
"Kau yakin tidak menemukan Yuwan?" sekali lagi Moya bertanya pada Yusuf untuk meyakinkan dirinya sendiri. Yusuf menggelengkan kepalanya.
"Jadi benar-benar tidak ada cara lain .. hiks.."Moya mulai mengisak.
"Kita hanya bisa menunggu"
********************
Nayuwan mengedarkan kesekelilingnya semua berwarna putih termasuk pakainnya pun berwarna putih. Ia menyadari jika dirinya bukan di dunia mana pun yang ia kenali, tiba-tiba sebuah cahaya namun tidak terlalu menyilaukan mata mendekatinya.
*Assalamualaikum anak cucu Adam" sapa cahaya itu, perlahan membentuk dirinya menjadi wujud seorang anak laki-laki tampan.
"Waalaikum salam " jawab Nayuwan mengernyitkan dahinya.
"Kau tau kenapa sekarang kau ada di sini?"
"Mungkin energi terkuras habis saat di Napak Salapan Caringin." sahut Nayuwan asal menebak.
"Benar. Kenapa kau ikut campur urusan itu?"
"Mereka ingin terlepas dari perjanjian itu dan mereka ingin bertobat jadi aku bantu "
"Jika kau ingin membantu kenapa tidak semua orang padahal selama ini kau tidak pernah ikut campur dalam urusan mereka."
"Lalu aku harus diam saja, padahal mereka sebenarnya hanya terpaksa melanjutkan perjanjian itu hanya karena tidak tau cara untuk membatalkannya" Nayuwan memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Tapi lihat akibatnya sekarang?" ujar anak itu menatap tajam ketus pada Nayuwan.
__ADS_1
"Tidak masalah, setidak anugrah yang aku miliki aku sudah menggunakannya dengan benar"
"Apa kau tidak memikirkan keluarga mu jika tiba-tiba mereka harus kehilanganmu hanya karena kau bersikukuh menolong orang lain."
"Setidaknya mereka tau aku sudah melakukan hal yang benar"
"Baiklah, aku pergi kalo begitu. Hmmm apa kau ingin dijemput seseorang?"
"Jika boleh aku ingin di jemput Tuan Gavin, boleh?" ucap Nayuwan tersenyum menggoda sosok anak itu.
"Hahh.. Sudah tidak tertolong, baiklah baiklah aku mengerti. Tunggu lah di sini dulu." ucap sosok itu lalu menghilang meninggalkan Nayuwan yang mengembangkan senyum lebar padanya.
Hari ke tujuh di kamar VVIP Rumah Sakit Healtycare, terdengar suara alat pemantau detak jantung yang terhubung ke tubuh Nayuwan yang masih belum menunjukan tanda-tanda akan siuman meski dokter sudah menyataka bahwa Nayuwan sudah melewati masa kritisnya tiga hari yang lalu. Gavin mendekati ranjang dimana Nayuwan terbaring dengan selang menancam dan menempel pada tubuhnya. Perlahan Gavin menepuk punggung Vina yang tertidur lalu meminta agar Vina beristirahat di tempat tidur yang sudah di sediakan pihak Rumah Sakit dan bergantian menjaga Nayuwan kalau-kalau Nayuwan tiba-tiba sadar. Meski enggan Vina beranjak dari kursinya menuju tempat tidur yang di sana sudah ada Nadia dan Alea. Sedang Gina terpejam sembari bersandar pada Satria yang bersedekap melihat ke arah Gavin yang nampak frustasi dengan keadaan Nayuwan.
Gavin menyentuh puncak kepala Nayuwan lalu mencium kening Nayuwan, air matanya mengalir begitu saja tanpa mampu ia bendung lagi. Dalam keheningan itu ia teringat kembali dengan kenangan Freya yang meninggal karena kecelakaan belasan tahun lalu. Gavin lalu meraih tangan Nayuwan yang terdapat selang infus. Ia menggenggamnya lalu menciumnya dengan hati-hati.
Tiba-tiba Gavin terkesiap karena seberkas cahaya yang mengusik kelopak matanya. Perlahan Gavin membuka matanya mengerjap-ngerjap untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke netranya. Ia menoleh dari kanan ke kiri lalu berputar 180° seraya mengedarkan netranya memperhatikan alam sekitarnya. Gavin seakan merasa dejavu ketika ia memasuki alam Napak Salapan Caringin tempo hari namum bedanya tempat itu berkilauan cahaya seolah bertabur berlian, suasana taman yang hijau dengan kupu-kupu saling mengejar, kelinc, marmot, hamster yang sibuk mengunyah makanannya, lalu ia melihat seekor kucing dengan tampang judes menatap ke arahnya. Lalu ia pun yang melihat kolam namun seperti aquarium karena Gavin bisa air di kolam itu melebihi tinggi kolam itu sendiri, sangat indah karena ditepiannya terdapat juga air terjun yang mengalir gemericik.
Gavin terus berjalan menyusuri tepian kolam tersebut hingga langkahnya terhenti saat ia melihat bahu seorang wanita yang sedang duduk di sebuah bangku di bawah pohon cherry blossom yang sedang bermekaran sambil membaca sebuah buku. Iapun teringat suasana saat ia menyusul Nayuwan ke Korea beberapa bulan yang lalu. Segera ia berlari menghampiri wanita itu memastikan jika ia adalah Nayuwan. Manik matanya mulai berkaca-kaca saat mendapati wanita yang tengah duduk itu ternyata benar-benar Nayuwan yang menoleh padanya.
"Queen... " Gavin berhambur memeluk Nayuwan sesaat setelah Nayuwan berdiri menghadapnya.
"Queen.. aku sangat merindukanmu Hikss" ucap Gavin membenamkan kepalanya pada bahu Nayuwan. Tangan Nayuwan lalu menepuk halus punggung Gavin yang menangis sesenggukan sembari memeluknya dengan penuh kerinduan.
"Salah sendiri kenapa datangnya baru sekarang," jawab Nayuwan datar.
"Aku bukan bukan manusia pilihan seperti mu Queen" ujar Gavin masih menangis terisak dibahu Nayuwan.
__ADS_1
"Kata siapa?"
"Kalo aku memiliki kelebihan seperti mu aku pasti akan mencari mu meski harus ke tempat yang lebih menyeramkan daripada Napak Salapan."
"Jadi.."
"Huaaaa aaaa hikss.. Aku rindu Queen, aku mohon ayo kita pulang, aku janji akan membuatkanmu tempat yang lebih indah dari tempat ini, aku akan berusaha untuk menciptakan surga keluarga kita." Gavin makin histeris.
"Mana cincinnya?" tanya Nayuwan lalu Gavin sedikit menjauhkan tubuhnya sembari memegangi lengan Nayuwan.
"Cincin?" Gavin nampak berpikir sejenak lalu meraba saku celana kemudian mengambil dompetnya. Segera ia mengambil sebuah cincin dari sana lantas memberikannya pada Nayuwan. Cincin giok berwarna putih yang pernah disematkan oleh Nayuwan saat di Korea, lalu Nayuwan menyuruhnya untuk melepaskan cincin itu sementara sampai mereka benar-benar sudah menikah.
"Iya,, Cincin ini bukan milik kita, ayo kita kembalikan" ajak Nayuwan sembari meraih tangan Gavin, lalu menggenggam jari jemari Gavin di saat yang bersamaan cincin itu berubah menjadi sosok sepasang pria dan wanita dengan berpakaian serba putih khas orang Korea jaman kerajaan. Kedua sosok itu lantas memberi penghormatan pada Nayuwan dan Gavin seolah berterimakasih kepada mereka berdua, meski Gavin masih bingung dengan situasinya lalu iapun sedikit membungkukan tubuh sebagai tanda hormat. Kedua orang itu lalu berjalan sambil bergandeng tangan dengan senyum sumringah terpancar kebahagiaan dari mereka kemudian menghilang dalam berkas cahaya.
Gavin nampak mengerutkan dahinya, ia merasakan sesuatu yang hangat menyentuh kepalanya. Netranya perlahan terbuka menyesuaikan cahaya yang masuk ke manik matanya. Perlahan ia melihat Nayuwan yang sudah terjaga membelai rambutnya yang tebal seraya mengulas senyum tipis padanya.
"Queen..hikss akhir kamu bangun...hikss" Gabin kembali memeluk tubuh Nayuwan yang masih dipasangi bermacam kabel di tubunya, Gavin mengisak cukup hingga membangunkan semua orang.
"Tuan, aku masih.."pekik Nayuwan karena beberapa jarum menusuk tubuhnya. Gavinpun tersadar dan segera melepaskan pelukannya. Kemudian ia menekan tombol emergency untuk memanggil para dokter agar bisa memeriksa keadaan Nayuwan.
Vina dan Clara nampak saling berpelukan sambil menangis begitupun Alea dan Nadia yang terharu saat melihat ibu mereka sudah kembali siuman. Selang beberapa menit beberapa dokter datang bersama beberapa perawat, Gavinpun mundur beberapa langkah saat seorang perawat memintanya sedikit menjauh agar para dokter bisa memeriksa keadaan Nayuwan. Ibu Vina lantas meraih tangan pria itu lalu mengangguk seolah mengatakan jika semua sudah baik-baik saja.
***********
happyending ngga nih😅😅
*********
__ADS_1