
"Berani sekali kamu datang ke rumah ku" ujar perempuan di belakang Raka dengan tatapan tidak suka, bahunya sudah terlihat naik turun menandakan dia geram melihat sosok Nayuwan ada di rumahnya. Nayuwan mendecak tipis menggelengkan kepalanya, tatapannya jengah disertai senyum tipis menyungging dari sudut bibirnya.
"Tenang saja nyonya, aku datang ke sini bukan untuk mengajak dirimu berkelahi memperebutkan lelaki, serasa di atas angin nanti suami mu diperlakukan bak Arjuna !" sergah Nayuwan.
"Lalu apa tujuan mu ke sini wanita ******? kalau bukan mau merayu suami ku supaya bisa kembali padamu?!" teriak Tia, perempuan yang notabennya adalah istri Raka.
"Anda mengatai saya atau mengatai diri sendiri nyonya?" ujar Nayuwan disertai mimik wajah julid mencibir Tia yang mulai seperti banteng mau mengamuk.
"Kamu ..!!" Tia langsung maju hendak menyerang Nayuwan, namun sayangnya tangan yang ringan melayang hendak menampar Nayuwan itu tak berkutik, karena tangan Nayuwan sudah lebih dulu mencekalnya.
"Tidak semudah itu nyonya bisa menyentuh saya." tatapan Nayuwan dengan tatapan mode on seorang pembunuh, lalu menghempaskan tangan Tia begitu saja, padahal Tia sudah bersiap akan menamparnya dengan sekuat tenaga.
"Pah, apa ini hasil didikan mu? Huh ! ckckckck sungguh beradab sekali cara Papah, mendidik istri Papah dalam menyambut tamu." raut wajah berubah menjadi lebih tenang dan lembut memanja namun terlihat sangat menjengkelkan di mata Tia apalagi terang-terangan Nayuwan memanggil suaminya "Papah" sontak membuatnya ingin merobek mulut Nayuwan. Karena jelas gerak alis dan senyum di sudut bibir Nayuwan benar-benar tengah meledek dirinya. Raka masih tak bergeming namun sesekali dia melempar tatapan tajam menghujam pada istrinya.
Tia terlihat sangat emosi, gerak bahunya naik turun di sertai mata merah menatap menyalang pada Nayuwan. Perempuan yang pernah menjadi istri suaminya, perempuan yang selalu menjadi bahan bakar penyulut jika mereka bertengkar, perempuan namanya terkadang di igaukan suaminya ketika tidur, perempuan yang hanya dia tahu dari media sosial yang dia ikuti, hari ini dia berhadapan langsung dengan wanita tersebut.
Hati dan pikirannya segan mengakui kalau perempuan yang ada dihadapannya adalah sosok yang tidak mungkin dia kalahkan dari segi manapun. Jika dulu mungkin dia merasa jumawa saat berhasil merebut Raka dari tangannya. Tapi sekarang dengan keadaannya yang sekarang jelas-jelas ia kalak telak dari Nayuwan.
Wajah Nayuwan terlihat terawat dengan bubuhan make up tipis, liptint berwarna orange , pakaiannya sederhana namun terlihat cocok di tubuhnya yang proporsional, menjadikan Nayuwan terlihat seperti jauh lebih muda beberapa tahun dari umurnya yang sesungguhnya. Sedang dirinya, memakai daster andalan emak-emak, tubuh yang sedikit gempal, bibir tanpa pulasan gincu, pipi tanpa perona, benar-benar membuat harga dirinya semakin jatuh ketika membandingkan dirinya dengan Nayuwan.
Dulupun dia pernah cantik, pernah merawat diri, dan mengikuti roll mode. Tapi itu dulu saat usaha Raka sedang berkembang maju, sekarang boro-boro seperti itu dia bahkan harus berpikir ratusan kali hanya untuk sekedar membeli lotion agar kulitnya tidak terlalu kering. Dia harus mendahulukan kebutuhan rumah dan keluarganya daripada perawatan dirinya sendiri.
Nayuwan menegakan kepalanya.
"De, bawa kemari berkasnya" seru Nayuwan lembut pada adiknya. Dengan muka masam Clara masuk ke dalam rumah, netranya seakan memindai apa-apa saja yang ada di dalam rumah itu. Dia menyipitkan matanya dengan tatapan sinis ketika mendapatkan dua sosok makhluk ciptaan Tuhan yang pernah membuat kakaknya hancur depresi sampai berulang kali kakaknya berusaha bunuh diri. "Cih, kenapa dulu si Teteh sangat bodoh sehingga menikahi lelaki macam dia?" gumamnya dalam hati.
"Ini teh" sodor Clara menyerahkan amplop berwarna coklat dan duduk di samping kakaknya itu.
"Makasih ya," begitu lembut dan memanja telinga Raka. Hatinya bergemuruh, kerinduannya kembali membuncah. Desir hatinya seakan meronta ingin berhambur memeluk perempuan yang masih memenuhi sebagian besar relung hatinya. Namun niatnya itu tak bisa dia realisisakan, karena sejak tadi lengahnya sudah dirangkul istrinya. seakan istrinya tahu keinginan Raka begitu melihat Nayuwan berada di ambang pintu tadi.
Fokus Nayuwan kembali pada pasangan suami istri yang juga sudah duduk menyimak.
"Ekhem.." Nayuwan berdehem timbul pikiran nakal iseng untuk membuat istri Raka cemburu.
"Bisa kita bicara berdua aja ngga Pah?" Gerak wajah Nayuwan mengisyaratkan bahwa dia terganggu dengan kehadiran Tia di sana, yang sejak tadi menatapnya dengan api kecemburuan. Raka mengangguk. Raka hanya melirik tajam istrinya tanpa berbicara, istrinya segera bangkit dari sofa menuju bilik kamarnya. Nayuwan pun melakukan hal yang sama, dia menganggukan kepada adiknya meyakinkan pada adiknya itu bahwa dia akan baik-baik saja. Clara dengan jengah bangkit dan duduk di kursi teras rumah tersebut, membiarkan kakaknya berbicara 4 mata saja dengan mantan suaminya.
Kemudian Nayuwan menyodorkan amplop coklat besar pada Raka yang dari tadi menatapnya dengan tatapan sendu,
__ADS_1
"Apa ini?" tanya Raka dengan perasaan campur aduk, Nayuwan mengulum senyum puas, tangannya melipat didepan dadanya, tersenyum tipis dengan menggerakan alis dan bahunya sedikit memberi isyarat agar Raka segera membuka amplop itu jika memang penasaran.
Dengan tergesa Raka segera membuka tali bundel amplop tersebut. Netra Raka membulat sempurna, ketika mendapati isi amplop tersebut adalah Akta cerai mereka berdua yang sudah disahkan pengadilan 2 minggu yang lalu.
"Aku tidak akan menerima keputusan ini?"
"Kenapa? Itu kan sah dari pengadilan."
"Tapi aku tidak pernah merasa ada undangan untuk datang ke pengadilan"
"Maaf Pah, sepertinya papah lupa kita sudah bercerai bertahun-tahun yang lalu" Nayuwan mengulum senyumnya.
"Kapan aku menceraikan mu secara hukum, aku memang mentalaq mu, tapi itu baru talaq 1!" Tia geram terperangah mendengar tolakan sang suami, yang dengan sengaja menguping pembicaraan Nayuwan dan Raka di bilik kamarnya, hati dan harga dirinya benar-benar hancur saat ini. Karena kenyataannya bahkan selama 5tahun ini mereka bersama nyatanya dia hanya mendapatkan bagian kecil direlung hati suaminya. Ia mendapatkan raganya tapi cinta Raka masih tertuju pada Nayuwan mantan istrinya. "Perempuan tak tahu diri !" pekiknya dalam hati.
"Terserah saja kalau Papah mau menerima atau tidak, aku tidak peduli, jika Papah memang tidak menerima keputusan ini silahkan Papah ajukan banding ke PA" tutur kata Nayuwan begitu lembut namun penuh penekanan.
"Hmm... Tapi aku lebih sarankan, daripada uangnya dipakai untuk bayar pengacara dan lain-lain, lebih baik uangnya Papah gunakan uang itu untuk keperluan sehari-hari, atau sekedar mengajak istri Papah ke salon, mungkin" kali ini Nayuwan menunjukan gerak kedua alis, dibareng seringai mengolok terkembang bibirnya.
Raka benar-benar dibuat skakmatch kali ini. Karena dia memang dia tengah menghadapi kesulitan ekonomi, usahanya tidak sebesar dulu. meski tidak kekurangan tapi hanya sekedar cukup.
Rasanya seperti menelan pil pahit simalakama jika dia harus naik banding ke pengadilan, dan tentu istrinya juga tidak akan membiarkan hal itu. Kali ini dia benar-benar hanya bisa tertunduk pasrah karena keadaan.Dia hanya merutuki dirinya dengan penyesalan. Dia tidak menyangka bahwa Nayuwan akan benar-benar pergi ke pengadilan sendirian tanpa mengundang dirinya. Dan ditangannya kini sudah ada secarik kertas dari pengadilan yang menerangkan bahwa dirinya dan Nayuwan kini benar-benar bukan lagi suami istri baik secara agama ataupun negara.
"Kalau begitu silahkan angkat kaki dari rumahku, " usir Tia tiba-tiba keluar dari bilik kamarnya. Dia sudah sangat berang hanya menguping pembicaraan sepasang mantan suami istri itu.
"Tanpa anda usir pun saya memang sudah akan pergi"
"Dasar perempuan tak tahu malu !" Pekik Tia.
"Makasih lho pujiannya" seringai Nayuwan makin melebar.
"Anjing"
"pckckck! Setidaknya anjing itu setia " lagi-lagi kalimat yang keluar dari mulut Nayuwan sukses membuat Tia semakin meradang. Nayuwan tersenyum puas saat dia menatap Raka yang masih tertunduk meratapi akta cerai yang dibawanya. Nayuwan bersiap berdiri dari sofa yang sedari tadi menopang bobotnya.
"O iya,, hampir lupa" ujar Nayuwan ketika sudah diambang pintu.
"Apalagi mau hah ?" teriak Tia memekakan telinga penghuni isi rumah.
__ADS_1
"Ini soal Nadia." ucapnya mengambang sambil membalikan badan, Raka yang sejak tadi tertunduk sekarang dia mematap nanar mantan istrinya.
"Kenapa dengan Nadia?" selidik Tia penasaran. Nayuwan tak langsung menjawab dia mengerucutkan bibirnya dengan alis nyaris bertautan.
"Hmm.. Aku cuma mau bilang, kalau Nadia sekarang tinggal sama aku"
"Kenapa Nadia harus tinggal sama kamu, toh kamu sudah bercerai dengan ayahnya, atau jangan-jangan kamu mau menggunakan Nadia sebagai alat agar kamu mendapatka kembali hati suamiku? Iyakan?" ceroscos Tia penuh emosi.
"Cih, untuk apa aku melakukan hal semacam itu. Tanpa Nadia pun toh hati dan pikiran Mas Raka itu masih tertuju padaku. Mau bukti?" tantang Nayuwan dengan mimik wajah culas.
"Jadi untuk apa Nadia tinggal bersama kamu!"
"Karena Nadia adalah anak aku, lagi pula Nadia akan aku kuliahkan, aku ngga mau anakku itu harus menikah muda, kehidupannya masih panjang, aku ingin anak-anakku benar-benar menikmati masa mudanya, memilih dan mengisi jalan hidupnya, supaya mereka tidak berpikir untuk menjadi pelakor untuk menopang hidupnya" ucap Nayuwan santai. Tia merasa dirinya tertohok begitu mendengar kata "pelakor".
"Siapa yang bilang aku adalah pelakor ?"
"Hah? Kenapa anda begitu kesal begitu mendengar kata pelakor? Lagian tidak ada disini yang mengatai anda pelakor, aneh?!" cibir Nayuwan.
" Segera angkat kaki dari rumahku perempuan ****** !" teriak Tia yang sudah tidak mampu lagi menahan emosinya.
Dengan gesture elegant Nayuwan terkekeh geli melihat Tia yang makin terbakar emosi. Bukannya dia segera keluar menjauhi kedua orang itu dia malah berjalan mendekati mantan suaminya yang masih syok mematung mencerna keadaan. Terutama perihal surat yang ada ditangannya kini.
"Pah, ngga apa-apakan, kalau Nadia ikut aku?" seloroh Nayuwan dengan nada manja . Raka menelan salivanya dengan susah payah begitu mendengar suara Nayuwan yang terdengar begitu menggoda telinganya.
"Cukup perempuan binal !" teriak Tia makin gusar dengan tingkah Nayuwan yang berlagak seakan menggoda birahi suaminya.
"Pah?" ucap Nayuwan sekali lagi pada Raka.
"Iya, Nadia boleh kamu, dia kan memang anak kita, dia boleh ikut sama kamu kalau dia memang nyaman." ucap Raka.
"Ok Pah, makasih ya." seloroh Nayuwan dibarengi gesture manja dan tak lupa senyuman yang menggoda.
"Kau !" Tia benar-benar dipuncak emosinya. Sedang Nayuwan berlalu setelah gencar memprovokasi dirinya.
*********
saragheo ( ˘ ³˘)❤
__ADS_1
**************************