Merpati Hitam

Merpati Hitam
Gagal perjamuan


__ADS_3

"Vin, kamu kok bisa datang berbarengan sama beliau" Teressia mendekati Gavin mengusap perlahan perlahan bahu Gavin seolah sedang membersihkan sesuatu dari jas Gavin.


"Oh aku memang tadi sengaja menjemputnya Queen," jawab Gavin menatap tajam pada Mahendra yang tengah mengambil alih Nayuwan dari sisinya.


"Queen? Queen...?" tanya Teressia seolah-olah ia tidak tahu siapa yang dimaksudkan oleh Gavin.


"Oh iya aku lupa mengenalkannya padamu"sahut Gavin


"Kamu kenapa jarang ke rumah, papa mama sering nanyain tau, dikira kita lagi berantem soalnya sejak aku pulang baru sekali kan kamu berkunjung" Teressia mengerucutkan bibirnya berlagak manja pada Gavin, meski Nayuwan tengah berbincng dengan Mahendra namun ekor mata serta telinganya masih sangat seraya sedikit menarik lengan Nayuwan yang sedang berbincang sendiri dengan Mahendra. Nayuwan terlihat sedikit menautkan kedua alis menatap Gavin yang tiba-tiba menarik lengannya tanpa aba-aba.


"Maaf, maaf, " ungkap Gavin ketika mendapati sorot mata tajam Nayuwan yang terlihat kurang suka dengan perlakuannya barusan.


"Aku cuma mau mengenalkanmu pads sahabatku" tutur Gavin menunduk kepalanya selayaknya anak kecil yang takut-takut pada ibunya, perlahan ia melepaskan cengkraman tangan dari lengan Nayuwan. Melihat hal demikian tentu saja membuat Teressia agak meradang, ia sudah berusaha mendekati Gavin hampir 10tahun namun sama sekali Gavin tidak sekalipun pernah menanggapinya. Gavin selalu mengatakan jika Teressia adalah sahabat yang baik untuknya. Dan sekarang tiba-tiba muncul perempuan asing yang mungkin akan merebut posisi yang ia incar selama ini.


"Re, kenalin ini Queen, eh bukan ini Nayuwan Owner dari IC grup." Gavin mengenalkan Nayuwan pada Teressia, kedua perempuan itu saling melempar tatapan julid, seakan sedang memindai nilai dari diri mereka masing-masing.


"Nayuwan," sapa Nayuwan sembari menyodorkan tangannya kepada Teressia.


"Teressia" sambut Tere dengan memasang wajah tak ramah padanya.


"Omong- omong aku baru dengar IC grup?"


"Wajar kok jika Nona Teressia baru mendengarnya, perusahaan saya baru berdiri sekitar 3tahunan ini."

__ADS_1


"Oh pantas saja. Hmm boleh saya tahu ibu lulusan Universitas mana, mungkin kita pernah satu kampus?" Teressia mulai menyerang Nayuwan.


"Kebetulan saya hanya seorang BDPH saja" lece Nayuwan.


" BDPH? terletak di negara mana itu? Saya sepertinya baru mendengarnya"


"BDPH, Belajar Dari Pengalaman Hidup, " satir Nayuwan menyembunyikan senyum julidnya. Raut wajah Teressia makin terlihat masam begitu mendengar jawaban Nayuwan "Kuraang ajar apa dia sedang mengolok-olok diriku dihadapan Gavin dan Mahendra?" gumam Teressia dalam hati. Meski begitu ia tetap berusaha tenang agar tak kehilangan muka didepan Mahendra dan Gavin, ia juga tetap harus menjaga citra dirinya segabai kaum jetset sosialita yang elit.


"Oh saya kira universitas mana, "ujar Teressia kecut. Nayuwan tersenyum puas saat melihat raut wajh Teressia yang terrlihat agak kesal dengan jawaban yang ia berikan.


"Sudah-sudah mari kita mulai acara jamuan makan malamnya," ajak Mahendra menyilanhkan para tamu undangan untuk memulai acara tersebut, Mahendra merangkul pinggang Teressia dan menyilahkannya duduk di kursi kosong, meja makan bundar yang di sana sudah terdapat 4 orang lainnya, termasuk Nayuwan dan Gavin.


Sebagai tuan rumah jamuan malam ini, Mahendra sudah mengatur agar dalam satu meja makan perjamuan berisikan hanya 8 orang terbagi dalam beberapa kelompok, Nayuwan dan Gavin sengaja di atur agar satu meja dengan dirinya dan Teressia.


Nayuwan nampak tertegun begitu menu jamuan makan malam yang sedang disiapkan para pelayan. Mungkin yang orang lain lihat semua menu yang tersaji adalah masakan western yang begitu menggugah selera.


"Tuan," Nayuwan berbisik pada Gavin yang sedang menyiapkan serbet makan untuk ia taruh di pahanya.


"Hmm, kenapa Queen?" ujar Gavin menoleh lantas sedikit mencondongkan tubuhnya pada Nayuwan.


"Tuan jangan memakan atau meminum apapun yang tersaji disini" bisik Nayuwan, Gavin menoleh dan menatap lekat-lekat menatap wajah Nayuwan yang terlihat serius.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Nanti saya jelaskan, sekarang cari alasan dulu agar kita bisa meninggalkan tempat ini sesegera mungkin" meski Gavin sangat penasaran kenapa Nayuwan bersikap seperti ini namun ia urung bertanya lebih jauh. Nayuwan memindai seisi ruangan mencari celah agar semua orang yang ada di ruangan ini juga bisa ikut keluar bersama dirinya dan Gavin.


"Maaf saya permisi ke belakang" pamit Nayuwan sesaat sebelum makanannya tersaji dihadapannya. Ia menyentuh ujung jari Gavin sebagai isyarat agar Gavin turut mengikutinya. Beberapa saat setelah Nayuwan beranjak Gavin pamit untuk menyusul Nayuwan. Di luar aula perjamuan Nayuwan, Gina, dan Satria ternyata sudah menunggunya dengan cemas,


"Sebenarnya ada apa?" tanya Gavin makin bingung, namun bukannya menjawab pertanyaan Gavin, Nayuwan nampak mengintip kembali ke ruangan tersebut beberapa orang sudah mulai memakan hidangan yang terjadi, beruntung makanan itu bersih yang artinya mereka hanya menumbalkan beberapa orang sebagai tumbalnya.


"Kalian tunggu di mobil, Aku akan masuk kembali ke dalam, aku harus menyelamatkan orang-orang itu sebagai tumbal." perintah Nayuwan, yang tentu saja di tolak mentah-mentah oleh Gavin dan Satria.


"Gina, kamu pasti sudah faham dan mengerti maksudku, cepat bawa mereka keluar" perintah Nayuwan sekali lagi.


"Queen, jika benar ada sesuatu yang membahayakan mana bisa aku meninggalkanmu" seru Gavin membantah perintah Nayuwan.


"Tuan cepat lah pergi, saya sedang tidak ada waktu memberikanmu penjelasan tunggu saja diluar, dalam waktu 30 menit saya akan keluar bersama para tamu laiinnya" pekik Nayuwan dengan mata melotot pada Gavin yang masih bersikeras tidak mau menuruti perintahnya. Akhirnya Gina terpaksa menyeret Gavin dan Satria menuju ke lobi hotel menjauhi aula perjamuan. Sedang Nayuwan kembali ke dalam dengan santainya Nayuwan menjatuhkan satu persatu lilin yang menyala di sudut meja panjang berisikan kue-kue, cemilan, buah-buahan dan beragam minuman, hingga ia kembali duduk di meja makannya.


"Maaf menunggu lama," ujar Nayuwan berbasa basi, Nayuwan memerikasa nyala api liliin melalui ujung ekor matanya, lantas bersikap senatural mungkin. Tiba-tiba beberapa pelayan berlarian sambil berteriak histeris.


"API ! API, cepat keluar kebakaran!!" teriak seorang pelayan, para tamu undangan yang mulanya bingung kemudian mulai berhamburan dengan panik menuju pintu keluar begitu melihat api yang di maksud oleh pelayan tadi. Begitu pun dengan tamu yang duduk bersama satu meja dengan Mahendra. Teressia pun ikut keluar dengan panik mencari keberadaan Gavin yang sudah berada di lobi hotel sejak tadi.


Tersisa Mahendra dan Nayuwan di ruangan tersebut. Terpancar kilatan kemarahan dari manik mata Mahendra karena semua rencananya gagal total. Sedang Nayuwan menatapnya dengan tatapan seolah memberitahu pada Mahendra "aku bukan orang yang bisa kamu makan begitu saja"


Nayuwan mendongak dan sedikit memiringkan kepalanya menatap ke arah Mahendra dengan jumawa, kedua sikutnya tertumpu pada meja menopang dagunya.


*******

__ADS_1


sarangheo


********


__ADS_2