
Nayuwan nampak begitu gusar sekaligus kesal, ia menatap kosong dengan raut wajah datar, ke arah luar mobil yang tengah melaju dengan kecepatan sedang.
"Teh, teteh kenal sama Pak Gavin?" tanya Clara tiba-tiba penasaran, sekaligus membuyarkan pikiran Nayuwan yang sedang kemana-mana.
"Iya, teteh pernah ketemu, tahun lalu." jelasnya singkat. Namun jawaban itu tak membuat Clara puas.
"Teteh pacaran sama dia?" Nayuwan langsung memcebis dan memutar matanya dengan jengah.
"Ciih ! Males amat pacaran sama orang sengak macam itu" meski Nayuwan menunjukan ekspresi yang datar, namun tergurt jelas ketidaksukaan pada Gavin. Clara yang heran dengan ekspresi kakaknya itu malah makin ingin menggodanya.
"Jangan gitu Teh Jangan terlalu benci, entar malah bucin lho. Terus semisal kalau Allah kasih dia buat jodoh Teteh, Teteh bisa apa? Mau Teteh kabur ke ujung dunia juga tetep bakal bersatukan?" Goda Clara menyeringai geli. Nayuwan makin menajamkan tatapan sinisnya seakan ingin memakan adiknya itu.
"Ngga, ngga! Bisa-bisa makan hati kalau sampai berjodoh sama dia. Tolong Ya Allah, kalau mau kasih jodoh ku, please jangan dia" pinta Nayuwan sambil menengadahkan tangannya seperti sedang berdoa. Clara makin terkekeh melihat tingkah kakaknya, sampai-sampai pak Nanang pun ikut tersenyum-senyum melihat Nayuwan yang begitu tak ingin berjodoh dengan Gavin.
"Cukup dia jadi partner bisnis aja, jangan sampai jadi partner hidup. bisa mati berdiri !" kesal Nayuwan mengerucutkan bibirnya, tangannya menyilang di dadanya, di sertai tatapan mendelik tajam, membuat siapapun bergidik, namun di mata Clara dan Pak Nanang malah makin terlihat menggemaskan.
"KLAP ! KLAP ! KLAP !" Nayuwan, Clara, dan Pak Nanang menutup pintu mobil hampir bersamaan. Nayuwan memperhatikan sekelilingnya. Rumah minimalis yang terlihat begitu asri dengan banyak tanaman yang tertata rapi.
"Assalamualaikum" Nayuwan menyimpan tasnya di sofa ruang tamu begitu saja.
__ADS_1
"Walaikumsa..lam" jawab seorang wanita paruh baya itu sambil membalikan badannya, namun suaranya tercekat ketika melihat sosok Nayuwan sudah ada di depannya, matanya nanar berkaca-kaca. Tangannya langsung meraih pipih Nayuwan, menciumi wajahnya dengan penuh keharuan, wanita itu menangis sejadi-jadinya menumpahkan segala rasa yang dia pendam selama beberapa tahun ini. Alea, Nadia, Clara, pak Nanang, dan teh Narti ikut menangis melihat adegan pertemuan ibu dan anak itu. Setelah puas Nayuwanpun memberi pelukan pada Alea dan Nadia.
Memeluk manja kedua putrinya itu.
"Bunda pasti cape kan, Nadia bikinin teh manis mau?"Nadia melepaskan pelukannya meskipun masih enggan melepasnya. Nayuwan hanya tersenyum dan mengangguk. Sedang Alea sibuk membuka paperbag buah tangan yang di bawa Nayuwan dari Hongkong. Sang Ibu yang melihat putri sulung agak lelah segara menyuruhnya pergi ke kamar untuk beristirahat sebelum makan malam siap. Nayuwan yang memang merasa penatpun beranjak dari sofa menuju lantai atas. Nayuwan membuka perlahan kamar barunya itu. Melihat sekeliling dengan puas. Kamar yang cukup luas dekorasi minimalis dengan dominasi warna kayu, abu dan hitam. Tempat tidur ukuran King size menambah kuat kesan aeatetik kamar tersebut. Nayuwan tersenyum karena hasil kerja kerasnya ia mampu memberikan hunian yang nyaman untuk ibunya. kamar ini hanya bonus untuknya. Al hamdulillah.
2 minggu sudah berlalu.
"Tok tok tok.. Neng punten, dipiwarang turun ku ibu, tuang heula saurna (Neng maaf, di suruh turun sama ibu, makan dulu katanya)" Bi Narti dengan takjim. Nayuwan mengerjapkan matanya, menggaruk kepalanya yang tidak gatal "Hoaaaaam.." menguap malas.
"Iya bi, kela neng ibak heula kitu (Iya bi, bentar neng mandi dulu gitu" Bi Narti langsung turun begitu mendengar sautan dari sang empu. Begitu turun Nayuwan langsung menyambar jus jeruk yang sudah tersedia di meja makan. Dia menuju taman depan sambil membawa gelas jus dan beberapa butir kacang almond dalam genggamannya. Nampak seorang wanita tengah sibuk dengan kegiatan berkebunnya.
"Atuh aya mah pasti riweuh neng..(kalau udah ada pasti sibuk neng" Bu Vina menghentikan sejenak kegiatannya menatap heran putri sulungnya, sedang Nayuwan acuh meminum jusnya.
"Bi, punten atuh pangnyandakeun laptop di kamar neng(Bi, maaf tolong ambilin laptop di kamar neng" pinta Nayuwan yang enggan beranjak dari tempatnya bersila. Tak berapa lama Bi Narti datang membawakan laptop kehadapan Nayuwan. "Nuhun bi (Makasih bi)" Bi Narti tersenyum mengangguk ramah kemudian kembali pada pekerjaannya tadi. Nayuwan langsung sibuk dengan memeriksa beberapa file yang masuk dalam emailnya.
"Bu, ke neng ka Karawang, nganterkeun surat akte cerai. (Bu, Nanti neng ka Karawang, nganterin surat akta cerai)" Bu Vina mendengus kasar mendengar ucapan Nayuwan. Bu Vina sebenarnya ingin melarangnya, tapi dia juga tidak bisa membiarkan anaknya itu terus dibayangi masa lalu mantan suami anaknya itu. Masih terekam jelas sehancur apa Nayuwan kala itu. "Kumaha neng we( terserah neng aja)" singkat dan menggantung. Bukan Nayuwan tidak faham tapi dia harus menyelesaikan semuanya tanpa terkecuali. Terlebih dia juga tetap harus meminta izin untuk Nadia tinggal bersamanya.
__ADS_1
"Neng teu nanaon bu, neng moal siga baheula, ibu percaya kan ka neng?(Neng ngga apa-apa bu, neng ngga akam seperti dulu, ibu percaya kan ke neng)" Nayuwan menatap ibunya dalam-dalam sembari tersenyum. Bu Vina merucutkan bibirnya, membuang muka dan menghela nafas dalam.
"Klap" Clara menutup pintu mobilnya berbarengan dengan suaminya. "NENEK !" teriak Ayden dengan suara cemprengnya berhambur memeluk bu Vina.
"Eh cucu nenek baru datang, sini peluk nenek dulu" Bu Vina merentang tanganya bersiap menyambut Aydan dalam pelukannya.
"Bunda ngga di peluk nih?" Nayuwan marajuk pada Ayden yang seperti tidak melihat keberadaannya. Aydan langsung beralih pada Nayuwan.
"Di peluk dong kan Ayden kan kangen bunda juga" Ayden sambil bergelayut koala pada Nayuwan. Ayden begitu di manja, wajar karena dia masih satu-satunya cucu laki-laki di keluarga Nayuwan.
"hmmmm, Yang berkas akta teteh udah turun kan?" Nayuwan menurunkan Ayden supaya duduk dilahunannya. Clara melirik sekilasa sebelum meminum jus yang ada di samping kakaknya.
"ckk yeeeh, ambil di kulkas napa tadi Bi Narti bikin karena tahu jagoan Bunda mau dateng" cebik Nayuwan namun tangannya iseng menggelitik Ayden. Ayden yang kegelian tertawa terbahak-bahak sampai berurai air mata. "Ampun Bunda..hahahaha ampun eheeeheeee" gelak Ayden. Bukannya berhenti Nayuwam malah mencium gemas leher belakang Ayden, sampai Ayden merosot dari pangkuan Nayuwan demi menghindari ciuman yang menggrilia.
"Yah, maaf yah, berkas anu coklat dina tas ibu(Yah, maaf yah, Berkas yang coklat di dalam tas ibu)" pinta Clara pada suaminya. Faisal memberikan amplop coklat tersebut langsung pada Nayuwan. Nayuwan segera memeriksa berkas tersebut. semuanya sudah lengkap. Kini dia benar-benar sudah Sah bercerai secara negara dan agama dengan Raka. Getir.
*********
bantu up, like dan koment yang membangunnya ya😉😉😉
__ADS_1
sarangheo 🥰🥰
*******