
Nayuwan keluar dari kamar mandi hotel dengan menggunakan bathdrobe sebagai atasaannya dan celana pijama untuk bawahannya. Kepalanya masih terbungkus handuk karena rambutnya masih basah. Kemudian duduk melihat cermin, Nayuwan berhenti sejenak saat mengaplikasikan base makeup pada wajahnya.
Dia menarik nafas dalam-dalam, menahannya beberapa detik lalu menghembuskannya secara perlahan.
"Ciee yang mau kencan," goda Alea serasa melirik pada kakaknya.
"De, kayanya mulai dari sekarang kita harus biasain manggil Om Gavin dengan sebutan Daddy, biar ngga canggung" Nayuwan yang mendengar ledekan kedua putrinya hanya bisa memutar bola matanya. Belum lagi tiga sahabatnya plus asistennya yang sama sekali tidak ada niatan untuk membelanya malah ikut-ikutan meledeki dirinya.
1 jam berlalu, Nayuwan sudah selesai berdandan mengenakan dress berwarna biru muda di padu dengan tas imut sedikit lebih besar dari ponselnya, dan pasmina berbahan ceruty berwarna senada dengan tasnya yang lebih berwarna lebih terang dari dressnya.
"De, kadang aku iri sama mommy yang pake apa aja itu cantik aja gitu" ringis Nadia.
"Besok kalian semua ngga usah belanja buat oleh-oleh ya" ancam Nayuwan ketus membuat merinding dibuat.
"Dih serem amat ancemannya Nay, jangan dong, kita semua cuma seneng aja akhirnya hati kamu mulai mencair meski ya kalian seperti kucing dan anjing sih, kadang" ucap Moya menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal.
Bel pintu kamar hotel berbunyi, Narti beranjak dari tempat duduknya yang sedang memijit kaki ibunya Nayuwan. Alih-alih mempersilahkan masuk Narti malah mematung saat mendapati sosok Gavin yang jangkung tertutup bucket bunga mawar yang cukup besar.
"Maaf, cari siapa?" tanya Narti setelah tersadar. Gavin agak sedikit kecewa saat mendengar suara asing langsung menurunkan bucketnya, karena ia mengira Nayuwan tinggal sendiri di kamar itu, padahal tidak. 😅
"Ini kamar 2367 atas nama ibu Nayuwan kan?" tanya Satria menatap Narti yang cengo melihat Gavin.
__ADS_1
"I..iya Pak, Neng Yuwan ada di dalam lagi siap-siap, silahkan masuk pak." ujar Narti terbata mempersilahkan Gavin dan Satria masuk ke dalam ruangan kamar hotel yang lagi-lagi membuat mereka kembali terkejut saat mendapati ruangan hotel mewah yang seperti di sulap menjadi kamar asrama dengan tempat tidur yang berjejer rapi. Moya mendongak ketika Gavin dan Satria memasuki ruangan yang mungkin dijadikan ruang berkumpul semua orang di sana.
Gavin dipersilahkan duduk meletakan bunga yang dibawanya di atas meja. Kecanggungan menyelimuti ruangan tersebut, terutama saat netra Gavin saling bertaut dengan Alea dan Nadia yang menatapnya sinis, gestur tubuh mereka mencoba mengintimidasi Gavin .
" Teh gimana menurut teteh, apa orang ini cocok jadi daddy kita?" senggol Alea pada Nadia yang tengah bersedekap tegap dan kaki menyilang tanpa melepaskan tatapan tajam mereka pada Gavin dan Satria.
"Entahlah, teteh belum kenal soalnya" sahut Nadia menyandarkan tubuhnya pada sofa.
"Om udah jadi duda berapa lama?" tanya Alea polos, membuat Gina melongo dan yang lain saling bertatapan satu sama lain kemudian memalingkan wajah mereka masing-masing menyembunyinya gelak mereka yang hampir pecah.
"Om masih lajang, dulu hampir menikah tapi calon Om meninggal karena kecelakaan" jawab Gavin tenang. Alea tercekat begitu mendengar jawaban Gavin yang tentu saja tidak dia duga.
"Oh maaf," Alea merasa tidak enak hati.
"Tidak, Om tidak suka, karena Om tau semua itu merugikan karena akan tubuh Om" Alea dan Nadia menghela nafas lega.
"Okey, Alea ngga akan nanya Om kerja di mana karena pasti punya posisi penting sampai-sampai punya sekertaris pribadi seperti Mommy kami yang punya kak Gina. Hmmm ..." Alea menjentikan jari telunjuk pada bibirnya seakan tengah memikirkan pertanyaan selanjutnya.
"Apa Om suka judi?" tanya Nadia
" Tentu saja ngga" ujar Gavin lebih santai.
__ADS_1
"Kalo pria sukses biasanya banyak selir meski belum menikah," tohok Alea. Diam-diam Nayuwan ikut menguping percapakan Gavin dengan kedua putrinya.
"Sayangnya Om juga orang sangat berkomitmen, sangat menjunjung tinggi kejujuran, karena seorang pria yang bertanggungjawab itu akan memegang kepercayaan pasangannya."
"Okey, yang terakhir apa Om sanggup tidak menyakiti Mommy, tidak membuatnya menangis kecuali menangis bahagia, apa Om yakin sanggup membahagiakan Mommy kami lahir dan bathin, tidak akan melukai harga dirinya sebagai seorang wanita?" ucap Alea serius dengan tatapan nanar yang menyiratkan ketakutan.
"Om tidak akan berjanji atau menyanggupinya tapi Om akan berusaha melakukan hal terbaik yang bisa Om lakukan sebagai seorang pria, sebagai seorang teman, sebagai orang ayah, sebagai seorang adik, dan sebagai seorang imam." jawab Gavin tersenyum tipis menatap Alea dan Nadia bergiliran berusaha memenangkan hati kedua putri Nayuwan. Alea dan Nadia tersenyum dan menghela nafas lega.
"Baiklah Om lulus, kami beri izin Om untuk mendekati Mommy kami. Mommy kami sudah bersiap dari tadi, meski kami sudah beri lampu hijau, mohon Om tidak menggerayangi Mommy kami sebelum halal dan jangan coba-coba kecewakan kami." Ujar Alea ketus beranjak dari sofa memanggil Mommyanya.
"Jadi Om diizinkan untuk menjadi calon ayah kalian?" tanya Gavin sedikit bingung.
"Ya begitulah, karena disini yang punya kunci itu Alea, minimalnya tidak mendaki gunung Everest lagi, ya sudah turun level jadi gunung Puncak Jaya."sahut Nadia seolah acuh tak acuh. Senyum Gavin merekah, rona dan raut wajahnya tidak sepucat dan sekaku saat berhadapan dengan Alea. Ibu dan anak sama-sama singa pikirnya.
Alea mendekati ibunya yang sedari tadi menguping percakapan mereka.
"Kamu Le?"
"Entahlah, sisanya tinggal Mommy yang ekskusi. Ale dukung karena Mommy juga berhak bahagia dengan seseorang yang mencintai Mommy, bukankah lebih baik jika kita hidup bersama orang yang mencintai kita dibanding kita yang lebih dulu mencintainya, karena dia tidak akan menyakiti kita karena takut kehilangan kita?" sahut Alea menatap ibunya lekat-lekat. Netra Nayuwan berkaca-kaca, tak menyangka jika putrinya memiliki pemikiran sejauh itu terhadap Gavin yang padahal baru ia temui hari ini. Nayuwan berhambur memeluk Alea,
"Terima kasih karena kamu sudah tumbuh menjadi gadis yang kuat, tegar, dan mau mengerti meski selama 19tahun kamu tidak hidup bersama orangtuamu. Maafin Mommy ya, karena waktu Mommya banyak tersita oleh pekerjaan yang tiada habisnya dan kamu hampir tidak pernah merengek meski Mommy tau kamu kesepian"ujar Nayuwan dengan serua parau karena menangis sembari memeluk putrinya.
__ADS_1
"Ale izinin karena Om Gavin itu ganteng, wangi plus kaya hahhahaha" sahut Alea lantang menggoda ibunya dengan sengaja, gelak semua orang di ruangan tersebut pecah termasuk Gavin ikut tersipu tersenyum simpul mendengar jawaban Alea sarkastik Alea pada Nayuwan.