Merpati Hitam

Merpati Hitam
Ego


__ADS_3

Porsche Macan 2.0 terbaru melesat di jalan tol Cikampek menuju Karawang, melewati mobil lainnya dengan lincah dan gesit. Sesekali Satria mencuri pandang atasan melalui pantulan spion dengan tatapan penasaran. Karena seharusnya setelah meeting dengan client dari Jepang tadi Gavin segera ke bandara menjemput Teresia, teman masa kecil Gavin yang hari ini pulang dari London.


"Sudah sejauh mana penyelidikanmu mengenai Nayuwan?" tanya Gavin tiba-tiba memecah kebisuan.


"Dari hasil penyelidikan yang saya kumpulkan ada beberapa fakta yang membuat saya benar-benar tidak percaya kalo itu adalah perjalanan hidup seorang CEO IC grup"


"Maksudmu? Cepat jelaskan tidak usah bertele-tele" Gavin nampak tidak sabar.


"Ya karena menurut saya latar belakang Ibu Nayuwan itu seperti sinetron, kehidupan masa lalu beliau cukup kelam sebelum menjadi seperti sekarang. Beliau seorang brokenhome,sejak kelas 6 SD dia ikut bersama bibinya hingga lulus SMP, ayahnya menikah lagi, sedang ibunya di bawa ke kampung kakek neneknya karena mengalami depresi. Sejak SMP beliau sudah bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan, untuk biaya sekolah beliau menerima beasiswa, setelah lulus baru beliau mengikuti ibunya tinggal bersama kakek neneknya di Bandung. Menginjak remaja, beliau tumbuh jadi gadis pembangkang, keras kepala dan lebih introvert. Lulus SMA beliau langsung menikah saat usia 16tahun dengan kakak kelasnya yang bernama Firman, mereka berpacaran kurang lebih 1 tahun, pernikahan mereka hanya bertahan selama 2tahun saja karena Firman akhirnya menyerah saat ibu Nayuwan memintanya untuk tinggal terpisah dengan keluarga, bodohnya Firman menolak. dari pernikahannya mereka dikaruniai nona Alea Dione Nafir." Satria terdiam sesaat karena harus membayar e-tol.


"Maaf pak sampai di mana tadi?" tanya Satria sekedar penasaran dengan reaksi Gavin.


"Nayuwan bercerai dengan Firman setelah menikah selama 2 tahun" ujar Gavin mengulang


"Oh benar, Firman menolak keluar dari rumah orangtuanya dengan alasan belum mampu untuk hidup mandiri, padahal waktu sebelum ibu Nayuwan akhirnya memutuskan untuk menikah beliau sedang dipersiapkan untuk mendapatkan beasiswa kebidanan. Setelah bercerai ibu Nayuwan benar-benar tidak memberi kesempatan pada mantan suaminya itu, dia menghilang seperti ditelan bumi selama 5tahun, dan selama 5tahun itu Firman menjadi depresi selalu mencari keberadaan ibu Nayuwan namun gagal. Hingga akhirnya Firman dijodohkan dengan istrinya yang sekarang. Dari beberapa sumber, Firman sebenarnya masih berusaha untuk kembali pada ibu Nayuwan tapi ibu Nayuwan sama sekali tidak memberikannya celah untuk rujuk" Satria diam sejenak melirik Gavin melalui ekor matanya, raut wajah Gavin yang dingin menatap ke luar jendela, sikutnya tertumpu pada daun pintu mobil telunjuknya mengusap-usap bibirnya nampak sepertinya dia tengah memikirkan sesuatu.


"Lalu..?" ujar Gavin kembali memecah kesunyian.


"Sayangnya sejak bercerai saat usia Alea 1tahun, Firman benar-benar seperti lepas tanggungjawab begitu saja. Bisa dikatakan Alea tidak pernah menerima tunjangan apapun dr usianya 1 tahun hingga sekarang dia remaja. Firman hanya peduli dengan ibu Nayuwan tapi abai terhadap putri kandungnya." Gavin mengeraskan rahangnya, menatap Satria tajam, Satria yang mendapatkan tatapan tersebut berusaha menetralkan perasaan yang mulai merinding dipunggungnya.


" Lalu ?" Satria menelan salivanya dengan susah payah sebelum kembali melanjutkan hasil penyelidikannya selama 3bulan ini.


" Beliau lalu merantau Bogor baru ke Jakarta, tepatnya di Blok M. Menurut beberapa yang masih mengenalnya, ternyata pesona ibu Nayuwan dari dulu seperti memiliki daya pikat yang kuat. Mereka yang saya temui bahkan mereka mengaku jika bisa berbicara lagi dengan ibu Nayuwan kemungkinan mereka ingin mengejar ibu Nayuwan." Sorot mata Gavin kali ini terasa makin menusuk, wajah Satrianya meringis penuh ketakutan. Hari masih cukup terang, karena masih sekitar jam 3 sore, tapi entah kenapa terasa begitu mencekam bagi Satria.


"Lanjutkan!" perintah Gavin terdengar seperti auman Harimau di telinga Satria.


"Selama 1 tahun ibu Nayuwan bekerja di sana, kemudian bertemu dengan Raka suami ke dua ibu Nayuwan, mereka menikah setelah berpacaran selama 10bulan, selama pernikahan tersebut...." kali ini Satria benar-benar ragu melanjutkan kalimatnya.


"Kenapa malah diam?" peluh di pelipis Satria meluncur begitu saja,

__ADS_1


"Ehhh, Pak mmmm.. lebih baik bapak baca detail dari berkas yang sudah saya buat secara rinci"


" Kenapa? cepat lanjutkan !!" perintah Gavin. Alih-alih segera melanjutkan kalimatnya Satria terlihat menarik nafas beberapa kali, bukan tanpa alasan dia bersikap demikian, dia hanya tak sanggup membayangkan kemarahan Gavin yang pasti siap meledak.


"Mereka menikah selama 5 tahun, mereka tidak dikaruniai keturunan, tapi Nadia putri bawaan Raka sekarang ikut tinggal bersama ibu Nayuwan"


"Hmmm,, artinya Nadia anak tiri Nayuwan, begitu ?" Gumam Gavin.


"Benar pak, Nadia adalah anak sambung, namun ibu Nayuwan benar-benar memperlakukan kedua putrinya itu dengan adil, meski sebenarnya ibunya beliau kurang suka karena takut dianggap kalau ibu Nayuwan masih berharap pada mantan suaminya itu, tapi kembali lagi siapa yang bisa melawan kemauan beliau." jelas Satria, Gavin hanya menggangguk.


" Selama . selama.. selama.." kembali Satria ragu untuk melanjutkan kalimatnya yang seakan tercekat ditenggorokannya.


"Selama apa?" Gavin merubah posisi duduknya, menempatkan kaki kanannya bertumpu pada paha kirinya, tubuhnya tegap dengan kedua tangan menyilang di depan d***a bidangnya.


"Se.. selama menjadi istri Raka, ibu Nayuwan kerap mendapati suaminya selingkuh hingga berkali-kali, berjudi, juga mabuk-mabukan, parahnya beliau juga kerap mengalami KDRT, bahkan.. bahkan.. pernah mengalami keguguran." Gavin yang mendengar penuturan Satria yang terbata-bata, tubuhnya sontak bergetar, keduatangannya mengepalkan, raut wajah yang tadinya hanya terlihat dingin kini terlihat lebih mengerikan, dari kilat matanya tergambar jelas letupan amarah yang bergemuruh di dalam rongga d**anya.


"Jadi karena itu, dokter mengatakan dosis obat tidur yang diminum Nayuwan masih di bawah dosis konsumsinya" gumam Gavin sembari menyipitkan kelopaknya matanya, dan mengalihkan pandangannya ke arah lain, jelas itu sedikit mengurangi tekanan yang di terima Satria.


" Benar pak" Satria membenarkan.


" Dari karyawan kantor ibu Nayuwan, ternyata Raka hingga saat ini masih selalu datang ke kantor berusaha menemui ibu Nayuwan, dan seperti yang bapak tahu ibu Nayuwan jarang ada di kantor pusat jadi hingga saat ini mereka belum sempat bertemu di sana" Gavin terlihat memejamkan matanya.


"Fakta hal yang unik, Ibu Nayuwan juga pernah dekat dengan beberapa pengusaha, tapi pasti berujung kandas karena berbagai alasan, 1 kesamaan dari mereka semua adalah hingga saat ini mereka semua masih berusaha keras agar ibu Nayuwan mau kembali ke pelukan mereka" dengkus nafas Gavin terdengar kasar, tatapannya kembali menyipit tajam pada Satria yang mencuri pandang melalui spion depan.


"Ibu Nayuwan menjadi kepala keluarga sekaligus tulang punggung setelah bercerai dengan Raka. Beliau sempat terlilit hutang keluarga hingga akhirnya beliau memutuskan menjadi buruh migran di Hongkong, selama 4tahun beliau benar-benar bangkit, pria-pria di sekitarnya menyebut sosok ibu Nayuwan memiliki pesona merpati hitam yang misterius. Seperti mudah didekati faktanya tidak sama sekali." Gavin melempar tatapan tajam melalui ekor matanya.


"hehehehe tenang saja Pak, ibu Nayuwan itu tidak pernah menganggap mereka serius, sekalipun mereka terkesan masih akrab tapi ibu Nayuwan sama sekali tidak pernah menanggapi mereka. Menurut Gina, ibu Nayuwan hanya memberi mereka 1 kesempatan kepada siapapun, seluruh pegawai di IC grup tahu akan hal itu. Sosok ibu Nayuwan cukup tenang, beliau sangat mampu menyembunyikan arus kuat dalam dirinya." Gavin membalik file yang berisikan detail Nayuan.


"Hmmm, dia sering mengunjungi sebuah panti?"

__ADS_1


"Benar pak, beliau memiliki sebuah panti asuhan dan panti jompo, tidak banyak yang tahu mengenai hal itu karena memang ibu Nayuwan tidak pernah mempablisnya, seluruh dana diatur ibu Nayuwan, dengan kata lain seluruh keperluan yayasan adalah tanggungjawab ibu Nayuwan."


"Dermawan juga si gunung Everest" Gavin tersenyum miring dengan bangga.


"Ibu Nayuwan memang dermawan pak, hanya saja tidak pernah beliau pablis, beliau sederhana, beliau lebih sering makan di emperan dibanding restoran mahal" timpal Satria.


"Maaf pak,, Hmmm memang bapak serius dengan ibu Nayuwan?" tanya Satria penasaran.


"Kenapa memang?" Gavin malah balik bertanya.


"hmmm bukan apa-apa Pak, saya takutnya ibu Nayuwan belum selesai dengan masalalunya, mengingat beliau pernah sampai depresi karena Raka, yang artinya luka dimasalalunya itu cukup dalam, saya pikir ibu Nayuwan seperti hanya membalaskan dendamnya kepada pria-pria yang mendekatinya dengan serius, jika tidak mana mungkin Ibu Nayuwan di kenal sebagai sosok Merpati hitam, saya rasa itu cukup jahat bukan?"pungkas Satria. Gavin yang mendengarnya hanya terdiam.


Suasana kembali hening, berkutat dengan pemikiran mereka masing-masing.


Gavin menghembuskan nafasnya secara perlahan karena dia sendiri sebenarnya masih belum yakin dengan perasaannya terhadap Nayuwan, yang pasti ketidaksukaannya terhadap pria-pria yang selalu medatangi Nayuwan seperti lebah semakin menjadi.


Ketika dirinya melihat senyum terkembang di bibir ramun Nayuwan iapun merasakan ada perasaan hangat mengalir dalam darahnya, namun Gavin masih ragu jika menyimpulkan bahwa dirinya sudah jatuh cinta sejak pertemuan konyolnya sewaktu di Hongkong beberapa waktu lalu.


Gavin sudah berusaha melupakan sosok Nayuwan yang sudah berhasil melukai egonya dengan cara yang elegant dan bahkan tidak mungkin akan dilakukan perempuan lain kepadanya. Alih-alih menantang balik Gavin, para wanita itu pasti akan mengejar dirinya. Tapi tidak dengan Nayuwan, bahkan setelah tahu siapa Gavin sebenarnya, Nayuwan tetap seperti tidak perduli, tidak bergeming, masa bodoh, tetap dingin serta memberi jarak.


Untuk saat ini Gavin hanya menyimpulkan jika dirinya mungkin hanya sekedar merasa bersalah karena pernah berusaha mempermalukan Nayuwan atau hanya rasa penasaran karena Nayuwan selalu bersikap sedingin gunung Everest terhadapnya, namun bisa bersikap hangat dan lembut pada sahabat-sahabatnya atau pada pria lain. Itu semua membuat ego Gavin sebagai pria terluka. Entahlah.


*******


sarangheo


*****


***********

__ADS_1


__ADS_2