Merpati Hitam

Merpati Hitam
Perjanjian turun temurun


__ADS_3

Gavin mencoba mengingat lagi bahwa Nayuwan juga sempat bilang bahwa tidak ada waktu untuknya menjelaskan semuanya, tapi dia harus kembali ke dalam aula untuk menyelamatkan semua orang yang ada di dalam sana, lalu tak lama kemudian terjadilah insiden kebakaran tersebut.


"Eh eh coba deh lu liat, tangan gue sampe merinding" Haidar menunjukan pori-pori tangannya yang meremang.


"Terus bapak inget ngga semua orang yang keluar dari aula setelah kebakaran itu terjadi rata-rata langsung meminta oksigen, sedang ibu Nayuwan boro-boro minta oksigen, bahkan ibu Nayuwan ngga ada lecet sedikitpun, sedang Pak Mahendra terluka parah di bagian kakinya.


"Ah gue makin penasaran, Vin ayo kita ke rumah Nayuwan aja. Kita di sini juga bakal buntu" pekik Haidar frustasi.


"Tapi dia lagi balik ke Bandung" jawab Gavin sembari meregangkan tubuhnya bersantai.


"Lah bukannya bagus, jadi lu ada alesan buat lebih kenal sama keluarga si Nayuwan terutama anak-anaknya" Gavin nampak berpikir sejenak mendengar ajakan Vito.


"Udah ngga usah kebanyak mikir Vin, sumpah gue penasaran apa yang sebenarnya terjadi, di tambah geu juga penasaran apa yang di maksud Gina, masa iya di jaman sekarang masih ada pengusaha yang pake ritual persembahan macam gitu" Haidar mengompori.


"Okelah, bentar gue mandi dulu abis itu kita ke sana" ucap Gavin, lantas iapun beranjak dari lounge chair sembari menyimpaikan handuk di bahunya menuju kamar mandi di kamarnya.


Saat ditengah perjalanan menuju kediaman Nayuwan, Rendra diberi tahu oleh Moya jika Nayuwan sebenarnya memiliki kelebihan yang intinya ia mampu melihat dan mampu berkomunikasi dengan makhluk tak kasat mata. Mengetahui hal itu tentu saja membuat mereka makin penasaran dibuatnya, dan mereka semakin yakin jika Mahendra terluka bukan karena insiden kebakaran tersebut.


Di rumah sakit tempat Mahendra di rawat, semua dokter dibuat sibuk karena Mahendra terus menerus mengamuk, dia meracau dan menyerang siapa saja yang mendekatinya seperti orang yang sedang kesurupan.


"Brak !" pintu kamar rumah sakit di dorong kencang oleh seseorang pria paruh baya, ia berpakaian serba hitam, lingkar matanya nampak kelam menyeramkan, para suster yang dilewatinya bergidik ngeri dengan penampilan pria itu.


"Keluar kalian semua" perintah pria itu, semua dokter dan suster segera berlari keluar dengan terpontang panting, sungguh aura pria paruh baya itu sangat menakutkan dan membuat nyali semua orang ciut. Kini hanya tinggal istri dan orang Mahendra saja yang berada di dalam kamar tersebut. Lantas pria itu mendekati Mahendra yang masih saja terus meracau tak jelas, pria tersebut seperti tengah merahpalkan sesuatu itu terlihat dari gerak bibirnya yang terlihat sibuk berkomat kamit. Pria itu ternyata seorang sesepuh dari keluarga Mahendra, faktanya keluarga Mahendra memanglah menganut suatu ajaran yang turun temurun, semacam perjanjian dengan jin untuk mendapatkan kekayaan, atau semacam pesugihan. Dan faktanya memang benar Mahendra kini tengah kerasukan jin yang sudah memiliki perjanjian dengan keluarganya.

__ADS_1


"Adiyaksa! Apa kamu ingin meleburku Hah?!!" geram Mahendra, namun suara yang terdengar dari Mahendra jelas bukanlah suara Mahendra.


"Ampun kanjeng, Saya mana berani melakukan hal demikian" ucap Adiyaksa bersimpuh dihadapan Mahendra yang sedang berdiri membelakanginya dengan bertolak pinggang begitu angkuh.


"Ampun Kanjeng gusti, sebenarnya apa yang sudah terjadi kemarin malam itu, hingga cucu saya bisa terluka seperti sekarang?" tanya Gusman pada makhluk yang sedang merasuki cucu misannya itu.


"Kamu tahu Gusman, satu diantara para calon kurban itu ternyata adalah Diajeng Ayu, seseorang yang diberi anugrah, jika ia menggunakannya dalam kebenaran maka ia aka menjadi sosok pemimpin yang kuat dan bijaksana, jika ia menggunakannya untuk kejahatan, maka kehancuran bukan hal mustahil baginya." jelas makhluk itu.


Kedua orang tua Mahendra saling menatap dengan bingung, sedang Gusman ia terlihat mengeraskan rahangnya, karena jika memang benar artinya ada seseorang yang memiliki kekuatan supranatural alami melebihi dirinya dan tentu itu sangat berbahaya.


"Lalu kami harus apa untuk melawannya kanjeng Gusti"


"Jika kalian ingin semuanya tetap berjalan seperti biasanya, kalian harua bisa mendapatkan Diajeng Ayu sebagai sekutu kalian dalam waktu 40hari"


"Benar, jika kalian gagal maka dari maka kalian harus menyerahkan anak kalian, Mahendra sebagai tumbal selanjutnya" mata semua orang yang berada di dalam ruangan itu membola melotot, terkejut mendengar bahwa Mahendra harus dijadikan pengganti ritual yang gagal kemarin malam.


"Tapi bukankah pantang bagi keluarga kami menikahi lebih dari wanita, sedang Mahendra telah menikah dan istrinya tengah mengandung Kanjeng gusti"ujar Liana ibu dari Mahendra


"Itu hanya kias saja, karena sesungguhnya yang akan menikahi Diajeng Ayu adalah aku, kalian faham!?" teriak sosok yang merasuki Mahendra, semua orang dalam ruangan tersebut tertunduk dalam diam, masing-masing dari mereka memikirkan cara agar bisa menyelamatkan Mahendra dari situasi ini.


Ruangan kembali hening, Mahendra nampak duduk dengan posisi terkulay lemas, darah dari selang infus mengucur deras, darah dikakinya juga merembes kembali, melihat hal itu Ami bergegas memanggil perawat yang berjaga untuk segera menangani Mahendra.


Kini keluarga Mahendra dibuat kebingungan bagaimana caranya menikahkan Mahendra dengan wanita yang dimaksudkan junjungan mereka,

__ADS_1


"Ma, biarkan aku pergi ke rumah orang tuaku dulu, setelah melahirkan aku baru akan kembali ke sini, bagaimana?" Ami akhirnya berbicara memecah keheningan ruangan tersebut setelah para perawat sudah selesai membereskan kekacauan yang dibuat oleh Mahendra saat kerasukan tadi.


"Sepertinya itu bukan ide yang buruk" sahut Adiyaksa mertuanya.


"Bagaimana paman?" tanya Liana pada pamannya yang masih nampak termenung berkutat dengan pemikirannya sendiri.


"Apa kalian tau siapa perempuan yang di maksud Kanjeng gusti sebagai Diajeng Ayu?" namun semua orang di ruangan tersebut terdiam dan menggelengkan kepalanya, mereka sama sekali tidak mengetahui siapa perempuan yang dimaksud junjungannya itu.


"Nayuwan" Mahendra menjawab dengan suara lirih. Semua orang menoleh ke arah ranjang Mahendra bersiaga takut-takut jika Mahendra kembali kerasukan.


"Nak, kamu sudah sadar Nak"Liana segera menghampiri putranya yang masih menyesuaikan cahaya yang masuk ke kornea matanya.


"Aku sudah merasa lebih baik Mam," jawab Mahendra


"Syukurlah kalo begitu Nak," ucap Liana sembari membelai lembut wajah putranya tersebut. Ami perlahan mendekati bibir tempat tidur suaminya dengan tatapan iba. Mahendra tersenyum tipis agar membuat perasaan istrinya sedikit lebih baik.


"Mas.." ucap Ami meneteskan air matanya, bagaimanapun juga Mahendra adalah pria yang sangat ia cintai.


"Hendra, tadi kamu sempat menyebut nama seseorang, siapa?" selidik Gusman. Mahendra menghela nafasnya setelah meneguk air yang diberikan Ami kepadanya, lantas ia mulai menceritakan segala kejadian yang terjadi pada malam kemarin.


*********


sarangheo

__ADS_1


********


__ADS_2