Merpati Hitam

Merpati Hitam
Benda keramat


__ADS_3

Nayuwan mengerjap beberapa kali, dirinya masih terkesiap, saking terkejutnya hingga apa yang Gavin ungkapkan nyaris tak terdengar olehnya.


"Tuan Gavin, Apa yang kamu lakukan?" pekik Nayuwan marah, setelah tersadar dengan yang baru saja Gavin lakukan terhadap bibirnya. Gavin menatap intens sekali, kedua manik mata mereka bersiborok untuk kesekian kalinya malam ini. Binar mata mereka seakan menyiratkan perasaan mereka yang sebenarnya sudah bisa mereka artikan satu sama lain. Nafas Nayuwan terdengar memburu kasar, amarahnya seakan siap meledakan Gavin yang telah berani mencium bibirnya tanpa izin.


Namun Gavin seolah tidak perduli dengan kemarahan Nayuwan, netranya tetap fokus ke hal indah di wajah Nayuwan. Hal indah yang begitu ranum dihadapannya. Hal yang baru saja ia cicipi untuk beberapa detik sebelum Nayuwan mendorong dirinya hingga membuyarkan konsetrasinya yang tengah menikmati sensasi lembut dari benda berwarna peach segar milik Nayuwan namun begitu menggoda dirinya untuk melahapnya hingga puas.


Wanita itu terus menatap tajam pria dihadapannya seakan-akan pria itu adalah musuh yang harus ia habisi saat itu juga. Gavin bak sudah hilang akal ia kembali meraih tengkuk Nayuwan dan menciumnya lagi dan lagi, ia terus memperdalam ciumannya meski Nayuwan terus menolak dirinya.


Hingga,


"BUGH" di susul dengan suara erangan seorang laki-laki.


"Aaaakkk !!" Gavin memekik ambruk hingga tersujud sambil memegangi "benda keramat" miliknya, setelah lutut Nayuwan menendangnya dengan cukup kuat. Nayuwan menghampiri Gavin yang meringis menyembunyikan wajah ke lantai koridor hotel. Kemudian jongkok bertumpu dengan satu kakinya.


"Ckckck ! Sakit ya Tuan? Makanya punya bibir dan tangan itu ngga usah macem-macem, kan jadi kasian adik kecilnya jadi kesakitan begitu" ujar Nayuwan mengolok-ngolok Gavin yang tengah meringis kesakitan.


"Apa kau ingin membuat calon suami mu ini jadi impoten hah ??!!" geram Gavin.


Bola mata Nayuwan memutar jengah, lalu mengambil ponsel dari dalam clutchnya lantas menghubungi Satria.


"Sat, boss mu sedang dalam bahaya cepat tolong dia"


Selang beberapa menit Satria keluar dengan tergesa-gesa dengan hanya menggunakan handuk saja dan dikepalanya masih terdapat busa shampoo yang belum sempat ia bersihkan. Bola matanya membeliak heran mendapati bossnya tersungkur di lantai sambil memegangi adik kecilnya, wajahnya mengernyih pilu,

__ADS_1


refleks tangannya memegang "pipit" miliknya seolah ikut merasakan ngilu yang dilanda oleh Gavin saat ini.


"Hadeuuhh, kalian ya memang luar biasa mesumnya, kamu cepat bantu boss mu itu, dan hati-hati handuk mu melorot" ucap Nayuwan ngeloyor masuk ke kamar hotelnya tanpa merasa berdosa seakan tidak terjadi apa-apa.


*************


Satria telah menyelesaikan sesi mandinya yang sempat tertunda karena panik mendengar bossnya tengah dalan bahaya. Dia mengambil air meniral lantas memberikannya kepada Gavin yang sedang mengompres "benda keramat" miliknya yang tadi ditendang oleh lutut Nayuwan.


"Bapak habis ngapain ibu Nayuwan sih, bisa sampe ditendang pas bagian itunya" tanya Satria dengan raut wajah ngeri.


"Biasalah pertengakaran suami istri" sahut Gavin enggan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, makin jatuh nanti harga dirinya sebagai seorang lelaki.


" Bu Nayuwan ternyata lebih menakutkan ya Pak kalo tiap ada masalah selalu tepat sasaran" ujar Satria bergidik ngeri. Sedang Gavin menatapnya dingin.


Gina : " Bang,, Pak Gavin sama si ibu berantem ya?"


Satria : "[ Bukan cuma berantem, tapi baku hantam kayanya]"


Gina : "Lah ??"


Satria : [ Entah gimana kejadiannya, tapi pas abang ke TKP, Pak Gavin udah tersungkur kesakitan sambil megangin "Burungnya]"


Gina yang membaca pesan dari Satria sontak terbahak begitu membayangkan keadaan Gavin.

__ADS_1


Gina : " Hah??? Kok?? Dasar kaum adam hahahhahahah"


Satria mengulum senyum menganggur kepalanya yang tidak gatal sama sekali, netra menoleh pada Gavin yang mulai terlelap sambil memegangi kompresan yang ditaruh di atas "benda keramat"nya.


"Resiko milih calon istri bar-bar ya begini,, harus kuat dan banyak sabar " ungkap Satria iba melihat keadaan bossnya yang rasa ngilunya bisa ia ikut rasakan, perlahan Satria mengambil ujung bedcover menyelimuti bossnya kemudian mematikan lampu dan menyisakan cahaya lampu kamar yang temaram.


Semua orang sudah tertidur, namun Nayuwan tak kunjung bisa memejamkan matanya, pikirannya melayang memikirkan segala hal yang terjadi hari ini. Nayuwan akhirnya memakai sandalnya, beranjak menuju mini bar menatap ke arah luar.


Nayuwan mengingat bagaimana pertama kali ia bertemu dengan Gavin sewaktu di Hongkong, kemudian perdebatan-perdebatan di setiap kali mereka bertemu, iapun mengingat bagaimana Gavin dengan sigap menolongnya ketika di begal, ia juga melindunginya ketika anak buah Diaz menyerangnya. Dan sekarang pria itu menyusulny ke negeri gingseng hanya untuk melamarnya.


Gavin menatap lembut Nayuwan sambil terus memeluk tubuh perempuan judes dihadapannya "Apa kau mau menikah dengan ku?" Nayuwan menatap pria itu penuh keraguan. Ia sama sekali tak percaya jika Gavin benar-benar menyukainya, dengan terang-terangan melamarnya begitu saja.


"Hh?? Menikah?? Dengan dirinya yang benar saja?" gumam Nayuwan berbicara sendiri, tersenyum miring menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Apa dia baik-baik saja?" tiba-tiba terlintas bagaimana tadi dia menendang Gavin dengan cukup keras, ia lantas beranjak dar tempat duduknya, mondar mandir menggigiti kuku ibu jarinya. Sesaat nampak gusar, namun sesaat kemudian air muka kembali datar, beberapa detik kemudian berubah cemas, lalu kembali biasa saja.


"Pcckk!! Kan dia yang salah, aku cuma ngasih hukuman karena dia udah kurang ajar , tapi apa dia..." Nayuwan menghela nafas frustasi memikirkan Gavin. Lantas ia mengambil kimononya bergegas menuju kamar inap Gavin.


Tangan Nayuwan terhenti mengepal saat akan menekan bell kamar hotel Gavin, perasaannya kembali ragu. Kilasan balik di masa lalunya berhasil ia mengurungkan niatnya melihat keadaan Gavin malam itu, matanya mulai mengembun , ia merasakan kakinya seakan mati rasa, ia berjongkok saat merasa kakinya makin melemas, ia tertunduk lantas menelungkup menyembunyikan wajahnya. Rentetan bayangan masalalunya kembali menghampirinya, ia menelan salivanya dengan susah, kegetiran masalalu kembali menyergapinya. Ia menutup matanya dalam-dalam berusaha mengeyahkan segala pikiran yang berkecamuk saat ini, tenggorokannya sakit meradang, bulir-bulir air matanya mengalir deras begitu saja , mengisak seolah tanpa alasan dalam keheningan malam.


********sarangheo******


( ˘ ³˘)❤

__ADS_1


__ADS_2