Merpati Hitam

Merpati Hitam
Sebuah kabar


__ADS_3

Tangan Nayuwan gemetar saat mengambil cincin untuk disematkan di jari manis Gavin, kembali semua kegetiran bayangan masa lalunya terlintas di pikirannya dan tergambar jelas seperti roll film yang di putar cepat. Sampai di masa dia bertemu kembali dengan Gavin, hingga sebuah sentuhan lembut di pipinya membuat dirinya menyadarkan lamunan.


" Queen.." manik mata Nayuwan berkaca-kaca, raut wajahnya terlihat bingung dan menjadi lebih pucat. Perlahan dia menyematkan cincin itu pada Gavin, anehnya cincin yang ada di jari manisnya kini terasa hangat dan seakan mengecil mengikuti ukuran jemari Nayuwan, seolah cincin itu dibuat memang untuk mereka.


Merasakan hal yang tak wajar Nayuwan segera melepas cincin itu dan mengembalikannya ke tempat semula.


"Siapa kau sebenarnya?" selidik Nayuwan pada perempuan paruh baya itu.


"Saya hanya penjaga toko ini" jawabnya tetap memberikan senyum ramah pada Nayuwan.


"Kau berharap aku mempercayainya?" netra Nayuwan memindai seisi ruangan tersebut seolah orang-orang di sekitar Nayuwan tidak memperhatikan aktivitas dirinya dan penjaga toko tersebut.


Perempuan itu berjalan mendekati Nayuwan yang menyalang padanya. Kemudian kembali tersenyum.


"Anda benar-benar orang yang sulit dan memiliki tekad yang kuat, pantas saja mereka tertarik pada anda di banding teman anda yang memang sarang" perempuan itu menyengih tipis pada Nayuwan. Perempuan itu menghela nafas dan mengambil cincin yang tadi sempat disematkan di jari manis Nayuwan.


"Ambilah, ini milik anda sekarang" ujar penjaga toko itu seraya meletakan kotak cincin itu di telapak tangan Nayuwan.


"Aku tidak membutuhkannya" tolak Nayuwan tegas.


"Saya tahu, tapi anggap ini sebagai cinderamata dari seorang kenalan" kemudian wanita itu menghilang seperti asap.


Nayuwan seolah terkesiap kehabisan nafas, perlahan dia membuka matanya lalu ia bangun dari pangkuan Gavin, ia melihat ke sekelilingnya ternyata perempuan penjaga toko itu juga turut mengeruminya namun kini auranya sudah kembali netral. Rupanya sejak melihat cincin giok itu Nayuwan sudah masuk ke dimensi lain, dan kilasan bayangan masalalunya adalah cara mereka agar konsentrasi Nayuwan terpecah dan bisa dengan mudah di bawa masuk ke alam mereka. Namun begitu Nayuwan cepat tersadar jika dirinya sudah di bawa ke dimensi lain mereka akhirnya melepaskan kembali Nayuwan ke alam manusia setelah memberikan sepasang cincin giok berwarna putih itu kepada Nayuwan dengan sukarela entah untuk apa tujuan mereka.


"Mom,, udah ngga apa-apa?" Alea terlihat panik dan menangis, begitu pun yang lain, tak terkecuali para pria di rombongan tersebut meski tidak ikut menangis namun dari riak dan wajah mereka yang pucat pasi tergambar jelas kekhawatiran mereka kepada Nayuwan.


"Queen, kita ke rumah sakit ya" ajak Gavin, Nayuwan hanya menggeleng lalu bangkit untuk duduk. Nayuwan terdiam sesaat mencerna apa yang sudah terjadi padanya. Kemudian dia teringat dengan sepasang cincin giok yang diberikan padanya memeriksa seluruh saku di tubuhnya dan mengeluarkan seluruh isi dari slingbagnya, namun dia tak menemukan sepasang cincin itu. "sudahlah mungkin tadi hanya mimpi" gumam Nayuwan dalam hati, kemudian memutuskan segera bergegas meninggalkan daerah tersebut, Nayuwan d


membeli beberapa barang antik di toko tersebut, dan meminta maaf atas keributan yang terjadi, perempuan paruhbaya itu lalu membungkuk dengan takzim seraya mendoakan Nayuwan sekeluarga selalu sehat, berkah rezeki, serta mendoakan agar Nayuwan dan Gavin langgeng selamanya dan segera diberi momongan, Gavin mengaminkan saja doa-doa tersebut, sedang Nayuwan menatapnya aneh sekaligus canggung karena tangan Gavin betah sekali melingkar di pinggangnya. Nayuwan menyentak tangan Gavin lantas menghampiri Kent yang sudah menunggu di depan bus.

__ADS_1


"Kent, kita belanja ke tempat lain" ujar Nayuwan setelah masuk kembali ke minibus mereka.


"Queen, kamu harus ke rumah sakit dulu" Gavin mencoba mengajak Nayuwan untuk ke rumah sakit terlebih dahulu. Namun perempuan itu menegaskan bahwa dirinya baik-baik saja dan tidak perlu pergi ke rumah sakit. Gavin akhirnya mengalah lantas melanjutkn tujuwan wisata mereka, yang tanpa Nayuwan ketahui sepasang cincin giok putih itu sudah Gavin simpan sendiri.


Hari sudah berganti malam, masing-masing orang sudah mendapatkan oleh-oleh yang mereka cari, kini saatnya mereka mencari tempat makan malam, tentu saja wajib restoran halal, Kent pun membawa mereka ke Makan halal restoran mengingat rombongan mereka cukup banyak jadi harus mencari restoran yang cukup luas untuk mereka. Letak restoranpun cukup dekat dengan mesjid Seoul Center, ada banyak menu yang bisa dilipih, dan bersetifikat halal. Karena lokasinya yang dekat mesjid sebelum makan mereka sholat isya berjamaah dulu.


Selesai sholat merekapun segera menuju restoran yang sudah Kent reservasi dulu tentunya sebelum mereka sholat, bukan apa-apa antrian di sana cukup panjang, walaupun tempatnya agak kecil tapi nyaman. Beberapa menu autentik ala korea selatan seperti bulgogi bibimbap, jajangmyeon, samgyetang, ojingeo bulgogi dan beberapa menu lainnya.


Nayuwan duduk bersebelahan dengan Gavin, lebih tepatnya Gavin terus mengintili dirinya sepanjang waktu.


"Satria, boss kamu belum kamu kasih obat ya?"


"Maaf bu, tapi obat untuk pak Gavin saat ini hanya ada satu saja."


"Ya udah kalo gitu cepet kasih biar penyakitnya ngga makin parah" umpat Nayuwan jengkel.


"Dasar perempuan mesum !!" hardik Nayuwan makin dongkol begitu mendengar ucapan Moya, sedang Gavin acuh saja mengambil makanan yang kemudian di taruh ke mangkuk Nayuwan.


Saat tengah seru bercengkrama ponsel Nadia teru menerus berdering, hingga akhirnya Nayuwan menyuruhnya untuk mengangkat telepon tersebut.


"Nad, angkat dong siapa tau penting" seru Nayuwan.


"Males bunda, ini mama Tia yang telepon"


"Angkat dulu, siapa tau mau titip oleh-oleh apa gitu" ujar Nayuwan satir.


"Hallo, assalamualaikum ma"


"Hallo, waalaikum salam, Nad," jawab Tia di seberang sana.

__ADS_1


" Ada apa Ma, kok kaya lagi nangis gitu?"


"Nad, kapan kamu pulang ke Indo?"


"Besok siang kalo ngga salah"


"Ngga bisa dipercepet ya?" ucap Tia terdengar panik


"Mama kenapa? ada apa Ma?"


" Ini soal ayah kamu Nad.." Tia terdengar mulai menangis


" Iya, ayah kenapa?"


"Ayah kamu hiks .. kecelekaan pas lagi kerja Nad.. hiks.. Hikkss" tubuh Nadia seketika kaku, ponselnyapun sampai terjatuh ke lantai. Begitu mendengar kabar bahwa ayahnya mengalami kecelakaan saat pulang kerja.


"Nad, ada apa?" tanya Moya menggoyangkan bahunya.


"Ayah, kak, ayaah,," racaunya mulai mengisak.


"Iya kenapa? ayah kamu kenapa?" semua orang menoleh pada Nadia.


"Ayah hiks.. ayah.. kecelakaan Hiks" jelas Nadia kemudian tangisnya makin pecah di pelukan Ardilla. Semua orang ikut terkejut mendengar penuturan Nadia barusan, Nayuwan pun ikut terkejut hingga sumpitnya terjatuh begitu saja, dan semua terdiam tenggelam dengan pemikiran mereka masing-masing.


***********


sarang heo..


*********

__ADS_1


__ADS_2