Merpati Hitam

Merpati Hitam
NYARU


__ADS_3

Hari ini jadwal Nayuwan melepas jahitan luka pada lengannya, meski sejak keluar dari rumah sakit lima hari yang lalu dia sudah melakukan banyak aktifitas kantornya seperti biasa. Tiga hari Gavin sukses mengurung Nayuwan di rumah sakit Healty Care milik Omnya, Gavin memang sengaja menempatkan Nayuwan di sana, agar dia mudah mengontrol kondisi Nayuwan melalu Liam, dokter kesayangan adiknya Eva, sengaja dia pilih untuk merawat Nayuwan, karena tahu Liam tidak akan berbuat macam-macam pada Nayuwan. Gina mengekori Nayuwan menuju parkiran rumah sakit dengan patuh.


" Kita langsung ke pabrik Gin, udah lama kita ngga sidak pabrik yang di Karawang." seru Nayuwan sambil memasangkan seatbelt pada tubuhnya. Gina mengangguk kemudian melajukan mobil milik Nayuwan dengan kecepatan sedang.


Nayuwan nampak sibuk dengan laptop di pangkuannya, sesekali dia mengerutkan dahinya seperti menemukan kejanggalan dalam laporan bulanan di Hanna Garment.


" Mereka berani main-main dengan ku, Hhh ?!!" Gina yang melihat seringai iblis di bibir Nayuwan, berusaha menelan salivanya dengan susah payah, sesekali dia mencuri pandang ke arah Nayuwan melalui ekor matanya, sekilas saja Gina sudah bisa merasakan aura mencekam di sekitaran Nayuwan.


" Ngga kebayang kalo bu Nayuwan sampe beneran jadi sama Presdir Gavin, bener-bener perkawinan sepasang iblis " gumam Gina bergedik ngeri membayangkan hal indah tentang diri bossnya dan Gavin, Presdir FJC Bamantara Grup yang juga terkenal bertangan besi dan bengis di dunia bisnis.


"KLAP" Nayuwan dan Gina menutup pintu mobil hampir bersamaan. Setelah memastikan keadaan aman Nayuwan di ikuti Gina lalu berjalan menuju pintu samping gedung pabrik menuju gudang aksesoris, dia sengaja tidak lewat lobi karena memang bertujuan untuk sidak.


Nayuwan dan Gina langsung saja berbaur dengan buruh pabrik lainnya. Kebetulan yang tepat saat mereka melewati gudang aksesoris beberapa admin sedang sibuk melakukan loading. Terlihat seperti masih normal dengan kesibukan mereka masing-masing.


"Sini Teh Aidan, aku bantu barang yang di loading banyak kenapa ngga minta karyawan buat bantu kak" Nayuwan mendekati salah satu admin yang terlihat kerepotan menyusun barang-barang yang sudah di ACC untuk di bawa ke area produksi. Tanpa berkenalan, Nayuwan dan Gina bisa tahu nama perempuam itu dengan jelas dari embordir di saku d**a seragamnya.


" Oh makasih, tapi ngga usah ini udah biasa kok" ujar Aida ramah.


"Ngga apa-apa teh sini aku bantu, teteh di sewing line berapa, kita juga mau ke dalem kok sekalian lewat ?" kali ini Gina yang menawarkan bantuan dengan senyum lebar.


"Kalian line mana? Kok perasaan saya baru lihat kalian ya?" Tanya Aida penasaran.


" Kita masih baru teh, saya Yuwan di line 1, ini Gina temen saya dia di line 2, tadi kebetulan habis dari toilet" kilah Nayuwan, Aida hanya mengangguk saja, karena memang letak toilet berada tidak jauh dari gedung aksesoris.


Di dalam gedung Nayuwan dan Gina pamit pada Aida setelah membantu Aida membawakan perlengkapan aksoseris kebutuhan style yng sedang line Aida kerjakan. Baru 10 meter mereka melangkah seorang leader menyeru mereka dengan suara lantang memekakan telinga.


"Hai kalian, line mana kalian?" Nayuwan dan Gina mematung sesaat menatap perempuan gempal dengan wajah tidak bersahabat, Mira, CHIEF. Begitulah yang tertera di saku seragam perempuan itu.


"Kami anak baru Bu, saya line 1, dan ini temen saya Gina di line 2." ujar Nayuwan.


" pegang apa kamu?" selidik Mira.


" Saya belum dapat penempatan mesin Bu, tapi hampir semua mesin jahit saya bisa bu" Nayuwan menjawab apa adanya. Karena faktanya memang begit adanya.


"Kamu?" giliran Gina yang mendapat tatapan sinis dari Mira.


"Saya helper bu" jawab Gina cengengesan.


" Siapa yang nyuruh kamu cengengesan begitu hah? Emang ada yang lucu di muka saya gitu?!" hardik Mira penuh penekanan.


" Maaf bu," Gina menunduk.


"Cepat balik ke line kalian masing-masing !! " perintahnya sembari melempar tatapan tajam. Nayuwan memberi isyarat melalui ekor matanya untuk memakai masker karena Nayuwan melihat beberapa orang office yang sepertinya sudah menyadari kehadiran mereka di pabrik tersebut.


Nayuwan menuju meja QC yang sedang melakukan pengecekan awal, dan berpura-pura menjadi helper buang benang.


3 jam berlalu begitu saja,


"Ttteeeetttt, teeeettttt,,tteeeeeettttt,,...!!" bell penanda jam makan siang berbunyi panjang beberapa kali, Nayuwan dan Gina juga mengikuti karyawan/karyawati lainnya menuju sebuah kantin yang menyediakan berbagai makan dan jajanan, tentu saja sesuai dengan kantong para karyawan/karyawati enak tapi murah.


" Ibu mau pesan apa?" tanya Gina,

__ADS_1


" Beliin aku batagor aja Gin, aku ngga terlalu laper soalnya" ujar Nayuwan sembari melihat ke sekelilingnya mencari tempat kosong yang bisa mereka tempati untuk menikmati jam istirahat.


" Aku tunggu di sana ya, " tunjuk Nayuwan, Gina terdiam untuk sesaat, karena Nayuwan hari inj memakai kata "aku" bukan "gue" dan itu sedikit mengganggu telinganya.


" Bu, saya minta maaf kalau ada salah" ujar Gina dengan mata berkaca-kaca.


" Dih, ngapain kamu?" mata Nayuwan menatap heran pada Gina.


" Ibu kok ngga "gue elu" sekarang, saya punya salah ya" Gina mulai mengisak, air matanya sudah meluncur dengan sukses. Nayuwan yang melihatnya, langsung memasang muka cengo dan mengusap wajahnya dengan gusar,


" Gua kan edan eling, udah sana beliin gue batagor, jangan lama" perintah Nayuwan, ajaibnya Gina malah tersenyum riang ngeloyor pergi menuju abang- abang tukang batagor.


Sedang Nayuwan menuju meja dan bangku panjang kosong yang masih tersedia.


Area kantin itu cukup bersih dan juga luas, bisa menampung 2000 karyawan/karyawati sekaligus, stand - stand pedagang juga terjejer rapi mengelilingi kantin, membentuk huruf U.


Nayuwan duduk dengan tenang menunggu Gina yang sedang antri memesan batagor, jari lentiknya lincah mengusap dan menekan lembut layar ponselnya. Netranya membulat saat melihat ada 20 kali panggilan tak terjawab dari Gavin, wajar karena selama Nayuwan di dalam tadi ponselnya dia silent.


" Drrrtttt, ddrrrtttt, " ponselnya bergetar bebarapa kali, sesaat Nayuwan menghela nafasnya sebelum telinganya siap-siap menerima ceramahan Gavin.


"Ekhmm.. Halo" angkat Nayuwan berusaha bersuara lembut.


" Elu di mana? " tanya Gavin terengar kasar seperti biasanya. Sejak kejadian hari itu Gavin berubah menjadi sosok yang sangat overprotektif pada Nayuwan. Terkadang dirinya merasa ini adalah hal yang terlalu berlebihan untuk mereka yang selalu tidak akur selayaknya "Tom & Jery".


"Gue lagi di Karawang, napa?" ujar Nayuwan tak kalah ketus.


" Elu bukannya ada jadwal lepas benang hari ini, kok malah di sana?" pekik Gavin.


" Bukannya Gina udah jadi mata-mata elu?" Gina yang mulanya duduk tenang, meringis saat bulu kuduknya meremang saat Nayuwan menyindir dirinya. Karena memang benar setelah kejadian pembegalan itu Gina jadi rajin menjadi mata ke dua Gavin mengawasi setiap gerak gerik Nayuwan, dan tak membiarkan bossnya pergi tanpa pengawalannya, dia juga tak mau kecolongan untuk ke dua kalinya.


" Elu ngga sibuk apa? Sempet banget neror gue?"


" Emang Presdir ngga boleh makan siang?" Nayuwan mendengkus mendengar jawaban Gavin.


" Ya udah makan sono, gue juga mau makan laper gue abis kerja rodi" ketus Nayuwan menutup percakapannya dengan Gavin. Nayuwan menegakan gestur tubuhnya, menyilangkan tangannya di d**anya, matanya menyipit menatap layar ponselnya yang dia letakan di atas meja makan kantin begitu saja.


"Shhh,, si Gavin lama-lama makin aneh" raut wajah yang serius, malah terlihat menggemaskan di mata beberapa karyawan yang sejak dia memasuki kantin sudah memperhatikannya.


" Ah bodo amat lah, " gumam Nayuwan berusaha mengenyahkan segala pemikirannya terhadap Gavin. Nayuwan mengambil tissu dari tasnya, sudah menjadi kebiasaannya untuk melap sendok yang akan digunakan dirinya, dan juga untuk Gina , Nayuwan meneguk satu botol air mineral berukuran 500ml dalam sekali tegukan, bukan karena sangat haus tapi itu juga sudah jadi kebiasaannya sejak beberapa tahun lalu. Mereka makan dengan lahap menikmati batagor ala kantin pabrik yang ternyata cukup pas dengan selera mereka.


"Kamu anak baru?" tegur seorang pria, dari pakaiannya jelas dirinya bukanlah karyawan yang bekerja di pabrik Hanna Garment. Tanpa permisi dia duduk disamping Nayuwan, Gina menatap tajam pada pria yang duduk di kursi kosong tepat menghadap Nayuwan yang nampak acuh saja menikmati batagornya yang masih tersisa setengah porsi.


" Kalo orang nanya itu jawab !" tegur pria itu lagi. Nayuwan kemudian mendelik pria itu dengan tatapan risih.


"Iya baru masuk hari ini" jawabnya singkat kembali mensuap batagor ke mulutnya dengan jengah karena merasa terganggu.


"Siapa yang bawa kamu masuk ?"tanya pria itu lagi.


"Bapak siapa? HRD kah?" Nayuwan balik bertanya.


"Saya karangtaruna di sini?"

__ADS_1


"Karang taruna atau calo?" Nayuwan mengenggam tangan Gina yang terlihat mulai emosi.


"Terserah kalian mau menyebutnya apa, yang jelas kalau kalian mau kerja di sini kalian harus bayar biaya administrasinya." jelas pria itu menurunkan intonasi suaranya.


" Emang kalo mau kerja di pabrik ini harus lewat karang taruna, atau lewat orang dalem?


" Emang kamu ngga?" pria itu balik bertanya.


"Ngga tuh,"


Pria itu nampak gusar, kemudian dia mengeluarkan ponselnya, seperti sedang berbicara dengan seorang yang kemungkinan besar adalah staff HRD pabrik, pikir Nayuwan. Gina menatap lekat wajah suram Nayuwan karena selain menemukan pembullyan jabatan juga senioritas, jakpot mendapat bukti adanya KKN di pabrik tersebut. Tidak berapa lama kemudian muncul seorang perempuan bermake up cukup tebal untuk di pakai bekerja di sebuah perusahaan garment.


Perempuan itu memindai wajah Nayuwan dan Gina dengan kebingungan seperti dia tidak mengenal wajah Nayuwan atau Gina, padahal seharusnya dia mengenali wajah Nayuwan atau Gina, karena saat semua CV dia yang menerima.


" Kalian di bawa siapa, CV kalian belum masuk ke saya lho?" pertanyaan yang sama seperti pria tadi.


" Kami masuk sendiri." jawab Nayuwan disertai tatapan dingin.


" Iya siapa? Soalnya ada administrasi yang harus kalian bayar kalau mau kerja di sini," si pria ikut bicara.


" Maaf kami ngga tau soal itu, memang harus bayar berapa ya pak, bu?" tanya Gina berakting sok polos.


" kalian harus bayar masing-masing 2 juta, " si pria menyebutkan biaya yang harus di bayarkan Nayuwan dan Gina.


" Ok, nanti saya bayar sore" jawab Nayuwan singkat.


*************


Nayuwan melempar celana yang sedang dia buang benangnya, wajahnya terlihat sangat suram, netranya menutup ketika mendengar suara lantang makian seorang leader pada karyawati di line berbeda yang terhalang tiga line dari line tempat dia buang benang. Tepat satu bulan Nayuwan dan Gina menyadur dengan karyawan/karyawati PT. Hanna Garment, pabrik garment yang diakuisisi olehnya 1 tahun lalu. Sejak pengalihan kepemilikan perusahaan Nayuwan memang belum pernah sama sekali melakukan audit menyeluruh , apalagi sampai sampai menjejakan kakinya di PT tersebut. Satu keuntungan bagi Nayuwan saat melalukan sidak semacam ini karena hanya Arif, sang direktur penanggungjawab yang tahu wajah Nayuwan.


Selama satu bulan ini Nayuwan cukup banyak mendapat bukti-bukti valid soal KKN, belum penyelundupan bahan baku, serta penyalahgunaan jabatan, memecat beberapa orang yang dia anggap tidak kompeten dalam pekerjaannya tentu bukan hal sulit lagi karena mereka sudah masuk ke dalam blacklist catatan Nayuwan.


Nayuwan merogoh ponsel dari saku celananya, menscroll layar mencari kontak direktur penanggungjawab pabrik tersebut. Nayuwan sudah cukup bersabar selama 1 bulan ini, dan hari ini mungkin tepat karena sudah melewati satu hari tanggal penerimaan gaji, Nayuwan sudah benar-benar muak mendengar makian orang-orang yang merasa dirinya kuat merasa dirinya bisa semena-mena hanya karena jabatan yang dia miliki.


"Selamat siang Pak Arif, dalam 20 menit saya minta bapak harus bisa kumpulkan para Chief, supervisor, leader dan admin seluruh departement di aula meeting tanpa terkecuali" tanpa menunggu jawaban Nayuwan menutup sambungan saluran telephonenya.


"Panggilan kepada Chief, supervisor, leader dan Admin seluruh departement harap berkumpul di aula besar sekarang !!" pengumuman mendadak melalui pengeras suara itu membuat anak-anak QC yang berdiri berdekatan dengan seketika wajahnya memucat menatap Nayuwan dengan penasaran. Nayuwan menggeleng sambil menaruh telunjuk di bibirnya mengisyaratkan agar tetap tenang dan bekerja dengan seperti biasa, anak-anak QC mengangguk ragu, jantung mereka serasa mau copot saking cepatnya detak jantung mereka, saat mendengar percakapan Nayuwan dengan seseorang yang bernama Arif di susul dengan pemanggilan seluruh para penanggungjawab produksi dipanggil sesuai dengan permintaan Nayuwan tadi melalui saluran telphone.


Semua staff produksi, mulai dari admin hingga Chief sudah berkumpul di aula besar. Suara gemuruh menghilang saat Arif memasuki aula bersama sekertaris, HRD, kabag keuangan serta purchesing. Kembali mereka saling berbisik karena Arif tak kunjung memulai meeting dadakan tersebut. Banyak yang mulai mengeluh karena merasa di kejar target,ada yang terkesan tidak terlalu peduli, tapi dibanding itu tentu mereka yang bergossip lebih terdengar meski samar-samar berbisik.


"Ceklek! kreeek !" pintu utama terbuka lebar, nampak Gina masih memegang handle pintu, kemudian sedikit membungkuk tatkala Nayuwan berjalan memasuki ruangan, suasana hening seketika, semua mata tertuju pada Nayuwan yang berjalan melewati kerumunan karyawan/karyawati, Gina meringai miring saat melihat semua mata terbelalak dengan mulut menganga tak percaya.


"klotak klotak klotak.." suara langkah Nayuwan terdengar berat seperti gerakan slowmotion menggema di telinga semua orang. Dia melangkah ke dua tangan menyelip di sakunya, pandangannya bersih dan rapi, gesturnya tegap elegant meski memancarkan kesombongan dan keberanian, dia tampak tenang seperti air namun siap menenggelamkan siapapun yang masuk ke dalamnya. Suasana semakin mencekam begitu Nayuwan mengedarkan tatapan tajamnya menyapu seisi aula tersebut.Wajah cantiknya terkesan angker, dingin dan angkuh, menjelaskan bahwa dirinya tidak mudah di usik oleh siapapun.


Punggung Arif banjir keringat dingin, dengan tubuh bergetar Arif bangkit dari kursi utama, sambil membungkuk memberi penghormatan takzim kepada Nayuwan, Arif mundur beberapa langkah hingga sejajar dengan barisan para staff lainnya mempersilahkan Nayuwan duduk di kursi kebesaran, Nayuwan tersenyum sinis saat melewati Arif yang sudah pucat pasi.


"Hallo.. selamat siang semuanya, perkenalkan saya Nayuwan Gava Pramesty, Owner perusahaan kalian yang baru, terima kasih selama satu bulan saya berada di lingkungan perusahaan saya benar-benar disuguhi banyak sekali kejutan yang tak terduga, saya harap diantara kalian tidak ada yang pingsan atau punya penyakit jantung ya..?" Nayuwan tersenyum manis, menyeringai miring khas senyuman seorang pembunuh berdarah dingin yang bersiap membalas dendam begitu berdiri di depan kursi yang saharusnya di duduki oleh Arif.


*************


sarangheo , mohon tinggalkan jejak biar aothor makin semangat untuk belajar menulis😉

__ADS_1


*************


__ADS_2