Merpati Hitam

Merpati Hitam
bukan "Arjuna "


__ADS_3

Dua bulan berlalu


Semua urusan mengenai keluarga Mahendra sudah sepenuhnya teratasi kabar terakhir istri Mahendra tengah mengandung dan kali ini tentu saja benar-benar keturunan Mahendra, sedang makhluk itu pun seolah hilang di telan bumi. Nayuwan nampak sudah kembali dengan rutinitas kembali ke kantor, dengan suasana kebijakan yang berbeda sekarang terutama soal aturan berpakaian, akibat kesalahan satu orang seluruh perusahaan kena imbas.


Karena sejak satu bulan lalu di setiap hari Senin mereka wajib memakai seragam merah putih seperti seragam sekolah dasar, sedang di hari Kamis dan Jumat mereka memakai hitam dan putih selayaknya mereka baru melamar. Sanksi SP jika seseorang tidak mentaati aturan baru tersebut, dan sudah bisa di tebak orang-orang semacam Bella adalah orang yang paling protes dengan aturan baru yang menurut mereka sangat kampungan, padahal di hari Selasa dan Rabu mereka masih menggunakan outfiit sesukan hati mereka. Perusahaan Nayuwan memamg hanya menerapkan 5 hari kerja masuk jam 07.45 dan pulang 16.45. Jam istirahat fleksible dari jam 11.45 hingga 13.45, lembur tidak boleh lebih dari 2 jam setiap harinya, serta 5 jam lembur di hari Sabtu itupun harus dengan pengajuan khusus.


Gavin merogoh ponselnya hendak menghubungi Nayuwan untuk mengajaknya makan siang, dan entah sudah kali keberapa ia menghubunginya namun Nayuwan tak kunjung mengangkat sambungan teleponnya.


"Pck !! perempuan ini kalo sudah kerja lupa kalo udah punya calon suami seganteng aku," Gavin akhirnya merenyah untuk menghubungi Nayuwan yang ia pikir mungkin sedang ada meeting hingga tidak bisa mensilent ponselnya toh ia juga sering seperti itu. Gavin menatap layar laptopnya lalu ekor matanya mengarah pada foto dirinya bersama Nayuwan beserta ke dua putri Nayuwan. Gavin merasa seolah sudah memiliki mereka pdahal gelaran pernikahan mereka masih beberapa bulan lagi. Mereka terpaksa mengundur pernikahan mereka karena kondisi Nayuaa dan jadwal kesibukan mereka yang belum menemukan kesesuaian hingga beberapa bulan ke depan.


Senyum di wajah Gavin seketika menghilang ketika mendapati perempuan cantik memakai dress hitam di atas lutut, terlihat sexy membentuk tubuhnya yang sintal dengan rambut kecoklatan terurai. Perempuan itu adalah Teressia, seseorang yang sudah menemaninya sejak kepergian Freya. Ia berdiri menyandar di ambang pintu ruang kerjanya di ikuti oleh Sinta dengan wajah cemas karena tidak bisa menahan Terresia. Gavin mengangguk pada Sinta yang kemudian pamit undur ke ruangannya kembali setelah melihat isyarat dari atasannya itu.


Gavin nampak acuh saat Terresia berjalan berlanggak lenggok menuju mejanya.


"Vin, mamaku ngundang kamu dinner malam ini, bisa?" ucap Terresia dengan senyum manis di bibir s*nsualnya.


" Ada acara apa?" tanya Gavin ketus.


"Ya ngga ada acara apa-apa sih, cuma kan udah lama aja gitu kamu ngga main ke rumahku, apalagi sejak aku pulang dari luar negeri, kamu kaya jaga jarak banget dari aku" ujar Terre mulai merajuk menggelendoti bahu Gavin.


"Maaf Re, tapi belakangan ini emang aku banyak kerjaan"

__ADS_1


"Banyak kerjaan atau sibuk pacaran ?!" sindir Teressia membuang nafas kasar sembari melipat keduatanganya didepan dad*nya.


"Ya terserah kalo kamu emang ngga percaya aku sibuk mah" ucap Gavin kembali mengalihkan fokusnya ke layar laptop.


"Vin, !!"


"Apa Re?"


"Kamu berubah sejak kenal perempuan kampung itu!"


"Cuma perasaan kamu aja itu Re" Gavin masih fokus pada pekerjaannya.


"Vin.." ucap Terre sedikit merengek untuk diperhatikan.


"Aku serius Mama ngundang kamu makan malem Vin.."


"Iya nanti aku usahain dateng sama Queen"


"Hah? Maksudnya??" Teressia mengerutkan keningnya mengdengar jawaban Gavin.


"Iya aku nanti dateng, tapi bilang sama mama, kalo aku datengnya sama Queen sekalian ngenalin calon istri ku sama keluarga kamu" ujar Gavin seolah menerangkan jika diantara mereka hanya bisa sebatas hubungan persahabatan saja.

__ADS_1


Jawaban yang dilontarkan Gavin jelas memancing ekspresi masam di wajah Terresia. Ia menatap tajam mengandung kekecewaan pada Gavin, karena selama ini Terresia sudah berharap banyak untuk hubungan mereka berdua, ditambah selama ini Gavin tak pernah menolak apapun permintaanya tapi setelah muncul kehadiran Nayuwan dihidup Gavin semua berubah.


Perubahan situasi dan sikap Gavin ini tentu membuat Terresia merasa tersingkir sekaligua terbakar cemburu. Sudah bukan rahasia umum lain desas desus gossip tentang kedekatan mereka berdua, namun belakangan santer diberbagai media mengenai kedekatan Gavin dengan Nayuwan, perempuan yang entah muncul dari mana. Dan yang membuat Terresia lebih heran lagi, ternyata Nayuwan bukan sekedar dekat dengan Gavin, tapi juga dengan Haidar, Vito, Rendra dan yang baru-baru ini adalah Mahendra.


"Vin, kalo kamu marah karena kemarin aku terlihat bersama Mahendra aku minta maaf, tapi jangan seperti ini, kita perbaiki hubungan kita lagi, ok?"


"Hubungan?? Memang kalian punya hubungan apa?" Gavin membeliak begitu melihat ke arah sumber suara. Terlebih saat Gavin menyadari posisi tangan Terresia masih merangkul dirinya dari belakang. Seketika tenggorokan Gavin terasa tercekat saat ia menelan salivanya. Ia segera berdiri menghempaskan tangan Terresia yang membelit bahunya.


"Sayang, kamu.. ngga bilang mau ke sini?" ucap Gavin terlihat cemas. Nayuwan tak menjawab pertanyaan Gavin, namun ia fokus pada perempuan yang pernah ia lihat beberapa kali tengah bersama Gavin. Dari raut wajah dan gestur tubuh terlihat sekali jika dirinya tidak merasa bersalah. Melihat hal itu Nayuwan megalihkan pandangannya ke arah lain sembari melipat tangannya yang tengah membawa sebuah file.


"Aku ganggu ya?" ucap Nayuwan menatap tajam ke arah Terresia.


"Iya itu pengganggu, kalau kamu sadar diri pergilah dari sini, dan sekalian bangun dari mimpi kamu untuk bersanding dengan Gavin, biar bagaimana kalian itu bagai langit dan bumi" ucap Terresia mencoba memprovokasi Nayuwan dengan cara menghinanya.


"Terre bicara apa kamu ?!!!" hardik Gavin, mendengar hal itu Nayuwan malah menyungging senyum tipis di sudut bibirnya. Lantas Nayuwan berjalan mendekati Gavin yang memang tinggal dua langkah dari posisinya berdiri.


"Sayang kalo kita langit dan bumi, terus mbaknya apa? Awan? Bulan? Atau matahari? Kalo matahari lebih cocok sih kayanya, sama-sama panas" ujar Nayuwan tersenyum miring sembari menyentuh kerah lapel jas yang tengah dipakai Gavin. Gavin mengulum senyum saat menyimak perdebatan kedua perempuan cantik yang ada dihadapannya.


"Ciiih, berasa jadi Arjuna banget ya Tuan ini, sampe-sampe jadi bahan debat kami berdua, seneng ya Tuan jadi bahan rebutan para wanita??" cibir Nayuwan saat melihat Gavin yang seolah menikmati perdebatan antara dirinya dan Terre. Gavin segera menelan salivanya menetralkan raut wajahnya begitu mendengar sindiran Nayuwan yang jika ia tetap bersikap seperti itu, kemungkinan pernikahannya bisa dibatalkan dan Gavin sadar betul Nayuwan adalah perempuan yang sanggup melakukan hal itu meski persiapan pernikahan mereka sudah hampir 60%.


****** sarangheo....

__ADS_1



__ADS_2