
Nayuwan berjalan mengikuti Gavin dari belakang sebelum pria itu menyadari jika wanita itu mengekorinya bukan berjalan di sampingnya. Lantas iapun berbalik menghadap Nayuwan secara tiba-tiba yang membuat wanita itu menabrak dirinya.
"Iish kenapa?" gerutu Nayuwan.
"Kamu yang apa-apaan, emang kamu ini si Satria yang kerjanya ngekorin aku mulu" omel Gavin, Nayuwan menghela nafasseraya mengerjap-ngerjapkan matanya menatap Gavin heran. dengan wajah polos. Gavin menyugar rambutnya kemudian mengusap wajahnya dengan frustari saat melihat mimik wajah Nayuwan yang terlihat polos dan menggemaskan saat wanita itu mengerjapkan matanya menatapnya bingung.
"Hehh ,, " Gavin terkekeh sendiri berputar sambil berkacak pinggang membelakangi Nayuwan yang merengut bingung dengan tingkah pria di depannnya yang terlihat gusar.
"Kamu kenapa sih? Udah buruan kita udah ditungguin didalam" ajak Nayuwan menghela nafas lalu berjalan melewati Gavin begitu saja. Segera Gavin meraih tangan wanita itu dan menariknya ke dalam dekapannya. Satria dan Gina saling melirik satu sama lain lantas memutar tubuh mereka bersamaan.
"Padahal kalo mau pacaran kena ke di rumah aja gitu, jadi kita kan bisa pacaran juga ditaman tanpa perlu melihat mereka pamer kemesraan" ujar Gina menggerutu seraya menundukan kepalanya. Satria tersenyum tipis sembari menepuk-nepuk punggung kekasihnya itu. Gina menoleh sesaat kepada pria yang notabennya adalah asisten pribadi Gavin sekaligus sekaligus pacarnya beberapa bulan ini. Ia menghembus nafasnya dengan percuma.
"Tuan ! Apa-apaan sih?" ujar Nayuwan memberontak.
"Bentar aja, lagian kita bentar lagi nikah, masa peluk doang ngga boleh" rajuk Gavin.
"Boleh, tapi kita selesaikan dulu masalah kita dengan Mahendra. Ok?" bujuk Nayuwan dengan nada lemah lembut.
"Bisa juga kamu ngga galak Queen?"
"Iish nyesel aku udah baik-baikin kamu" sahut Nayuwan kembali ke mode judes.
"hehhe,, maaf,, Queen aku,, aku mencintaimu Queen" ujar Gavin patah-patah dengan wajah tertunduk tersipu malu, pria itu terlihat imut ketika pipinya merona. Nayuwan menatap lekat-lekat manik mata Gavin yang bergetar, terlihat cantik dengan warna coklat pekat dan bulu mata panjang yang lentik. Binar mata Nayuwan ikut bergetar saat mendengar ungkapan perasaan Gavin untuk pertama kalinya. Lantas Nayuwanpun melingkarkan tangannya di pinggang Gavin seraya mengulas senyum manis di bibirnya. Kemudian dia melabuhkan wajahnya ke da** Gavin, terdengar jelas ritme jantung Gavin yang berdegup dengan cepat.
__ADS_1
"Tuan, aku juga seperti mulai mencintaimu, tapi..." Nayuwan menatap lembut manik mata Gavin, perlahan makin mendekat mendekati wajah Gavin, ritme jantung pria itu makin cepat ia rasakan tatkala Nayuwan makin mendekatkan wajahnya ke wajahnya. Namun terhenti hingga jarak tinggal beberapa senti saja.
"bisakah berhenti bersikap konyol?!" hardik Nayuwan menipiskan bibirnya dan tangan kanannya mencubit perut Gavit sekuat-kuatnya hinggap pria itu pun berteriak kesakitan.
"Aaaahhh, sakit sakit saakiit!!" teriak Gavin berusaha melepaskan cubitan diperutnya. Gina dan Satria berusaha menahan tawa mereka agak tidak tergelak.
"Ppphhfftt" Gina terkekeh di balik punggung lengan Satria. Sedang Satria tertunduk menggigit bibir bawahnya.
"Heran da, dari tadi teh meni ngga ada serius-serius na" ujar Nayuwan sembari menarik tangannya lantas melengos dengan wajah kesal meninggalkan Gavin yang masih mengaduh memegangi bagian perutnya yang barusan dicubit dengan kuat oleh Nayuwan.
"Iiishh kalo bukan .."
"Bukan apa?? " potong Nayuwan berbalik menatap Gavin dengan tatapan kejam. Gavin seketika mematung menelan ludahnya saat Nayuwan kembali ke hadapannya.
"Hmmm.. bukan apa-apa sayang, hayook kita ke dalam" ajak Gavin menggapit lengan Nayuwan lalu menariknya ke dalam restoran.
"Bang, boss mu sepertinya bakal jadi anggota ISTI kalo udah nikah sama si ibu " kekeh Gina.
"Ya biarin aja, siapa tau di kantor juga jadi ngga bengis-bengis amat hahaaha," ucap Satria tergelak namun sesaat kemudian berdehem menetralkan tawanya sembari membenarkan dasinya lantas melangkah dengan gaya sok cool, Gina yang melihatnya cengir mengejek.
Di dalam restoran keluarga Mahendra sudah menunggu, berikut dengan Gusman seseorang yang dianggap tetua yang biasa berhubungan langsung dengan yang mereka sebut "Kanjeng Gusti". Atmosfir sekitar terasa lebih suram tatkala Nayuwan dan Gavin sudah berdiri berhadapan dengan keluarga Mahendra. Netra Nayuwan menyorot tajam saat berjabatan dengan Gusman, namun ternyata dalam tubuh Gusman kosong saja, padahal ia mengira makhluk itu pasti ada dalam tubuh Gusman. Lantas Nayuwan beralih menyalami satu persatu anggota keluarga yang lainnya hingga iapun bersalaman dengan Mahendra. Ternyata makhluk itu menunggunya di dalam diri Mahendra. "Cih kenapa aku berfikir dia akan berada dalam tubuh pria tua itu, dasar licik " gumam Nayuwan dalam hati, sudut bibirnya menyungging tipis saat menyadari kekeliruannya.
"Mari mari silahkan duduk dulu, " ajak seorang wanita paruh baya, mungkin itu adalah ibunya Mahendra. Gavin dan yang lainnya mengangguki dengan sopan dan takzim lantas duduk di kursi yang telah disediakan. Nayuwan memilih duduk tepat dihadapan Mahendra, meski Gavin nampak tidak suka namun ia tidak mungkin menghardik Nayuwan disaat seperti ini.
__ADS_1
Nayuwan menatap lekat-lekat pada pria yang duduk di hadapannya, semua nampak baik-baik saja.
"Jadi sepertinya kamu sudah tau apa yang aku inginkan?" ucap pria itu memecah kebisuan. Gavin menatap tajam pada sumber suara, Nayuwan yang menyadarinya segera menggenggam jari jemari Gavin agar tidak terpancing emosi.
"Tentu saja, tidak mungkin aku tidak tau niat bulusmu itu, dengan kamu menyimpan roh Mahendra saja sudah menjelaskan apa yang kamu inginkan melalui tubuh itu,"ujar Nayuwan dengan wajah mengejek seraya melipat kedua tangan dan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa restoran menatap sinis pada sosok yang bersemayam di tubuh Mahendra. Semua orang terkesiap menatap pada mereka berdua, mereka terkejut dan perasaan dingin yang mereka rasakan sejak tadi terasa makin menusuk kulit mereka begitu mendengar ucapan Nayuwan, bahkan Gusman terbeliak melotot tajam pada Mahendra ia sama sekali tidak menyadari jika Mahendra sejak awal sudah dirasuki sosok lain.
Mahendra mengulum tersenyum sinis seraya memainkan lidahnya di rongga mulutnya,ia menjauhkan tubuhnya dari meja, kedua tangannya menjulur lurus dengan telapak tangan menumpu pada bibir meja, sesaat ia nampak gusar sejurus kemudian ia menatap tajam menyalang pada perempuan yang duduk berhadapan dengannya seolah-olah ia ingin menerkam dan memakan Nayuwan bulat-bulat. Suasana kembali hening.
Suara gesekan dari roda service stand trolley yang di dorong seorang pelayan sedikit memecah ketegangan yang ada. Pelayan itu lantas menghidangkan makanan yang sudah keluarga Mahendra pesankan sebelum Nayuwan dan yang lainnya datang ke restoran dengan hati-hati, tangannya terlihat agak bergetar, ada sisa bulir-bulir keringat yang merembes halus dipilipisnya, gerak-geriknya makin canggung ketika manik matanya melirik ke sebelah kanan dimana Nayuwan duduk, ia makin terlihat gelisah tatkala manik matanya saling beradu kontak dengan dengan manik mata Nayuwan yang menyipit tajam menatapnya.
"Yusuf, bawa pergi dan alihkan perhatian makhluk ini selama aku membawa yang lain ke dunia paralel, kau bebas bermain-main dengannya sesuka hati, tapi ingat harus jauh dari pemukiman penduduk!" seru Nayuwan pada Yusuf melalui kontak batinnya.
"Saya mengerti Diajeng" jawab Yusuf.
Lantas Nayuwan menghela nafas panjang saat mengambil sendok lantas memakan sajian seolah tidak terjadi sesuatu.
"Kalian makanlah, jangan mubadzir makanan, aku jamin makanan ini aman, benarkan pak Mahendra? Ah bukan.. Kanjeng Gusti?"ucap Nayuwan sembari menyeringai pada lelaki tengah menatapnya lekat-lekat dengan raut wajah datar yang sulit diartikan maknanya"
********
sarangheo
*****
__ADS_1