
Tak butuh proses lebih lama lagi untuk Nayuwan dan Gavin melangsungkan prosesi pernikahannya. Kedua belah pihak keluarga sudah saling bertemu dan sudah melamar Nayuwan secara resmi, persiapan menuju akad nikah juga sudah rampung 70% pada saat ulang tahun Alea beberapa waktu lalu. Dan lamaran itu, Gavin hanya ingin memberi bumbu yang lebih manis sebagai kenangan perjalanan hubungan mereka. Hanya tinggal menghitung hari kedua pasangan ini akan resmi menjadi suami istri.
Namun sepertinya Gavin harus extra sabar, tatkala mamanya yang masih memegang adat jawa yang cukup kental. Dan salah satu ritual yang wajib Gavin lakukan adalah pingitan. Sudah 4 hari mereka tidak saling bertegur sapa secara langsung bahkan mama Hellen sampai mengganti ponsel Gavin dengan ponsel jadul yang hanya bisa menerima sambungan telephone dan sms. Demi terealisasinya prosesi pingitan Hellen sampai menyuruh Dewa untuk menggantikan posisi Gavin untuk sementara waktu.
"Va,," tiba-tiba Gavin masuk ke kamar Eva tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Iiisssh abang !! Kaget tau!!" pekik Eva kesal sambil melempar bantal panda unyunya pada Gavin.
"Va, pinjem ponselmu bentar" pinta Gavin.
"Ogah ah,"
"Nih" Gavin menyodorkan blackcard-nya sebagai sogokan.
"Apaan ini" ekor mata Eva mendelik pada kartu yang di sodorkan kakaknya itu.
"Ayolah Va, abang kangen Nayuwan" ucap Gavin terlihat frustasi.
"Ciiihh, bang,, tinggal sehari lagi besok iih"
"Iya tau.. tapi.. pleaseee .."
"Ya udah nih, tapi jangan lama-lama. Ketahuan mama, batal kau nikah !" ucap Eva memberi peringatan pada Gavin.
__ADS_1
"tuuuutttt.... tttuuu.ttt"
"Queen,, ayolah "
"Hai om," sapa Nadia.
"Nad?? Bunda kamu mana?" tanya Gavin sedikit kecewa.
"Oh bunda lagi luluran mangir pengantin, besok kan acara ngaras sama siraman, emang Om ngga?" belum lagi Gavin menjawab pertanyaan Nadia, mama Hellen sudah berteriak memanggilnya.
"GAAVVIIIN !! Kan mama udah bilang kamu jangan ketemu Nayuwan dulu ! Bandel banget sih kalo dibilangin sama orangtua !" mama Hellen langsung mencak-mencak sembari menjewer telinga Gavin, Nadia tertawa cekikan melihat calon ayahnya kesakitan seperti anak kecil yang padahal sudah usianya sudah mau 40tahun itu dimarahi oleh nenek Hellen.
"Nadia sayang, Oma tutup dulu ya, salam buat semua ya sayang"
"Mam, aku cuma pengen ngintip aja dikit iissh"ucap Gavin sembari mengikuti langkah mami Hellen yang menariknya menuju ruang tamu yang di sana sudah berkumpul beberapa kerabat yang memang sengaja datang lebih awal karena ingin mengikuti seluruh prosesi pelepasan masa lajang Gavin yang sudah mereka tunggu sejak lama. Mereka semua sedang bersiap-siap pergi ke Bandung hari itu, karena besoknya Gavin juga akan melaksanakan acara siraman pada sore harinya setelah perwakilan dari keluarga calon besan menyerahkan air siraman yang akan harus dicampurkan dengan air siraman milik Nayuwan terlebih dahulu. Tatalaksananya sedikit berbeda dengan tatacara siraman keluarga Nayuwan yang adat sunda, sedang Gavin mengikuti adat maminya yaitu adat Jawa tengah, keraton Surakarta. Sedang pak Dewa, ayah Gavin hanya manut saja. Menurutnya adat manapun sama saja, sama-sama capek.
Gavin sebenarnya senang-senang saja mengikuti seluruh rangkaian adat, toh ini hal yang mungkin akan ia jalani hanya sekali saja dalam hidupnya. Namun dia cukup tersiksa dengan ritual pingitan tersebut, karena ia benar-benar tidak boleh melihat Nayuwan sama sekali meski masih bisa berkabar melalui sms dan telephone namun bagi Gavin itu tidak cukup untuk menuntaskan kerinduannya. Tapi untungnya mama Hellen masih memberinya sebuah foto Nayuwan berukuran 60 x 80 cm untuk dipajang dikamar Gavin.
Sedang Nayuwan tak kalah sibuknya menghadapi para saudara dan kerabatnya yang rempong yang tumpah ruah ingin membantu untuk kelancaran hari bahagianya. Sejak ia memutuskan ambil cuti sejak ia menjalani pingitan. Nayuwan mulai melakukan diet yang agak lebih ketat dari biasanya. Ia benar-benar harus cukup hanya dengan susu tinggi protein, makan siang dengan salad sayuran, memakan 1 buah pear pakham dan 3 butir putih telur pada saat makan malam sisanya dia harus berpuas diri dengan air putih.
"Masya Allah, tuh nya mingkin cahayaan, tambah deui ieu lulur mangirnya memang anu pangalus na(Masya Allah, tuhkan makin bercahaya, tambah lagi ini lulur mangirnya memang yang paling bagus)" puji seorang kerabatnya, Nayuwan hanya mengembang senyum di bibirnya disertai rona merah di pipinya.
Segala jenis ruwatan ia jalani dengan ikhlas, demi mendapatkan hasil yang maksimal pada saat hari H. Meski ada beberapa ritual yang sebenarnya Nayuwan enggan melakukannya, tapi ya sudahlah. Toh di pernikahan yang kandas ia tidak melakukan semua prosesi tersebut.
__ADS_1
Esok harinya, Nayuwan sudah didandani kemudian memakai gamis polos berwarna putih kemudian dilapisi dengan ronce melati untuk siraman. Di moment tersebut ia merasakan tenggorokannya mulai sakit meradang karena luapan emosi dalam dirinya begitu melihat sosok sang Ayah sudah menunggunya di pintu kamarnya untuk melakukan prosesi ngaraskeun.
Yaitu Prosesi yang dilakukan sebagai tanda penghormatan anak kepada orang tua yang sudah mendidik, merawat, membesarkan dan menyayanginya, dengan membersihkan kaki kedua orang tua sebagai simbolisnya.
Rangkaian Prosesi Ngaras Pengantin dan Siraman
Prosesi ngaras diawali dengan kedua orang tua calon pengantin wanita membawa puterinya menuju kursi ngaras. Kemudian calon pengantin wanita di ais menggunakan samping oleh ibu, dibagian depan ayah calon pengantin membawa lilin. Dengan makna ayah menerangi langkah anak, sementara ibu mengasuh dan membesarkan anak yang diiringi kidung Ngaras dengan alunan musik adat Sunda kecapi-suling. Hingga sampai di kursi Ngaras. Kemudian Nayuwan sungkem atau memohon maaf kepada kedua orang tua Dilanjutkan dengan membasuh kaki ibu terlebih dahulu, dengan air bersih yang sudah disiapkan baru setelahnya kepada ayahnya.
Dalam prosesi ini Nayuwan sudah tidak bisa lagi mengontrol emosinya yang sejak tadi sudah ia tahan. Ada perasaan sakit, hancur, sedih, kecewa, pilu, namun juga bercampur dengan perasaan haru, bahagia, sukacita, serta perut yang terasa dipenuhi oleh ribuan kupu-kupu.
Nayuwan kemudian dengan perlahan lembut juga telaten membasuh atau mencuci kaki kedua orang tuanya lalu diberikan harum-haruman, ataupun semacam parfum agar wangi. Setelah itu Nayuwan bersimpuh sungkem kepada orang tuanya untuk meminta doa dan restu.
"Ibu Abah,, haturnuhun pisan sateuacana lantaran tos mikanyaah neng, ngajaga neng, sareng ngadukung jalan anu ku neng rambah, haturnuhun atos ngadidik sareng nungtun neng mesing dina kaayaan atos paturai. (terima kasih banyak sebelumnya karena selalu menyayangi saya,menjaga dan mendukung jalan yang sudan saya tempuh, terima kasih sudah mendidik dan membimbing saya meski dalam keadaan yang sudah terpisah)."kata Nayuwan, karena memang orang tua Nayuwan sudah berpisah sejak Nayuwan SD. Seperti banyak yang mengatakan ketika orang tuamu melakukan kesalahan maka anaknya akan merasakan karmanya. Seperti Raka, ayahnya lebih memilih pergi dan tinggal bersama selingkuhannya yang kemudian ia nikahi. Inilah alasan Nayuwan berjuang keras hingga di titik ini agar kedua putrinya tidak merasakan hal yan sama seperti dirinya yang harus menanggung karma dari ayahnya yang berselingkuh.
Selintas ia kembali teringat kenangan semasa kecilnya saat ia diantar pagi-pagi diantar ke sekolah oleh motor ayahnya. Bisa dikatakan keluarga Nayuwan cukup terpandang selain karena ayahnya seorang P*S, kakek Nayuwan juga seorang kuwu, neneknya seseorang kepala sekolah SD, siapa yang tidak mengenal nama besar keluarga Ibrahim. Keluarga paling kaya sekecamatan. Dan semua habis karena kakek Nayuwan mengambil madu, meski kekuasaan dan pamornya masih membekas, terbukti kakek Nayuwan masih bisa menjabat kembali selama 2 periode di saat usia beliau yang harusnya pensiun.
Kenapa disebut karma turunan, karena awal mulanya ada Kakek Nayuwan, di antara 2 kedua putrinya ibu Nayuwan yang menanggung karma tersebut, kini diantara kedua putri ibu Vina, Nayuwanlah yang menjalani karma tersebut. Dan Nayuwan sedang berusaha keras memutus Karma tersebut, karena sejatinya anak-anaknya tidak berhak atas karma tersebut, mereka juga korban orang tuanya.
*******
sarangheo...
********
__ADS_1