
Setelah makan malam Nayuwan dan Gavin berjalan menyusuri sungai Han yang terkenal. Dari sekian banyak pesonanya, Sungai Han memiliki salah satu spot favorit yaitu Taman Banpo Hangang, yang sering dikunjungi penduduk lokal maupun turis asing. Taman ini sering menjadi tempat piknik di sore atau malam hari oleh kaum muda Korea karena dibuka 24 jam, nyaman dan tentu saja romantis. Taman Banpo memiliki area yang cukup luas, tapi spot di depan Banpo lah yang paling menarik perhatian Nayuwan,
Karena dari sana mereka bisa melihat dengan jelas keindahan jembatan Banpo mengeluarkan air mancur pelangi yang indah.
"Kau senang?"ujar Gavin menoleh pada Nayuwan yang masih fokus ke arah Brigde Rainbow Fountain. Perempuan disampingnya mengangguk dengan riang.
"Ya tentu saja, harusnya aku bawa anak-anak ke sini juga" sahut Nayuwan.
"Apa kamu tidak menyadarinya?" Gavin menatap Nayuwan lekat-lekat hingga membuat tubuh Nayuwan medongak ke belakang menjauh dari wajah Gavin yang makin mendekatinya.
"Bisakah kau singkarkan wajahmu dari ku, pinggangku hampir patah" alih-alih memundurkan wajahnya Gavin justru meraih pinggang ramping milik Nayuwan. Pria itu memeluk erat pinggang Nayuwan yang meronta dan menaboki d**a Gavin dengan cukup keras.
"Jangan sampai aku menghajar wajah tampan mu tuan Gavin !!" pekik Nayuwan, dari tatapan matanya yang menghujam terlihat jika Nayuwan merasa sangat tidak nyaman.
"Apa kau mau menikah dengan ku?" ujar Gavin makin merekatkan pelukannya.
"Lepaskan aku tuan Gavin aku susah bernafas, lagi pula ini tempat umum tuan Gavin !!" pekik Nayuwan masih berusaha mencari celah agar bisa terlepas dari pelukan pria ini.
"Jadi kalo bukan di tempat umum aku boleh memelukmu ?" goda Gavin, smirk bibir Gavin tentu saja makin membuat Nayuwan makin kesal.
"Jangan macam-macam kamu "Nayuwan makin gusar dengan Gavin yang malah makin erat memeluk pinggangnya.
__ADS_1
"Jangan banyak gerak nanti yang dibawah sana makin susah aku tenangkan " ujar Gavin sontak membuat bola mata Nayuwan membola menatap Gavin.
"Cari penyakit sendiri , heran ?? Udah makanya lepasin.."Nayuwan merengut.
"Makanya jawab dulu, kamu mau nikah sama aku?" kali ini nada suara Gavin terdengar lebih lembut, netra mereka kini saling beradu, pukulan Nayuwan melemah hingga akhirnya berhenti, wajah mereka makin mendekat. Nayuwan yang terbawa nuansa romantis tempat tersebut menutup matanya, Gavinpun tak membuang kesempatan untuk mencium bibir Nayuwan yanh seakan sudah pasrah. Namun sebuah tangan merusak memont tersebut, dan membuat dua sejoli yang hampir berciuman pun sontak mata mereka membeliak terkejut bercampur malu. Dan tangan lembut perusak moment tentu saja tak lain dan tak bukan adalah milik Alea.
"A,, Aah! " seru Alea seraya menggoyangkan jari telunjuknya ke kiri dan ke kanan.
"Mommy aku belum resmi jadi istrinya Om, lagian Om itu baru kita kasih lampu kuning, belum lampu ijo udah main sosor aja, " Gavin mengusap wajahnya kemudian menyugar rambutnya dengan frustasi, sedang Nayuwan berdecak dan meringis menyembunyikan rona wajahnya yang sudah tentu merag padam karena malu, ingin rasanya dia menceburkan diri ke dalam sunga Han jika ia tidak ingat jika dirinya hanya bisa berenang gaya batu saja. Mereka melihat kesekelilingnya. Ternyata bukan hanya ada Alea "si perusak moment" yang ada di sana, tapi juga seluruh anggota yang lain yang tengah menyiapkan barbequean.
"Kalian mengikuti kami ?" selidik Nayuwan menatap lekat satu persatu anggota keluarganya.
"Ngga niat sih, cuma kan sayang aja malam terakhir kita di sini kalo cuma di hotel" ujar Moya bersedekap seakan mencibir Nayuwan
"Tenang Bu, kita udah preparre kok iya kan A," sahut Clara mengisyarat pada suaminya yang juga sibuk memanggang sekalis sibuk dengan Ayden yang tidak mau diam.
"Semoga kalian selalu akur,berkah,sehat dan bahagia dengan jalan kalian Nak," ujar ibu Vina menyeka genangan air matanya yang mulai menganak. Clara yang melihatnya ikut terbawa suasana haru, kemudian memeluk ibunya sambil tersenyum hangat.
Malam terasa panjang namun dipenuhi kegembiraan semua orang. Gavin dan Satria punikut larut dalam kehangatan keluarga Nayuwan. Mereka bernyanyi, menari, saling meroasting, saling bertukar cerita pengalaman mereka yang dianggap lucu hingga tanpa terasa waktu saudah menunjukan jam 12 lewat meski enggan mereka harus segera beristirahat karena besok mereka harus menyiapankan tenaga untuk berburu oleh-oleh untuk keluarga mereka di rumah. Hal yang paling di tunggu-tunggu untuk para wamita kecuali Nayuwan dia tidak terlalu excited dengan kegiatan wanita pada umumnya.
Nayuwan terheran menatap Gavin yang juga ikut keluar dari lift di lantai yang sama dengannya.
"Lho kamu ngga balik ke hotel kamu Vin? "tanya Nayuwan dengan tatan penuh curiga sebelum masuk ke ruang kamar miliknya. Sedang yang lain sudah tidak ada tenaga untuk menyimak satu persatu masuk ke dalam kamr karena sudah mengantuk berat.
__ADS_1
"Oh iya aku lupa bilang kalo kamar hotel tempatku menginap itu tepat di samping kamr kamu heheh" jelas Gavin tersenyum hingga menyipitkan matanya.
" Ciihh !!" Nayuwan mendecih sambil menurunkan ke dua tanganya yang tadi di lipat di depan d**anya.
"Dah lah terserah aja kamu mau tidaur dimanapun suka suka kau lah, dah ya aku ngantuk"ujar Nayuwan berbalik badan dengan acuh ketika melhat Satria sudah masuk ke kamar yang ada di depan kamarnya. Namun sebelum Nayuwan benar-benar akan masuk ke kamarnya, kembali lengan Nayuwan diraih oleh Gavin dan langsung memeluk tubuh Nayuwan yang yang hampir jatuh karena Gavin menariknya dengan cukup kuat.
"Gaviin !!" pekik Nayuwan menghempaskan tangan Gavin yang mencekal dirinya hingga membuat wajahnya terantuk ke d**a bidang Gavin, bola matanya terbeliak, membulat sempurna dengan kesal.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku, kamu maukan menikah dengan ku Nayuwan Gava Pramesti?" kembali Gavin menanyakan pertanyaan yang sama sewaktu mereka di tepian sungai Han tadi. Nayuwan menghela nafasnya berusaha menetralkan ritme degup jantungnya berdegup tidak karuan.
"Aku rasa jika aku jawab dengan mudah, rasanya kurang seru ya" cibir Nayuwan seolah menantang Gavin.
" Kamu ingin menguji keseriusanku atau kesabaranku Queen?"
"Buktikan saja, tapi perlu diingat aku berbeda dengan wanita-wanita lain yang selalu mengelilingi mu, aku tidak butuh harta mu, jabatanmu, ya walau harus aku akui wajahmu yang lumayan tampan memberi sedikit point ngga bikin malu saat aku bawa ke acara formal, kondangan nikahan misalnya. Tapi itu aja ngga cukup, jadi kamu harus melakukan effort lebih untuk sampai di sana juga pasti berbeda."ungkap Nayuwan memamerkan smirk menyungging tipis di sudut bibirnya sambil berbalik badan hendak mendorong pintu kamar namun Gavin kembali meraih Nayuwan yang hendak pergi ke kamarnya. Pria itu segera meraih tengkuk Nayuwan dan mencium lembut bibir Nayuwan. Perempuan itu kembali membeliakan bola matanya karena terkejut. Tubuhnya seaka membeku sekali seperti tersengat listrik, mengerjapkan matanya beberapa kali saat bibir Gavin bersentuhan dengan bibirnya.
"Sepertinya aku akan jadi gila jika tidak segera menikahi mu Queen" ungkap Gavin di depan wajah Nayuwan yang merona di ke dua pipinya setelah dirinya mencicipi bibir Nayuwan. Sedang perempuan yang ada dihadapannya menatap dengan tatapan syok, menatap Gavin yang masih rangkul dengan satu tangan dipinggang rampingnya satu tangannya masih berada ditengkuknya, dirinya mematung berusaha mencerna dengan apa yang baru saja Gavin lakukan kepadanya.
**********sarang heoo****
( ˘ ³˘)❤( ˘ ³˘)❤( ˘ ³˘)❤( ˘ ³˘)❤
*******
__ADS_1