Merpati Hitam

Merpati Hitam
"Masa berlalu " 2


__ADS_3

Theo memperhatikan dengan tatapan heran pada ke tiga sosok perempuan yang baru saja masuk hampir bersamaan, Terpampang jelas kecemasan di wajah mereka . Suasana suram yang menyelimuti ruang rawat inap Nayuwan mendadak seperti sirna begitu saja tergantikan oleh kegaduhan yang di buat Moya Cs.


Theo beranjak dari tempat duduknya, dia berhadapan dengan ketiga temannya Nayuwan. Moya dan Ardilla saling sikut karena baru menyadari kehadiran Theo padahal sejak awal Theo sudah ada di ruangan tersebut. Reva memandang paras Theo lamat-lamat karena baru pertama kali dia bertemu pria itu.


"Kalian sahabat Yuwan?" tanya Theo dengan tatapan gusar, sedang Moya, Ardilla dan Reva saling melempar kode. Kemudian Reva mengambil inisiatif mengulurkan tangannya duluan yang kemudian di sambut datar Theo.


"Benar, saya Reva, Bapak..." jabat Reva ramah.


"Theo,"


"Moya"


"saya Ardilla pak, kalau saya udah kenal bapak, tapi mungkin bapak ngga kenal saya" jelas Ardilla bercengir kuda tanpa sungkan.


Nayuwan menghela nafas sambil menggeser sedikit posisi kepalanya yang masih terasa berat.


"Kamu mau apa huh?" dengan sigap dan pemuh perhatian Theo mencondongkan tubuhnya lebih dekat pada Nayuwan yang terlihat kurang nyaman.


"Bisa naikin posisinya atasnya ngga jadi agak nyanda (Nyender)" pinta Nayuwan. Theo segera menekan tombol yang mengatur posisi tempat tidur Nayuwan, hingga Nayuwan merasa nyaman.


"Segini cukup?" Tanya Theo penuh perhatian. Nayuwan hanya mengangguk dengan lemah. Moya Cs saling berbisik melihat adegan uwu berbeda jenis kelamin itu.


"Hmmm Bapak kok bisa ada di sini, kebetulan atau.."

__ADS_1


"Saya yang bawa Nayuwan ke sini tadi pagi" jelas Theo memotong pertanyaan Ardilla.


"Saya telepon ke yang punya kosant Nayuwan karena teleponenya dia ngga di angkat-angkat, begitu tau dari semalam dia ngurung diri feeling saya langsung jelek, saya buru-buru ke sana, dan inilah hasilnya." Ardilla, Moya, dan Reva langsung menatap tajam pada sahabat mereka itu, membuat Nayuwan sedikit bergidik ngeri sekaligus merasa bersalah. Namun ia tak berhak untuk membela diri.


"Bu ngapain sih ngeprank mulu si Wang Yeo, ya walaupun dia cakep sih?" Ardila memangku tangan.


Theo menatap tajam ke arahnya, seketika perasaan Ardilla merasa merinding tanpa sebab.


"Cek! Lu kira si Yuwan lagi syuting drama goblin?" tukas Moya mencebik dengan wajah datar, Reva dan Theo pun memutar matanya jengah, setelah tau Wang Yeo yang dimaksud adalah Lee Dong Wook. Nayuwan terkekeh tipis hanya senyumnya saja yang terkembang efek dari tubuhnya masih sangat lemas untuk sekedar tertawa lepas.


_____________________________


1 tahun berlalu sejak percobaan bunuh diri yang di lakukan Nayuwan terakhir. Perlahan dia sudah bisa keluar dari depresinya, meskipun sesekali dia masih selalu menangis ketika mengingat mantan suaminya.


Di pagi yang cerah itu, suara derap langkah dan bising kendaraan menyatu di lapang parkir, nampak seorang perempuan tengah melepas helmnya, dia masih duduk di atas motor Vixionnya dengan gesture yang begitu gagah. Dia menghela nafas dalam-dalam menikmati udara pagi yang masih terasa agak dingin menerpa pipi meronanya, bibirnya acap kali terkembang lebar manis saat beberapa orang yang mengenalnya menyapa dirinya dengan ramah dan sopan.


"Lepasin !" pekik wanita itu dengan wajah dingin.


"Lepasin tangan ku!!" serunya lagi, kali ini suaranya lebih meninggi, dadanya naik-turun menahan gejolak emosi dan ledakan amarah di hatinya.


" Ngga, Karena kita butuh bicara!" Seru lelaki itu tak kalah sengit. Sontak pemandangan itu menjadi tontonan orang-orang yang berlalu lalang di area Pabrik garment tersebut.


Dan waajar saja jika mereka berdua menjadi pusat perhatian, karena di PT. Baoshen Garment itu siapa yang tidak mengenal Nayuwan, meskipun dia hanya staff di bagian produksi, Dia cukup di segani karena sifat dan sikapnya yang tegas, juga karema sepak terjangnya di perusahaan mampu membuat bagian office bagian kalang kabut, dia bahkan berani mengubah tatanan management di perusahaan Garment milik orang-orang Taiwan itu ketika dia merasa bahwa aturan yang berlaku tidak di rasa adil untuk bagian Produksi, dia banyak teman,ya. Tapi musuhnya juga banyak, mereka yang memusuhi Nayuwan tentu saja adalah orang-orang yang suka cari muka untuk jabatan.

__ADS_1


"Bicara apa? Hah?!! Kita udah selasai! Kita udah cerai ! Kamu ingat !!" mata Nayuwan menatap tajam, wajahnya merah padam, gereham gemeretak, saat dia sadar dia tengah jadi tontonan karyawan/karyawati pabrik.


"Cerai? kapan kita cerai? kamu punya bukti apa kalau kita udah cerai, surat talaq itu, bukan aku yang mendatanganinya." Jelas Raka dengan wajah tanpa dosa. Nayuwan menghentakan tangannya dengan kasar, namun cengkraman Raka malah lebih kuat menggenggamnya.


"Raka ! Jangan keterlaluan kamu!" Nayuwan makin gusar dengan sikap Raka.


" Aku lepasin asal janji sepulang kamu kerja nanti kita bicara .." ujar Raka melempar senyum sembari menaikan alisnya memberi tanda agar Nayuwan mau setuju dengan ajakanya. Nayuwan memalingkan wajahnya menghindari tatapan Raka.


"OK, lepasin tangan ku sekarang !" Raka melemaskan cengkaramannya. Dengan dipenuhi kekesalan dia melangkah menuju area Produksi. Samar-samar dia mendengar beberapa karyawati menggossipkan dirinya dan Raka.


Begitu masuk dia langsung mencari sosok Ardilla sahabatnya di Area QC, dia mendapati Ardilla tengah mengobrol dengan beberapa teman QC-nya tanpa banyak bicara Nayuwan langsung memeluk Ardilla dengan tubuh masih gemetar dan menangis histeris. Semua yang hadir dibuat bingung dan saling melempar kode mencari tahu tentang situasi yang tengah berlangsung itu, sedang Ardilla meski masih bingung kemudian mengusap punggung sahabatnya itu.


"Bu, ku naon eh, datang-datang bet leweh kieu? panggih jeung saha? Siga panggih jeung jurig wae ?" (Bu, kenapa ehh, datang-datang kok nangis gini, ketemu siapa? kayak ketemu sama setan aja?)" Nayuwan tak menjawab satupun pertanyaan Ardilla, lidahnya terlalu kelu untuk mengatakan bahwa dia habis bertemu Raka di parkiran. "hiks.. hiiks.. hiikheeeh, Dia dateng, hiks.. Kenapa dia mesti muncul lagi Di.. hiks. " suara Nayuwan terdengar parau karena tercampur dengan isak tangisnya. Mendengar hal itu Ardilla langsung faham Nayuwan habis bertemu siapa. Satu-satunya manusia yang bisa meruntuhkan pertahanan hati Nayuwan hanya Raka.


"Dia bilang apa bu?"


"Dia bilang,hiks.. katanya kita berdua.. hiks..masih belum selesai Di,"hidungnya sesekali menarik lagi ingus yang mengalir sama derasnya dengan air matanya. "padahal aku tahu hiks.. istrinya sekarang lagi hamil tua hiks, apanya yang belum selasai, Di? hiks.. Kita udah lama pisah. Apalagi yang tersisa Di, hikkss" raung Nayuwan pilu, semua mata memandang iba pada dua sahabat yang sedang berpelukan itu.


*********************************


bantu up dengan cara like juga koment yang membangun ya(^(エ)^)


*********************************

__ADS_1


sarang heo( ˘ ³˘)❤


_____________________________________________________


__ADS_2