanaka yang akan menjalin kerja sama untuk eksport produk skincare dan garment. Rencananya besok jam 10 mereka akan menandangi kontrak kerja sama tersebut.


Nayuwan nampak duduk sendiri sambil melihat-lihat buku menu tiba-tiba muncul seorang pria mendekati mejanya


"Sendiri miss?" tanya pria itu SKSD, Nayuwan tidak langsung menjawab si pria itu, seulas senyum jahil terbit dibibirnya.


"Memang kenapa?"ujar Nayuwan balik bertanya pada pria asing itu seraya menaruh buku menunya lalu menyandarkan tubuhnya bersedekap seraya menyilangkan kaki kirinya di atas kaki kanan, seolah menantang pria itu untuk menggodanya.


"Ngga apa-apa sih, saya cuma mau berkenalan aja, boleh?" tanya pria itu sembari menyodorkan tangannya, namun tanpa diduga tangan pria lain menyambar tangan pria itu.


"Gavin Harraz Widjaya, senang berkenalan dengan ..."


"Rezan Guntara"ucap pria itu, meski beberapa detik yang lalu masih terkesiap dengan Gavin yang datang entah dari mana. Nayuwan yang melihatnya membuang muka menyembunyikan tawa jahatnya.


"Aah saya ingat, bukankah anda CEO Delta Sentosa?"


"Ah, Pck.. Maaf Bapak juga dari FJC kan kalo tidak salah?" sahut pria itu berkerut kening.


"Benar Pak, saya dari FJC Grup," ujar Gavin lebih ramah.


"Dan ini...?" Rezan menoleh pada Nayuwan yang akhirnya ikut berdiri memperkenalkan diri.


"Saya Nayuwan.."


"Tunangan saya" potong Gavin dengan cepat seraya memisahkan jabatan tangan Nayuwan dan Revan.


"Tuan.." hardik Nayuwan menatap sinis pada Gavin yang menurutnya terlalu kekanakan.


"Tidak apa-apa bu, saya faham kok. Lagi pula ibu secantik ini pasti pria disamping ibu akan ketar ketir ketika ada yang mencoba mendekati ibu apalagi jika sejak awal sudah terlihat jika pria itu tertarik pada ibu" sindir Rezan.


"Tolong dimaafkan ya pak,"

__ADS_1


"Santai saja bu, kalo begitu saya pamit, Pak Gavin kapan-kapan kita boleh lah ngopi bareng siapa tau bisa deal proyek bersama"


"Oh tentu saja pak, kapanpun bapak bisa menghubungi saya" jawab Gavin. Rezan yang kemudian pamitsembari bersalaman kembali dengan Gavin dan Nayuwan lantas meninggalkan mereka yang akan melanjutkan acara makan siang yang sempat tertunda.


"Queen bisa kah kita menikah besok saja, rasanya aku bisa gila jika terus begini" Nayuwan memutar bola mata malas mendengar ocehan Gavin yang malah membuat dirinya merasa mual.


"Klap" Gavin menutup pintu mobil setelah Nayuwan keluar dari mobilnya tepat di pintu lobi perusahaan Nayuwan, lantas berjalan mengikuti perempuan itu masuk ke dalam, beberapa karyawan dan karyawati menyapa mereka dengan takzim.


"Si boss di anter siapa itu, gantengnya" ujar serorang karyawati terlihat gemas dengan Nayuwan dan Gavin yang berjalan beriringan.


"Hayooh makan ****** siapa kalian" sergah Gina yang datang tiba-tiba di ikuti Satria dibelakangnya mengagetkan para karyawati yang masih menilik Nayuwan dan Gavin yang makin menjauh.


"Ah si ibu mah bikin kaget aja" ujar serorang karyawati yang bernama Herlina seraya menaruh telapak tangannya di atas da**nya.


"Ya kalian ngeliatin orang sampe segitunya?" kekeh Gina.


"Ya gimana ngga yang dateng sama si boss cakep itu, kan ngga mungkin mereka itu client, orang bu Nayuwan terkenal dingin banget sama laki-laki, ya wajar kalo kita jadi penasaran. Apalagi coba ibu liat kayanya si cowok itu keliatan sayang banget sama si boss" sahut Melinda menimpali. Gina menggeleng sembari tersenyum tipis.


"Eehh serius bu?" Verlita makin kepo


"Kamu anak baru ya?" Gina balik bertanya dengan ekspresi heran. Para karyawati itu saling menatap bergiliran satu sama lain.


"Ya kalo kalian orang lama pasti tau dan kenal sama presdir Gavin"


"Hehehe ia bu, kami memang baru mau tiga bulan bekerja di sini" sahut Verlita salahtingkah seraya menggaruk pipinya yang tidak gatal.


"Ehh yang dibelakang samping ibu itu siapa"seloroh satu karyawati sambil menyikut temannya terlihat sedikit genit ketika melihat Satria berdiri di belakang Gina yang kemudian menoleh pada Satria yang nampak acuh.


"Kenalanlah kalo pengen tau mah siapa tau dia single" ujar Gina dengan senyum usil.


"Ah kayanya mustahil kalo si masnya masih single, cakep begitu" bantah Melinda mencuri-curi pandang pada Satria yang sibuk menatap layar ponselnya.

__ADS_1


"Ya tanya aja dulu, siapa tau kan.."


"Iya sih, kalo single kan siapa tau gitu bisa kenal lebih dekat lagi" ujar Melinda nampak lebih PD, baru saja Gina mau melangkah memberi jalan pada Melinda namun lelaki yang sejak tadi fokus itu malah mencekal Gina hingga menghentikan langkah Gina


"Sayang kita di suruh cepet ke atas" ajak Satria dengan wajah polosnya kemudian mendahului Gina pergi menuju pintu lift yang berjarak beberapa langkah saja dari mereka. Gina yang ketahuan mau mengerjai Melinda dan teman-temannya cuma tersenyum cengir kuda lantas segera menyusul Satria yang sudah berdiri di depan lift.


"Iish, hampir aja aku kena dikerjain sama si Gina itu, kalo aja dia bukan asistennya si boss" cebik Melinda sembari menhentakan kakinya ke lantai lobi.


Ting! Pintu lift terbuka di lantai 8 terasa lebih lambat dirasakan Bella ketika ia mendapati sosok Satria berdiri di sana. Untuk sesaat ia dibuat terpana oleh wajah tampan milik Satria,


"Mbak mau masuk ngga"namun lamunannya buyar ketika Satria, iapun terkesiap salah tingkah, lalu mengangguk saat memasuki lift. Perasaan gugup, jantung berdegup kencang, namun juga sedikit canggung.


"Mbaknya mau ke lantai berapa?" tanya Satria karena Bella tidak menekan tombol tujuan liftnya.


"Berapa aja mas, yang penting bisa bareng sama si masnya" jawab Bella sambil menyelipkan ekor rambutnya ke telinga dengan tersipu malu. Gina yang masih kesal dengan sikap Bella tempo hari lantas memeluk Satria dari belakang, meski sempat terkejut namun Satria tidak berusaha melepaskan tangan Gina yang melilit tubuhnya, justru ia malah tersenyum menikmatinya. Melihat hal itu tentu saja Bella terbelalak karena ternyata dibelakang Satria ada sosok lain yang tidak ia sadari sejak masuk ke dalam lift.


"Mau turun di lantai berapa Bell ?" tanya Gina sembari memiringkan kepalanya agar Bella bisa melihat dirinya. Bella yang tadi banyak melempar senyum untuk tebar pesona pada Satria mendadak senyum itu hilang entah kemana


"Lantai 12," jawabnya singkat seraya membuat muka.


"Sayang tau tidak kalo di kantor ini ada yang tidak tau wajah ibu lho" seloroh Gina menyindir Bella.


"Hhah?! Masa sih ??" sahut Satria sembari menoleh pada Gina yang bergelendotan padanya.


"Iya, malah ngatai-ngatain Ibu Yuwan itu anak magang cuma karena ibu Yuwan pake pakaian hitam putih, padahal kerja di sini ngga ada aturan anak magang harus pake baju hitam putih, paling saat lamaran doang, ya karena itu basic formalnya kan kalo kita melamar pasti pake hitam putih."ujarnya sok manja pada Satria.


"Ting !" pintu lift terbuka di lantai 12, Bella keluar dengan tergesa telinganya terasa panas karena Gina terus menyinyir soal tempo hari, sedang Gila memberi muka julid sembari memutar bola matanya tak peduli. Satria yang melihat tingkah Gina hanya tersenyum gemas ternyata pacarnya itu tetap seorang wanita pikirnya.


*******


Sarangheo

__ADS_1


*********


__ADS_2