Merpati Hitam

Merpati Hitam
Kalut dan Sesal


__ADS_3

"Yuwan, tolong maafkan aku" ungkap Raka dengan suara lirih. Nayuwan menutup matanya, rahangnya mengeras menahan gejolak dalam bathinnya, sesaat kemudian ia menarik nafas dalam-dalam lalu berbalik membungkuk mendekati telinga Raka.


"Sejak aku menyerahkan salinan akta cerai kita, aku sudah memaafkanmu lahir bathin Kak, tapi tolong maafkan aku, luka di masa lalu itu sudah menyebabkan aku jadi orang yang cacat seumur hidupku, dan aku tidak bisa menghilangkan jejak trauma itu. Jadi tolong jangan jadikan kecelakaan ini untuk menjadi jalan kamu mendekati hanya karena tau aku adalah orang yang mudah iba, toh di sisi mu ada istrimu." ujar Nayuwan merasa jengah dengan Raka yang memanfaatkan kondisinya sekarang. Lantas Nayuwan kembali menegakan tubuhnya langsung merangkul lengan Gavin kemudian beranjak menuju pintu keluar.


*********


Nayuwan membanting tubuhnya pada sandaran sofa di ruang tamu apartemen miliknya, lengannya menutupi sebagian wajahnya. sesekali ia menghela nafasnya dengan gusar. Akhirnya setelah hampir setengah berdiam seperti itu iapun beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri berharap penat dan kalut dalam dirinya hilang setelah mandi.


Lima belas menit berlalu, setelah mandi ia segera mengambil air wudhu untuk sholat isya, kemudian setelahnya dia lanjutkan dengan membaca beberapa lembar ayat suci Al Quran. Namun sayangnya kalut dalam dirinya tidak hilang sepenuhnya, masih ada ganjalan dihatinya. Akhirnya Nayuwan memutuskan duduk di balkon kamarnya, mengamati langit yang biru kehitaman, lampu-lampu yang berasal dari lalu lalang para mengendara menjadi keindahan tersendiri di malam itu.


Nayuwan hanya sendirian disana, sedang Alea dan Moya dia suruh tinggal di rumahnya yang lain, di mana sudah ada ibu dan lainnya yang ia suruh untuk tinggal di sana sementara sebelum pulang ke Bandung. Pikirannya tentu saja mengawang pada kejadian tadi sewaktu di rumah sakit, saat sebelum Raka sadar sepenuhnya, ia memanggil namanya dengan sangat lirih dan lemah, sama seperti kejadian di tahun pertama pernikahan mereka. Raka pernah jatuh sakit hingga hampir tidak bisa bangun dari kasur mereka.


Di saat mereka belum memilki apapun, tinggal di sebuah kontrakan petak, tidur beralaskan tikar selembar bantal 1 untuk berdua itupun meminjam pada bossnya tempat Raka bekerja. Sama sekali Nayuwan tidak mengeluhkan hal itu, padahal sebelum menikah dengan Raka, dia sudah bekerja dengan penghasilan yng lumayan sewaktu di Blok M, namun setelah menikah Raka melarangnya untuk bekerja dengan alasan ia tidak ingin Nayuwan pulang hingga larut malam seperti wanita n***l, itu yang ada dalam pikiran Raka yang sebenarnya sangat pencemburu.


Raka baru merintis usaha kedai susu murni, sosis bakar dan sate seafood serba 2000an selang beberapa bulan setelah mengumpulka modal hasil berjualan bagi hasil dengan bossnya dan setelah itu perekonimian mereka pun makin berangsur membaik. Hingga akhirnya Raka mampuh menyewa rumah yang lebih besar, memiliki 4 cabang untuk usahanya yang makin berkembang, kala itu jajanan itu sangat diminati bukan hanya karena murah meriah, rasanya yang nagih,tempat yang selalu bersih rapi serta pelayanannya yang juga ramah.


Malam hujan cukup deras, suhu badan Raka masih belum juga turun, Nayuwan mulai cemas dan ikut saat suaminya meracau mengatakan seluruh tubuh terutama kakinya sakit seluruhnya. Beruntung ada satu tetangganya yang bisa memijat refleksi, dan segera menolong Raka yang katanya terkena angin duduk, untungnya segera ditangani jika terlambat sedikit mungkin Raka tidak akan selamat.


Benar saja, setelah di pijat dan di urut oleh Bang Piyan, Raka bisa kembali bisa duduk dan sakit di kakinya sudah hampir hilang katanya. Nayuwan memberi Raka segelas air hangat dan meminta suaminya meminumnya sekaligus, ia ingat ucapannya ayahnya yang juga suka memijat orang agar selalu memberi air minum hangat supaya peredaran darahnya lebih lancar dsn bisa berkeringat lebih banyak mengeluarkan toxin dalam seseorang yang habis di pijat atau di urut.

__ADS_1


Raka mengobrol sebentar dengan bang Piyan menjelaskan tentang kondisi tubuhnya yang ternyata sudah beberapa hari ini memang Raka merasakan tubuhnya lebih cepat lelah dan meriang, buntutnya adalah kejadian malam ini, ia hampir tewas karena "angin duduk". Nayuwan duduk di samping suaminya, mendengarkan percakapan diantara para pria itu. Ada sedikit rasa bersalah dalam bathin Nayuwan, karena ternyata ia masih bisa kecolongan dengan kesehatan Raka.


Waktu menunjukan hampir pukul 10 malam, Bang Piyan dan Dace teman Raka pun pamit agar Raka bisa istirahat. Nayuwan, keluar dari toilet setelah mencuci muka, menggosok gigi serta berganti pakaian. Lantas ia mendekati suaminya yang nampak memejamkan matanya, Nayuwan menyeka keringat di kening Raka dengan handuk kecil basah, kemudian menciumnya perlahan,


"Maafin aku Kak, hiks" ungkap lirih sambil memeluk tubuh suaminya, sebuah tangan mengelus puncak kepalanya dengan lembut kemudian mengecup kening Nayuwan.


"Udah ah jangan cengeng" ujar Raka.


"Tapi Kakak tadi.. hiks.. kalo ada apa-apa dengan kakak aku gimana? hiks.. Aku ngga mau kakak ninggalin aku.. hiks. aku takut kak, cuma kakak yang aku punya, hiks.." Nayuwan makin sesenggukan, ia memang selalu merasa sendirian, karena memang tidak terlalu dekat dengan keluarganya kala itu.


"Besok kita ke dokter biar kamu merasa tenang ya, sekarang kita tidur" Raka berusaha menenangkan istrinya itu, Nayuwan hanya mengangguk perlahan. Lantas mereka pun terlelap saling berpelukan, dan mungkin sudah menjadi kebiasaan Nayuwan dia tertidur di lengan suaminya sebagai bantalnya.


Nayuwan memutuskan untuk masuk ke kamar lagi menyudahi acara termenungnya malam itu karena udara malam yang makin terasa dingin menerpa tubuh perempuan itu. Dirinya masuk ke kamarnya, menutup pintu balkon dan gordennya, berharap rasa kantuk segera menghampirinya agar besok ia tidak kesiangan untuk sholat subuh.


Di rumah sakit,


Raka tengah menangis sendirian, Tia istrinya sudah tertidur pulas di matras yang memang disediakan pihak rumah sakit untuk keluarga pasien yang menginap. Ia pun mengingat saat Nayuwan menangisi dirinya yang hampir tewas karena "angin duduk", rasa sesal itu kembali menghinggapi Raka yang mengingat betapa bodohnya dirinya melepas Nayuwan yang selalu sabar dengan dirinya, sosok perempuan tegar yang tidak pernah mengeluh di saat mereka berasa di kondisi buruk sekalipun.


"Yuwan, apa kamu yakin mau nikah sama aku?"

__ADS_1


"Kenapa kak?"


"Kamu kan tau, aku bukan orang kaya, jauh dari kata mapan, kerja masih ikut orang, belum lagi aku duda anak satu, sedang ..."


"Kak,.. dengar 1 hal, kalo aku ingin suami yang kaya dan tampan sejak awal aku ngga akan mau pacaran sama kamu, udah aja aku balikan lagi sama Galuh, yang jelas-jelas kerja di Garuda, penghasilan mapan, rumah mobil juga udah ada, tapi bukan itu yang aku mau, yang aku mau sosok lelaki yang bisa sayang sama anak aku dan memiliki sikap tanggungjawab pada keluarga dan itu ada di kamu kak" ungkap Nayuwan meyakin Raka yng sebenarnya minder setelah mengetahui kedudukan sosial keluarga Nayuwan yang terbilang cukup terpandang di kampungnya. Raka terdiam menatap lekat manik mata Nayuwan yang teduh.


"Gini.. "lanjut Nayuwan.


"Aku janji, aku ngga akan ngeluh segimanapun susahnya kehidupan kita nanti, aku juga ngga akan pernah menuntut kamu untuk hal apapun, tapi aku minta kamu harus selalu jujur dalam segala hal apapun itu, dan jangan pernah kamu khianati aku" ucap Nayuwan tersenyum lembut pada Raka.


"Kalo gitu aku ngga janjiin kamu selalu bahagia sama aku, tapi aku akan selalu berusaha agar kamu tidak susah dan berusaha membuat bahagia saat menikah dengan ku nanti meski dengan hal sederhana" tutur Raka sendu. Namun ternyata disambut hangat oleh Nayuwan yang berhambur memeluknya.


"Aku tahu, aku tahu kamu akan selalu berusaha untuk menjadi suami dan ayah yang bertanggungjawab"


********


sarangheo...


********

__ADS_1


__ADS_2