Merpati Hitam

Merpati Hitam
Tabayun


__ADS_3

Ting, sreeett.. Pintu lift terbuka di lantai 33, tempat di mana para ekspatriat ahli dan para petiggi seperti GM, direksi, COO dan Owner perusahaan menghabiskan waktu, tenaga, kecerdasan mereka untuk perusahaan.


"Kamu tunggu di sini" seru Novi ketus. Bella hanya mengangguk tanpa menjawab sepatah katapun.


Bella nampak memperhatikan sekeliling gedung yang nampak lebih hijau dan asri. Di samping ruangan ini nampak beberapa ekspart sepertinya tengah meeting, mereka nampak serius dengan pembicaraan mereka.


"Hmm kayanya gue harus bisa kerja di lantai ini, tempatnya lebih asyik, bakal lebih sering ketemu sama Harlan juga, udah gitu katanya gaji di lantai ini beda sama yang di lantai bawah. Pokoknya gue harus lebih gencar deketin Harlan supaya cepet naik jabatan kerja di lantai gedung ini" ucapnya menyemangati diri sendiri.


"Ekhem" suara deheman seorang perempuan mengejutkan dirinya, yang ternyata adalah Novi.


"Ayo ikut saya"


Bella lantas berjalan.mengekori Novi dengan perasaan yang tiba-tiba menjadi was-was.


Ceklek! Novi membukakan pintu ruangan untuknya lalu menyuruhnya masuk ke dalam ruangan. Dengan perasan yang campur aduk Bella masuk masuk mengikuti Novi ke dalam ruangan yang di dominasi warna hitam dan putih, minimalis klasik.


"Permisi ibu, mbak Bellanya sudah ada di sini" ujar Novi diambang pintu lantas memepersilahkan Bella masuk seorang diri ke dalam ruang bigboss. Baru satu langkah Bella memasuki ruangan dirinya sudah disambut dengan delik tajam Safira, Harlan, dan Ega yang menoleh ke arahnya sedari ia memasuki ruangan itu, tampang mereka terlihat galak seolah sudah di setting hingga membuat Bella sedikit ragu maju mendekati para petinggi perusahaan tempat ia bekerja saat ini.


Ceglek, pintu di tutup kembali oleh Novi dari luar. Dengan perasaan yang sudah campur aduk Bella berusaha untuk mengeluarkan suaranya meskipun ia merasakan lehernya seperti tercekik oleh tatapan Safira, Ega, dan Harlan.


"Selamat si.." belum lagi ia menyelesaikan kalimatnya serta bisa mengontrol emosinya, kembali ia harus berusaha dengan susah payah menelan salivanya begitu mendapati Nayuwan yang ia maki-maki tadi sewaktu di lift tengah bersandar pada kursi kebesarannya, memiringkan kepalanya memberi kesan jumawa dengan senyum tipis tersungging di sudut bibirnya sembari memainkam sebuah ballpoint pen. Nayuwan membuang nafasnya lantas membenarkan posisi tubuhnya menjadi lebih tegap, kedua lengannya kini bertumpu pada lengan kursinya. Nayuwan memang terlihat ramah menyambut dirinya namun ia tak bisa memungkiri aura seram dari Nayuwan benar-benar ia rasakan kini hingga membuat tubuhnya sedikit menggigil ngeri saat bulu halus di seluruh tubuhny meremang.


"Selamat pagi ibu senior, ini masih di bawah jam 9 lho, jadi saya rasa ini masih terlalu pagi untuk dikatakan siang" ujar Nayuwan memberi senyum lebar padanya.

__ADS_1


"Selamat pagi Bu" ralat Bella takut-takut, ia benar-benar merasakan lututnya sangat gemetaran, dan hampir saya terjerembab jika tidak ditahan Safira yang berdiri di sampingnya.


"Pak, Harlan, tolong kursi pak kasian ibu senior sepertinya syok melihat saya sedang magang jadi CEO kantor ini." Harlan dengan sigap menggeser kursi yang berasa di depan meja kerja Nayuwan, kemudian kembali berdiri di belakang kursi.


Bukan Nayuwan tidak memperbolehkan yang lain untuk duduk, hanya saja mereka yang sungkan hingga memilih tetap berdiri selama mendengarkan apa yang ditugaskan kepada mereka.


"Jangan pingsan dong, ngga seru" cibir Nayuwan, sebenarnya dirinya merasak


kasihan pada Bella tapi di satu sisi dia juga harus memberi sedikit pelajran karena sudah melanggar atura perusahaan dengan melakukan senioritas, Nayuwan benar-benar tidak mentolelir adanya perisakan di perusahaannya.


"Ok sembari menunggu ibu Bella sedikit membaik, mari kita ngobrol-ngobrol, tanya jawab sedikit, hmm tabayun begitu pak,


""Tentu, silahkan saja bu memang mengenai soal apa bu hingga harus tabayun" sahut Harlan singkat. Bella lagi-lagi dibuat gemetaran, keringat di pelipisnya terus saja mengalir dari sela-sela porinya. Sedang Nayuwan tersenyum tipis di sudut bibirnya melihat Bell tidak berkutik sama sekali.


"Maaf bu, saya? Nepotisme? Selingkuh?" ujar Harlan mengulang kembali bagian, yang menurutnya sangat tidak masuk akal. Pasalnya dirinya sepulang dari kantor langsung pulang, jarang sekali dia mau ikut ajakan rekan sejawatnya untuk ngumpul-ngumpul sekedar minum kopi, prinsipnya jika bukan meeting yang bisa membangun perusahaan lebih baik ia segera pulang, terlebih lagi istrinya sekarang tengah mengandung 8 bulan.


"Hmm ia lho pak, emang kebangetan kan itu yang nyebar gossip itu.." imbuh Nayuwan membumbui. Bella makin tidak nyaman duduk dikursinya, namun untuk bangunpun kakinya tidak mempunyai tenaga sama sekali.


"Oiya apa bapak kenal secara pribadi dengan mbak karyawati yang sedang duduk ini?"


"Tentu bu, beliau adalah teman saya sewaktu di SMA"


"Owwh berarti hubungan kalian pasti sangat dekat ya?" Harlan nampak bingung dengan pertanyaan Nayuwan.

__ADS_1


"Biasa saja bu, kami bahkan aru bertemu kembali saat acara reuni beberapa bulan yang lalu"


" CLBK maksudnya?" Harlan malah menyengir makin heran dengan pertanyaan Nayuwan. Sedang Bella terlihat makin pucat dengan keringat sebesar jagung kini membajiri dahi dan punggungnya.


"Maaf bu, CLBK? maksudnya saya balikan pacaran gitu?" tanya Harlan dengan mimik bego, Nayuwan mengangguk mengiyakan. Jelas membuat Harlan merengut kembali.


"CLBK gimana bu, saya sama ibu Bella ini pacaran aja kagak pernah, gimana mau CLBK?" ujar Harlan dengan mimik bingung.


"Kita dulu memang satu sekolah, tapi cuma kenal begitu saja, tidak akrab, bahkan bertegur sapa pun jarang sekali bu" penjelasan Harlan membuat Nayuwan harus mengulum senyumnya sampai memalingkan muka agar bisa menetralkan ekspresi wajahnya yang berusaha supaya tidak tertawa lepas. Inilah cara dirinya menguak kebenaran mengenai sebuah issu.


"Oh begitu.. Tapi saya pernah dengar katanya bapak pernah makan bareng sama dia, benar?"


"Iya memang benar bu, beberapa kali saya mengajaknya makan, tapi di kantin" kali ini Nayuwan menunduk ke arah meja menyembunyikan mukanya dengan kedua tangannya. Dan bukan hanya Nayuwan yang bersikap demikian Safira dan Ega juga beberapa kali hampir tertawa lepas saat mendengar jawaban polos dari Harlan.


"Makan malam di luar, pernah?" Harlan menggelengkan kepalanya.


"Sepulang dari kantor saya langsung pulang bu, kalopun saya makan di luar pasti dengan istri saya."lagi-lagi Nayuwan mendengar jawaban polos dari Harlan, dari sorot matanya juga Nayuwan sama sekali tidak menemukan kebohongan di sana, justru malah terkesan menggemaskan, lugu dan polos.


"Jadi semua itu hanya gossip?" tanya Nayuwan terlihat lebih ramah seraya mendelik pada


"Saya berani bersumpah mati kena serangan jantung kalo saya berani mengkhianati istri saya." ucap Harlan sungguh-sungguh seraya mengangkat tangan kanannya.


********

__ADS_1


saranheo..


__ADS_2