Merpati Hitam

Merpati Hitam
jodoh pilihan Mama Vito


__ADS_3

Gavin terlihat masih mengulum senyumnya bahkan wajahnya menunjukan rona kemerahan seperti anak perempuan yang baru bertemu gebetan.


"Dih nape lu, kesambet?" ledek Haidar sembari menyapa dengan gaya khas mereka.


"Die lagi bucin sama si gunung Everest" sahut Rendra yang sudah mendengar gibahan soal Nayuwan dan Gavin dari Moya yang kini resmi menjadi kekasihnya.


"Hah??!!! Serius lo?! Mereka kan kalo ketemu udah kek mau ada perang dunia ke tiga, ada aja yang jadi masalah buat didebatin" Haidar melirik Rendra dengan senyum yang nampak seperti mengenyek Gavin yang sekarang malah bucin dengan seseorang yang selalu jadi "Rival debatnya".


"Itu namanya kena tulah, kena karma dia. Lagian kata orang jadul sering bilang, jangan terlalu benci nanti malah benar-benar cinta, nih buktinya ada depan kita sekarang" Rendra makin puas mengceng-cengi sahabatnya itu.


"Apaan sih kalian, udah kek emak-emak yang suka ngumpul di tukang sayur, dosa tau gibahin orang tuh" protes Gavin.


"Dosa gimana orang kita ngomong bener kok, lagian kan elunya juga ada di sini, gibah dari mana ceritanya"sangkal Rendra melirik Haidar supaya lebih kencang meledeki Gavin yang sedang jatuh cinta pada Nayuwan janda beranak dua.


"Berisik ah. Eh si Vito mana, kok belum nongol?" ujar Gavin sembari meminum latte pesanannya.


"Tadi sih bilangnya udh OTW, paling bentar lagi juga sampe itu bocah" jawab Haidar yang kemudian meminum Espresonya.


Tak berselang lama munculah Vito yang berjalan lunglai seperti kurang bersemangat, wajah yang di tekuk kusut, hingga membuat ketiga sahabatnya saling menoleh dan saling bertanya melalui kontak mata kemudian di jawab dengan gestur dan mimik muka masing-masing.


Vito langsung menyandarkan punggungnya dan membenamkan tubuhnya pada sofa caffe seperti tengah pusing menanggung beban berat.


"Lo kenapa bre, sejak lo dateng suntuk amat muka lu? Biasa lo yang paling pecicilan kalo lagi ngumpul" tanya Haidar sembari menepuk bahu Vito, Vito menoleh dan menatap Haidar dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Iih lo kenapa b*****t natap gue sampe segitunya, jatuh cinta lo sama ketampanan gue? Ya meskipun wajar sih karena gue emang mempesona" ujar Haidar malah narsis sendiri gara-gara Vito menatapnya dengan lekat, Rendra dan Gavin sontak merasa jijik mual ingin muntah mendengar penuturan Haidar yang over PD. Vito kemudian bangkit dan menegapkan posisi duduknya, lantas membuang nafasnya dengan percuma, meneguk latte yang memang sudah dipesankan untuknya.


"Gue dijodohin sama nyokap gue" ujar Vito datar.


"Uhuk.. uhuk..!! Apa apa?" Rendra hampir saja menyemburkan cappuccino yang sedang diseruputnya pada Gavin,


"Anjirr, biasa aja woy, ampir aja gue jadi sasaran semburan jigong lo nyet" ujar Gavin terlihat sudah seperti pasang kuda-kuda antisipasi menghindari semburan Rendra.


"GUE BILANG, GUE MAU DIJODOHIN SAMA NYOKAP GUE!" ulang Vito meninggikan suaranya.

__ADS_1


"Serius Lo?" kali ini Haidar yang langsung menyemburkan Espresonya tepat ke arah Gavin.


"B*****T gue masih harus balik kantor nih, mana ada meeting lagi !" teriak Gavin sontak berdiri membersihkan kemejanya yang terkena semburan Haidar,


"So sorry boss, reflex, ngga sengaja sini saya lapin ya boss, " Haidar so-sok-an berlaga menjadi penjilat.


"Dah dah gue, geli juga gue di pegang-pegang ama elu kurap" ujar Gavin menepis tangan Haidar yang sibuk melap dirinya dengan tissu, Rendra yang melihat tertawa hingga terpingkal dan membuat perutnya sakit.


"Puas lu nyet! Liat gue jadi sasaran semburan dukun dadakan ini, gue mutasiin ke Irak baru tau rasa lu" ujar Gavin mencak-mencak pada Rendra yang terus saja menertawakan dirinya.


"Ya jangan lah boss, ntar saya ngga bisa pacaran sam ayang mbeb" tolak Rendra berusaha mengulum gelaknya. Gavin mendelik dan membuat kedua sahabatnya terdiam berusaha menahan tawa mereka, sedang Vito nampak tidak terlalu memperdulikan semua kejadian itu. Rendra yang menyadarinya menyikut Haidar dan Gavin yang sibuk mengeringkan sisa Espreso dengan tissu,


"Hmm lo serius Vit? Beneran dijodohin?" tanya Haidar setelah semua kembali tenang.


"Emang lo ngeliat gue lagi becanda?" jawab Vito sinis kepada Haidar.


"Wiiss ya sabar sabar to Mas Vito, ojo ngesu-ngesu. Jadi gimana ceritanya Mas Vito bisa sampai mau dijodohkan itu begitu?" ujar Haidar berlagak seperti mas mas jawa yang medok. Rendra pun ikut menegapkan posisi tubuhnya yang bersandar pada sofa dan menunpukan kedua tanganya pada lengan sofa begitu Vito mulai menceritakan kejadian beberapa minggu yang lalu saat Mamanya mengatakan bahwa dirinya akan dijodohkan dengan anak sahabat masa SMP Mamanya. Begitu pun dengan Gavin juga nampak serius mendengarkan penuturan Vito dari awal hingga akhir, sambil menunggu Satria membelikannya setelan kemeja dan celana baru untuknya.


"Ya jadi gitu intinya dia katanya anak sahabat mama pas dulu SMP, klise lah ceritanya" ungkap Vito enggan menjelaskan lagi dengan detail bagaimana dirinya jadi harus bersedia untuk mau dijodohkan. Namun berbeda dengan ketiga yang ternyata benar-benar antusias dengan apa yang diceritakan oleh Vito yang malah membuat Vito merasa semakin frustasi dibuatnya.


"Harusnya sih hari ini, tadi gue bilang sama dia buat janjian di sini aja sekalian makan siang soalnya kata dia dia juga kerja di sini juga." jelas Vito lantas meneguk lattenya.


"Gue doain moga lo selamet berkah semua amal jariah lo diterima di sisinya" ujar Rendra memberi doa semangat sambil menepuk nepuk lengab Vito.


"Sialan lo, emang lo pikir gue mau mati." ucapan Rendra makin membuat Vito tersulut emosinya.


"Hahaha canda gue, lagian lo mau ketemu calon bini muka udah ditekuk kek mau nagih utang aja" Vito memutar bola matanya sedang teman-temannya cengengesan melihat kekesalannya yang makin tergambar dari wajahnya yang terlihat sangat babyface.


"Lagian gue heran umur segini lo cuma pacaran sekali doang, sama tuh kaya si Gavin yang dinginny ngalah-ngalahin kutub utara" sahut Haidar,


"Eh penyumbang ****** sia-sia, gue sama si Gavin itu emang limited edition, emangnya kalian berdua best seller," cibir Vito menggeleng malas.


"Sialan lo!" umpat Haidar.

__ADS_1


"Nah itu dia ! Cocok ! kita berdua ini emang Limited edition jadi wajar susah lakunya, jadi bisa dipastiin yang dapetin kita itu pastinya cewek yang mahal dan berkelas juga" timpal Gavin merasa jumawa.


"Cih!!" Rendra mendecih sudut bibirny menyunging mendengar Gavin begitu meninggikan dirinya meskipun yang dikatakan Gavin memang tidaklah salah.


"Semisal itu cewek nanti dateng buat nolak perjodohan ini gimana? Secara ini jaman udah serba canggih men, bukan jaman Siti Nurbaya, cewek modern macam mereka pasti nolak abis-abisan perjodohan macam ini" ujar Gavin yang kening nampak berkerut sehingga nampak lebih serius, Vito hanya menjawab dengan menghedikan bahunya pelan.


Suasana menjadi hening untuk sesaat mereka tenggelam pada pemikiran mereka masing-masing,


"Drrrtt Ngguuuuuuung Nggguuuuuung" ponsel Vito akhirnya membuyarkan lamunan mereka. Vito menatap layar ponselnya tertera nama si pemanggil " Reva is calling" yang itu berarti menandakan perempuan yang dijodohkan Mamanya sudah sampai di caffe tersebut.


"Ya hallo, .. Saya udah di dalam, ...... kamu masuk aja, .... pake kerudung maroon? ... " Vito berdiri celingukan mencari sosok yang dimaksud perempuan di sebrang teleponnya.


"Broo gue ke sana dulu ya" pamit Vito beranjak dengan terburu-buru, membuat ketiga sahabatnya saling melempar tatapan julid yang sudah bisa diartikan oleh mereka.


Vito masih mengedarkan matanya mencari seseorang yang masih terhubung di saluran providernya, langkahnya pun terhenti begitu menemukan seorang perempuan dengan ciri-ciri yang dimaksud oleh seseorang dari sambungan teleponnya. Nampak seorang gadis tengah menelpon berdiri membelakanginya, ia mengenakan gamis dan Khimar yang sederhana, slingbag yang tidak memperlihatkan merknya, sepatu flat sederhana namun terlihat begitu anggun dan mampuh membuat jantung Vito berdebar padahal ia kemarin hanya melihat fotonya sekilas saja. Vito mematikan sambungan teleponnya.


"Halo.. haloo. yeh malah dimatiin" rutuk perempuan itu bicara sendiri pada gawainya.


"Reva ?" tegur Vito, sontak suara Vito membuat Reva membeku dan mengerutkan keningnya sebelum ia membalik tubuhnya menghadap sumber suara.


Di sudut meja tak jauh dari Vito dan Reva nampak 3 pria sedang sibuk mengomentari pertemuan Vito dan Reva yang nampak agak seperti kisah FTV.


"Gue yakin sih, si Vito bakal mau nikah ama ni cewek" ungkap Gavin mennyilangkan kedua tangannya.


"Ah sotoy lu, macem udah kek cenayang aja lu mah Vin" cibir Haidar pada Gavin yang sok tahu.


"Tapi kayanya iya sih feeling gue juga gitu mikirnya, secara ini cewek spek inceran si Vito banget"sahut Rendra ikut bersedekap dengan satu tangannya menyentuh dagunya.


Reva dengan perlahan memutar tubuhnya hingga menghadap Vito yang nampak membeku menatapnya dengan tatapan yang sulit ia artikan.


*******


sarangheo

__ADS_1


*******


__ADS_2