
Tia tiba-tiba terjaga saat merasa kantung kemihnya terasa penuh, segera iapun ke toilet, buang air kecil, lalu mengambil air wudhu , sesaat sebelum ia ke toilet ia sempat melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukan jam tiga subuh, waktu yang untuk melaksanakan sholat tahajud.
Saat sedang dzikir dan wirid, samar Tia mendengar Raka memanggil nama seseorang. Tanpa pikir panjang Tia bergegas menghampiri suaminya takut terjadi sesuatu hal yang buruk kepada suaminya. Suara Raka cukup lirih saat mengigau hingga Tia pun harus mendekatkan telinganya lebih mendekat lagi pada bibir Raka, kembali ia merasa kecewa dan terluka karena Raka terus menyebut nama mantan istrinya, Nayuwan, sambil terus mengucapkan kata maaf. Ia benar-benar merasa hancur karena meskipun mereka sudah menikah bertahun-tahun tapi nyatanya Raka tak pernah melupakan perempuan masalalunya itu.
Tia memalingkan wajahnya, mengusap air matanya dengan dipenuhi amarah dan cemburu pada Nayuwan. Padahal jika dia ingat, hal itu adalah wajar saja karena dulu dia datang di saat rumah tangga Raka dan Nayuwan tengah baik-baik saja, meski terkadang mereka bertengkar karena Raka yang mulai memiliki kebiasaan mabuk dan berjudi setelah usahanya makin menunjukan hasil.
Flash back Tia
8 tahun yang lalu Tia dan Raka bertemu tidak sengaja, kala itu mereka bertemu saat Tia dan beberapa temannya mampir di salah satu kedai Raka di daerah Kelapa Dua, untuk sekedar bersantai dan mengombrol di sana. Kedai milik Raka ini memang memiliki dekorasi yang berbeda karena Nayuwan sendirilah yang mengaturnya dengan detail dengan furniture serba kayu, yang memberikan suasana cozy dan instagramable, tempat satu ini memiliki vibes yang seolah membawamu menyatu dengan alam. Dan karena suasana nyaman inilah yang menjadikan kedai ini lebih menarik minat para pengunjung untuk sekedar jajan dan berfoto, juga sering dijadikan tempat nongkrong anak muda.
Hari itu kebetulan adalah malam minggu, yang khusus untuk malam minggu dan hari minggu semua kedai milik Raka di buka lebih awal yaitu jam 9 pagi, dan tutup lebih larut, sekitar jam 12 malam. Namun saat hari jumat semua kedainya di tutup alasannya karena sebagian besar anak buahnya yang adalah pria.
Raka nampak sedang sibuk ikut melayani beberapa tamu dengan ramah dan sedikit bersenda gurau dengan beberapa pelanggan yang sudah mengenal Raka. Raka memang seorang pekerja keras, namun terkenal humble, ditambah parasnya yang cukup tampan, tingginya yang 184cm, menjadi nilai plus di mata para pelanggan wanita.
Dan sosoknya itu tentu saja menjadi menjadi pusat perhatian dan gibah Tia dan para sahabatnya yang sejak awal sudah memperhatikan Raka. Seolah gayung bersambut, Raka datang ke meja mereka dengan membawa tray yang berisikan pesanan mereka.
"Permisi mbak," ujar Raka dengan sopan, sembali meletakan pesanan milik Tia dan teman-temannya.
"Makasih mas," sahut Tia menebar pesona dengan memarkan senyum manisnya pada Raka. Raka pun membalasnya dengan mengangguk juga tersenyum ramah kepada mereka semua.
"Sama-sama mbak, silahkan menikmati jika ada yang kurang atau ada tambahan pesanan silahkan panggil kembali saja" ujar Raka sedikit membungkuk takjim hendak undur untuk melayani pesanan yang lain.
__ADS_1
"Mas tunggu, " hardik Tia, Raka pun kembali ke meja Tia.
"Ada yang mau di pesan lagi mbak?" tanya Raka ramah.
"Masnya udah punya pacar belum? Tia sekonyong-konyong tanpa berbasa-basi dulu. Rakapun hanya tersenyum tanpa menjawab.
"Yeeh si mas kok malah senyum-senyum gitu?" ujar Tia sok manja. Raka menggelengkan kepalanya tersipu malu.
"Beneran Mas ngga punya pacar?" sekali lagi Tia bertanya soal pribadi Raka.
"Saya memang ngga punya pacar, apa mbaknya mau jadi pacar saya yang cuma karyawan kedai ini?" Raka balik bertanya sontak membuat rona wajah Tia merona. Kemudian Rakapun berbalik kembali menuju tempat pengambilan makanan yang sudah siap santap kepada pengunjung lainnya.
Makin malam, kedai makin ramai oleh pengunjung anak muda, Raka pun nampak makin sibuk melayani para pengunjung yang seperti tanpa putus terus berdatangan ke sana, ia malah sama sekali tidak tahu jika Tia terus memperhatikannya dari sudut mejanya. Lantas Tia melambaikan tangannya kepada seorang pelayan yang sedang clear up meja yang tak jauh dari mejanya.
"Hmm, sate seafoodnya nambah 1 porsi lagi ya,"
"Ada lagi mbak?" tanya pemuda itu lagi setelah mencatat pesanan Tia.
"Mas,, Kalo si Mas yang pake Kaos item itu siapa namanya?" tanya Tia sambil menunjuk dengan dagunya ke arah Raka yang sedang sibuk melayani pelanggan lainnya. Pemuda itu pun menoleh ke arah yang di maksud Tia.
"Oh, Pak Raka,, tentu saja tau, beliau kan yang punya kedai ini"jawab pemuda itu dengan tampang polosnya, sedang Tia dan teman-temannya malah terbengong cengo begitu tahu jika Raka adalah bukan pelayan biasa di kedai itu.
__ADS_1
"Kalo gitu saya permisi dulu yang mbak, mau buatin pesanannya mbak." Tia hanya tersenyum sambil mengangguk padda pelayan itu.
"Widiiihh, dapet kakap lo kali ini," ujar salah satu temannnya. Tia tersenyum dan menatap ke arah Raka dengan tatapan yang mudah diartikan, tentu saja Raka sekarang menjadi incarannya.
Setelah hari itu Tia jadi rajin ke kedai itu, namun sayang tak sekalipun Tia bertemu lagi dengan Raka sejak hari itu, dengar dari karyawannya Raka memang hanya sesekali datang ke kedainya hanya untuk pengecekan, karena memang masih ada cabang yang masih harus dia sendiri yang turun tangan karena baru buka beberapa bulan.
Sore itu sepulang kerja Tia iseng main dulu ke sebuah Mall berjalan santai sembari sekedar melihat-lihat koleksi di beberapa toko namun sayang tak ada satupun yang menarik minatnya. Baru beberapa langkah ia kelaur dari toko sepatu Tia tak sengaja melihat siluet seseorang yang terasa familiar, lantas ia bergegas mengikuti orang itu dan benar saja itu adalah Raka. Raka nampak lebih dewasa dengan memakai kemeja berwarna biru muda yang lengannya dia gulung hingga siku, sedikit berantakan namun memaksimalkan sisi maskulin seorang Raka.
Tanpa pikir panjang setelah Raka menyelesaikan urusannya dengan seseorang, dan Raka sudah benar-benar sendirian di cafe tersebut, Tiapun segera menghampirinya untuk sekedar berbasa basi.
"Hai,,sendirian aja nih?" sapa Tia sok akrab, sedang Raka mengerutkan keningnya berusaha mengingat siapa perempuan yang tiba-tiba menyapanya, tanpa dipersilahkan Raka, Tia lantas duduk di kursi kosong di depan Raka.
"Hmmmm, pasti kamu lupa ya,?"ujar Tia memasang muka bete.
"Ya maaf, tapi memang saya lupa" sahut Raka merasa tidak enak hati.
" Iya deh, orang sibuk mah pasti lupa sama hal yang kurang pentingn kaya saya"
" Bukan begitu, mmmmmm ya sudah sebagai permintaan maaf mari kita berkenalan lagi, dan saya akan teraktir kamu makan malam sebagai permintaan maaf," rayu Raka, Tia ynag memang menungggu moment itu tentu saja menyambutnya dengan hangat.
*************
__ADS_1
sarangheo...
***********