Merpati Hitam

Merpati Hitam
Kesempatan


__ADS_3

Pagi menjelang siang yang cerah, deru motor yang terhenti di parkiran cafe membuat seorang pria berwajah oriental memalingkan wajahnya ke arah parkiran restosan. Menghela nafas berat, ekor mata Theo melirik wajah Nayuwan yang terlihat segar tanpa cela dengan tatapan nanar. Ya Nayuwan adalah perempuan yang sedang dia tunggu sejak 20 menit yang yang lalu, atau mungkin sejak 5 tahun lalu.


Nayuwan melangkah masuk segera setelah meletakan helmnya di atas tanki motornya, beberapa pasang mata menatapnya tanpa berkedip. Entahlah, tapi sosok Nayuwan memang selalu mampu menarik perhatian banyak orang terutama kaum adam.


"Sorry telat" Nayuwan membuka percakapan begitu dirinya sudah menempatkan p****tnya di kursi kosong.


"Ngga apa-apa santai aja"


"Mama apa kabar?"


"Baik, kamu sih ngga mau ke rumah"


"bukan begitu.." kalimat Nayuwan terhenti saat seorang pelayan membawakan menu lalu kepadanya dan Theo.


"Permisi mbak, mas mau nambah pesanan," ujar seorang pelayan resto dengan ramah


"Hmmmm bisa saya pesan lemon tea no sugar?"


"Bisa kok mbak?"


" ok aku minta anget ya mbak, teruss sama... Nasi goreng buntut,.. kamu mau makan apa the?" Nayuwan melempar pertanyaan pada Theo sambil membulak balik menu.


"Aku capuccino sama sop buntut nasi aja mbak"


"Baik saya ulang dulu, 1 lemon tee lose sugar, 1 nasi goreng buntut, 1 capuccino, dan 1 sop buntut plus nasi ya mbak, mas?" Nayuwan tersenyum mengangguk.


"Tunggu sebentar mbak mas pesanan kami segara siapkan"


"ok, makasih ya mbak"ujar Nayuwan ramah. Nayuwan menatap layar ponselnya, selama perjalanan menuju Eighty Nine Eatery, Coffee & Spirits tadi getarannya tidak berhenti. Menatap sebentar kemudian menempelkan layar ponsel pada telinganya.


"Napa?"


"......"


"Jam 2 gue jalan ke sana" jelas Nayuwan setelah melihat jam tangan dipergelangan tangan kanannya sekilas,


"....."


"Kagak, cuma ketemu temen bentaran abis itu gue ke tempat lu"


"......."


"1 macem aja gue mah"


"......"


" Iye iye gue tau" Nayuwan sedikit menjauhkan layar ponselnya ketika mendengaran cecaran dari seseorang di sebrang sana.


"...."


"Ya udah gue tutup dulu ya, tar gue langsung jalan ke sana,hmmm. ...ok..... bye" tutup Nayuwan menggeleng-geleng kepalanya sambil tersenyum. Baru akan memulai percakapan kembali dengan Theo 2 orang pelayan datang dengan menu hidangan yang mereka pesan tadi, kemudian mempersilahkan kembali Theo dan Nayuwan menikmati pesanan mereka.


"Kabar mama gimana?"


"Baik, kamu ngga mau ketemu mama ku?" Nayuwan tersenyum menyeruput lemon tea hangat tanpa gulanya.


"Nanti deh, aku masih riweuh "


"Kamu balik kok ngga ngasih tahu aku?"


"Aku cuma di jemput sama ade ku, terus langsung ketemu sama Gavin buat ngomongin Beauty House, mau di jemput keluarga juga batal jadinya"

__ADS_1


"Ya seenggaknya kamu bisa ngabarin aku kan?"


"Kita makan dulu ya,"Nayuwan mencoba mengalihkan pembicaraan. Tidak sampai 15 menit menu makan sarapan sekalian makan siang tandas mereka habiskan hampir bersamaan.


"Kerjaan kamu lancar?"


"Al hamdulillah," jawab Theo singkat.


"Bagus lah, aku seneng dengernya? hmmm jadi kapan kamu nikah?" seloroh Nayuwan dengan nada bercanda.


"Kamunya aja nolak terus, gimana aku mau nikah?" Nayuwan mendelik tajam nematap Theo.


"The, kita kan udah bahas,"


"Iya aku tahu, tapi nyatanya aku emang masih berharap sama kamu" Ungkap Theo sungguh-sungguh. Dari manik matanya yang kecoklatan tak terlihat keraguan di sana.


"Tapi aku ngga bisa" jawab Nayuwan lirih.


"Ya aku juga tahu pasti, kamu bukan seseorang yang mau balikan sama mantan, "


"Itu kamu tahu"


"Beri aku kesempatan sekali lagi ya.." Theo memberanikan diri menyentuh dan menggenggam tangan Nayuwan.


"The, dulu aku udah berusaha keras, tapi kamu sia-siain, Hmmm.. lagian kalo aku kasih kamu kesempatan gimana sama mantan-mantan ku yang lain yang sampai saat ini kamu juga tau mereka juga masih mengejar aku"


"Aku tau harusnya aku merasa cukup karena kamu masih mau berhubungan dengan ku sebagai teman" Nayuwan tersenyum kembali sembari menyerot sisa lemon tea yang tinggal seperempat gelas.


"Benar ! kita memang hanya bisa jadi teman" giliran Nayuwan menahan senyum seraya menepuk-nepuk punggung tangan Theo,


"Aku kangen kamu" ujar Theo lirih, menundukan kepalanya untuk menyembunyikan matanya yang sudah rembes karena air mata. Nayuwan beranjak dari tempat duduknya, mendekati Theo lalu memeluknya dengan hangat. Nayuwan mengusap punggung Theo dengan lembut, memberi Theo rasa nyaman yang dia rindukan selama hampir 5 tahun ini. Meski Theo berulang kali mencoba hubungan baru, tetap hatinya selalu merindukan Nayuwan. Dia sadar dia memang sudah kehilangan sosok Nayuwan sebagai seorang kekasih, dia harus berpuas diri sebagai seorang sahabat saja. Bukankah sosok Nayuwan sangat dewasa bisa menjadikan mantan-mantannya sahabat bercerita. Atau mungkin dia memang sudah mati rasa dengan sebuah "cinta".


"Udah ih kayak anak kecil aja kamu tuh" goda Nayuwan dengan suara lembut, kemudian menjauhkan tubuh Theo darinya lalu mengusap lembut air mata yang masih meleleh di pipi Theo. Nayuwan bukan tidak tahu tentang ketulusan perasaan Theo, tapi memang hatinya menolak Theo, dia sama sekali tidak ingin menyakiti pria itu juga menyakiti hatinya sendiri dengan menerima Theo hanya karena tidak enak hati atau dengan kata lain menjalin hubungan hanya karena merasa kasihan, iba.


"Belum ada yang bisa ngerapiin hatiku aja" ujarnya seraya mencelos ke arah sembarang.


"Kamu masih mencintai dia?"


" Ngga kok. Aku malah udah ketemu dia 2 minggu setelah aku tiba di Indonesia. Dan ya seperti yang kamu lihat, aku baik-baik aja. Mungkin perasaan itu emang udah ngga ada." jawab Nayuwan santai. Theo menatap lekat manik mata Nayuwan, namun Theo gagal menemukan kebohongan apapun dari sorot mata perempuan berusia pertengahan 30an itu, sepertinya perasaan itu memang sudah hilang untuk mantan suaminya.


Nayuwan sebenarnya sudah berusaha membuka hatinya untuk Theo, tapi mungkin cintanya untuk Raka waktu itu memang terlalu dalam hingga tetap menyisakan trauma saat mereka berpisah. Gilanya, setelah beberapa waktu mereka berpisah, Raka terus menerus mengejar Nayuwan untuk rujuk seperti orang gila, padahal waktu itu Tia sedang hamil tua. Alasan-alasan inilah yang membuat Nayuwan bisa bekerja di Hongkong, dia lari menghindari masa lalunya, selain dia juga harus membereskan banyak hutang yang ditinggalkan ayahnya. Ya ayahnya pun tak kalah bajingan.


Setelah Nayuwan bekerja di Hongkong, kharismanya makin terpancar. Benar uang bisa merubah segalanya, penampilan fisik Nayuwan makin terawat, soal pakaian dia tidak terlalu mengikuti roll mode, dia lebih suka bergaya ala-ala sendiri yang penting nyaman, toh tetap tidak mengurangi pesonanya. Dia tetap tampil modis dan elegant.


Nayuwan memang sukses dalam kariernya. Perusahaan yang ia rintis berkembang pesat dalam waktu 3 tahun, chanelnya juga masih rutin upload meskipun hanya soal vlog dengan teman atau keluarganya. Namun sayangnya Nayuwan tidak cukup sukses dalam kisah cintanya. Pernah beberapa kali dia mencoba berkomitmen sewaktu masih bekerja di Hongkong, naasnya selalu gagal. Sampai akhirnya dia pun jengah, dia lebih menikmati kesendiriannya tanpa pria di samping.


Theo yang satu dari sekian deretan barisan mantan Nayuwan. Saat tahu Nayuwan kembali ke Indonesia tentu saja kontak Nayuwan seperti asrama pria. Nayuwan memang ramah kepada siapapun, mungkin karena itu juga Nayuwan sampai di beri peridikat "Merpati hitam", seperti seseorang yang mudah untuk dimiliki, ketika akan disergap dia akan terbang tinggi, menunjukan sifatnya yang dingin, cuek, sulit di tebak apa maunya dia.


Perangainya memang humble dan juga perhatian di awal berkenalan akan sangat mudah membuat para pria merasa nyaman lalu menyalah mengartikan sikap Nayuwan. Padahal ketika Nayuwan menanggapi mereka untuk sekedar chat atau mendengarkan menyimak keluh kesah mereka bisa jadi karena dirinya sedang gabut saja. Tak lebih dari itu.


"Dari tadi kamu liat hp mulu? Ada janji lagi?" Theo yang sedari tadi sudah penasaran akhirnya memutuskan untuk bertanya.


"Iya aku ada janji ama temen, 1 jam lagi" jawab Nayuwan tanpa melepaskan pandangannya dari layar ponsel pintarnya.


"Boleh aku ikut?"


"Kamu kan bawa mobil."


" Aku bisa titip di sini dan ikut motor kamu" ujar Theo modus


" Ngga ah, aku lagi pengen bawa motor sendiri," tolak Nayuwan lagi-lagi tanpa memperdulikan kekecewaan yang terpampang di wajah Theo.

__ADS_1


" Emang kalian mau kemana?"


" Entahlah,, belum ada kepastian" jawab Nayuwan sambil tersenyum miring di salah satu sudut bibirnya.


"Beuh kebiasaan"


"Ya gimana, temen ku ajaknya dadakan sih" Nayuwan mengernyitkan dahinya serta menggedikan bahunya.


" Kalo ada waktu jenguk mama, mama pasti seneng banget ketemu kamu "


" Ok, nanti aku minta Gina atur jadwal pas nanti aku ke Karawang"


" Bener lho ya?"


" Iye" Nayuwan menegaskan.


"When I'm down" Nayuwan mengnautkan dahinya saat ringtunenya mengalun dengan nyaring, matany memicing memastikan nama yang muncul dari panggilan telponya.


" you can bring me up


Up-p-p, up-p-p, up-p-p, up-p-p.."


" Mr. Kampret ? Tumben ni orang telephone gue" gumamnya dalam hati.


" Iya Halo, Assalamualaikum" Nayuwan membuka percakapan setelah menggeser simbol telphone.


" Waalaikum salam"


" Napa lo telphone gue tumben?" tanya Nayuwan dengan nada ketus.


" Santai dikit bisa ngga?" gerutu Gavin.


" hmm, maaf"


" Tinjauan daerah yang mau di bikin resort itu nanti sama elo kan?"


" Iye, tapi kalo karawang paling cafe and resto, kurang cocok buat resort"


" Kapan elo mau cek lokasi?"


" Ck ! Vin, bisa ngga sih di waktu weekend begini lu ngga usah rusak mood gue"


"Kok ngerusak mood elu sih, kan gue cuma nanya?"


" Gue lagi ngga mau bahas kerjaan, besok aja gue kabarin elu, bye!" Nayuwan segera menutup sambungan telephonenya dengan kasar.


" Siapa?"


"Siapa lagi kalo bukan presdir kampret"


"Presdir kampret?" Theo membeo.


" Iye , Presdir Kampret, alias Gavin Harraz Widjaya, gedek gue ama itu orang, hobi banget bikin masalah ama gue" sungut Nayuwan masih terbawa emosi. Theo hanya mendelik tajam memperhatikan tingkah Nayuwan yang sedikit berbeda saat membicarakan Gavin. Theo menyipitkan matanya yang sudah sipit.


" Kamu suka ya sama presdir Gavin?" todong Theo.


" Dih malas banget, dia itu tukang cari gara-gara, hobi banget jatohin harga diri gue, empet pokoknya kalo udah urusan ama itu orang" Theo tersenyum kecut, karena menyadari satu hal sepertinya Nayuwan sudah menemukan orang yang bisa merapikan hati Nayuwan yang katanya masih berantakan.


" Gue balik dulu deh, kamu ati-ati bawa motornya" Theo mengangkat b****gnya dari kursi. Nayuwan pun mengangguk dan mengikuti Theo ke parkiran.


Theo masih menatap Nayuwan yang bersiap membelah jalan raya dengan motor Vixionnya. Kemudian melesat setelah memberi melambai tangan pada Theo. Hingga berapa saat Theo masih menatap Nayuwan yang mulai menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


Theo menghela nafas lebih dalam dan lebih panjang kali ini, melepaskan semua beban yang menyesakan relung hatinya saat menyadari dengan pasti Nayuwan benar-benar tak bisa ia miliki lagi setelah Nayuwan membicarakan soal Gavin.


" Aku selalu mencintai mu Yuwan, tapi kamu berhak bahagia, dan aku percaya Gavin bisa melakukan hal itu, aku bahagia jika kamu" gumam Theo berbicara sendiri kemudian diapun masuk ke dalam mobil. Pulang.


__ADS_2