
Ingin rasanya Gavin memarahi Nayuwan hingga terluapkan seluruh emosinya yang sudah berada dipuncak kepalanya. Kilatan matanya menyalang pada pada Nayuwan. Bahkan Yusuf pun sampai bisa merasakan energi yang siap meledak dari Gavin.
"Vin, tenang dulu, biarkan Nayuwan menyelesaikan dulu ceritanya" lerai Rendra, sepintas Gavin melempar tatapan menghujamnya pada Rendra, rongga d**a Gavin terlihat naik turun karena emosi yang harus ia tahan pada Nayuwan. Nayuwan menyodorkan segelas air putih pada Gavin berharap pria itu mau menerima dan mau memimumnya. Gavin merebut gelas itu dengan kasar dan meminum airnya hingga tandas. Perlahan emosinya kembali stabil, dengan hati-hati disertai ada sedikit kengerian tersisa Nayuwan perlahan mengusap-ngusap punggung Gavin, sampai Gavin pun akhirnya bisa benar-benar meredakan kemarahannya pada Nayuwan.
"Aku sudah tidak apa-apa, lanjutkan cerita mu" seru Gavin.
"Tidak sepenuhnya salah, tidak juga sepenuhnya salah." ucap Nayuwan sesekali mencuri pandang ngeri-ngeri sedap pada Gavin takut kalau-kalau emosinya tiba-tiba meledak lagi.
"Tidak sepenuhnya salah, karena dari awal mereka sudah menyerangku dengan membabi buta. Tidak sepenuhnya benar karena yang membuat kebakaran itu bukan aku, tapi orang lain dia menyamar menjadi pelayan penjaga makanan kudapan, sedang aku hanya memperbesar api itu" jelas Nayuwan masih merasa terintimidasi oleh tatapan Gavin.
" Saat api mulai membesar barulah mereka menyadari sosok lain dalam dirinya. Mereka langsung bersimpuh memohon pengampunan dan menyebutku "Diajeng Ayu".. " wajah Yusuf nampak sangat terkejut ketika menengadah terbeliak menatap Nayuwan yang menuturkan mereka mengenali perempuan itu sebagai "Diajeng Ayu". Tiba-tiba beban ditengkuk Nayuwan makin terasa berat. Belum ia menghadapi Gavin yang mencekam , sekarang di tambah lagi Yusuf.
"Kalian berdua bisa ngga berhenti memelototi ku seperti itu" ujar Nayuwan merasa tak tahan lagi dengan tingkah dua makhluk beda alam itu. Yusuf langsung tertunduk begitu mendaptkan teguran dari Nayuwan, bagaimanapun Nayuwan bisa menjadikannya menjadi butiran debu jika ia marah padanya. Sedang Gavin hanya memalingkan wajahnya sesaat sambil mendengkus kasar.
"Kalo kamu punya kekuatan sebesar itu, lalu kenapa kamu meminta bantuan dari kami yang jelas-jelas tidak memiliki kekuatan atau pengetahuan mengenai hal mistis semacam itu." delik Vito masih bingung dengan apa yang terjadi.
"Sayangnya aku bukan orang suka ngulik hal-hal semacam itu." ucap Nayuwan menghedikan bahunya.
"Lalu?" sinis Haidar.
"Aku sudah katakan jika aku bukan cenayang yang bisa meramal masa depan. Tapi entah mengapa feelingku mengatakan jika masalah ini belum selesai, makanya aku antisipasi dulu,"
"Ok, katakanlah kami percaya dengan semua cerita mu,, sekarang jelaskan siapa itu "Diajeng Ayu" itu?" sahut Rendra.
"Hmmm agak sulit aku menjabarkannya. Mmh.. mungkin bisa aku katakan itu semacam gelar yang mereka sematkan padaku."
__ADS_1
"Sungguh Diajeng tidak tau?" Yusuf tiba-tiba ikut menyahuti. Nayuwan menggelengkan kepalanya karena memang ia sendiri bingung kenapa "mereka" menyebut dirinya "Diajeng Ayu".
"Bukan tanpa alasan sebutlah golongan kamu menyebutmu Diajeng, karena memang sejak dalam kandungan Diajeng sudah mendapatkan keagungan tersebut. Secara harfiah "anugrah" dari Yang Maha Kuasa yang memang diberikan hanya pada orang-orang yang dianggap sangat layak. Dan orang-orang pilihan ini dianggap akan mampu menjadi penyeimbang dunia manusia dan dunia tak sakat mata yang berselisih sedikit saja jaraknya"
"Apa maksud dari penyeimbang itu adalah penghancuran?" selidik Satria.
"Benar, tapi juga kurang tepat. Pada dasarnya Diajeng Ayu nantinya akan menjadi pemimpin di alam ghaib sama seperti kanjeng ratu kidul. Nah karena sosok Diajeng Ayu adalah manusia tentu tingkatan mereka ada puncak kekuasaan. Bangsa jin kafir, mereka sangat suka menghasut agar seorang yang terlahir sebagai Diajeng Ayu agar mau menikah dengan bangsa mereka biasanya karena 3 alasan ini. Yang pertama karena mereka sudah jatuh cinta pada kecantikan Diajeng Ayu" tatap mata Gavin seketika menyalang pada Yusuf, rasa cemburunya tiba-tiba berkobar begitu saja mengingat tampang dan perawakan Yusuf adalah tipikel yang kriteria Nayuwan.
"Tenanglah Tuan Gavin, saya tidak ada niatan menikahi Diajeng Ayu yang satu ini. Kalaupun ada bangsa Jin yang menginginkan Diajeng Ayu artinya mereka siap binasa" kali ini Nayuwan yang melontarkan tatapan tajam pada Yusuf.
"Tapi itu faktanya Diajeng " ringis Yusuf serba salah.
"Aku sudah bertemu dengan beberapa Diajeng ayu, tapu diantara mereka semua. Diajeng satu-satunya yang memiliki aura sangat menakutkan." tiba-tiba Haidar terbahak mendengar penuturan Yusuf mengenai Nayuwan yang memiliki perangai dan aura sadis
"iishh, kenapa kalian mau anggap aku juga kejam" ujar Nayuwan menyolot pada semua orang termasuk Gavin. Meski ingin ikut tertawa akhirnya Gavin hanya menahan senyum saja, namun dalam hatinya ia merasa jumawa karena bisa memiliki wanita yang ternyata sangat hebat dan tanggung bahkan ditakuti oleh bangsa bukan bangsa manusia.
"Lalu yang ke dua apa?" tanya Gavin yang membuat suasana menjadi hening kembali.
"Yang kedua adalah mereka menginginkan kekuasaan dan kekuatan yang dimiliki seorang Diajeng Ayu. Yang ketiga karena mereka takut dibinasakan"
"Jadi maksudmu Nayuwan benar-benar bisa menghancurkan mereka?" Rendra menelisik makin penasaran.
"Benar Tuan Rendra. Sejujurnya terkadang takut jika Diajeng benar-benar membinasakan saya, meski saya tau jika Diajeng Ayu tidak akan benar-benar melakukannya pada saya." tutur Yusuf sedikit bergeser dari posisinya semula.
"Beruntungnya Diajeng ayu bukan orang yang tertarik dengan dunia kelenik. Karena semisal Diajeng Ayu benar-benar tertarik dengan hal mistis, saya tidak akan tau apa arti kedamaian di dunia paralel ini"
__ADS_1
" Lalu apa yang ibh tuliskan di punggung kami tadi?"
tanya Gina.
"Itu pelindung untuk kalian, sudah aku katakan aku memiliki feeling kurang baik mengenai Mahendra, itu hanya untuk berjaga-jaga takutnya memang terjadi sesuatu padaku nanti" ujar Nayuwan cengir kuda.
"Lalu tali ini untuk apa?" tanya Moya.
"Aku mau minta tolong pada kalian, semisal tiba-tiba aku menghilang tanpa jejak apapun, tolong kalian rahpalkan tulisan yang merah itu pada kamis malam tepat jam 12. "
"Maksudnya ketika ketika akan berganti ke hari jumat?" tanya Dilla
"Benar."
"Kenapa?" tanya Satria
"Tadi aku sudah jelaskan tulisan yang berwarna merah itu untuk memanggil Yusuf yang akan membawa kalian ke tempat ini kembali nanti kalian duduk dengan posisi berurutan seperti saat ini, kemudian ikatan dipinggang kalian denga simpul mati. Nah sisa talinya nanti kalian ikatkan pada tali putih yang diikat pada orang yang berada di tengah. Dan saat itulah kalian baru rahpalkan tulisan yang berwarna hitam, sebanyak 999kali baru setelahnya kalian bacakan ayat kursi dan bacaan Sulaiman. jika dalam dua jam setelah kalian rahpalkan semua dzikirnya dan aku belum kembali juga tolong putuskan tali yang berwarna putih tepat di bagian yang ada tanda merah ini dan relakan aku" ucap Nayuwan menahan perih di rongga tenggorokannya.
"Maksudnya?" manik mata Gavin menelisik air muka Nayuwan lekat-lekat bersemaan dengan Nayuwan yan menoleh menatap manik mata Gavin yang terlihat gelap, binar matanya bergetar seolah berkata "tenanglah Tuan, aku akan baik-baik saja" namun pada akhirnya ia tak mampu lagi menahan air matanya agar tak jatuh saat manik mata mereka saling beradu.
*******
sarangheo..
******
__ADS_1