Merpati Hitam

Merpati Hitam
Igau


__ADS_3

Nayuwan menatap dingin pada kepada seluruh penghuni ruangan rawat inap itu yang kontras menggambarkan rasa ketidaksukaan mereka akan keberadaan Nayuwan di ruangan tersebut.


"Bagaimana keadaan Kak Raka sekarang?" tanya Nayuwan tanpa mengubah ekspresinya.


"Seperti yang kamu lihat, Mas Raka masih terbaring lemah, tapi masa kritisnya sudah lewat." jelas Tia ketus.


"Baguslah, kamu dengarkan Nadia, ayahmu baik-baik saja sekarang, kamu tidak perlu khawatir rumah sakit ini adalah rumah sakit dengan fasilitas yang paling bagus dan penangangannya juga cepat tanggap terutama terhadap pasien gawat darurat dan kelas VIP" ujar Nayuwan seraya menyentuh bahu putrinya sulung agar lebih tenang. Gavin tercenung dengan perubahan sikap Nayuwan yang berubah 180 derajat padahal beberapa saat lalu dirinya seperti seseorang yang tidak punya kekuatan sama sekali.


"Kamu ngga akan memperkenalkan rombongan yang datang bersama mu teh?" ucap Dita tersenyum julid.


"Ups, hampir teteh lupa ngenalin mereka ke kalian semua maaf ya kita ke sini ngga bawa buah tangan, harap maklum, soalnya kemarin syok banget pas dapet kabar Kak Raka kecelakaan. Bukan apa-apa kita semua masih liburan di Korea, sampai-sampai tunagan saya bela-belain harus nyari pesawat pribadi malem-malem biar Nadia bisa cepet ngeliat keadaan ayahnya." ujar Nayuwan bermanja merangkul lengan Gavin.


"Kenalin,, beliau ini Gavin Harraz Widjaya, tunangan saya. Tuan Gavin kenalkan ini adalah Dita adik bungsu dari MANTAN SUAMI ku, ini Arman adiknya ke dua, ini Tia istri kesayangan MANTAN SUAMI ku, dan ini mama Hera mama MANTAN SUAMI ku" senyum Nayuwan tersungging di sudut bibirnya tatkala memperkenalkan Gavin sebagai tunangannya kepada keluarga mantan suaminya.


Gavin lalu menyalami mereka satu persatu dengan menonjolkan auranya yang berwibawa, tujuannya hanya satu,


" Maaf jika saya memperkenalkan diri di saat yang kurang tepat " ungkap Gavin tersenyum mengintimidasi Dita dan Tia. Kali ini bola mata mata Tia dan Gita seakan ingin melonjak keluar dari tempatnya. Seringai Moya tersungging puas begitu melihat kedua perempuan ular itu melongo cengo begitu mendengar pengakuan Gavin.


"Yakin nih tunangan,, jangan-jangan simpenan" timpal Tia memprovokasi. Bola mata Satria, Moya, dan Gina membeliak begitu mendengar penutura perempuan yang lidahnya sama julid.

__ADS_1


"Aku? Simpenan? hh" Nayuwan melipatkan tangan di atas perut seringainya makin menyungging saat mendengar nyinyiran Tia padahal ini adalah rumah sakit.


"Maaf ya,, sayangnya saya bukan anda yang suka merebut milik orang lain, lagi pula untuk apa saya merebut milik orang lain sedang saya sudah memiliki segalanya. Oia apa anda tidak benar-benar mencari tau kenapa bisa suami anda di rawat di rumah sakit ini?" Nayuwan memainkan alisnya.


"Ya karena Mas Raka mendapat konpensasi cover dari perusahaan tempat dia bekerja." ujar Tia menaikan suaranya. Nayuwan menunduk, kemudian menggelengkan kepalanya dan jangan lupakan seringai menyebalkannya.


"Hehhh,, Kamu bodoh atau memang buta?" Nayuwan mengolok-ngolok Tia yang menganggap bahwa Raka mendapat perlakuan khusus dari perusahaannya. Padahal perusahaan Raka jikapun mengcover pengobatan Raka standar paling hanya sampai di kelas 1 saja. Tia nampak terdiam, mencerna apa yang dimaksud Nayuwan.


"Jika sudah faham tolong tahu diri !" tukas Nayuwan menekan kalimatnya, tatapan dan riak wajahnyapun nampak berubah menjadi mode iblis. Hera segera melerai pertikaian menantu dan mantan menantunya tersebut.


"Ekhm,, Tia ini di rumah sakit, mereka ke sini untuk menjenguk suamimu jangan buat keributan" Tia mengeraskan rahangnya.


"Nak Gavin, tolong dimaafkan ya, tolong dimaklumi," ungkap Hera seolah sungkan pada Gavin.


"Syukurlah kalo nak Gavin sudah mengerti situasinya, Hmmmm... Tapi kalian bertunangan kok mama ngga dikasih tau sayang, mentang-mentang mama sudah bukan mertuamu lagi," ujar Hera bersikap sama saja julidnya dengan anak dan menantunya sembari menyentuh lengan Nayuwan yang masih bersedekap. Nayuwan menyipitkan matanya melirik pada lengannya yang di sentuh oleh Hera tanpa menurunkan tangannya yang masih dilipatnya. Hera yang merasa terintimidasi segara menyingkirkan tangannya dari lengan Nayuwan.


" Duhh, maaf mah, Yuwan ngga sempet, soalnya dadakan banget, tiba-tiba aja nih Tuan Gavin ngajak serius padahal biasa ngajak perang mulu kalo ketemu, tapi nanti kalo pas nikah pasti Yuwan kasih undangan resminya kok" sahut Nayuwan sok ramah, sambil mencubit gemas perut Gavin menjadi sasaran empuk kekesalannya. Gavin hanya bisa meringis tetap berusaha senyumnya. Gina dan Moya sempat-sempatnya terkekeh saat melihat Nayuwan mencubit Gavin hingga meringis begitu.


"Bener ya, kalian nikah mama harus di undang pokoknya" sahut Hera masih memaksakan wajah ramahnya.

__ADS_1


"Iya Tan, tenang aja, kalo perlu nanti Gavin sediain jemputan khusus buat Tante dan keluarga supaya bisa menjadi saksi ikrar suci kami " ujar Gavin menoleh tersenyum hangat pada Nayuwan, moment ini ia manfaatkan untuk menjebak Nayuwan agar segera mau menikah dengannya. Nayuwan mendelik tajam pada Gavin karena mencoba menjebaknya. Gavin pun hanya tersenyum lantas menyentuh pucuk kepala Nayuan yang berhijab dengan gemas.


Alea dan Nadia saling melempar pandangan pada Moya hampir bersamaan sembari menyunggingkan senyum mereka yang bisa diartikan bahwa sebentar lagi dia akan kalah taruhan.


"Yuwan.." seketika ruangan tersebut menjadi hening tatkala samar terdengar Raka memanggil nama Nayuwan dengan suara parau yang lemah. Tia berhambur mendekati ranjang Raka begitu menyadari jika suaminya telah siuman meski diapun harus kecewa karena nama yang di sebut suaminya bukanlah dirinya, melainkan Nayuwan, mantan istrinya.


Manik mata Nayuwan bergetar, darahnya berdesir hingga membuat bulu roma seketika meremang, tubuhnya mendadak terasa dingin sampai telapak tangannya berkeringat dingin. Gavin segera merangkul bahu Nayuwan saat melihat tubuh Nayuwan yang nampak menggigil. Nayuwan menoleh pada Gavin yang berusaha menenangkan kondisinya.


"Ngga apa-apa ada aku" bisik Gavin.


Kembali Raka memanggil Nayuwan dengan suara lirih, dengan dipapah oleh Gavin, Nayuwan pun mendekati bibir ranjang. Nampak iba melihat keadaan mantan suaminya yang tergolek lemah dengan selang menancap di tubuh dan ditanganya, kaki kanannya memakai gips karena tulangnya patah hingga harua di operasi. Nayuwan ragu untuk lebih mendekati ranjang Raka. Kembali Gavin meyakinkan Nayuwan dengan mengusap perlahan lengan perempuan itu.


"Aku di sini Kak," bisik Nayuwan lirih lembut di telinga Raka. Tepat di saat Raka membuka matanya seorang dokter jaga datang untuk untuk memeriksa keadaan Raka yang baru saja siuman.


******


sarang heo...


****

__ADS_1


kamsahamnida(○´3`)ノ


*******


__ADS_2