
"Queen.." suara Gavin memotong kalimat Nayuwan, semua mata kini tertuju pada Gavin yang sudah duduk bersiap di depan sebuah piano. kemudian mulai memainkan denting Janji suci milik Yovie and Nonu dan tentu saja langsung disambut oleh suara tepuk tangan dan keriuhan para hadirin di sana mulai terbius alunan denting piano yang mengalun lembut mulai menggelitik perasaan mereka yang sejak tadi sudah di ajak roller coaster.
"Lagu ini mungkin aku akan menyanyikannya hanya satu kali ini, dan ini khusus untuk mu" riuh rendah para hadirin menjadi sedikit barbar ketika melihat sesuatu yang biasa mereka katakan "keuwuan"
"Dengarkanlah, wanita pujaanku
Malam ini akan kusampaikan
Hasrat suci kepadamu, dewiku
Dengarkanlah kesungguhan ini..." Gavin mulai menyanyikan lagu tersebut, semua orang berdecak kagum memberi tepuk tangan yang meriah untuk Gavin yang ternyata memiliki suara yang begitu merdu selaras dengan wajahnya yang tampan.
"Kyaaaaaa... " beberapa gadis berteriak histeris, merinding disko bulu roma mereka begitu mendengar suara Gavin yang terdengar tulus dari hati.
"Aku ingin mempersuntingmu
'Tuk yang pertama dan terakhir.." Nayuwan berajak dari tempat duduknya, lantas ia berjalan hingga ke tengah panggung di ikuti kedua putrinya yang masih saja mengisak apalagi begitu mendengar suara Gavin, makin pecah tangis mereka karena haru yang menggelitik hati mereka.
"Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang 'tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu.." Gavin kini beranjak dari tempat duduknya segera seseorang dari pemusik yang mengisi acara menggantikannya melanjutkan memainkan piano tersebut.
"Dengarkanlah, wanita impianku
Malam ini akan kusampaikan
Janji suci, satu untuk selamanya
__ADS_1
Dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin mempersuntingmu
'Tuk yang pertama dan terakhir.." kini Gavin sudah berdiri dihadapan Nayuwan dan kedua putrinya.
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang 'tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu..
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang 'tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
Oh-ohooo hoooo ooh" keriuhan decak kagum, tepuk tangan dari para hadirin makin membuncah seolah mereka tengah menyaksikan konser teater mini.
"TERIMA....!!! TERIMA.. !! TERIMA !!" ujar mereka kompak, Nayuwan mendecih sembari mengusap air matanya yang tetap mengalir meski ia sudah menyekanya berulang kali siapa sangka pria batu itu mampu berbuat hal seromantis ini.
"Nayuwan Gava Pramesty.." suara-suara dari arah penonton hening seketika.
"Ah bukan.. Queen." ralatnya.
"Queen,, wanita kini aku cintai dengan segenap jiwaku. AKUAku tahu awal pertemuan kita beberapa tahun kemarin adalah sesuatu hal yang jauh dari kata romantis. Perjalanan kita selalu dipenuhi perdebatan untuk saling menjatuhkan satu sama lain. Kita berdua tau, kita ini adalah orang dengan karakter yang sama kerasnya. Namun pada satu masa dalam perjalanan itulah kita menemukan arti hampa dan takut kehilangan satu sama lain saat kita diuji oleh malaikat maut yang seolah ingin membawamu pergi jauh dariku untuk selamanya." Nayuwan menatap lekat pada Gavin, fokusmya kini hanya tertuju pada Gavin tanpa ingin menyela apa yang akan dituturkan oleh Gavin.
__ADS_1
"Queen, baik aku ataupun dirimu adalah sosok yang rumit dengan beban trauma di masa lalu, aku juga adalah pria yang pernah menyakitimu melalui lisanku. Untuk itu aku minta maaf.. Maaf jika dihatimu masih ada rasa sakit yang masih tertinggal di sana.."
"Tuan.." Nayuwan menatap manik mata Gavin yang terlihat bergetar, namun tulus penuh keyakinan.
"Aku berharap semoga masa lalu, hanyalah masa lalu yang akan menjadi pengalaman kita. Kenangan yang akan menjadikan kita menjadi sosok yang dewasa dan mampu bekerja sama dalam situasi apapun nantinya." manik mata Nayuwan mulai berkaca-kaca kembali setelah sesaat yang lalu air matanya sempat terhenti.
"Seperti yang anak-anak katakan pada mu. Aku tidak bisa berjanji untuk selalu membuatmu bahagia sepanjang sisa usai ku, namun aku akan berusaha memberikan hal terbaik dari usahaku."
"Aku juga tidak bisa berjanji untuk menuntunmu ke jalan Allah yang lurus. Namun aku bisa menemanimu mencari ridho Allah." Nayuwan kembali terkekeh meski tengah menangis. Ia tahu Gavin adalah seorang yang cakap dalam berpidato, ia juga lihai bermain kata saat presentasi. Tapi ia bukanlah seseorang yang pandai merangkai rayuan seperti Haidar. Alih-alih berkata-kata manis untuk melamarnya, Gavin jutru lebih memilih menunjukan semua kelemahannya.
"Untuk itu, malam ini, dihadapan orang tuaku, orang tuamu, kedua putri kita, saudari-saudari kita, kerabat, dan semua yang hadir. Maukah kamu menjadi istri dari seorang pria yang memiliki banyak kekurangan ini?" ucap Gavin dengan kesungguhan hati, tanpa ada bayangan keraguan dari masa lalunya.
Netra mereka saling bertatapan satu sama lain. Menyelami emosi melalui bola mata mereka yang sama bergetar harap-harap cemas. Namun raut wajah Gavin tetap menunjukan keyakinan hatinya, bibirnya tetap mengulas senyum meski jantungnya tengah berdegup kencang. Nayuwan bisa merasakan tangan Gavin bergetar dengan keringat dingin membanjiri telapak tangannya. Pria itu tetap memperlihatkan kegugupannya meski pembawaannya tetap terlihat tenang.
Sementara di sana orang-orang yang ada ikut dibuat gemas dengan apa yang mereka lihat saat ini. Mereka benar-benar dibuat gusar tidak sabar saat menunggu jawaban dari Nayuwan yang malah terlihat seolah ragu untuk menerima lamaran Gavin. Mereka mulai kesal dan mulai kembali meneriakan kata TERIMA.
"TERIMA !! TERIMA !! TERIMA !! AYO CEPET BILANG ****TERIMA**** !! " teriak mereka sahut menyahut hampir bersamaan. Sorak sorai mereka mengalihkan perhatian mereka sejenak.
"Queen, mereka berseru untuk terima lho Queen,," tutur Gavin dengan memasang wajah sok polos. Dan membuat Nayuwan menaikan ujung bibirny dengan tampang seolah jijik melihat tingkah Gavin yang padahal dirinya juga mengakui Gavin terlihat cukuo menggelitik hatinya karena gemas.
Sesaat kemudian ia membuang nafasnya untuk memberikan sedikit doronga hatinya agar lebih tegar. Raut wajahnya perlahan berubah menjadi serius, terlihat datar seolah ia tidak menyukai segala hal yang telah dilakukan oleh Gavin. Dan sekali lagi di tengah sorak para hadirin yang malam ini ia menghela nafasnya.
"Tuan..." kini raut wajah Nayuwan telah berubah seluruhnya menjadi wajah datar dan kaku khas dirinya. Gavin yang melihat hal itu seketika berusaha menelan salivanya dengan susah payah.
"Maaf,, jika mungkin keputusan ku akan membuatmu kecewa dan mungkin jawaban yang aku ungkapan tidak seperti yang Tuan harapkan." suasana kembali hening begitu mereka mendengar penuturan Nayuwan yang mulai memberi jawaban lamaran Gavin.
"Tapi percayalah, aku hanya ingin Tuan bahagia. Maaf jika aku.." Nayuwan kembali berhenti sejenak, Gavin perlahan menunduk pasrah kalau-kalau Nayuwan mungkin masih butuh waktu untuk menerima lamarannya, raut wajahnya mulai muram seakam ia sudah tahu jawaban yang akan didengar saat ini.
******
sarangheo ಥ⌣ಥ
__ADS_1