Merpati Hitam

Merpati Hitam
Suhu pawang buaya


__ADS_3

"Kamu tidak apa-apa?" suara bariton pria tersebut membuyarkan pikiran Moya yang sedang traveling entah kemana beberapa detik lalu. Mata Moya teralih, sembari dia meriah uluran tangan si pria itu, memandang ke arah. sosok itu terlihat begitu tegap, rahang tegasnya yang ditumbuhi bulu-bulu kecil begitu sangat menggoda, rambut coklat gelap ikalnya yang disibak ke belakang seolah menampilkan nyata bagian-bagian wajahnya yang sempurna. Alis hitamnya, bulu mata lentiknya, mata cokelatnya, dan hidung bangirnya. Moya menelan salivanya, pria ini seperti gambaran-gambaran tokoh yang berada dalam imajinasi yang sering ia gibahkan dengan para sahabatnya. Dan pria ini benar-benar mampu membuatnya sesak napas.


" Apa ada yang terluka nona.." kata pria yang ada di depannya itu. Suaranya serak, tapi terkesan begitu agak dingin. Seolah membuat siapa saja yang mendengarnya bisa dengan mudah terintrupsi tanpa sadar.


Untuk sesaat Moya masih diam, kemudian dia terperanjat dari imajinasinya, menggelengkan kepalanya masih terpaku menatap wajah pria itu dan tersenyum hambar.


"Moya,, nama saya Moya" jawab Meta dengan senyuman simpul. Ada rasa malu yang menjalar sampai ke ubun-ubunnya, tatkala mengingat pikiran kotor yang sempat terlintas di pikirannya beberapa saat yang lalu dengan pria yang ada di depannya ini.


"Rendra Chaerul Tanjung, tapi kamu boleh panggil saya Rendra saja" balas pria itu melebarkan senyumannya dengan ramah begitu menatap wajah Moya yang cantik.


"Oh, iya, terimakasih," ujar Moya sembari melepas. kemudian dia memandang ke arah Ardilla yang tengah memicingnya dengan tatapan dipenuhi dengan berbagai pertanyaan.


"Santai aja,"


"Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak," pamit Moya


" Sekali lagi makasih udah bantuin saya bangun barusan" ucap Moya dengan perasaan canggung yang bercampur aduk. Rendra pun menggangguk kemudian memandang ke arah Moya dengan seksama. Penampilan Moya, rambutnya yang tertutup hijab, wajah cantik Meta, kemudian... pandangan Rendra terhenti ke arah dada Moya. Entah sengaja atau tidak yang pasti hal itu benar-benar sangat mengganggunya dan langsung membuat "adik kecil" ingin memberontak keluar saat itu juga, padahal ia memegang tangan wanita itu hanya berniat untuk menolongnya karena terjatuh begitu menabrak dirinya. Moya berjalan mundur dengan canggung, Rendra menggigit bibir bawah miliknya, terlihat seksi di mata Moya, padahal faktanya Rendra tengah berusaha keras menahan hasratnya terhadap perempuan yang pertama kali bertemu dengan saat ini.


" Tunggu" cegah Rendra sebelum Moya makin menjauh dari pandangangnya.


"Ya?" Moya sesaat menahan senyumnya, lalu berekspresi pura-pura polos.


Boleh saya minta no whatsapp kamu?" tanya Rendra to the point menyodorkan ponselnya. Masih dengan intonasi dinginnya yang sama. Bahkan, Moya bisa merasakan ucapan dingin namun terasa hangat mendesir aliran darahnya.


Moya mengangguk, lalu kemudian mengambil ponsel milik Rendra, jari lentiknya kemudian menyentuh layar datar ponsel itu, sesekali netra Moya melakukan flirting pada Rendra yang juga menatapnya dengan tatapan hangat, Detak jantungnya benar-benar berdebar, tatkala manik mata mereka saling beradu. Terasa ada ribuan kupu-kupu kini tengah memenuhi perutnya. Meta benar-benar merasakan sensasi menggelitik begitu netra mereka saling bertaut.


"Kalo kapan-kapan saya ajak kamu makan malam, boleh?" tanya Rendra lagi sembari mengambil ponselnya kembali dan berhasil membuat Moya hampir tersedak.

__ADS_1


Matanya melirik ke kanan dan ke kiri dengan salah tingkah, kedua pipinya terasa panas saat Rendra secara terang-terangan langsung mengajaknya berkencan.


"Hmm.. boleh.. Nanti kita bisa atur waktu" jawab Moya canggung sambil menggigit bibirnya, gemas. Lalu dia pun berlalu meninggalkan Rendra dengan segala pemikiran kotor yang kini memenuhi otaknya.


Rendra menarik nafas beberapa kali, kemudian dia mengusap wajahnya dengan kasar. Berusaha menetralkan hasrat yang menggebu dibenaknya, pikiran kembali melayang pada d**a Moya yang tetap saja menjulang meski pakaian sudah tertutup dan terlihat sopan. Namun memang dasar pikiran Rendra saja yang kotor dan ngeres hingga tetap membayangkan hal-hal e****s bersama Moya.


*******


Wajah Moya nampak lebih sumbringah setelah dari toilet, ia kembali duduk di kursinya yang behadapan dengan Ardilla menatapnya penuh curiga.


"Nape lo, kaya orang cecengesan ngga jelas" tanya Ardilla, namun Moya nampak acuh karena ternyata dia sedang membayangkan hal-hal aneh dalam pikirannya dengan pria yang tak sengaja dia tubruk tadi.


"Yah pulang dari toilet malah gila nih anak" gumam Ardilla.


"Moy.. Moyyaa!" ujar Ardilla setengah berteriak sembari melambaikan tangannya dihadapan Moya yang masih mengacuhkan dirinya. Dengan perasaan jengkel Ardilla pun menepuk lengan Moya dengan kencang.


PLAK !!


"Lagian lo ngelamun, kesambet tau rasa lo" ujar Dilla dongkol.


"Btw, cowok tadi siapa? "tanya Ardilla penasaran. Alih-alih menjawab Moya malah tersenyum-senyum sendiri.


"Wah beneran gila ni bocah !" ujar Ardilla makin jengkel.


"Entah lah, kalo ngga salah dia bilang namanya Rendra mmm duh Rendra siapa tadi lupa gue," Ardilla mengernyitkan dahinya seakan pernah mendengar nama itu tapi entah di mana. Sesaat kemudian Ardilla lalu mengabaikan pikirannya meski agak penasaran.


"Napa lo bengong? Kenal sama tuh cowok?" Moya ikut penasaran saat melihat perubahan wajah Ardilla seperti sedang mengingat sesuatu. Ardilla hanya menggeleng.

__ADS_1


"Ngga, tapi perasaan berasa familiar aja gitu namanya Rendra - Rendra itu, tapi entah di mana?" ucap Ardilla menggedikan bahunya.


"Tadi gue sempet traveling pas dia tadi ngulurin tangannya buat bantu gue bangun tadi" seloroh Moya sambil menyeruput sisa minumannya.


"Hah?? Gimana ? Gimana?" ujar Ardilla melongo tidak percaya dengan penuturan Moya barusan.


"Ya abisnya dia type gue banget,suara sama tubuhnya sexy, ganteng, tinggi dan wangi" Ardilla bersedekap dengan tampang makin melongo. Benar-benar tak habis pikir bisa-bisanya punya sahabat semesum ini, terlebih pada pria yang belum dia kenal sama sekali.


"Terus lo dapet no Kontaknya?" tanya Dilla yang masih bersedekap dan menyenderkan tubuhnya pada sandaran sofa restoran.


"Jelas dong! Gue gitu. apa sih yang bisa gue dapet kalo gue mau" ujar Moya dengan percaya diri.


Ardilla mendecih sambil tersenyum, mau heran tapi itu adalah Moya, sahabatnya yang sudah di cap suhu para buaya, Moya seolah memiliki magnet untuk menarik ulur semua pria yang mendekatinya, sama halnya seperti Nayuwan dia seperti merpati yang akan terbang ketika seseorang akan mengikatnya dengan komitment dan itu benar-benar tidak akan pernah baik untuk kelangsungan asmaranya. Bahkan diusianya yang sekarang sudah tak muda lagi, pesona Moya malah makin memikat lawan jenisnya meski Moya hanya sekedar melakukan flirty pada mereka hanya karena iseng, dan sudah bisa ditebak endingnya, para pria itu langsung jatuh cinta dan kemudian menjadi mainan Moya untuk beberapa waktu.


Ardilla mengulum senyum sambil menyeruput habis sisa minumannya, dia memandang Moya yang tampak acuh itu dengan jenaka. Terkadang Ardilla bingung kenapa memiliki dua orang sahabat yang memeliki sifadan karakter yang hampir sama.


"Beruntung lo punya temen macem gue yang tahan sama pikiran kotor lo itu" sungut Ardilla.


"Bawel lu ah, jalan lagi ngga nih? Kalo ngga si Nayuwan nyuruh kita ke beautyhouse" ketus Moya sambil bersiap, setelah memberikan beberapa lembar uang berlukiskan bapak Proklamator.


"Kak ini kelebihan, sebentar saya ambil kembaliiannya." ujar si pelayan sopan, namun segera Moya menghardik si pelayan tersebut.


"Ngga usah mbak, kembaliannya buat mbak aja, lumayan buat beli obat buat tangan mbak yang memar" ucap Moya tersenyum ketika menatap si pelayan yang terlihat sudah berkaca-kaca, sambil menenteng beberapa kantong belanjaan milik Ardilla, mereka kemudian menuju beautyhouse yang kebetulan Nayuwan sedang berada di sana untuk urusan pekerjaan tentunya.


*********


sarangheo ͡° ͜ʖ ͡°

__ADS_1


para suhu buaya


**********


__ADS_2