Merpati Hitam

Merpati Hitam
Julid


__ADS_3

Tubuh Nayuwan bergetar hebat begitu mendebgar kabar yang disampaikan Nadia, Gavin yang melihatnya segera menggenggam tangan Nayuwan agar Nayuwan bisa lebih tenang, segera mereka bergegas pulang menuju hotel.


Nayuwan menatap ke arah luar menatap kosong ke arah jalanan Seoul yang gemerlap dengan lampu serta lalulalang kesibukan orang-orang namun sudah bisa ia nikmati lagi keindahannya kembali melayang ke masalalunya, segalanya bercampur antara traumanya atau rasa iba yang menghinggapinya saat ini.


Gavin merangkul bahu Nayuwan, saat perempuan itu menoleh padanya, Gavin tersenyum menggangguk tipis seolah menyiratkan "tenanglah semua baik-baik saja," kali ini Nayuwan berhambur memeluk Gavin karena memang hanya itulah yang ia perlukan saat ini.


Pria itu sudah memerintahkan Satria untuk mencari pesawat pribadi yang bisa membawa mereka pulang malam ini juga. Dan bukan hal yang sulit bagi Satria untuk mendapatkan sebuah pesawat pribadi.


Di dalam pesawat, Nayuwan kembali menerawang ke langit malam yang membentang.


"Queen,.." suara lembut Gavin membuyarkan lamunan Nayuwan. Riak wajah perempuan dihadapannya nampak murung, manik matanya mengembun dan sembab saat menoleh pada Gavin. Nayuwan menghela nafasnya dalam-dalam.


"Ah.. Ya Pak Gavin,, Saya baik-baik aja kok, Nadia gimana?" Nayuwan mengalihkan tatapan serta arah pembicaraan mereka. Gavin menatapnya iba, lantas ikut menoleh ke arah Nadia yang sudah mulai tertidur di bahu Moya.


"Dia sepertinya sudah jauh lebih tenang" jawab Gavin kembali menoleh pada Nayuwan.


"Ah.. syukurlah,," ungkap Nayuwan lalu kembali tercenung, kepalanya serasa mau pecah, lagi rentetan kejadian di masalalu bersama Raka kembali terlintas jelas. Nayuwan merengut menundukan kepalanya, kini ia seakan perang bathin, untuk menjenguknya atau tidak. Gavin seolah tahu apa yang sedang Nayuwan pikirkan saat ini.


"Queen, kalo kamu mau ke sana,.. Izinkan aku ikut ke sana" ungkap Gavin hati-hati meminta agar Nayuwan tetap melibatnya dalam masalah ini. Nayuwan sebenarnya ingin menolak, tapi mengingat istri Raka masih sangat membencinya dan menganggap Nayuwan masih mengincar suaminya maka Nayuwanpun mengangguk pertanda ia mengizinkan Gavin untuk ikut dengannya melihat bagaimana kondisi Raka saat ini. Yang tanpa diketahui oleh Nayuwan dan Nadia sudah dipindahkan ke rumah sakit Healty care melalu prosedur rujukan dari rumah sakit sebelumnya dengan alasan peralatan di rumah sakit tersebut kurang memadai.

__ADS_1


"Maafkan saya pak. Saya malah jadi banyak merepotkan bapak" ungkap Nayuwa merasa tidak enak hati karena lagi-lagi di saat sulit Gavin selalu jadi orang pertama yang membantunya.


"Kamu masih sungkan pada calon suamimu? Aku hanya membantu sebisa yang aku mampu" ungkap Gavin seraya mengusap pucuk kepala Nayuwan dengan lembut. Netra Nayuwan kembali berkaca-kaca, air matanya menganak di sudut matanya, kembali dengan cekatan tangan Gavin segera menyekanya sebelum air mata itu jatuh dan membasahi pipi Nayuwan.


"Tidurlah, nanti kamu butuh banyak energi saat menjenguk mantan suami itu" lidah Nayuwan terasa kelu bingung harus menyahut dengan kalimat apa. Satu tangan Gavin menurunkan posisi kursi Nayuwan agar dirinya bisa berbaring nyaman, mungkin karena sudah lelah seharian berjalan-jalan dan belanja sehingga tidak butuh waktu lama supaya Nayuwan terlelap. Perlakuan hangat yang diperlihatkan Gavin ternyata membuat seorang wanita paruh baya menitikan air mata harunya, sambil menyeka air matanya yang luruh, ia mengucap syukur kepada Tuhan karena sekali sudah mengabulkan doa-doanya agar Nayuwan dipertemukan dengan seorang pria yang benar-benar tulus mencintainya. Reva menyentuh tangan Ibu Vina sambil tersenyum penuh arti, seolah menyiratkan "Nayuwan berhak bahagia, dan itu berkah doa ibu" ibu Vina pun menepuk-nepuk punggung tangan Reva seraya mengangguk.


Turun dari pesawat Nayuwan, Gavin, Gina, Satria, Nadia, Alea dan Moya segera bergegas menuju rumah sakit Healty care, sedang yang lain menuju rumah Nayuwan yang berada di kawasan Senopati, Nayuwan tidak mengirim mereka ke apartementnya karena alasan ruang kamar di sana hanya ada 1, tidak cukup menampung mereka semua.


Raut wajah Nayuwan terlihat makin risau begitu mobil mereka memasuki area rumah sakit. Gavin menggenggam tangan perempuan itu agar bisa lebih tenang, dan itu berhasil. Nadia dan Alea pun nampak sama-sama cemas, kecuali Moya yang masam sejak mendengar Nayuwan ingin ikut menjenguk, karena khawatir akhirnya iapun memutuskan untuk ikut meski sudah ada Gina dan Gavin, tapi mereka berdua tidak memahami psykis Nayuwan yang sebenernya jika bertemu dengan Raka, ia masih yakin jika trauma di masa lalu Nayuwan masih sering menghantui sahabatnya meski dari luar Nayuwan terlihat baik-baik saja.


Langkah Nayuwan melambai ketika sedikit lagi ia akan mengikuti Nadia dan Alea memasuki sebuah ruangan di mana Raka tengah di rawat. Bersyukur Raka segera di pindah ke Healty care jadi dia mendapat perawat kelas VIP yang seluruh biaya pengobatannya di tanggubg oleh Gavin. Sampai pihak rumah sakit harus berbohong jika biaya rumah sakit sudah di cover oleh perusahaan tempat Raka bekerja sekarang.


Jika kemarin, saat Nayuwan dengan berani menonjolkan sosok psychonya saat menyerahkan surat cerainya itu hanya bentuk balas dendan dari egonya mengembalikan harga dirinya yang dulu di cabik-cabik oleh pengkhianatan Raka dan Tia terhadapnya dan itu pun ia harus bertarung dulu dengan sisi traumanya terhadap Raka, yang entah kenapa jika berhadapan langsung dengan Raka gigi taring singa dan duri landak di tubuhnya seakan lenyap begitu saja.


"Quee.." sergah Gavin cemas saat menagkap tubuh perempuan yang kini resmi menjadi kekasihnya itu meski Nayuwan tak pernah mengiyakannya.


"Pak Gavin, hiks..hikks" luruh sudah pertahanan Nayuwan kali ini. Ia menangis dalam pelukan Gavin, Moya menghela nafas lega setidaknya kali ini Nayuwan benar-benar mendapat sandaran yang tepat saat ia menangis.


"Kita pulang aja yuk" ajak Gavin tak tega melihat keadaan Nayuwan yang terlihat terpuruk secara mental setelah Nayuwan sedikit terlihat sedikit tenang. Namun perempuan itu menggeleng, tatapannya nanar dan sembab, tergambar jelas dari raut wajahnya bahwa dirinya memaksakan diri demi sebuah harga diri. Nayuwan melap kasar wajahnya dengan tissue, menarik dan menghela nafas berkali-kali hingga akhirnya ia benar-benar terlihat lebih tegar.

__ADS_1


"Kita ke dalam, saya sudah baik-baik saja pak" ungkap Nayuwan percaya diri.


"Sure?" tanya Gavin agar lebih meyakinkan.


"Mm," perempuan itu menggangguk meyakinkan Gavin, jika dirinya sudah tidak seemosional tadi.


Tok Tok ..


pintu diketuk dan dibuka perlahan oleh Satria menyilahkan Gina, Moya, Alea, Nadia, masuk terlebih dahulu, semua orang yang berada diruangan tersebut saling pandang satu sama lain karena yang mereka kenali hanya Nadia dan Alea saja. Tia dan Dita melonjak berdiri begitu Nayuwan memasuki ruangan tersebut di ikuti seorang pria tampan yang tentu saja mereka sangat kenali. Gerak wajah mereka jelas mempertanyakan apa hubungan Nayuwan dan Gavin, dan mengapa Gavin ada bersamanya sekarang? Mereka larut dalam pemikiran dugaan prasangka mereka masing-masing yang tentu saja bukan pemikiran prasangka baik yang memenuhi otak mereka berdua.


********


sarangheo..


(*^3^)/~♡


(*^3^)/~♡


*********

__ADS_1


__ADS_2