Merpati Hitam

Merpati Hitam
Cewek Judes


__ADS_3

"Tumben jalan sendiri?" Haidar membuka percakapan saat bertemu Ardilla di pusat perbelanjaan daerah Bandung, Ardilla sedikit terkesiap saat menoleh Haidar sudah di belakang samping pipinya.


Ardilla melengos mengelus da**nya seolah tak ingin memperdulikan Haidar yang ia ketahui adalah playboy cap karung.


"Heii" Haidar meraih lengan Ardilla yang melengos begitu saja tanpa memberinya jawaban apapun selain wajah judes.


"Apa sih?" ujar Dilla seraya mengepiskan tangan Haidar dari lengannya dengan tatapan kesal.


"Lagian gue nyapa lo main ngeloyor aja, ngga sopan tau!" oceh Haidar mendumel tak lupa dengan bumbu bibirnya mengerucut seolah merajuk pada Ardilla yang sedang berbelanja stok keperluan toko kuenya.


"Hehh!! " Ardilla memutar bola matanya malas melihat tingkah Haidar yang sudah bisa diartikan pria flamboyan itu kemungkinan tengah mendekatinya lalu ia kembali berlalu meninggalkan Haidar sembari mendorong trolynya.


"Hei !" hardik Haidar menyusul Ardilla yang kembali sibuk memilah bahan kue.


"Pck !! Apa sih? Hai hei hai hei !! Nama ku Ardilla pak, bukan Hei !" ketus Ardilla.


"Iya iya maaf, kamu belanja bahan kue? memang kamu bisa buat kue?" tanya Haidar sembari memanjangkan lehernya melihat-lihat isi troly Ardilla.


"Bisalah, emangnya aku si Moya atau si Yuwan yang ngga akrab sama oven"


"Masa sih?" goda Haidar. Dilla hanya melirik sebentar dengan wajah cemberut pada Haidar yang berusaha akrab dengannya.


"Ya terserah kalo kamu ngga percaya sama aku mah ngga ada maksa juga" melihat ekspresi Ardilla nampak terganggu olehnya malah membuat Haidar mengulas senyum dibibirnya, entahlah tapi ia merasa jika sikap judes dan ketusnya Ardilla malah membuatnya makin penasaran tertarik untuk mendekatinya. Karena biasanya tanpa Haidar dekatipun para wanita itu mendekatinya sendiri tanpa perlu Haidar bersusah payah mengulur waktu seperti sekarang.


" tit ... tit. tit.. Total semuanya jadi Rp 7.890.850,- kak, "ujar seorang kasir saat Ardilla mencari-cari kartu debitnya.


"Pakai ini aja" tiba-tiba Haidar menyodorkan kartu miliknya pada Kasir


"mau tambah sirup ini kak, kami sedang ada promo beli 2 free 1" sahut si Kasir saat akan mengambil kartu milik Haidar.


"Tunggu mbak pakai kartu ini aja" serobot Ardilla sesaat setelah kartunya ditemukan. Sang kasir yang di sodori dua kartu debit melihat dengan bingung ke arah Haidar dan Ardilla secara bergantian.


"Udah yang ini aja mbak" Haidar sedikit memaksa.


"Mbak yang ini aja, saya masih sanggup kok buat bayar sendiri semua belanjaan saya" ketus Dilla dengan nada menyolot, "hahhh orang-orang kok bisa sih berantem sama pacar pake ngadu isi ATm" mungkin itu yang tengah dipikirkan si Kasir. Dengan perasaan terintimidasi akhirnya si kasir memilih mengambil kartu milik Dilla.


"Maaf mas saya ambil punya pacarnya aja, nantikan si masnya bisa transfer ke rekening mbaknya" seloroh kasir itu ngasal memberi saran.

__ADS_1


"Hih! Siapa juga yang pac hmmpppt.."Haidar buru-buru membekap mulut Dilla yang mulai mendumel tentang dirinya.


"Iya mbak ide bagus itu, makasih ya mbak sarannya. Mbak nanti saya minta tolong beberapa masnya bantu saya bawa barang-barang ini ke alamat ini ya" ujar Haidar sembari menyerahkan kartu nama milik Ardilla yang bertuliskan alamat toko kue milik Ardilla. Tangan besar Haidar membekap mulut Dilla yang melotot menatapnya sembari meronta-ronta agar Haidar melepaskan bekapan juga ranngkulannya.


"Baik mas," sahut sang kasir tersenyum ramah seraya menyerahkan kartu milik Dilla pada Haidar.


"Kamu ini gil...."mulut Dilla di bekap oleh Haidar yang barusan sempat terlepas karena Dilla menggigitnya, lantas Haidarpun menyeret Ardilla seraya berusaha mengulas senyum meski tetap raut wajahnya terlihat sangat dipaksakan pada orang-orang yang melihatnya. Ia bergegas segera menjauhi meninggalkan kasir dan orang-orang yang memperhatikan keributan yang mereka ciptakan. Tapi anehnya beberapa pengunjung malah melihat mereka dengan tatapan seakan mereka adalah pasangan yang terlihat uwu menggemaskan.


"Iihh apa-apaan sih lu !?" ujar Dilla mencak-mencak setelah berhasil mendorong tubuh Haidar sekuat tenaga hingga pria itu mundur beberapa langkah sembari mengaduh kesakitan memegangi sepatunya yang ternyata juga diinjak dengan keras oleh Ardilla sebelum mendorong tubuh Haidar.


"Lu jadi cewek bar-bar amat sih," teriak Haidar sembari masih sedikit melompat-lompat memegangi kakinya yang masih terasa berdenyut kesakitan.


"Lagian lu, ngapain juga ngabekep gue? Jangan-jangan lu mau nyulik gue, gara-gara si Yuwan nyuruh lu "puasa" selama dua bulan?" omel Ardilla masih tidak terima dengan perlakuan kasar Haidar padanya barusan.


"Pck, sotoy lu! Lagian lu juga gue ajak kenalan baik-baik malah jutekin gue, kan gue jadi makin penasaran sama lu!" ujar Haidar sembari duduk memijat kakinya yang masih terasa ngilu di kursi yang tersedia di koridor mall tersebut. Sedang Ardilla berdiri di samping kursi Haidar dengan tangangnya bersedekap plus wajah yang ditekut bete sembari membelakangi Haidar. Namun ekor matanya tetap sesekali memperhatikan Haidar yang terlihat seperti masih kesakitan karena ulahnya tadi yang menginjak sepatu Haidar dengan Hak sepatunya.


Risih sekaligus merasa bersalah, seraya menghentakan kakinya Dilla lantas menuju apotek yang tidak jauh daru tempat mereka berdiam. Beberapa menit kemudian dia kembali dengan membawa bungkusan berisi obat memar dan nyeri, kasa steril, plester, juga al kolohol.


"Nih, obatin kaki lu!" sodor Dilla ketus sembari memalingkan wajahnya ke arah lain. Melihat hal itu entah kenapa hati Haidar seperti ada yang menggelitik hingga tanpa sadar bibirnya mengulas senyum tipis, tingkah Ardillah yang terlihat jutek, judes dan jual mahal ini malah terlihat begitu manis dan menggemas bagi Haidar.


Wajah Ardilla nampak begitu serius saat mengobati kaki Haidar dengan begitu telaten. Tanpa sepengatahuan Dilla diam-diam Haidar mengambil beberapa foto dirinya. Nampak begitu teduh saat Ardilla tengah menunduk seperti itu, "Cantik" gumam Haidar.


"Hah? Apa?" ujar Dilla sembari mendongak pada Haidar yang tengah menatapnya lekat-lekat.


"Ngga apa-apa, gue bilang makasih. Udah jutek, budeg lagi"


"Iish nyebelin deh, yang tulus kek kalo mau bilang makasih " ujar Dilla mendesis mengerucutkan bibirnya seraya menghempaskan kaki Haidar dari tumpuan lututnya.


"Aw, aw.. Ikhlas ngga sih lu ngobatin guenya?" ucap Haidar sembari memegangi kakinya yang kembali berdenyut nyeri. Ardilla menatapnya sebal sembari memutar bola matanya.


"Lu bisa jalan ngga?"


"Kapan?"


"Ya sekarang?"


"Gue harus balik ke kantor, paling ntar malem, bisa kayanya" Mendengar jawaban Haidar raut wajah Dilla mengernyih julid

__ADS_1


"Maksud gue lu bisa jalan ngga sampe ke parkiran, gue mau balik ke toko"


"Owh kirain gue lu mau ngajak jalan gue" sahut Haidar tanpa rasa malu.


"Muke lu kaya tumpeng gue ngajakin lu kencan" pekik Dilla kesal.


"Bisa, tapi gue belum tentu bisa bawa mobil"ujar Haidar dengan wajah putus asa. Ardilla membuang nafasnya lantas meraih tangan Haidar lalu mengalungkannya ke lehernya.


"Ya udah gue dropin lu sampe ke kantor, nanti lu suruh orang buat ambil mobil lu" Haidar menggangguk seolah sedang mendengar nasehat dari mamanya.


"Klap" Ardilla menutup pintu mobilnya setelah membantu Haidar keluar dari mobilnya lantas kembali mengalungkan lengan Haidar ke lehernya menopang tubuh Haidar.


"Cepet suruh orang buat jemput lu kemari" seru Ardilla mendongak pada Haid0ar.


"Kalo mau nolong tuh sampe tuntas napa?dan"


"Pck,.. hiiihhh!!" cebik Ardilla namun tetap melakukan apa yang diminta oleh pria yang sudah membuatnya kesal sepanjang siang itu.


Begitu memasuki lobi sontak kehadiran mereka menjadi menjadi sorotan terutama dari para Fansgirls-nya Haidar, hampir semuanya melempar tatapan tidak suka pada sosok Ardilla, namun juga penasaran. Karena biasanya perempuan dibawa Haidar berpenampilan tidak seperti penampilan Ardilla yang tertutup serta berhijab.


"Ting!" pintu lift terbuka, Tifani melonjak kaget saat melihat atasannya datang dengan dipapah seorang perempuan asing. Saat akan ingin membantu Haidar sudah memberi aba-aba agar tidak mendekati mereka. Ardilla melengoskan mukanya sembari melempar mimik julid setelah melihat penampilan sang sekertaris yang terlihat seperti akan pergi ke club.


"Ciih laki-laki mata keranjang, sekertaris aja pakeannya kaya kurang bahan, jangan-jangan dia nyambi jadi sekertaris esek-esek juga" cibir Ardilla.


"Sembarangan, gue meskipun playboy, pantang buat gue ngegarap anak buah gue, tapi kalo lu... boleh juga" mendengar hal itu Dilla langsung menghempaskan tubuh Haidar ke sofa dengan kasar.


"Sayangnya gue ngga sudi !" tolak Dilla mentah-mentah, lantas ia segera meninggalkan ruangan Haidar dengan wajah kesal. Haidar yang melihatnya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, tersenyum-senyum sendiri sembari menyugar rambutnya. lagi-lagi melihat kekesalan Ardilla malah membuat tubuhnya tergelitik seolah-olah ada jutaan kupu-kupu meliputi tubuhnya. Haidar bukan orang yang tidak peka seperti Gavin, ia langsung tersadar sepertinya ia kini sudah menyukai gadis itu bahkan mungkin jatuh cinta tapi dengan cara yang berbeda. Cara yang ketus, judes, jual mahal namun menggemaskan.


***********



************


sarangheo


********* 😉

__ADS_1


__ADS_2