Merpati Hitam

Merpati Hitam
Salah memilih Lawan


__ADS_3

"Aku mau,, biaya perjalanan untuk honeymoon kita, kita gunakan sumbangan ke kampung-kampung."


"Maksudnya?"


"Ia nanti aku mau kita gathering gitu, setiap kita ketemu seseorang yang benar-benar layak kita bantu sesuai kebutuhannya. Misal kita ketemu orang yang butuh makan, kita beri mereka modal untuk usaha. kita ketemu anak yang putus sekolah tapi mau tetap sekolah kita beri mereka biaya pendidikan bersyarat, kaya gitu-gitulah"


"Kamu yakin?" kali ini Gavin yang balik bertanya pada Nayuwan.


"Sayang-sayang uangnya kalo cuma buat liburan begitu, padahal kapan aja kita bisa melakukan, lumayan lho tuan cuti kita 1 minggu, mending kita isi hal positif, lagi pula kita honeymoon tidak perlu ke Maldives, Raja ampat juga tidak kalah bagus?" ucap Nayuwan mengulas senyum, kali ini Gavin langsung meraih tubuh Nayuwan dan hendak mencium bibir Nayuwan


"Ekhem... khem.. Ya ampun bang, apa kita hampir saja melihat adegan romantis" ucap Gina sembari menggapit lengan Satria setelah dengan secara sengaja mengganggu acara mukbang Gavin.


"Satria, sepertinya pacarmu harus aku kirim ke Kutub selatan, agar tak mengganggu ku" ucap Gavin sembari memasang wajah galak. Nayuwan mengulum kembali bibir dan menenggelamkan wajahnya dalam dad* bidang milik pria yang sebentar lagi akan jadi suaminya.


"Kalau Gina di mutasi izinkan saya ikut" sahut Satria, Gina tersenyum karena Satria membelanya tanpa di suruh, Gina tersenyum seraya menjulurkan lidahnya meledek Gavin yang terlihat makin kesal saat mendegar jawaban Satria yang membela dirinya.


"Sudah sudah.. Lagipula Gina itu asistenku, kalo Gina tidak ada nanti Clara akan kerepotan jika mengurus perusahaan sendirian saat kita pergi nanti" lerai Nayuwan sembari menepuk-nepuk jas yang dipakai Gavin seolah sedang merapikan atau membersihkan sesuatu di sana.


**************


"Tak tak tak. tak.." Nayuwan terlihat sibuk dengan laptopnya di sebuah Cafe di daerah Kemang, sesaat kemudian ia menghentikan kegiatannya mengetik dan memperhatikan dengan seksama ke layar laptopnya. Tangannya yang mengepal menutupi bibirnya, sedang ibu jarinya menopang dahinya, matanya menatap tajam, sepertinya ia sudah menemukan kejanggalan dalam laporan penyediaan logistik di kantor cabangnya yang di Semarang, angka-angka yang tertera seperti sudah setting sedemikian rapi agar data mark up-nya tidak ketahuan, tidak besar, namun tetap merugikan perusahaannya.


"Pck !! Mereka mencoba main-main dengan ku, hanya karena pusat jarang melakukan inspeksi audit ke sana," gumam Nayuwan. Kemudian ia terheran saat sebuah tangan menaruh segelas macha latte di samping gelas matchanya yang audah habis sejak 15 menit yang lalu. Nayuwan menengadah ke arah sang pemilik tangan yang menaruh matcha untuknya. Nampak seorang pria menjulang tinggi di sampingnya,


"Faldo..?" sapa Nayuwan sedikit histeris seraya berdiri menyambut Faldo dengan girang.


"Biasa aja dong, kaya ke artis aja"


"Tapi kan di Garment kamu emang idola karyawati cewek"

__ADS_1


"Ciih kirain idola kamu" Nayuwan hanya tersenyum mendengar celoteh Faldo.


"Hmm.. Duduk duduk..." Nayuwan mempersilahkan Faldo duduk di kursi kosong di depannya.


"Apa kabarnya nih? Udah 2 bulan lho kamu bolos dari Pabrik" gurau Nayuwan.


"Hihh.. Nyindir" Nayuwan terkekeh mendengar jawaban Faldo yang ngambek dengan gurauannya.


"Siapa yang nyindir, kan emang bener kamu 2 bulan ini udah ngga ke garment lagi kan?" ucap Nayuwan menyeruput matcha latte yang tadi Faldo berikan untuknya.


"Iya bener, tapi kan ngga bolos juga, aku resign baik-baik lho"


"Iya iya gitu aja ngambek"


"Kamu udah ketemu tante Terre?"


"Kamu ya, ke Terre sama Gavin masih nyebut mereka Om tante, sama aku panggil nama" protes Nayuwan.


"Tapi kan bentar lagi jadi istri Gavin"


"Yuwan, kamu serius menikah sama Om Gavin?" ucapa Faldo sembari merubah posisi duduknya menghadap ke Nayuwan sepenuhnya.


"Serius dong, kenapa? Kok kamu kayak ngga yakin gitu?" jawab Nayuwan melirik Faldo yang menatapnya tajam.


"Yuwan, aku serius!"


"Ya aku juga serius Fal, meski aku tau Terre menyukai Gavin juga, tapi yang akhirnya menentukan tujuannya itu Gavin,"


Di salon sebarang Cafe Nayuwan dan Faldo sedang mengobrol terlihat seorang wanita yang terlihat menilik-nilik mereka berdua. Wanita itu lantas keluar dengan terburu-buru membatalkan treatment rambut dan meni pedinya lalu meninggalkan salon setelah meminta reschedule treatmentnya. Dia adalah Terresia yang penasaran Nayuwan sedang bersama siapa. Karena ia hanya melihat punggung pria itu. Namun ia bisa memastikan pria itu bukan lah Gavin,

__ADS_1


"Cih kalo memang dasarnya jal*ng ya tetap saja jal*ng!" olok Terre. Kemudian dengan emosi berjalan menuju meja Nayuwan dengan tergesa-gesa, kebetulan di meja sebelum meja Nayuwan ada gelas jus jeruk sisa setengah yang sudah ditinggalkan pemiliknya. Ia meraih gelas tersebut lalu


"SRAAASSH " ia menyiramkannya pada Nayuwan yang sedang bersenda gurau dengan Faldo.


"RASAKAN ITU LONT* !!" pekik Terresia menghina Nayuwan yang diam saja seraya meniup aliran jus yang melewati bibirnya sekaligus membuang nafasnya dengan kasar. Terresia makin emosi saat melihat ekspresi Nayuwan yang malah seolah mengejeknya.


"PLAAKK !!" satu tamparan mendarat mulus di pipi Nayuwan, saking kerasnya hingga memalingkan wajah dari kiri ke kanan. Nayuwan menyentuh pipinya yang terasa panas dengan punggung jari jemarinya. Ia menunduk namun sudut bibirnya menyunggingkan seringai yang menyeramkan. Nayuwan menghempaskan tubuhnya pada sandaran kursi cafe yang terbuat dari kulit sintetis, bibirnya mengerucut kedalam menandakan ia benar-benar tengah menahan emosinya dengan seringai masih menghias sudut bibirnya.


"Tante!! Apa-apaan sih?" Faldo mencengkram tangan Terresia untuk menahan bibi jauhnya itu yang hendak menampar Nayuwan kembali.


"Faldo !!" pekik Terresia saat pergelangan tangannya dijegal Faldo.


"Lepasin tangan tante Fal !" seru Terresia, alih-alih mendengarkan perintah Terresia, Faldo lebih memilih menarik wanita itu keluar dari Caffe karena orang-orang berkerumun akibat keributan yang di buat Terresia.


Nayuwan melempar dengan penuh emosi tissu yang ia gunakan untuk melap wajahnya yang di siram oleh Terresia, ia merogoh ponsel di saku celananya.


" Gina, katakan pada adik ku, kontrak kerja sama dengan Austin Factory, batalkan seluruhnya sekarang juga !" ucap Nayuwan datar namum terdengar sangat serius, tatapan matanya tajam lurus menghujam dingin menatap ke arah Terresia yang sedang ditarik-tarik oleh Faldo menjauh dari area caffe.


"Cih, orang kaya tapi minus etika, kamu salah waktu membuatku marah hari ini, aku tak peduli sekalipun kamu adalah sahabat Tuan Gavin.." gumam Nayuwan seraya mengulas seringai di sudut bibirnya.


Di lain tempat tepatnya di sebuah meetingroom Gina terlihat canggung, ia menghela nafas begitu mendengar perintah Nayuwan tepat di saat Clara dan Rizal masih membicarakan soal kontrak kerjasama pengadaan kemasan baru produk skincare mereka. Clara memperhatikan Gina melalui ekor matanya, dari raut wajahnya Clara sudah bisa memastikan pasti ada sesuatu hal yang tidak beres. Gina memasukan kembali ponselnya ke dalam tasnya kemudian berbisik pada Clara


"Bu,." Clara menoleh pada Gina yang berbisik padanya


"Kenapa?"


"Barusan Ibu Nayuwan menyuruh kita membatalkan seluruh kontrak kerjasama kita dengan Austin" ucap Gina berbisik, Clara sontak terkejut begitu mendengar penuturan Gina, yang artinya ia dan teamnya harus kembali mencari perusahaan lain yang bisa diajak kerja sama, karena apapun yang diperintahkan Nayuwan artinya mutlak tidak bisa dirubah atau diganggu gugat lagi.


**********

__ADS_1



sarangheo


__ADS_2