
Reva Agnia Putri, seorang putri dari keluarga biasa, meski nama keluarganya cukup disegani di lingkungan tempat tinggalnya. Namun dibanding Pak Adi, ayahnya Reva, ibu Dinda, Mamanya Reva lebih populer karena memang terbilang aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan amal di kota mereka. Sama halnya dengan para sahabatanya, Reva juga tergolong perempuan cerdas yang mandiri meski memang sifatnya lebih tertutup di banding yang lainnya. Dari segi penampilan pun Reva tampil lebih sederhana, terkesan halus, anggun, dan tertutup.
Vito memandangi punggung seorang wanita yang kemungkinan besar adalh wanita yang memang ia ajak untuk bertemu muka di sana. Ia seolah terpesona dengan keanggunan yang terpancar dari wanita yang masih berdiri membelakanginya, wanita itu nampak sibuk menoleh ke kanan dan ke kiri tanpa sadar Vito pun tersipu melihat tingkah perempuan yang bahkan belum ia pastikan apakah benar perempeuan itu yang sdduah mengatur janji temu dengannya di caffe tersebut siang itu.
"Ekhem.. Reva..?" seketika tubuh Reva seperti tersengat listrik ketika suara seorang pria menyebut namanya. Seakan ada di dalam adegan slowmotion Reva dengan perlahan membalikan tubuhnya menghadap ke arah sumber suara. Reva nampak mengerutkan keningnya saat mendapati sosok Vito tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit dia artikan, hingga membuat dirinya menundukan wajahnya menghindari tatapan Vito padanya meski sesekali ia mencuri pandang menatap ke arah Vito.
"Hmmm.. Kamu Vito?" tanyanya dengan suara lirih, terdengar sangat sopan di telinga Vito. Pria itu pun mengangguk dengan cepat ia segera mengulurkan tangan kepada Reva,
"Benar, kenalin aku Vito anak bungsu Mama Arum"ujar Vito mencoba mencairkan suasana, Reva terlihat agak ragu untuk menjabat tangan Vito, namun dengan sabar tetap menunggu Reva untuk menjabat uluran tangannya.
"Reva, aku ... anak pertama dari mama Dinda,"sahut Reva menggenggam lembut tangan Vito. Hingga tanpa sadar mereka tetap dalam posisi itu untuk beberapa menit hingga sebuah suara merusak moment mereka,
"Hei jangan lama-lama salamannya tar kena hasut setan lho" ujar Gavin sambil merangkul pundak Vito yang mendecih karena mereka terganggu dengan kehadiran Gavin yang tiba-tiba muncul dan di ikuti ke dua sahabatnya yang menyusul kemudian. Refleks reva segera menarik kembali tangannya salah tingkah.
"Apa-apaan sih lo Vin , gangguin orang aja" hardik Vito, namun Gavin seolah tak perduli dengan protesan Vito padanya.
"Hai Rev," sapa Gavin ramah. Reva hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan disertai senyum ramah yang terlihat sangat manis tersungging di bibir Reva.
"Kok lu kenal dia Vin?" Vito terheran dengan Gavin yang terlihat sudah lebih akrab dengan Reva.
"Kenal lah, kan dia sohibnya bokin gue" jelas Gavin tanpa beban.
"Hah? Bener Kamu sahabatnya Nayuwan?" Reva menjawab dengan sebuah anggukan yang terlihat meyakinkan.
"Dunia selebar ini kenapa kita selalu terhubung dengan orang-orang di sekitar Nayuwan ya" celetuk Rendra ikut bicara.
__ADS_1
"Itu tandanya berkah pak Ren" sahut Reva.
"Vit, Lo ngga mau kenalin ke kita nih siapa bidadari solehah ini." goda Haidar sembari melempar senyuman dan lirikan pada Rendra yang ikut-ikutan menggoda Vito yang sudah terlihat kesal dengan tingkah para sahabatnya. Meski enggan akhirnya mau tidak mau Vito harus mengenalkan Reva pada satu sahabatnya yang tersisa yang kini tengah cosplay menjadi setan usil yang mengganggu ketentraman dirinya, Reva pun mengenalkan dirinya dan menyalami Haidar.
"Vit, kalo lu emang ngga mau dijodohin sama doi biar gue aja yang gantiinya," ujar Haidar dengan gaya khas selengeannya.
"Udah pergi-pergi sana, Pak Presdir juga bukannya mau ada meeting kenapa belum pergi juga" usir Vito tak tahan lagi dengan gangguan dari para sahabatnya itu.
"Ah ga asyik lu mah Vit, " protes Haidar.
"Bapak-bapak CEO tolong balik ke kantor masing-masing ya tolong displin biar bisa jadi contoh yang baik untuk para pegawainya pak, kalo saya kan memang sedang cuti," Vito sekali lagi mengusir para-para bapak-bapak yang masih melajang padahal usia mereka sudah mendeketi expired.
"Tadinya aja kek sok sok ogah buat dijodohin, pas udah liat calon bininya spek bidadari langsung bucin, dasar ngga konsisten " cibir Haidar mulutnya benar-benar lemes seperti emak-emak tukang sebar aib tetangga. Vito hanya diam namun jelas terlihat salah tingkah.
"Iya iya kita emang mau balik kok, gue juga ada meeting Marriott sama orang Jepang. Rev, saya pamit dulu ya, kapan-kapan kita curhat-curhat ya" goda Gavin sembari berpamitan.
"Ya udah deh jam makan siang bentar lagi abis juga, ya udah kita berdua juga pamit ya cantik" ucap Haidar tebar peson, Vito memutar bola matanya malas mendengar ocehan si playboy kabel.
"Saya juga deh, kapan-kapan kita ngadate bareng seru kali ya." ajak Rendra, kali ini dia mendelik oada Haidar yang meski dia sudah memiliki kekasih namun bukan benar-benar seseorang yang ia kencani dengan serius.
"Suee lu, tadi ceng-cengin sih Vito sekarang malah ke gue" Gavin, Reva, dan Vito pun tergelak ketika melihat raut wajah Haidar yang berubah kesal. Dan akhirnya mereka semuapun meninggalkan caffe meninggalkan Vito dan Reva di sana.
Suasana kembali menjadi hening sepeninggal para sahabat Vito yang sedikit rese dengan urusan orang.
"Hmm jadi kamu sahabatnya Nayuwan, sudah berapa lama kalian bersahabat kalo boleh tau," ucap Vito mencoba mencairkan suasana yang atmorfirnya terasa agak tegang.
__ADS_1
"Hmm baru sih, mungkin sekitar baru 10tahunan kalo ngga salah" jawab Reva singkat jelas dan padat, kemudian mereka kembali terjebak dalam suasana canggung.
Vito tampak memperhatikan Reva dengan intens,
"Kenapa? Aku keliatan aneh ya?" tanya Reva karena merasa sedikit risih dengan tatapan Vito.
"Ah.. Ngga kok,"
"Terus kenapa ngeliatin saya kaya gitu?"
" Karena kamu cantik" ungkap Vito, tentu saja sukses membuat perempuan di hadapannya tersipu malu sampai membuat pipinya merah merona.
"Hmm boleh saya tanya sesuatu pak" Reva nampak sedikit serius.
" Bapak kok mau datang ke sini,"
" Awalnya saya ke sini memang terpaksa atas suruhan Mama, tapi setelah ke sini dan kita saling bertatap muka, sepertinya saya akan benar-benar menyesal jika tadi saya tidak ke sini lalu membatalkan perjodohan secara sepihak. kalo kamu?"
" Ya sama seperti Bapak, datang ke sini hanya karena ngga mau ngecewain Mama"
"Jadi kamu menyesal setelah bertemu saya?"
"Entahlah kita belum saling mengenal lebih jauh, tapi sepertinya menuruti keinginan Mama tidak ada ruginya juga, kalo misal cocok ya mungkin bisa ke tahap yang lebih serius" ucap Reva malu-malu sambil mengaduk-aduk jus alpuket pesanannya. Lantas mereka pun mulai mengobrol tanpa canggung, mereka mulai terhanyut dalam suasana yang lebih nyaman dan lebih akrab.
*******
__ADS_1
sarangheo
******