
Bella menggigit bibir bawahnya seraya sesekali mencuri pandang dengan takut-takut ke sosok Harlan yang berdiri di sisi belakang kanan dirinya, dan Nayuwan yang duduk tepat di seberangnya nampak biasa saja, namun sikap seolah biasa itulah yang membuat dirinya makin merasa tersudut juga terintimidasi. Cara Nayuwan untuk mengembalikan semua ucapan Bella sekaligus mengembalikan muka dirinya serta Harlan kepada Bella sangat tepat sasaran hingga menjadikan dirinya "skakmat" tidak berkutik hanya dengan satu langkah saja.
"Lagi pula jika saya berselingkuh, perempuan yang jadi selingkuhan saya dia harus mau mengeluarkan uang dari dompetnya untuk membayari segala hal yang kami beli saat kencan, karena jujur saya tidak pernah membawa uang dengan jumlah besar atau pun ATm dalam dompet saya, paling besar cuma paling tiga ribu doang buat beli bensin atau jaga-jaga takut ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi di jalan perjalanan pulang-pergi dari rumah ke kantor dan sebaliknya, itu lah alasan saya kenapa sering menolak ajakan makan besar di luar, dan sebagai gantinya mengundang teman-teman makan di rumah saya itu ya karena memang saya tidak ada uang. Repot sih, tapi istri saya senang kok kalo banyak yang berkunjung katanya berkah untuk rumah kami jiga banyak yang mau bersilaturahmi. Tapi ya semisal kalo si perempuannya mau seperti itu sih saya seneng-seneng aja ada yang teraktir lumayan kan uang makan siang saya jadi awet" ujar Harlan dengan ekspresi datar.
Nayuwan nyengir di satu sudut bibir atas seraya memutar bola matanya tak menyangka Harlan bisa mengatakan hal mengeluarkan jokes "khas bapak-bapak"
"Yeeh si bapak ada juga pikiran begitu?" Nayuwan mensahutinya dengan mimik wajah mengenyek ketika mendengar kalimat di akhir, walaupun Nayuwan sempat tertawa.
"Ya siapa tau bu, ada gitu yang mau teraktir saya, walaupun tau jabatan saya seorang GM, kan ngga apa-apa, istri saya juga pasti senang," sahut Harlan berceloteh membuat suasana sedikit mencair.
"Diih dasar oportunis" ujar Safira mencebik geli sendiri mendengar ocehan rekannya itu.
"Harus bu, kalo ngga gitu kasian istri saya"
"Iya deh iya si paling sayang dan setia sam istri" ledek Ega dengan nada bercanda.
"Setia itu prinsip bu, ayah saya sampai akhir hayatnya juga menikah hanya satu kali, padahal ibu saya berpulang terlebih dari saat saya SMA, beliau mengatakan bahwa dia ingin saat diakhirat nanti bisa dipertemukan kembali dengan ibu saya. Katanya itu pasti ibu saya sedih jika begitu di alam abadi bapak malah bawa oleh-oleh madu dunia yang malah jadi huru hara, kan ngga lucu bu kalo di akhirat malah berantem gara-gara bapak saya bawa istri muda" Nayuwan mendelik pada Harlan sembari menekan pelipis dalamnya yang tertutup kerudung, terdengar tawa kecil dari Nayuwan, Ega, dan Safitri yang baru tahu jika Harlan bisa receh juga. Mau heran tapi ya dia bapak-bapak dengan jokes bapak-bapak.
"Dasar gila,, hehehe" ujar Nayuwan tertawa kecil.
"udah-udah ah, kita balik lagi ke bahasan yang tadi" Nayuwan mengakhiri sesi introgasi yang berakhir dengan jawaban pak Harlan yang terdengar nyeleneh dan seperti tidak meyakinkan tapi juga terdengar hal begitu Nayuwan makin percaya dengan kejujuran Harlan.
Mungkin itu cara Harlan untuk menangkis gossip miring mengenai dirinya yang "katanya" memiliki hubungan khusus dengan Bella, mau didengar berulang kali pun jelas adalah sebuah sindiran telak untuk Bella.
Nayuwan membuang nafasnya menenangkan tawanya, lalu berajak dari kursinya dengan membawa beberapa carik kertas ditanganya.
"Ekhem,, Ok, kita balik ke permasalahan di awal." ujar Nayuwan sembari menyandarkan bo**ngnya ke bibir meja kerjanya tepat di sisi kiri Bella yang mendongak sekilas ke arah Nayuwan lalu kembali menundukan wajah dalam-dalam perasaan kacau tak karuan, ritme jantungnya berdetak lebih cepat lagi.
Nayuwan dengan santai menyandar pada bibir meja dengan melipat tangan di depan menyembunyikan kertas yang ia pegang di dalam lekukan tangan.
"Ibu senior Bella.."
"Sa saya bu" jawab Bella dengan kepala makin tertunduk, keduatanggannya sibuk saling meremas berusaha agar sedikit mengurangi ketakutannya.
"Pck ! Santai bu, saya juga ngga bakal gigit ibu." Bella tidak berani menyahutinya. Nayuwan kemudian meletak 3 lembar kertas dengan posisi berjejer di depan Bella. Bola mata Bella membulat sempurna begitu ia membaca judul yang tertulis di sana.
__ADS_1
SURAT PERINGATAN PERTAMA (SP 1) berikut dengan dengan keterangan nama dirinya tertampang jelas di sana.
" Seperti yang ibu lihat, ini adalah SP 1. Bukan karena ibu berpakaian yang kurang layak untuk dipakai ke kantor, tapi karena ibu sudah melalukan pelanggaran yaitu perisakan atau pembullyan terhadap seorang yang sedang "magang" dan kebetulan seseorang itu sedang magang untuk jadi pemilik perusaahan ini."
mendengar hal itu, Bella langsung turun dari kursi dan berlutut dihadapan yang Nayuwan terhenyak dengan mata melotot
"Mohon maafkan saya bu, saya benar-benar tidak tau jika itu ibu," ucap Bella terdengar mulai mengisak. Nayuwan sendiri masih mematung dengan tatapan terkejut dengan apa yang sedang dilakukan oleh Bella, begitu iya tersadar segera meraih bahu Bella lalu membantunya berdiri.
"Ibu ngapain sih, saya kan cuma ngasih ibu SP doang, bukan surat pemecatan." ujar Nayuwan sembari membantu Bella duduk kembali ke tempatnya semula.
"Saya benar-benar minta maaf bu.. hiks hikss" ucap Bella sambil menangis tersedu-sedu. Nayuwan memperhatikan tingkah Bella dengan sikap acuh tak acuh disertai mimik wajah yang terlihat muak melihat cara Bella untuk mencari perhatian darinya.
"Udah ih malu bu, udah gede masih nangis-nangis begitu, dan tanpa ibu minta maaf pun saya sudah memaafkan, lagi.. siapa sih yang berani sama pacarnya pak Harlan, senggol dikit bisa kena lapor terus kena SP, kan ngeri.." cibir Nayuwan, Bella makin dibuat salahtingkah, perlahan menghentikan tangisan air mata buaya sama sekali tidak mempan.
"hekss.. saya benar-benar menyesal bu, saya janji ke depannya saya tidak akan melakulan hal seperti itu lagi" ujar Bella tertunduk dalam-dalam. Nayuwan menanggapinya dengan memutar bola matanya ke dua sudut bibirnya mengencang ke bawah. Safira dan Ega tentu saja senyum-senyum sendiri melihat ekspresi Nayuwan yang terlihat jijik pads Bella.
"Iya bu, baiknya memang seperti itu. Tapi surat ini mohon tetap ditandatangani ya, harap maklum saya yanh membuat peraturannya yang artinya saya harus tegas untuk menegakkannya." ujar Nayuwan sembari membungkukan tubuhnya mengungkung Bella lantas menaruh ballpoint pen di atas kertas sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Bella, lantas ia menatapnya dengan tatapan mata dingin yang menusuk.
Bella dengan takut-takut melirik pada pada Nayuwan yang hanya beberapa inci saja dengan wajahnya lalu menunduk kembali ke arah jari jemarinya yang ia tengah ia remas tak karuan. Dengan perasaan bercampur aduk serta tangan yang gemetar hebat ia perlahan mengambil ballpoint yang ada di atas kertas.
Ddrrrttttt Drrttttt Drtttt
"Pck, ada apa sih?" terdengar Nayuwan mendumel saat meraih ponsel yang ia letak di dekat keyboard.
"Ya Hallo... "
"......."
"Waalaikum salam, Tuan presdir ada pagi-pagi telpon, ngga sibuk kah?"
"....."
"Ngga usah ngawur !"
"....."
__ADS_1
"hmm ngga tau deh.. belum dikasih tau schedulenya sama Novi,"
"....."
"Jemput ke kantor aja,, aku lagi ngga bawa mobil lagian mana ada ceritanya perempuan yang datengin laki-laki"
"......"
"Iya.. Soal Mahendra gimana?"
"......."
"Ooh, ya udah.. "
"....."
"Iya.."
"........"
"ok... see u"
"......."
"Tuan presdir pernah ngerasain dicampakan sebelum di terima kah? Mau conba? "
"....."
"Hmmmm bye.. waalaikumsalam" tutup Nayuwan mengakhiri percakapannya di saluran telpon. Untuk sesaat bibirnya mengerucut sembari mengetuk-ngetukan ujung ponsel ke dagunya, lantas beberapa detik kemudian bahunya terlihat menggedikan bahunya seperti masa bodo. Dia pun kembali ke kursinya dengan mood yang sepertinya sudah jauh lebih baik setelah mendapatkan telpon barusan. Dari ekspresi sumbringaj dan senyuman lebar yang terbir dibibirnya sudah bisa di tebak orang yang menelponnya tadi pastilah dari Presdir FJC Bamantara Grup, Gavin Harraz Widjaya.
*******
sarangheo
..
__ADS_1
~(^з^)-☆ ~(^з^)-☆
"""""""