
Setelah upacara sungkeman, kepada kedua orang tua dan kepada para sesepuh selesai. Gavin didampingi kedua orang tuanya menuju ketempat upacara siraman dilangsungkan. Lalu Dewa dan Hellen memulai ngracik toya, yaitu kedua orang tua mencampur air tujuh sumber (bukan air PAM) yang telah dipersiapkan dengan bunga setaman yaitu mawar, melati, kenanga dan lainnya. Setelah itu kelapa hijau yang diikat menjadi satu dimasukkan ke dalam bokor siraman kemudian diaduk dengan gayung.
Clara dan Faisal nampak tegang ketika mengikuti acara tersebut, maklum saja karena ini kali pertama mereka melakukan upacara adat yang sangat kromo seperti ini. Padahal beberapa hari sebelumnya mereka sudah terlebih dahulu melakukan gladibersih namun tetap saja auranya sangat berbeda. Clara dan Faisal sebisa mungkin tetap tenang meski sebenarnya seluruh tubuh mereka sudah banjir keringat dingin, bahkan Clara merasakan kebas pada tangannya saat ia masih menampan kendi yang berisi air yang di sebut tirta perwita adi tersebut. Mereka benar-benar merasakan aura yang berbeda dengan upacara siraman Nayuwan, entahlah namun Clara benar-benar dibuat merinding saat gending dan sinden melantunkan kidung pengiring.
Mereka dengan tegang dan gugup berdiri berhadap-hadapan dengan orang tua Gavin untuk penyerahan tirta perwita adi untuk kemudian dilakukan prosesi manuhaken atau pencampuran atau penyatuan air siraman Nayuwan dengan air yang akan digunakan untuk siraman Gavin. Sedang Gavin sudah duduk dengan bertelanjang d*da berkalungkan rangkaian bunga melati. Secara simbolik Faisal didampingi Clara menyerahkan tirta perwita adi kepada orang tua Gavin. Semua berjalan hikmat dan berlangsung lancar. Hellen dan Dewa tengah menuangkan air yang dibawa oleh Clara, kemudian menuangkannya ke dalam bokor besar, dan menambahkan lagi bunga-bunga kedalamnya.
Prosesinya tidak jauh berbeda.
Siraman pertama dilakukan oleh Dewa lalu dilanjutkan dengan Hellen. Masing-masing menyiram sebanyak tiga kali, yaitu satu siraman di kepala, satu siraman di pundak atau badan, dan satu lagi siraman di kaki.
Setelah ayah dan ibu, siraman diteruskan oleh pini sepuh, orang terdekat yang sudah ditunjuk untuk mengikuti prosesi siraman. Jumlah orang yang menyiram haruslah ganjil, biasanya berjumlah 7 orang, namun bisa juga 5 atau 9 orang. Syarat Orang yang Melakukan Siraman kepada Pengantin Selain Orang tua: Masih dalam ikatan pernikahan, tidak boleh yang sudah bercerai, tidak menyandang status janda/duda, dan sudah memiliki keturunan.
Sesudah seluruh pinisepuh sudah selesai melakukan siraman. Kemudian sesuai instruksi MC, Dewa lalu menuangkan air dari kendi kepada Gavin untuk digunakan berwudhu. Kendi yang kosong tersebut dipegang oleh Dewa dan Hellen kemudian dijatuhkan ke tanah sehingga pecah. Proses menjatuhkan atau memecahkan kendi tersebut diiringi ucapan "Niat ingsun ora mecah kendi, nanging mecah pamore anakku Gavin Harraz Widjaya”. Prosesi menjadi simbol pecahlah pamor Gavin sang anak sebagai sosok dewasa dan memancarlah sinar kewibawaannya.
Prosesi berlanjut ke acara memotong rambut Gavin atau disebut dengan potong rikmo. Lalu menyatukannya dengan rambut yang diserahkan berikut dengan air siraman saat sesi serah terima tirta perwita adi. Potongan rambut mereka lalu digabungkan lalu di kubur, prosesi ini disebut dengan potong rikmo. Prosesi siraman adat Jawa pada tahap ini bertujuan agar semua hal buruk dikubur bersamaan dengan rambut, sehingga kelak kedua mempelai hanya disertai kebaikan dan kebahagiaan dalam rumah tangganya.
Prosesi selanjutnya adalah ngentas atau bopongan, prosesi yang seru dan menggemaskan dimana Dewa dan Hellen harus menggendong Gavin menuju kamar. Meski begitu namun salah satu prosesi pernikahan adat Jawa ini melambangkan betapa kasih sayang orang tua senantiasa mengiringi anaknya sampai detik terakhir menjelang lembaran baru dalam kehidupan sang anak.
"Monggo kakaj adek, keponakan semua dan teman-temannya juga boleh berdiri di sisi kiri kanannya atau berjongkok di depan mas Gavin agar bisa kita abadikan. Karena momen ini adalah moment ya luar biasa, tentunya moment ini akan menjadi sejarah tersendiri bagi mas Gavin beserta keluarga." tutur Mas Taufik. Sesi pemotretan ini berlangsung hingga 4 kali karena semua ingin mendapatkan giliran untuk bisa berfoto bersama. Tiba giliran sesi berfoto dengan Haidar, Vito, dan Rendra. mereka langsung ikut membopong Gavin, jadilah posisi mereka seperti sedang membawa ikan yang besar.
__ADS_1
Kemudian setelah itu Gavin digendong Dewa menuju kamarnya untuk gentos ageman atau berganti pakaian. Lalu ada pagas tumpengan atau dulangan ini tidak termasuk prosesi hanya bagian ramah tamah, yang berlanjut ke acara kembul bujana hingga acara selesai.
"Nanti malam jadi malam bujang?" ucap Haidar sembari meminum minumannya.
"Kita liat aja nanti, lu liat sendiri si Gavin di kawal ketat banget sama emak dan adek keduanya.
"Hai bang" sapa Eva yang tanpa di suruh langsung duduk dekat Haidar.
"Hai Va," sahut Haidar acuh, namun membuat mendung di wajah Eva, Rendra dan Vito saling menatap penuh curiga menyadari hal itu.
"Eh Dar, lu udah telepone si Dilla?" Rendra sengaja memancing.
"Nih orangnya baru telepon, bentar ya gue angkat dulu" ucap Haidar sambil menghubungkan sambungan saluran teleponnya. Karena terlalu berisik akhirnya Haidar pamit ke tempat yang lebih sepi.
"Ciee ileehh private banget ye,"
"Berisik tau, halo yang.. itu tadi si Rendra aku ke kamar ganti deh biar ngga berisik banget." Haidar pun ngeloyor tanpa mempedulikan tatapan kecemburuan dari Eva.
"Va, Haidar itu udah punya pawang lho, tuh kamu sendiri liat kan barusan sampe dia ngga mau keganggu sama kebisingan disini."
__ADS_1
"Apa sih Mas Vito nih?" elak Eva saat dirinya ketahuan.
"Va kita ini punya mata dan hati, mau kami bilang apapun buat ngelak kita tetep bisa tau kalo kamu lagi bohong" Eva makin cemberut saat ia tidak bisa lagi berbohong tentang perasaannya.
"Udah lupain, besok di acara nikah abang kamu, kamu tetep bakal punya pasangan grooms mennya percaya deh, dan orang itu ngga kalah ganteng kok"
"iih abang ini" Eva mengerecutkan bibirnya karena niatnya benar-benar ketahuan.
"Lagian si Haidar atau kita semua juga sayang sama kamu Va, sayang ke ade. Kamu bahkan memiliki kami semua bukan hanya satu sebagai kakak mu. Percaya deh cewek-cewek lain pasti sangat iri sama kamu, karena punya 4 abang cowok yang semuanya CEO dan ganteng" sahut Rendra narsis, namun bukannya risih Eva malah tersenyum menggangguk mengakui hal itu.
"Nah gitu dong, kita semua sayang sama kamu.. hmm?" mendengar penuturan Vito dan Rendra, wajah Eva kembali cerah. Karena apa yang disampaikan oleh sahabat kakaknya itu adalah benar. Kalau bisa memiliki empat kenapa harus kekeuh memiliki satu pria tampan saja.
...****************...
episode-eposide terakhir..
🥺🥺
...----------------...
__ADS_1