
Faldo pucat pasi begitu Nayuwan memecatnya secara halus, Faldo benar-benar tidak menyangka jika Nayuwan akan semarah ini. Dia menyugar rambutnya kasar. Benar, seharusnya dia mengatakan dengan jujur siapa dirinya dan apa tujuannya bekerja di perusahaan garment milik Nayuwan. Rasa sesal kini mulai menggulug dirinya.
Saat ini, Nayuwan benar-benar kecewa dengan ketidakjujuran Faldo. Nayuwan sama sekali tidak memberikan Faldo kesempatan untuk menjelaskan apapun.
"Bu, bisa saya jelaskan?" tanya Faldo dengan raut wajah penuh harap. Namun nampaknya sudah benar-benar jengah ada di situasi ini, Nayuwan dengan cepat mengambil helm miliknya, ekspekatasinya ingin bersenang-senang sejenak sekedar melepas penat bersama para sahabatnya sirna sudah, yang lebih parahnya mungkin sebentar lagi menjadi ruang debat Gavin dan Faldo yang secara terang-terangan saling mengibarkan bendera perang untuk mendapatkan dirinya.
Dia tak habis pikir seorang Gavin bisa bersikap kekanak-kanakan padahal sebelumnya mereka masih seperti anjing dan kucing yang berebut daging.
Kepalanya terasa lebih pusing setelah melihat Faldo juga malah menanggapinya dengan serius.
Namun hal yang paling mengecewakan baginya adalah kenyataan bahwa selama ini Faldo membohonginya, padahal beberapa saat yang lalu mereka masih bisa nyaman mengobrol bersama.
"Mau jelasin apa? Tentang kamu ternyata seorang anak konglomerat? Hmmm tapi di banding itu sebenarnya saya cukup penasaran apa alasanmu berbohong dan masuk ke perusahaan saya? Tidak mungkin kan kamu di kirim untuk mencuri data? Karena seingat saya perusahaan ayah mu bukan di bidang garment?" tatap Nayuwan sinis.
" Biar saya jelaskan" Nayuwan mengedarkan netranya pada tiap orang yang sedang berkumpul di sana, tatapan nya terhenti sejenak saat manik matanya saling beradu dengan Gavin.
"Udahlah ngapain sih dijelasin segala, toh ngga akan ngerubah apa-apa?" tukas Gavin dengan tatapan tak suka pada Faldo.
"Om jangan gitulah, seenggaknya ibu Nayuwan ngga salah faham soal kerjaan, meskipun aku yakin ibu Nayuwan ngga akan merubah penilaiannya terhadapku karena udah berbohong soal identitasku" protes Faldo merengut kesal karena Gavin ikut campur dengan urusannya.
"Gue cabut duluanlah, males gue di sini !" ujar Nayuwan sambil menyarungkan sarungtangannya dan memakai maskernya.
"Lah kok cabut, ngga asik lu!" sahut Ardilla dengan bibir mengerucut.
"Lo ngga liat, dua bocah ini, udah pada pasang kuda-kuda, kalo gue tetep di sini gue ngga jamin mereka tetep bakal nahan diri buat baku hantam, gue males ngurusnya, terutama bocah bangkotan ini" ceroscos Nayuwan sembari menunjuk dua orang yang dia maksud dengan dagunya.
"Ya gitu doang cemen lu " ledek Moya, Nayuwan mendelik Moya dengan tatapan lebih tajam dari sebelumnya.
"Gin, kayanya tiket dan akomodasi yang punyanya si Moya ngga usah deh, dia batal ikut. Iyakan Moy?" ujar Nayuwan sembari memberi kode pada Moya.
"Weeh weehh jangan dong, tetep jadi Gin," sahut Moya dengan wajah sok sok di buat manis. Gina hanya meringis saja, karena tahu apa yang diucapkan Nayuwan barusan
tentu hanya gertak sambel saja agar Moya berhenti mengolok-olok dirinya.
"Bu," Faldo meraih tangan Nayuwan guna mencegah Nayuwan pergi begitu saja tanpa mendengar penjelasannya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Waduh, kayaknya bakal baku hantam beneran ini mah" Ardilla meringis ngeri, karena tahu pasti sahabatnya itu paling tidak suka di sentuh oleh orang yang sudah membuatnya kecewa, terlebih Faldo sudah terbukti berbohong tentang banyak hal pada Nayuwan.
Nayuwan menatap pergelangan tangannya yang di cekal Faldo, kemudian menengadah mecingkan matanya di sertai mimik wajah sengak pada Faldo. Faldo segera melepaskan genggamannya begitu melihat tatapan Nayuwan yang tadi lembut kini berubah menjadi tatapan tajam seperti mata pedang yang siap menghujam d**a.
"Maaf bu" Faldo tertunduk menyadari kesalahannya. Nayuwan memejamkan matanya sejenak sambil menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan bersamaan dengan terbukanya kelopak matanya.
"Lalu apa alasanmu berbohong?" tanya Nayuwan datar menunjukan sisi asli dirinya yang dingin.
"Saya tidak berniat berbohong tapi memang saya iseng saja awalnya, tapi ternyata bekerja di garment tidak terlalu buruk makanya saya betah saja bekerja di sana selama 2 tahun ini, saya mendapat pengalaman baru, pelajaran tentang hidup dari lingkungan dan teman baru yang dulu saya hanya lihat dan dengar dari berita saja, menurut saya ini satu tantangan yang menyenangkan bagi saya. Saya juga tidak bermaksud berbohong tapi mungkin management waktu itu tidak memperhatikan latar belakang saya" Nayuwan masih tak bergeming.
"Kemudian ibu masuk ke perusahaan membuat saya makin betah bekerja di Hanna Garment. Jujur saya sangat terkejut begitu mengetahui ibu adalah pemilik baru PT tersebut, karena selama bekerja di produksi ibu dan Gina bekerja terlihat begitu alami, padahal hari di mana ibu mengenalkan diri sebagai pemilik baru saya berencana untuk mengajak kencan ibu. Dari awal ibu masuk ke produksi saya sudah sangat tertarik pada ibu, ibu juga terbuka dengan semua orang, suple, humble, membuat nyaman semua orang di sekitar ibu, meski sebenarnya ibu cukup tertutup dan itu makin membuat rasa penasaran saya bertambah." Nayuwan mendengkus mendengar penuturan Faldo yang bisa ditafsirkan, Faldo hanya seorang pemuda sedang bosan dengan rutinisnya sebagai anak konglomerat.
"Maaf kalau saya di anggap tidak jujur, tapi selama bekerja di Hanna Garment saya melakukannya dengan sungguh-sungguh, tidak ada niatan saya untuk curang, atau melakukan hal yang bisa merugikan perusahaan. Karena setelah bekerja dan berbaur mereka, saya menyadari banyak hal, terutama soal tanggungjawab, rasa peduli, serta kerja sama team meski ya seperti ibu tahu banyak juga orang-orang yang carmuk hanya demi posisi." Gavin tersenyum miring ternyata Faldo sudah jauh lebih baik dari dirinya beberapa tahun lalu, dia memang jauh lebih dewasa, tatapan pria itu beralih pada Nayuwan yang masih menyimak penjelasan Faldo tanpa menunjukan ekspresi apa-apa. Meski begitu Gavin tetap melihat semburat kekecewaan di raut wajah Nayuwan, yang bisa diartikan meski Nayuwan mempertimbangkan kembali keputusannya namun kesempatan Faldo untuk mendekati Nayuwan hampir hilang sepenuhnya.
Benar yang dikatakan Satria waktu di perjalanan tadi, meski Nayuwan terlihat mudah digenggam pada kenyataannya untuk memiliki perempuan itu seperti mendaki gunung Everest, trauma dimasa lalunya cukup dalam meski dari luar kini terlihat sembuh dan baik-baik saja, nyatanya tetap meninggalkan cacat untuk seumur hidupnya.
"Udah selesai?" tanya Nayuwan datar. Faldo hanya mengangguk dengan tatapan pasrah.
"Ok, kamu masih boleh bekerja di Hanna Garment, toh selama kamu bekerja di sana kamu tidak melakukan hal yang merugikan perusahaan," Faldo tersenyum sumberingah saat Nayuwan tidak jadi memecatnya secara halus, "Tapi mulai saat ini tolong jaga jarak dengan saya" namun seketika langsung berubah menjadi muram kembali, darahnya berdesir mengaliri seluruh tubuhnya, bulu romannya meremang begitu saja. Wajahnya menyiratkan kekecewaan, Nayuwan hanya menatapnya dingin.
"Gue cabut ya,"ujar Nayuwan berpamitan sekali lagi, melambaikan tangan tanpa membalik badannya lagi. Gavin pun segera mengejarnya, Nayuwan yang sudah berada di atas motornya dengan gagah bersiap menyalakan mesin motornya setelah memasangkan helm dual-sport miliknya.
Dengan gerak cepat tangan Gavin mengambil kunci motor yang sudah terpasang pada tempatnya. Dengan kesal Nayuwan membuka kembali kaca helmnya.
"Vin, ngga usah kayak bocah deh" kata Nayuwan dengan kesal.
"Gue ikut" sahut Gavin menyilang tangan di d**anya menyembunyikan kunci salah satu tangannya.
"Gue ngga bawa helm 2 Vin,"
"Ada kok" sahut Gavin melirik motor milik Gina.
"Nanti gimana pulangnya kalo ngga pake helm, ngga usah nyusahin anak orang dah, ini kota, bukan jalan kampung yang bisa bebas lepas helm pas di jalan"
"Siapa bilang aku cuma mau pinjem helmnya doang, ya sama motor plus STNK-nya lah, biar si Gina balik sama si Satria, itung-itung bonus biar mereka bisa kencan kaya kita" seloroh Gavin enteng.
__ADS_1
"Hh?? kita?? Kencan? Vin lu bener-bener mabok ye?" ujar Nayuwan mengenye ucapan Gavin barusan.
"Yah tadinya saya mau minta anterin Gina buat pulang"ujar Reva dengan nada kecewa.
"Kamu ikut mobil aja sama Satria, mereka bisa drop kamu dulu sebelum mereka jalan-jalan" Gavin masih gencar memainkan intriknya.
"Dill, lu mau balik ama gue ngga?" tanya Moya yang sudah bertengger di atas motor Vixion miliknya.
"Yoi dong, gue malah udah bawa helm dari rumah hahhahaaha" Ardilla segera memasang helm miliknya dan menaiki jok penumpang milik Moya.
"Moy, harusnya tempo hari lu minta ninja atau ducati aja, biar lebih gahar" Ardilla melirik Nayuwan.
"Nona Ardilla, kita ini udah berumur sayang, jadi kita membeli sesuatu itu sesuai fungsinya bukan gengsinya ya" ujar Nayuwan sarkas.
"Udahlah, bener kata Nayuwan, kita pakai apapun itu sesuai fungsi bukan gengsi, kalo soal skill boleh di adu kok" Moya memainkan ke dua alinya, seraya melempar smirk nakal pada Ardilla yang menantang dirinya menikmati adu adrenalin bersamanya.
"Najis gue, tempo hari aja berasa lagi ngeprank malaikat maut" tolak Ardilla mentah-mentah reflek tangannya ringan memukul bahu Moya, Moya yang mengaduh mengusap bahunya yang terasa pedas namun disertai tawa lepas dari bibirnya.
Faldo keluar sesaat setelah Satria dengan wajah kusut, melihat hal demikian Gavin tersenyum miring mengejek Faldo yang tengah gusar karena Nayuwan jelas sekarang mungkin akan memasang tembok di antara mereka. Gavin mendekati Faldo kemudian merangku bahu Faldo.
"Om curang" ujar Faldo sinis
"Curang apa ? Toh cepat atau lambat juga Nayuwan bakal tau siapa kamu sebenarnya meski bukan lewat tadi, dan mungkin impactnya bisa lebih parah dari ini"
"Tapi aku ngga akan nyerah, kita liat aja nanti Nayuwan akan berlabuh pada siapa? Oia, sebagai mantan calon keponakan yang baik, aku ingin mengingatkan minggu depan adalah tepat 13 tahun peringatan kematian tante Freya, pastikan Om datang ya" Gavin terdiam sesaat kemudian menatap Faldo yang kini memamerkan seringai kemenangan.
****
sarang heo...
*******
( ˘ ³˘)❤
*******
__ADS_1