
Sudah berjam-jam Nayuwan berjibaku mengecek beberapa proposal pengajuan kerja sama dengan beberapa perusahaan lain. Menelaah setiap isi setiap bait dalam tiap lembar berkas-berkas tersebut dengan teliti. Dia memang selalu serius jika sudah menyangkut soal "bekerja".
"Tok tok tok " netra Nayuwan melirik sekilas pada daun pintu yang masih tertutup kemudian kembali menatap layar laptopnya.
"Masuk "Nayuwan menyilahkan Novi sekertarisnya tanpa dia merubah posisi dirinya yang tengah sibuk dengan layar monitor dan setumpuk berkas yang memenuhi meja kerjanya.
"Maaf bu, ini ada undangan resmi dari FJC menyoal rapat direksi dan para pemegang saham terkait penggabungan Bamantara Corporation Group dengan FJC Group, dan juga ini undangan untuk pengukuhan Pak Gavin Harraz Widjaya sebagai Presdir-nya." jelas Novi sembari meletakan undagan khusus tersebut, Nayuwan menghentikan sejenak pekerjaannya ketika Novi meletakan undang itu di atas mejanya. Ia menyandarkan punggungnya pada pada kursi yang tengah menahan bobotnya, netranya menatap lekat undangan itu sembari mendengarkan penjelasan Novi perihal undangan resmi tersebut. tatapan menyipit menjurus pada undagan tersebut dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kok di kasih ke saya? Kenapa bukan ke adik saya, kam selama ini Kalau RUPS selalu adik saya yang dateng ke sana kan?"Nayuwan mengedarkan pandangannya pada Novi yang berdiri di seberang mejanya, lalu kembali beralih pada undangan tersebut.
"Soal itu, ibu Clara juga tetap mendapatkan undangan yang sama bu" jelas Novi singkat. Nayuwan menekan pelipisnya lalu mengangguk dengan perasaan jengah, juga mendengkus kasar saat melihat 2 undangan yang tersimpan menyusun di mejanya tersebut.
"Oia bu, nanti juga ada rapat dengan PT. Angkasa Jaya dan juga dengan PT Kyung Garment." Novi mengingatkan kembali jadwal meeting yang harus di hadiri Nayuwan Siang itu, sambil menatap layar tablet yang ada ditangannya.
"Kamu udah kasih tahu Gina tentang semua jadwal meeting saya Nov?" tanya Nayuwan sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursinya.
"Sudah bu, saya rasa Gina sekarang tengah mengecek ulang proposal untuk di bawa meeting nanti bu"
"Ok lah kalau begitu. Hmmmm.. Tolong konfirmasi ulang meeting sama PT angkasa mita supaya di restoran yang biasa kita meeting aja, Nov, biar sekalian makan siang." seru Nayuwan santai bersandar pada kursi kerjanya.
"Baik bu akan saya segera konfirmasikan ke sana, ada lagi bu?"
"Ngga, kamu boleh kembali ke ruanganmu, makasi ya Nov" ujar Nayuwan mengerucutkan bibirnya kemudian tersenyum hangat pada Novi.
"Sama-sama bu, sudah jadi keharusan saya" ungkap Novi sambil membungkuk sebelum dia undur beberapa langkah kemudian menghilang di balik pintu kembali ke mejanya.
Nayuwan meraih undangan yang tergeletak apik di atas mejanya. Ada dua jenis undangan, yang pertama adalah undangan RUPS di FJC grup dan satunya lagi adalah undangan pesta pengukuhan pelantikan Gavin Harraz Widjaya resmi menjadi Presdir di Bamantara Corporation milik ayah Gavin.
Entah kenapa makin ia menatap undangan tersebut, ia merasa makin gusar perasaan dihatinya. Dia selalu merasa tidak nyaman saat berhadapan dengan Gavin, mengingat Gavin pernah menghinanya dulu sewaktu ia dirinya masih menjadi TKW di Hongkong, bibirnya mengerucut sambil menggigit bibir bawahnya kemudian menekan nomor di ponselnya.
"Iya teh, kenapa?" tanya seseorang terdengar ramah di seberang sana begitu saluran telpone terhubung.
"undangan dari FJC grup kamu dapet juga?"
"Udah teh, nih lagi aku pegang"
"Kok dua, kan cukup satu aja kan harusnya?"
"Ya ngga lah, aku kan sebagai pendamping sedang teteh sebagai pemiilik?"
"Ck, Teteh males ngeliat muka si Gavin" dengus Nayuwan.
"Profesional atuh teteh ku" goda Clara seraya mengingat kakaknya itu
"Jangan terlalu benci lho sama orang, nanti malah bucin"
"Cih !! Najiis amat bucin sama orang macem begitu!!" sungut Nayuwan risih dengan godaan Clara.
"Tapi Pak Gavin itu ganteng lho teh, kaya dari orok, terus sekarang mau dikukuhin bukan sekedar jadi CEO di FJC Group tapi jadi presdir dari 2 perusahaan besar pula, posisi udah setinggi dan sekuat itu siapa yang ngga silau coba?? kalau aku sih bakal pepet dia sampe dapet" seloroh Clara makin gencar menggoda kakaknya.
__ADS_1
"Inget suami sama anakmu, wahai adik kurang akhlak!" hardik Nayuwam sebal.
"Lu ngga tau aja, dia tuh manusia paling angkuh, paling arogan, dingin, minus akhlak!" Nayuwan mengeraskan rahangnya.
"Hahaha, cocok banget kan sama teteh yang punya perangai 11-12 sama Pak Gavin,"
"Heh, gue ngga sesombong dan searogan si Gavin yee" omel Nayuwan menolak disamakan dengan Gavin
"hhmmm apa perlu aku kasih tau ibu juga Alea dan Nadia ya tentang hal ini"
"Ibu? Alea? Nadia?Untuk apa?" Nayuwan mengernyitkan dahinya bingung.
"Ya siapa tau aja dalam waktu dekat ibu nanti perlu menyiapkan keperluan menyambut calon menantu sama ayah baru gitu buat Alea dan Nadia, kan biar gimana itu bocah dua butuh figur ayah, kayanya Pak Gavin cocok tuh, aku yakin Alea atau Nadia ngga bakal nolak Pak Gavin jadi suami teteh?"
"No, BIG NO !! Ngga ada cerita ya air sama minyak nyatu jadi satu!" tolak Nayuwan dengan tegas. Ingin rasanya dia mengeluarkan otak adiknya yang malah menghalu kemana-mana soal dirinya dan Gavin.
"Kuah sayur kalau ngga di kasih minyak kurang gurih teh"
"Dah ah, malah makin ngaco, gua balik kerja dulu, bye!"
Nayuwan menutup saluran telpon dengan kasar, sedang Clara terkekeh membayangkan bagaimana juteknya raut wajah Nayuwan saat ini yang pasti sedang kesal pada dirinya.
Nayuwan beberapa kali berdecak, menggigit-gigiti bibir bawahnya, mendengkus kesal.
"Aaaaarrghh,, Napa sih mesti ikutan RUPS segala?" geram Nayuwan gusar memukul-mukul kepalanya yang berbalut hijab pasmina.
"Iissh!" Nayuwan mendesis sembari melempar tatapan maut pada asistennya itu.
"Hmmmm ini lagi, dateng-dateng malah mau nambah-nambahin kerjaan gue aja. Kenapa sih kalian bukannya bawain gue cowok ganteng gitu, malah tumpukan berkas macam ini" Nayuwan yang sedang kesal adiknya makin jengkel ketika Gina menambah beberapa tumpukan file di atas mejanya.
"Maaf bu, tumpukan kertas itu bisa buat menopang hajat hidup perusahaan kita bu lho, lagipula saya juga masih jomblo sama seperti ibu, jadi ngga punya stok cowok yang bisa disodorin ke ibu"singkat Gina tersenyum sembari mengernyitkan dahinya sekaligus menaikan alisnya sebelah.
"Ciihh, lu nyindir gue? Atau mungkin lu pingin gue pindahkan ke kutub utara heh?" ringis Nayuwan menunjukan wajah sebal tak percaya mendapat jawaban sehoror itu.
"Tidak perlu bu, saya sudah betah disini" tolak sambil memamerkan deretan giginya yang rapih, berjalan mundur kemudian kabur menghilang dipintu ruangan atasannya itu.
Tidak lama berselang Gina kembali membawa bungkusan kantong plastik berlogo minimarket yang terletak tidak jauh dari kantor. Nayuwan yang masih sebal melirik penasaran dengan isi kantong plastik putih yanh di bawa Gina.
"Sogokan?" cibir Nayuwan. Gina hanya tersenyum saja.
"Oklah sogokannya gue terima" seloroh Nayuwan sambil mengambil bungkusan plastik di atas mejanya. Terlihat jelas netra Nayuwan begitu berbinar dengan beberapa cemilan kesukaannya yang di beli Gina dari minimarket yang letaknya lumayan dekat dari gedung IC Group.
"35 rasa 15, ampun dah, ckckckck" gumam Gina menggeleng kepala juga mengulum kekeh tawanya dalam senyum yang tertahan saat melihat tingkat bossnya yang memang terlihat menggemaskan.
"Gina, gue ngga budek lho"hardik Nayuwan yang melihat smrik Gina terkembang tipis-tipis
"Iya bu, maaf" ujarnya menutupi senyum dengan tangannya, Gina mendongak meluruskan tubuhnya ke arah Nayuwan yang tengah sibuk memakan mochi es krimnya.
"Lu mau?"
__ADS_1
"Ngga bu, Makasih" Nayuwan menaikan alisnya lalu menghembuskan nafasnya dengan perlahan karena masih merasa ada yang mengganjal perasaannya.
"Saya perhatikan sepertinya ibu sangat terganggu dengan undangan tersebut?"
"Ngga juga sih, cuma malas aja ketemu si kampret itu" jawab Nayuwan dengan bibir yang makin mengerucut.
"Kampret?" Gina mengernyitkan dahinya.
"Iya, si kampret Gavin, gedeg banget sama manusia satu itu?" jawab Nayuwan berapi-api.
"Jangan terlalu benci bu, nanti malah jadi benar-benar cinta lho" ungkap Gina mencoba mengingatkan, tapi mungkin lebih ke arah sedang menggoda bossnya tatkala alisnya bergerak naik turun.
"Hah? Gue? Bucin sama si Kampret Gavin? Ogah, males banget!" ujar Nayuwan dengan nada menyolot, ia pun bergidik saat mendengar gurauan Gina, yang malah terdengar lebih menyebalkan daripada ledekan adiknya tadi.
"Banyak lho bu yang begitu" ujar Gina mengulum bibirnya sembari menilik gelagat bossnya yang makin terlihat kesal.
"Hidup gue ini bukan sinetron ikan terbang atau drama korea, Gina. Yang awalnya benci terus jadi bucin ! Ngga ada cerita dah." tolak Nayuwan dengan penuh penekanan, dan jangan lupakan tatapan tajam yang menyipit yang dia lemparkan kepada Gina dengan suram.
"Tapi.. Pak Gavin itu ganteng lho bu,udah gitu kaya malahan bentar lagi mau jadi Presdir, bukan cuma jadi CEO, bodynya hmmmmh bikin meleleh, pokoknya idaman para kaum hawa" ujar Gina dengan wajah mupeng.
"Cih lap tuh air liur lu, jangan sampai ngeces gitu, iiissh !" tautan alis Nayuwan makin mengerut sembari bergedik mendengar penuturan Gina yang menyanjung Gavin manusia yang memang nyaris sempurna itu.
"Tapi kalau dipikir lagi, Gavin emang ganteng sih, mapan kekayaannya ngga bakal abis 7 turunan, 7tanjakan, 7 belokan, sampai 7 tikungan juga tetap aja tajir melintir, bodynya kayanya atletis, apa mungkin karena suka ngegym kali ya? tingginya juga lumayan jangkung, sayangnya minus akhlak, coba kalau dia itu lebih ramah dan ngga suka ngehina orang mungkin gue ngga sebel-sebel amat, iiisssh mikir apa sih gue?" gumam Nayuwan dalam hati, setelah tersadar dari lamunannya ia pun kembali bergedik geli menyesali pemikiran otaknya barusan yang ikut-ikutan menerawangi Gavin. Sepintas Gina melirik boss dan menyadari bossnya yang tengah melamukan sesuatu setelah dirinya menyanjung Gavin tinggi-tinggi barusan.
"Hayooooo ibu lagi mikir jorok soal Pak Gavin ya" ledek Gina tersenyum puas karena berhasil mencekoki otak Nayuwan soal Gavin.
"Iih ngapain, Ku nggaa lihat tumpukan berkas ini, Gue inh lagi mikir, gimana kalau lu aja yang duduk di sini, gantiin gue, nanti kan lu bisa deketin dan bisa ketemu Gavin terus tiap ada meeting gabungan, gimana lu mau ngga?" tantang Nayuwan sembari menunjukan smrik yang membuat Gina mendelik tak enak hati, kemudian dia langsung pada posisi menegapkan tubuhnya mundur 2 langkah dari meja kerja bossnya.
"Makasih, tapi saya sudah cukup puas dengan jabatan saya sebagai Asisten pribadi ibu" tolaknya dengan wajah semu tegang.
"Ooh gitu ya? Padahal Gue dengan senang hati, lu gantiin gue lho Gin. Gue tinggal terima beres aja di rumah" Goda Nayuwan memicingkan mata serta menyunggikan sudut bibirnya. Mode Julid On.
"Ya udah deh kalau lu ngga mah, kalau gitu mulai hari ini, lu jadi supir gue berarti, kasihan Pak Nanang Kalau harus mengantar jemput gue juga, belum antar jemput si Alea sama Nadia, ok?" ujar lagi Nayuwan sembari melempar smirk julid disertai alis naik turun pada Gina yang menganga ketika mendengar penuturan bossnya itu.
Glek! "Baik bu" ringis Gina menghela nafas panjang, tanpa mampu lagi menolak perintah Nayuan, dan itu artinya dia harus mengurangi lagi jatah istirahatnya, padahal semenjak bekerja dengan Nayuwan dia jadi suka begadang hanya karena harus menemani bossnya membuat konten vlog Yutube yang di buat enak udel bossnya. Ga tau waktu. Kadang Gina masih sedikit keteteran mengimbangi energi power up Nayuwan yang seperti tidak ada habisnya.
"Hayo sekarang ikut gue" ajak Nayuwan sambil merangkul bahu asistennya itu.
"Kemana bu?"selidik Gina dengan tatapan cemas.
"Ck,Meetinglah, kemana lagi?" Nayuwan mendelik lalu menyered tubuh Gina yang masih menunjukan wajah cengo kemudian terkesiap saat mengingat beberapa rentetan jadwal meeting hari ini.
" huuuffttt lembur ampe malem lagi gue, untung gaji sama bonusnya gede, kalau ngga mending cari kerja yang lebih manusiawi jam kerjanya" gumam Gina pasrah dalam hati.
***********
sarangheo.. ( ˘ ³˘)❤
************
__ADS_1