
Gavin terdiam mendengar penuturan Alea, ia tau ini bukan sekedar pertanyaan biasa dan bukan maksud Alea juga untuk menjatuhkan ibunya,
"Kenapa ya? Mmmm, "ujar Gavin menegakan tubuhnya yang tadi sedikit membungkuk, ia membusungkan d**anya, kemudian menyilangkan kedua tangan di depan d**anya yang bidang, Om-Om yang satu ini memang rajin berolahraga jadi meski sudah berumur tubuhnya tetap atletis layaknya anak muda, serta memiringkan nampak seperti sedang berpikir serius.
"Iih Om serius, atau Ale coret nama Om dari kandidat calon suami Mommy!" ancam Alea sembari mengikuti gesture Gavin, duduk bersila dengan gesture tubuh tegap dan tangan bersedekap saling menyilang. Gavin terkekeh kecil melihat tingkah calon anak sambungnya itu.
"Wwdiiidiihh serem ***, langsung di ulti ga tuh sama calon anak hahahahaha" ujar Haidar tergelak melihat perdebatan kecil antara orang dewasa dan remaja tanggung itu.
"Hmmm .. Kalo ditanya kenapa, Om hanya bisa bilang mungkin Om memang membutuhkan ibumu untuk menjadi pendamping Om" ujar Gavin
"Hanya sekedar kebutuhan?" sahut Nadia ikut berkomentar. Gavin menarik nafas dalam-dalam, menipiskan bibirnya.
"Gini anak-anak, maksud Om bukan kebutuhan bukan hanya soal sexualitas saja.."
"Vin, kok lu ngomong sama bocah ngga pake filter gitu sih?" potong Rendra karena merasa pembicaraan mereka terlalu vulgar untuk anak-anak Nayuwan membuat Gavin menghela nafas dengan kasar disertai memutar bola matanya, jengah karena kalimatnya dijeda begitu saja.
"Yang bocah itu siapa ya Om?" protes Alea mendelik pada Rendra.
"Tau nih si Om, lagian Nadia tahun ini 20tahun Om dari mana bocahnya coba" timpal Nadia ketus
"Dan Alea sudah 18tahun Om, jadi siapa bocah yang Om maksudkan hah?!" sambung Alea masih tak terima dikatai bocah oleh Rendra.
"hh? Serius?? Om kira Nadia masih SMA, dan Alea masih SMP" jawab Rendra menyentuh tengkuknya tak enak hati karena sudah salah kira.
"Om ngga liat spek Mommy kami kayak apa? Udah mau ngalah-ngalahin cewek yang baru masuk kuliah tahun pertama." sungut Nadia ikut-ikutan ngambek,
"Sayang, bantuin aku dong" ujar Rendra memelas bersembunyi di lengan Moya seolah benar-benar meminta bantuan pada Moya karena dicecar anak-anak Nayuwan.
__ADS_1
"Makanya ngga usah sotoy lu, lagian semisal Alea dan Nadia benar masih usia sekolah SMP dan SMA juga gue bakal ngejelasinnya dengan kalimat yang sama, toh pendidikan *** di usia dini itu harus, biar mereka tau batasan umum orang lain boleh menyentuh bagian tubuh mereka, dan ngejelasinnya harus dengan nama aslinya biar tetap jadi edukasi" sahut Gavin menengahi.
"Wiih ngga nyangka Pak Presdir kita selain seorang pebisnis ternyata punya pemikiran tentang edukasi sampai sejauh itu" ledek Haidar.
"Yeeh kampret !! Kalo gue ngga belajar dari sekarang anak-anak gue nanti bakal sulit nerima peran gue jadi bapaknya pas udah nikah sama emaknya." timpal Gavin merasa kesal mendengar komentar Haidar yang meledek dirinya.
"Udah Om lanjut jadi kenapa Om mau nikah sama Mommy kami" seru Alea,
" Sampai mana tadi?" tanya Gavin bingung.
"Baru bahas soal kebutuhan Om," sahut Alea ketus.
" Iya,, jadi Om mungkin memang membutuhkan ibu kalian untuk jadi pendamping Om di sisa umur Om ini, kebutuhan dalam artian saling melengkapi, saling menjaga, saling melindungi, saling memberhatikan dan saling mencintai tapi ngga mau nambah dosa, kan ngga lucu Le, Nad kalo seumuran Om dan ibu kalian pacaran lama-lama. Om juga sebelum memutuskan memilih ibu kalian itu dengan proses panjang, dan sempat ragu sama perasaan sendiri. Bahkan awal kami saling kenal saja bisa dikatakan di awali dengan hal yang kurang baik, iya kan Vit?" Vito mengangguk mengiyakan apa Gavin tuturkan,
"Perkenalan kami ngga seperti pertemuan cinta manis orang yang jatuh cinta pada umumnya, masih untung ngga saling baku hantam juga pada saat itu" ujar Gavin tersipu mengingat kejadian saat di Hongkong beberapa tahun lalu, manik matanya melirik pada Nayuwan yang hanya diam menyimak dengan wajah datar, padahal rona merah diwajah terpampang nyata.
"Kamu lihat sendiri kan Le, Nad, ibu kalian itu ngga manis-manisnya sama sekali. Jutek, judes, gampang emosi, sinis, sarkas, keras kepala tapi ya memang itulah karakter asli ibu kalian."
"Oh jadi aku ini manusia paling toxic gitu?" potong Nayuwan makin geram mendengar penuturan Gavin yang hanya menyebutkan sisi jeleknya saja, Gavin terkekeh tanpa bersuara sambil menggelengkan kepal melihat tingkah Nayuwan yang mulai merajuk.
"Masa kami untuk saling mengenal itu sangat unik, tiap bertemu pasti berantem, dari masalah cukup rumit sampai perkara mau makan apa terkadang jadi perdebatan kecil. Kalian pikir kami mendapat julukan Tom & Jery sama orang-orang kantor itu sebab apa? Ya karena kami selalu berdebat saat bertemu. Beruntungnya ibu kalian itu bukab rival dalam pekerjaan, Om membayangkan tiap kalo ada tender kami pasti akan sangat terjadi huru hara yang sengit. Intinya tanpa sadar kami sudah saling tertarik dan saling memahami satu sama lain dengan cara yang berbeda dengan orang lain. Dari seringnya berdebat justru malah menunjukan tabiat, karakter dan sifat asli masing-masing. By the way harus bilang terima kasih sama ayah kamu, karena berkat dia Om sama ibu kalian jadi akur lagi" Nayuwan menyentuh pelipisnya, menunduk tersipu. Dilla, Moya, dan Reva yang melihat sikap Nayuwan ikut senyum-senyum julid melece Nayuwan.
"di luar itu, apapun tentang kami pada akhirnya saling mencari pada akhirnya. Hmm oiya Le,.."
Gavin beranjak dari tempatnya bersila, kemudian bersimpuh di hadapan Alea. Wajah Alea merengut dengan kedua alis hampir saling menyatu, manik matanya bergetar menatap Gavin dengan tatapan bingung, ekspresi Nadiapun tak kalah keheranan saat Gavin berjongkok di depan Alea.
" Le, Nad,"Gavin menoleh pada Nadia yang duduk agak berjarak dengan mereka.
__ADS_1
"Tapi tolong maklumi Om jika om mungkin bukanlah sosok ayah yang sempurna untuk kalian, tapi om akan berusaha sebaik mungkin saat mengambil peran itu, jika Om salah boleh kalian tegur, dan maaf kalo Om ngga akan pernah bisa janji kalo ibu kalian akan selamanya bahagia jika bersama Om, Om juga ngga bisa janji untuk ngga bikin ibu kalian menangis. Tapi Om bisa katakan kita bisa membuat kebahagian itu akan selalu tercipta meski dengan hal sederhana, seterpuruk apapun Om, om akan berusaha ngga akan buat ibu kalian susah,"
"Tapi gimana kalau Om selingkuh?" potong Nadia,
"Kalo soal itu Om berani jamin Le, Gavin bukan orang yang suka selingkuh, dia terlalu perfectionis dan seleranya terlalu unik, makanya ngebet pengen nikah sama ibu kalian soalnya ibu kalian bener-bener unik dalam segala" sahut Vito.
"Sialan, Kamu niat bangun citra aku atau ngejatuhin aku sih Vit?" sungut Nayuwan.
"Tapi kan emang fakta kan Yu, kamu itu unik hahhahahaha"sahut Vito tertawa yang diikuti oleh yang lainnya.
Alea menatap lekat-lekat wajah tampan milik Gavin, kemudian meraup wajah pria itu dengan kedua tangannya.
"Om, Ale sama teteh sebenarnya ngga mau nuntut apa-apa, tapi jika boleh kami minta tolong jaga Mommy dan nenek, karena mereka adalah hal yang paling berharga untuk kami" tutur Alea terdengar serak, menahan tangis yang tercekat ditenggorokannya, Gavin tersenyum dan merangkul Alea kedalam pelukannya, pun ketika Nadia mendekatinya ia segera meraihnya lantas memeluk mereka, mendekap mereka dengan kehangatan curahan kasih sayang seorang ayah kepada anak-anaknya.
Dari balik sisi tembok seorang wanita paruh baya tengah menyeka air matanya yang penuh haru, pundaknya ditepuk-tepuk perlahan orang seorang wanita lainnya yang sejak tadi ikut menyimak pembicaraan antara Gavin dan anak-anak Nayuwan.
"Si teteh berhak bahagia bu, mungkin Pak Gavin adalah memang orang tepat untuk menjadi pendamping si teteh, dan Ara yakin ini semua adalah jawaban dari doa-doa ibu" Vina mengangguk tanpa mampu berkata apa-apa, iapun meraih dan memeluk Ara anak bungsunya, dan meluapkan tangis mereka di sana bersama-sama.
*******
Novel ini, hanya ada di Mangatoon
haturnuhun,,
sarangheo
******
__ADS_1