
"Pck ! Ada masalah apa?" bisik Clara pada Gina yang mendampinginya meeting saat itu.
"Saya kurang tau bu, tapi dari nadanya, Ibu Nayuwan sepertinya sedang sangat emosi" Clara menatap Gina yang kemudian mengangguk dengan wajah serius.
"Apa ada masalah bu?" tanya Rizal yang curiga dengan ekspresi Clara yang tiba-tiba berubah serius seolah ada masalah. Clara tersenyum pada Rizal namun tatapannya terlihat dingin. Ia nampak sedang memikirkan sesuatu tak lama kemudian wajahnya kembali sumbringah seolah awan mendung yang tadi sempat membayangi wajahnya kini sirna, lalu kembali berbisik pada Gina.
"Kalau begitu segera hubungi Pt. Eagle"
"Baik bu" Gina membungkuk lalu pamit keluar dari meetingroom. Clara membuang nafasnya terlebih dahulu
"Ekhem.." Clara kembali fokus pada Rizal yang mulai penasaran.
"Eeu,, begini pak Rizal, baru saja Gina mendapat telepon dari kantor pusat yang dengan berat hati kami harus menyampaikan penundaan penandatanganan kontrak kerja sama hari ini" ucap Clara mencoba bersikap biasa saja.
"Tunda?? Tapi kenapa bu??" Rizal terbelalak karena jika sampai batal maka perusahaannya akan gagal mendapat suntikan dana dari laba kontrak tersebut.
"Sebenarnya orang atas meminta untuk membatalkannya sekarang juga, namun mengingat kita ini bukan baru kenal kemarin, maka saya tangguhkan dulu, dan mudah-mudahan kontrak ini masih bisa kita jalankan seperti yang sudah kita dibicarakan tadi" Rizal terduduk lemas begitu mendengarkan penuturan Clara.
"Tapi salah kami apa bu?" tanya Rizal dengan raut kecewa dan masih tidak habis pikir dengan penjelasan Clara.
"Saya sendiri kurang tau pak, makanya saya akan selidiki dulu, apa permasalahannya hingga orang atas di perusahaan kami meminta agar membatalkan kontrak kerja sama kita dengan tiba-tiba" Clara mengulas senyum dipaksakan agar bisa memahami situasinya. Rizal menganggguk seraya mengulum bibirnya yang mengerucut menahan rasa kesal yang mulai meradang.
"Baiklah pak, kalo begitu saya undur pamit dulu" pamit Clara sedikit membungkuk pada Rizal yang juga membalasnya dengan sedikit membungkuk juga.
Baik Nayuwan ataupun Clara mereka memang jarang bersalaman atau berjabat tangan, sekalipun memberu salam dengan tangan, mereka menaruh kedua tangan mereka di depan dad* mereka. Sangat jarang mereka bersentuhan langsung dengan para koleganya, sedang para koleganya sendiri mereka segan berjabat tangab dengan dua perempuan itu karena penampilan mereka yang memakai hijab.
Clara masuk ke dalam mobil Lexus LM 350nya, di ikuti Gina yang duduk menghadapnya. Hari ini Gina ikut bersama Clara untuk meeting dengan Austin karena sekertaris Clara sedang cuti melahirkan, karena Nayuwan masih ada Novi yang bisa menghandle tugas perusahaan Nayuwan meminjamkan Gina untuk menggantikan sekertaris Clara yang sedang cuti.
__ADS_1
"Jadi kenapa si Teteh tiba-tiba membatalkan kontrak tersebut?" tanya Clara dengan raut kesal.
"Maaf bu, saya juga tidak tau alasannya. Saya sempat menyelidiki mengenai perusahaan Austin dan tidak ada masalah apa-apa, tapi ini lebih ke personal pribadi"
"Maksudnya??"
"Pak Rizal Owner CEO Austin Factory ternyata ayah dari Terresia. Terresia yang saya tau dari Bang Satria dia adalah teman masa kecil tuan Gavin, dan seninggalan alm. Freya calon istri Presdir Gavin yang meninggal karena kecelakaan tunggal, mereka pernah digossipkan bukan sekedar teman saja, tapi itu cuma gossip karena mereka sering berlibur bersama padahal jika mereka berlibur pasti tidak pernah berdua pasti ada Bang Satria dan 3 sahabat Presdir Gavin "
"Tapi si teteh bukan orang yang suka mencampur aduk urusan pekerjaan dan pribadi"
"Iya bu, saya tau itu"
"Pck !! Ya sudah lah, kamu sudah hubungi PT. Eagle"
"Sudah bu, saya juga sudah atur jadwal meeting ibu, karena pengadaan kemasan produk kita harus sesegera mungkin sebelum di pasaran terjadi kelangkaan produk kita karena terkendala oleh pengadaan kemasannya." Clara merengut kesal namun mengangguk juga.
"Aaarrggh !! Berengs*k !! Padahal tinggal tandatangan maka kontrak itu berhasil aku dapatkan, " umpat Rizal.
*******
Beberapa hari kemudian, Nayuwan sedang menggunakan salah satu alat Gym di fasilitas apartemennya aktifitas rutin sebelum ia bekerja. Baru lima belas menit ia berlatih dengan Pec deck machine, Clara menghampirinya lalu ikut berlatih bersama kakaknya itu.
"Teh kenapa kontraknya tiba-tiba dibatalin?" tanya Clara sembari mendorong gagang hingga berada di depan wajahnya. Menarik napas saat membuka lengan dan keluarkan napas ketika menariknya lagi secara teratur.
"Nanti juga kamu tau, paling nanti siang juga alasannya bakal dateng ke kantor" jawab Nayuwan tanpa menoleh pada adiknya dan terus fokus berlatih dengan fitnessnya.
"Tumben campur aduk sama urusan pribadi?" Clara seolah mengejek kakaknya. Namun perempuan di sebelahnya seolah tidak mendengar apa-apa. Bukan tanpa sebab ia mengabaikan Clara, tapi karena tahu Clara tidak membatalkan kontrak tersebut bukan membatalkannya hanya karena keluarga Rizal sering berkunjung ke kediamannnya. 2 jam berlalu kemudian Nayuwan menghentikan latihannya, ia mengambil tumbler yang berisikan susu protein dan meminumnya dengan perlahan hingga tandas. Ia menyeka keringat bercucuran disekujur tubuhnya dari puncak kepala hingga kaki yang tersimpai di dekatnya, kemudian berdiri bersiap meninggalkan area Gym,
__ADS_1
"Ayo bersiap, teteh peringatkan sama kamu de, sebaik apapun seorang pebisnis dia tetap musuh dalam selimut, faham?!" ucap Nayuwan dingin tanpa berbalik badan, ia hanya menolehkan sedikit wajahnya kesebelah kanan kemudian melirik pada adiknya melalui ekor matanya lalu beranjak ke apartementnya di lantai 9.
Clara berpikkir sejenak mencerna apa yang dituturkan Nayuwan.
___________
Gina memasuki ruangan Clara untuk memberitahu ada meeting dadakan di ruangan lantai atas dengan PT. Austin Factory. Meski bingung ia segera bersiap lalu mengikuti Gina menuju meetingroom yang di sana ternyata sudah ada Gavin, Rendra, Vito, Haidar, Satria, Novi, Rizal, dan seorang perempuan mungkin sepantaran dengan Gavin, muda namun tetap terlihat sangat dewasa dengan makeup bold yang cukup tebal. Clara duduk di samping Gavin lalu berbisik
"Pak sebenarnya apa yang terjadi, dan siapa perempuan itu?" selidik Clara sembari tersenyum serasa menyilahkan duduk pada Rizal dan perempuan yang kemudian duduk dengan manner seorang sosialita.
"Sepertinya Terresia buat masalah dengan Queen, aku tidak khawatir dengan kedua orang itu, tapi aku khawatir Queen akan membatalkan pernikahan kami" jawab Clara, iapun terkejut mendengar penuturan Gavin yang seperti singa yang akan kehilangan taringnya.
"Jeglek " tuas Handle pintu meetingroom bergerak diikuti seseorang yang masuk ke ruangan itu dengan ekspresi wajah yang datar. Semua orang berdiri menyambut kedatangangannya, netranya tajam memindai setiap wajah yang ada diruangan tersebut.
Gavin menelan salivanya sesekali ia mencuri tatap dengan Nayuwan, namun nyalinya ciut seperti anak anjing yang ketakutan saat manik mata mereka saling beradu.
Rizal ikut berdiri seperti yang lainnya menyambut sosok wanita yang baru saja masuk ke dalam meetingroom meski sejujurnya ia tidak mengenal wanita itu karena memang dia belum pernah benar-benar melihat secara jelas wajah Nayuwan. Namun sesaat kemudian netranya terbelalak membola netranya saat ia ingat wanita itu adalah Nayuwan CEO dari IC grup, kemudian ia bisa menarik kesimpulan masalah ini bukan hanya sekedar persoalan cinta segitiga. Sedang Terresia ia masih berdiri berlagak angkuh dengan raut wajah meremehkan saat Nayuwan memasuki ruangan itu.
**********
sarangheo
*****
****
**** ~(^з^)-♡
__ADS_1