Merpati Hitam

Merpati Hitam
Gagal Move on


__ADS_3

Tia mengejar Raka yang membawa Nayuwan ke parkiran, Nayuwan masih menunjukan sikap acuhnya dengan kejadian barusan.


"Bisa lepasin tangan aku Kak," pinta Nayuwan menatap pada genggaman Raka pada jari jemarinya.


"Sayang, aku minta aku khilaf, tolong maafin aku sakali ini." Nayuwan tersenyum lembut pada suaminya itu.


"Kak, aku cape, aku mau pulang baiknya kamu selesaikan dulu masalah kamu dengan wanita itu," ucap Nayuwan bersikap bijak. Namun Tia tiba-tiba datang sambil marah-marah pada Nayuwan.


"Halah ngga usah sok bijak Kamu, Saya tau kamu bersikap seperti ini supaya Mas Raka nganggap kamu perempuan paling sabar, cuuiihh dasar munafik!!" cerca Tia. Nayuwan yang sejak tadi sudah sangat bersabar akhirnya merasa terusik dengan makian Tia padanya,


"Teteh ini punya tatakrama ngga sih? Minimal punya rasa malu gitu," sahut Nayuwan mulai sarkas.


Di belakang pos skuriti Nia, Handi, dan Fajar nampak sedang mengintip kejadian, begitu Nayuwan mendapat cercaan dari Tia mereka pun turut merasa sangat kesal, terutama Nia ingin rasanya ia menampar Tia yang sudah kurang ajar pada Nayuwan, sedang istrinya bossnya itu masih berusaha melindungi harga dirinya dan kehormatan suaminya.


"Ih kalau aku yang di sana sudah ku jambak si jabir itu!" geram Nia


"Dasar bar-bar!" ujar Fajar menyahuti Nia,


"Suuuuuttt, udah diam aja, nonton aja dengan tenang" hardik Handi melerai dua sahabatnya itu.


Kembali pada Nayuwan,Tia dan Raka yang sedang bersitegang.


"Apa maksud mu menyebutku tak punya malu?" Tia makin di buat emosi.


"Kalau bukan tak punya adab dan tak punya malu, Teteh pasti ngga akan mau membuat keributan di tempat umum seperti ini."

__ADS_1


"Kau ....!!!" Tia menunjuk wajah Nayuwan dengan sangat marah,


"Tia udah Tia, jangan buat membuat keributan jadi makin besar." lerai Raka menarik tubuh Tia,


"Lepasin aku mas! biar aku tampar mulut perempuan itu seenaknya saja menyebutku perempuan tak punya adab dan tak punya malu" bentak Tia berusaha melepaskan rangkulan Raka yang melingkar di pinggangnya.


"Ck !" Nayuwan mendekati Tia yang sedang berusaha melepaskan rangkulan Raka yang berusaha menjauhkannya dari Nayuwan. Mendadak tubuh Tia terasa membeku setelah jarak dirinya dan Nayuwan hanya tinggal beberapa inci saja.


"Kak lepasin dia," Raka dengan terpaksa menuruti perintah Nayuwan meskipun ia sendiri cemas jika Tatiana tiba-tiba menyerang Nayuwan lalu terjadi perkelahian di sana.


Nayuwan kembali menyilangkan kedua tangannya dengan anggun, wajahnya terlihat datar dan dingin, tatapannya menatap lekat dengan tajam pada Tia yang terlihat berapi-api.


" Hhh!" Nayuwan mengulum bibirnya, menunduk dan menggelegkan kepalanya, perlahan ia sedikit mendelik pada Tia menghantarkan aura yang terasa cukuup mengerikan hingga membuat nyali Tia sedikit ciut dibuatnya. dengan perempuan macam teteh ini, sudah jelas salah


"Saya itu suka heran dengan peremuan macam Teteh ini, bukannya sadar dan minta maaf, malah mau bersikap manipulatif menjadikan diri teteh sebagai korban saya. Teh, bangun yuk, yang berperan menjadi istri sah itu masih saya lho Teh, kok Teteh yang nyolot, padahal wajarnya saya yang memaki Teteh habis-habisan, menjabak rambut Teteh, meneriaki Teteh dengan hinaan, makian, menampar atau mau saya laporkan Teteh dengan tuduhan tindakan tidak menyenang, perselingkuhan dan perzinahanan." rahang Tia mengeras, tangannya terkepal hingga terasa kebas. Nayuwan mulai jengah dengan perseteruan ini, iapun mengalihkan tatapannya pada suaminya yanjg terlihat mematung saja.


"Aku segera pulang" ucap Raka meraih tengkuk istrinya lalu mencium kening istrinya. Namun perempuan itu sama sekali tak menyahutinya, hanya diam menatap lekat pada suaminya yang berjalan menuju mobilnya lalu meninggalkannya dengan perasaan kacau.


*********


Beberapa bulan berlalu,


Tia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, sejak pagi ia merasa pusing dan mual bahkan sampai memuntahkan sarapannya. Satu tangannya memijat kepalanya yang terasa berat, sedang satunya lagi sibuk mengetik.


Tia : ["Mas, siang nanti bisa antar aku ke klinik?"]

__ADS_1


Raka :[" kamu sakit?"]


Tia : [ " Tau nih mas, kepalaku pusing banget, dari pagi mual, muntah-muntah terus"]


Raka : [" Ya udah mas pulang nanti siang"]


Tia : [ " Iya mas, aku tunggu"]


Tia menyimpan gawainya di nakas samping tempat tidur, beberapa saat kemudian dia kembali berlari ke toilet memuntah isi perutnya.


Sementara di sudut rumah sakit lain, Nayuwan tergolek lemah karena mencoba bunuh diri untuk kesekian kalinya. Nayuwan mengalami depresi setelah Raka tak hanya menjatuhkan talaq satu padanya tapi juga menjual semua kedainya lalu pergi kabur bersama Tia serta membawa mobil mereka.


Malang Nayuwan harus kembali dibuat kecewa ketika ia membicarakan masalah ini pada keluarga Raka, tak satupun keluarga Raka yang menanggapinya dengan baik, alih-alih merangkul Nayuwan mereka seolah tak peduli dan terkesan menyalahkan Nayuwan karena dianggap kurang sabar pada Raka. Tak ada satupun yang membelanya, mereka justru lebih berfokus pada pembagian harta goni gini, tak ada satupun dari keluarga Raka yang menanyakan bagaimana kabarnya, bagaimana perasaannya saat itu padahal Nayuwan benar-benar sedang membutuhkan dukungan sekecil apapun agar mentalnya tidak semakin hancur. Sikap keluarga Raka terhadap dirinya makin membuatnya terpuruk, dia diperlakukan dan seolah dibuang lebih hina dari kotoran yang dilempar begitu saja ke jalanan. Sudah jatuh tertimpa tangga Nayuwan semakin kecewa tatkala mendengar kabar Raka sudah menikahi Tia tanpa memberinya kejelasan status hukum pada dirinya padahal mereka menikah sah secara negara dan agama, hanya secarik kertas talaq itupun Raka berikan melalui kakaknya.


Beruntung saat kejadian itu Nayuwan sudah bekerja di sebuah perusahaan garment sebagai staff admin. Akibat dari depresi yang dialaminya, Nayuwan menjadi seorang yang gila kerja, kadang bisa menghabiskan 18jam bekerja hanya untuk mengalihkan pikirannya pada masalah rumahtangganya, ia seperti yang hilang arah, bekerja siang malam tanpa perduli kesehatan tubuhnya, semua ia lakukan hanya agar tidak terus menerus menyalahkan dirinya sendiri lalu menyakiti dirinya sendiri dan mencoba bunuh diri seperti saat ini.


Setelah menikah lagi dengan Tia, Raka membeli sebuah rumah di daerah tempat tinggal orang tua Tia, dan membuka usahanya di tempat itu. Sayangnya usahanya tidak berjalan lancar, tabungan yang ia bawa perlahan mulai terkuras habis, mobilpun sudah ia jual untuk modal usaha, bahkan ia sampai menjadi ojol untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.


Kehidupannya benar-benar berubah 180 derajat, kini serba sulit, segala kemudahan dan kenikmatan yang ia pernah rasakan saat masih bersama Nayuwan seakan dicabut kembali oleh Allah, ditambah perangai Tia yang semakin lama menjadi semakin possesif, penampilannya yang dulu selalu terlihat rapi, necis, dan wangi kini ia nampak lusuh, kumal, wajah kusam, rambut agak berantakan tak terawat.


Pernikahan yang baru berjalan beberapa bulanpun kerap diwarnai pertengkaran, entah itu karena masih menyangkut soal Nayuwan, entah karena masalah materi, atau hanya karena Tia meresa cemburu buta, nasi sudah menjadi bubur mau menyesal sudah tidak ada arti sekali. Nayuwan sudah tidak memberikannya kesempatan untuk kembali lagi. rasa bersalah yang terus menggelayuti hatinya nyatanya menjadi racun untuk rumah tangganya bersama Tia. Tia memang sudah berhasil merebut Raka dari Nayuwan, mengambil hartanya, dan menghancurkan rumahtangga mereka hingga hancur tak bersisa. Namun pada akhirnya Tia hanya memiliki tubuh Raka, sedang hati Raka tidak berpaling sedikitpun dari Nayuwan.


Flashback Off


*********

__ADS_1


sarangheo


********


__ADS_2