
"Krriieeet"
Samar terdengar derit pintu dapur dibuka dengan perlahan, nyaris tak bersuara. Nayuwan bangun dan beranjak dari tempat tidurnya, menarik nafasnya dengan perlahan, kilat matanya melirik ke arah jam dinding. Saat ini waktu menunujukan tepat jam 12 tengah malam.
"Are you ready guys !!" ujar Nayuwan makin menyunggingkan seringai miringnya, kemudian menyalakan lampu. Sontak membuat terkejut pria-pria berpakaian hitam yang tengah mengendap-endap.
"Surprice !!" mendengar ucapan Nayuwan, untuk sesaat mereka terkesiap untuk sesaat, tanpa aba-aba Nayuwan bergegas menyerang 1 orang yang berdiri mematung tepat dihadapannya yang terlihat masih bingung dengan situasi sekarang.
"BAGH BUGH BAGH BUGH !!"Nayuwan membogem dan lalu menendang di perut bagian bawah, sambil memegangi perutnya dan berjongkok sambil menangis.
"BRUUKK !!" hanya beberapa serangan mendadak oleh Nayuwan salah seorang dari komplotan itu ambruk sambil memegangi bagian "kantong menyan" yang di tendang Nayuwan.
Satria yang menyaksikan ikut meringis, refleks mengapitkan pahanya dan memegang bagian inti miliknya. Gina dan Moya yang melihat ekspresi Satria malah terkekeh geli sendiri.
"Pak, apa bapak akan membiarkan ibu Nayuwan bertarung sendirian?" bisik Satria berdiri siaga di samping sofa Gavin yang masih duduk berpangku tangan menyaksikan Nayuwan berkelahi.
"Biarin aja dulu, kalo mereka kewalahan baru kita turun tangan, lagian mereka itu singa betina, kamu ngga lihat orang itu langsung ambruk dalam satu kali serangan" ujar Gavin dengan ekspresi dingin.
Kemudian 1 dari orang-orang itu balik menyerang Nayuwan. "P*****R !!" Pria berpakaian hitam itu menggerakan tangannya, dan dengan kasar mengulurkan tangannya untuk menarik Nayuwan lalu mengarahkan tinju ke arah Nayuwan dengan membabi buta. Sayangnya serangan itu meleset ketika Nayuwan refleks menghindar dengan menyampingkan tubuhnya ke sisi kanan, dan membuat si pria itu menubruk tubuh Moya, dengan tatapan tidak suka Moya meraih bahu pria itu lalu menendengnya dengan menggunakan lututnya dengan keras.
__ADS_1
"K*****T, BUGH !! " Moya sama saja dengan Nayuwan, ibarat peribahasa Keluar mulut singa, masuk mulut harimau.
"SRUUK !" pria itu tersungkur begitu saja tepat dihadapan beberapa orang-orang yang baru saja masuk ke rumah itu, terhitung ada sekitar 7 orang, total menjadi 10 orang.
Nayuwan mendengkus "bala bantuan mereka baru datang semua, sekarang saatnya show time" Nayuwan, Gina, dan Moya menyerang para pria berpakaian hitam tersebut. Begitupun dengan Gavin dan Satria, kali ini mereka tidak bisa untuk tidak ikut melawan orang-orang tersebut. Perkelahian berlangsung sengit dengan hasil akhir yang sudah bisa di prediksi, mereka semua berhasil dikalahkan oleh tuan rumah. Kemudian 1 persatu dari mereka di ikatan dengan tali tambang yang di beli Nayuwan tadi saat Gavin dan Satria sedang berbelanja.
Setelah memastikan semua terikat dengan kencang, Nayuwan menuju kamar utama, dan menggedor pintu kamar mandi di mana Ardilla tadi di suruh untuk bersembunyi.
"Dill, udah beres,," seru Nayuwan.
"Ceklek " Ardillah keluar celingak celinguk, dia memang sedikit terkejut dengan penampilan Nayuwan yang berantakan, tapi mau heran juga mereka itu habis berantem, lebih aneh lagi jika Nayuwan tidak mengalami lecet sama sekali.
"Kamu yang manggil polisi?" Moya mendelik Ardilla, dengan cepat Ardilla menggangguk mengiyakan.
***********
Waktu sudah menunjukan jam 1.30 dini hari, semua urusan dengan polisi juga selesai, tapi besok mereka masih harus mendatangi kantor polisi untuk memberikan keterangan mengenai kejadian yang baru saja mereka alami. Nayuwan kembali mendengkus kasar tatkala melihat terdapat beberapa kerusakan akibat kejadian tadi. Nayuwan bergegas mengambil sapu dan pel lantai, begitupun dengan yang lain, bahu membahu membereskan ruang tengah agar segera bisa mereka gunakan kembali untuk istihat. Butuh waktu satu jam agar ruangan itu bisa sedikit rapi, Nayuwan segera menghempaskan tubuhnya ke atas matras, mereka berbaring dengan berjejer layaknya ikan pindang. Begitupun dengan Gavin yang mengambil posisi tepat di samping kanan Nayuwan, Moya disebalah kirinya, Ardilla memilih di tengah dan memeluk Moya, disampingnya lagi Gina dan Satria yang sudah memposisikan terhalang dengan sebuah guling. Awalnya Nayuwan menolak jika Gavin ikut tidur bersama mereka di ruang Tivi, tapi dengan berbagai alasan soal keamanan akahirnya Nayuwan pun mengalah.
Tak lama kemudian, rasa kantuk mulai menyerang mereka yang kelelahan, satu persatu dari mereka mulai menutup memasuki alam bawah sadar mereka. Sesekali Nayuwan masih berusaha untuk mensiagakan matanya, dia masih khawatir jika Gavin tiba-tiba menyerangnya. Namun rasa kantuk dan aroma parfume Gavin yang menenangkan makin merapatkan matanya. Gavin yang masih terjaga menyampingkan tubuhnya, satu tangannya menyangga kepalanya dan menatap wajah Nayuwan lekat-lekat, wajah yang terlihat teduh saat tertidur pulas seperti sekarang, wajah cantik seperti wajah malaikat yang bercahaya menyilaukan. Bibir yang berwarna peach cerah merona meski terdapat sedikit luka sobek akibat perkelahian tadi. Ingin rasanya Gavin mencuri ciuman dari bibir Nayuwan yang mulai terlelap.
__ADS_1
"Kamu benar-benar wanita tangguh Queen!" gumam Gavin sendiri.
Gavin tersenyum saat melihat Nayuwan yang menggeliatkan tubuhnya dan menendang selimut yang menuntupi tubuhnya, sesekali Nayuwan menggaruk perutnya hingga membuat pijama yang ia gunakan pun menyingkab begitu saja memamerkan perutnya yang putih mulus. Gavin menelan salivanya dengan susah payah, biar bagaimanapun dia tetap seorang lelaki normal yang akan bereaksi ketika melihat kemolekan tubuh seorang perempuan.
Dengan hati-hati Gavin menurunkan pijama Nayuwan agar menutupi perut Nayuwan yang tersingkab lalu menutupnya dengan selimut yang berba.gi dengannya juga Moya. Kemudian Gavin pun kembali berbaring terlentang di samping Nayuwan. Tiba-tiba saat ia akan memejamkan matanya dengan meletakan satu tangan di atas kepalanya,
"Bugh!" ia merasakan sesuai menimpa perutnya. Ternyata itu tangan milik Nayuwan yang kini tengah memelukunya seperti sedang memeluk guling.
"Gulingnya anget" racau Nayuwan kemudian mendusel merangsek mendekap tubuh Gavin tanpa dosa. Hingga sepasang gunung kembar milik Nayuwan menempel sempurna pada pinggang Gavin. Dan membangkitkan kembali sesuatu milik Gavin yang sudah dengan susah payah Gavin tenangkan, kini terbangun kembali.
Seperti buah simalakama, Gavin ingin sekali menuntaskan hasratnya dengan cara bersolo karier, namun ia juga tak ingin pelukan Nayuwan berakhir begitu saja. Berkali-kali ia memijat keningnya yang mulai terasa pening, area inti yang mulai mati rasa karena sang "adik kecil" ternyata masih berdiri tegak, dan sialnya Nayuwan kini bukan hanya tangan Nayuwan yang melingkar di perutnya, tapi juga kaki Nayuwan mengapit pahanya.
Entah ini sebuah keberuntungan atau kesialan bagi Gavin karena Nayuwan memeluknya dengan suka rela.
*******
sarangheo
***
__ADS_1
maacih semua ( ˘ ³˘)❤