Merpati Hitam

Merpati Hitam
Cangkang tanpa Isi


__ADS_3

Ddrrrttttt Drrttttt Drtttt


Beruntung ponsel Nayuwan bergetar di atas meja, sebuah panggilan telepone membebaskan dirinya dari kungkungan Nayuwan yang benar-benar sangat menekan mentalnya, untuk sesaat ia bisa bernafas lega saat Nayuwan mengambil ponselnya.


"Pck, ada apa sih?" terdengar Nayuwan mendumel saat meraih ponsel yang ia letak di dekat keyboard.


"Ya Hallo... "


"Assalamualaikum Queen"


"Waalaikum salam, Tuan presdir ada pagi-pagi telpon, ngga sibuk kah?"


"Hmm sebenarnya beberapa menit lagi meeting sih, Kamu calon suami ada menghubungi bukannya seneng malah ngedumel giliran nanti aku ngga ada, ntar kangen lho"


"Ngga usah ngawur !"


"Nanti siang bisa kita ketemu sekalian makan siang"


"hmm ngga tau deh.. belum dikasih tau schedulenya sama Novi,"


"Hmm ... ok lah nanti aku tanya Novi schedulmu hari ini, tapi kalo kosong kamu ke sini ya"


"Jemput ke kantor aja,, aku lagi ngga bawa mobil lagian mana ada ceritanya perempuan yang datengin laki-laki"


"ok, aku tutup mau meeting dulu kalo gitu"


"Iya.. Soal Mahendra gimana?"

__ADS_1


"Katanya mereka bersedia bertemu tapi setelah Mahendra keluar dari Rumah sakit, paling lusa katanya nanti dia bakal menghubungi balik"


"Ooh, ya udah.. "


"Ok, kalo gitu calon suami mu ini meeting dulu ya"


"Iya.."


"See you my Queen"


"ok... see u"


"Cuma gitu doang, ngga mau kasih kiss gitu"


"Tuan presdir pernah ngerasain dicampakan sebelum di terima kah? Mau coba? "


"Hmmmm bye.. waalaikumsalam" tutup Nayuwan mengakhiri percakapannya di saluran telpon. Untuk sesaat bibirnya mengerucut sembari mengetuk-ngetukan ujung ponsel ke dagunya, lantas beberapa detik kemudian bahunya terlihat menggedikan bahunya seperti masa bodo. Dia pun kembali ke kursinya dengan mood yang sepertinya sudah jauh lebih baik setelah mendapatkan telpon barusan. Dari ekspresi sumbringah dengan senyuman lebar yang terbit dibibirnya. Sudah bisa di tebak orang yang menelponnya tadi pastilah dari Presdir FJC Bamantara Grup, Gavin Harraz Widjaya.


Nayuwan melirik ke arah Bella yang mencuri-curi pandang ke arahnya.


"Maaf bapak ibu, tadi ada sedikit gangguan kecil,"ujar Nayuwan melempar senyum kepada semua orang, seketika aura seram yang sejak tadi menyelimuti Nayuwan hilang tanpa jejak sedikitpun. Perempuan itu merogoh kertas-kertas yang berjejer rapi dihadapan Bella, yang ternyata sudah di tandatangani Bella, Safitri, dan Harlan. Setelah memeriksanya satu persatu lantas Nayuwan merapikannya menjadi satu lalu menaruhnya di bawah jari jemarinya yang saling bertautan.


"Ok, semua berkas sudah ditandatangani, nanti satu surat ini saya akan berikan kepada ibu, dan yang lainnya tentu saja untuk pengarsipkan... Hmmn saya mau mengingatkan kepada ibu, saya sangat tidak menyukai segala hal yang berbau perisakan, kali ini ibu masih saya beri kelonggaran dengan hanya memberi ibu sanksi SP 1, lain kali jika ibu ketahuan melakukan hal yang sama maka tidak akan ada lagi tolerasi dengan mengeluarkan SP 2, tapi saya akan memecat ibu secara tidak hormat." jelas Nayuwan dengan gaya seperti seorang teller customer service bank yang sedang memberi penjelasan pada nasabahnya.


"Oiya, saya lupa, jika ibu di pecat secara tidak hormat kemungkinan besar akan diblacklist dari beberapa perusahaan besar sebelum ibu melamar ke sana. Alasannya karena IC grup, juga termasuk kedalam pemegang saham di FJC Bamantara Grup." ujar Nayuwan sembari menyerahkan semua berkas untuk diproses Safitri, sebelum diberikan kembali kepada Bella nantinya.


"Ok, saya rasa cukup hari ini, saya tahu waktu kalian juga sangat berharga, tapi saya ingin menegaskan bahwa aturan norma dan kesusilaan sangat dijunjung tinggi di perusahaan ini, anda semua boleh mengeksplor, memberdayakan segala fasilitas dengan maksimal, tapi ingat kebebasan itu bukan berarti anda bisa melupakan etika. Anda boleh bangga dengan status sosial anda di perusahaan atau pun di masyarakat itu sah-sah saja, tapi etika anda tetap menjadi acuan untuk seseorang bagaimana menilai diri dan kinerja anda. Faham sampai di situ?"

__ADS_1


"Kami faham bu" sahut mereka berempat bersamaan.


"Kalo begitu silahkan bapak dan ibu kembali ke departemen masing-masing, selamat bekerja dan semoga hari bapak dan ibu menyenangkan, ingat jaga etika anda di manapun anda berada" Harlan menghela nafas lega kemudian sedikit membungkuk undur diri, di ikuti Ega dan Safira yang diekori Bella.


Novi berdiri saat Harlan terlihat akan melewati mejanya, kemudian sedikit memmbungkuk ketika rombongan Harlan melewatinya yang membalasnya dengan sedikit anggukan. Setelah agak menjauh dari ruangan Nayuwan Ega mendelik Bella dengan tajam, sembari mendumel


"Cuma gara-gara kesalahan satu orang, satu grup perusahaan dibikin ribet!! " sindir Ega, Safitri hanya mendecak membiarkannya, karena ia pun sama kesalnya dengan Ega yang harus kerja ekstra hanya karena kesalahan 1 orang, yaitu Bella. Ega terus mendumel hingga akan berada di depan pintu lift baru ia berhenti mengoceh setelah Harlan menghardiknya hanya dengan satu deheman saja. Tepat saat Harlan akan menekan tombol pintu lift tangannya urung melakukan hal itu. Kemudian ia berbalik sembari memasukan satu tanganya ke saku celana menghadap Bella yang berdiri tepat 2 langkah di belakangnya.


"Bell, selama saya anggap kamu hanya teman, teman semasa SMA, kalo pun kemarin aku menyuruhmu melamar di perusahaan ya karena saya tau kamu sedang membutuhkan pekerjaan untuk biaya rumah sakit mama kamu, dan alasan kenapa kamu bisa dengan mudah masuk ke perusahaan ini, karena kamu memiliki kualifikasi di bidang itu." perasaan Bella kembali tak karuan, ia hanya mampu menelan salivanya tanpa mampu menatap Harlan meski sekali-kali ia mencuri pandang hanya untuk sekedar melihat riak wajah Harlan.


"Saya sama sekali tidak pernah membantu kamu agar mudah masuk ke perusahaan ini. kamu memiliki kualifikasi pendidikan di sana, kamu memiliki pengalaman, kamu juga memiliki keterampilan di sana, bukan karena kamu mengenalku sebagai seorang teman di masa SMA, tidak sama sekali, kamu bisa masuk ke sini murni karena kemampuan mu sendiri." Safitri menghela nafas sembari menoleh pada Bella yang diam seribu bahasa, sebenarnya ia sudah iba denga gadis itu, apalagi dia mengalami tekanan hebat begitu mengetahui bahwa wanita yang ia maki-maki tadi pagi itu adalah owner perusahaan tempat ia bekerja, dan sekarang ia kembali menerima teguran dari Harlan, yang meskipun terkenal humble, Harlan sama kejam dan dinginnya seperti Nayuwan.


"Dan saya akrab dengan kamu, karena kamu itu teman lama ku, dan aku memang ingin kamu merasa betah di perusahaan ini agar kamu bisa mengobati ibu mu tanpa rasa khawatir, karena biaya pengobatan ibumu bisa diajukan ke keuangan perusahaan jika memang penyakit ibumu sangat parah."


"I.iiya pak, saya minta maaf" ucap Bella terbata-bata.


"Saya ini masusia biasa, lelaki normal. Saya tidak akan memungkiri jika dirimu memang cantik, tubuhmu molek dan se*y. Sebagai seorang pria, saya tidak munafik. Tapi sayangnya semua itu tidak akan pernah mampu untuk menggeser posisi istri saya. Dan perlu kamu tau semisalnya saya berhasil masuk dalam perangkap yang kamu buat, yang kamu dapat hanyalah cangkang saya saja, sedang jiwa dan seluruh harta saya saat ini adalah milik istri saya." jelas Harlan datar, tanpa mendengar jawaban dari Bella, lantas Harlan menekan tombol lift dan mempersilahkan mereka untuk masuk, sebelum pintu tertutup Safitri dan yang lainnya sempat membungkuk yang ditanggapi hanya dengan sedikit anggukan dari Harlan dengan wajah tanpa ekspresi sama sekali.


"Dasar manusia batu " ucap Bella menggerutu sendiri.


"Heh perempuan! Bukannya introspeksi diiri, malah bersikap seperti mereka sudah mendzolimi kamu! " sahut Ega yang mendengar ucapan Bella meski samar,


"Ekhem, surat peringatan mu belum kering, saya masih bisa merubahnya menjadi SP 3, dengan konsekuensi pemotongan gaji 30% selama 3 bulan, dan saya rasa ibu Nayuwan atau pak Harlan tidak akan menolak pengajuan tersebut" ucap Safitri seraya terus menatap ke pintu lift yang masih tertutup.


***********


sarangheo

__ADS_1


**********


__ADS_2