
Haidar melesat menuju Southbank Club, netra sesekali melirik ke layar ponselnya yang masih menayangkan Live streaming Johan dan sekertarisnya, dari gerak tubuh Johan dan Arni spertinya mereka masih belum menyadari mereka tengah viral di media sosial. Haidar benar-benar merasa frustasi berkali-kali tangannya memukul stir mobilnya ketika lampu merah menunda perjalanannya. Begitu sampai ia langsung melangkah dengan tergesa-gesa mengedarkan netranya mencari sosok Johan dan Arni. Berkat live streaming masih berlangsung tak sulit untuk Haidar menemukan posisi anak buahnya yang masih melakukan adengan tidak s*****h.
Dengan penuh Haidar melebarkan langkahnya menuju meja Johan yang tengah memeluk pinggang sekertarisnya, Haidar tak peduli jika dirinya pun menjadi pusat perhatian banyak pasang mata, terutama mata para wanita yang terpesona oleh ketampanannya.
"Heh kamvret ! Sini lu!" tanpa babibu Haidar menarik kerah kemeja Johan hingga seperti Haidar elang menyambar mangsanya. Beberapa pengunjung wanita histeris karena terkejut dengan aksi Haidar, selain hentakan musik disko, para pengunjung fokus kepada mereka bertiga, suasana club hening sesaat.
"Pak .. Pak. Haidar.. ada apa pak.. sa salah saya apa??" Johan terbata beranjak dari kursinya. Johan berdiri kaku keringt dingin muli membanjiri tubuhnya. Arni pun sama dia tertunduk ke lantai club, sesekali ia melemparkan tatapannya ke arah Haidar dan Johan dengan cemas. Dari sorot mata Haidar terlihat jelas kilatan amarah dan itu cukup membuat Arni bergetar ketakutan.
"eh siapa itu yang dateng?"
"Haidar woi"
"Mimpi apaan gue bisa liat Haidar"
"Haidar siapa wooyy"
"Mimpi apa gue bisa liat Haidar di Live-nya teh Dilla,"
"Ganteng pisan gusti"
"Keren pisan, gagah Masya Allah"
"Hamili aku bang"
"pak Haidar salam dari mamah, katanya kapan mau ngelamar"
komentar dan viewers di live Ardilla makin bergerak cepat begitu Haidar muncul. Begitupun jumlah followers Ardilla yang semula hanya 400ribuan sekarang mendekati angka 900ribuan, pesona Haidar yang memang sudah banyak fans karena ketampanannya ditambah cara Ardilla memberi pelajaran dengan menyiarkan live Johan tentu saja menarik animo publik media sosial. Netizen sangat suka keributan, tentu saja!
Haidar melepaskan kerah kemeja Johan setelah Johan berdiri dihadapannya dengan takut-takut. Tubuh Johan dan Arni terlihat loyo, mereka menunduk dalam otak mereka jelas dipenuhi pikiran masing-masing mencari jawaban kenapa CEO-nya ada disini, tidak mungkinkan hanya untuk menggerebek mereka yang sedang bersenang-senang. Johan menggelengkan kepalanya dengan frustasi.
Netra Haidar kembali memindai ke sekelilingnya, mencari seseorang pantas ia jadikan sebagai tersangka penayangan live streaming panas Johan dan Arni. Netranya menyipit ketika mendapati seorang perempuan yang terlihat berbeba bakhan terlalu mencolok meskioun perempuan itu duduk di tempat yang cukup tersembunyi.
Haidar menatap tajam ke arah perempuan berhijab yang masih mengarahkan kamera ponselnya tepat ke arah mereka. Nafas Ardilla makin memburu detak jantungnya makin tak beraturan karena amarah yang meradang di d**anya, matanya menatap tajam seperti seekor singa betina yang kelaparan, pun dengan riak wajahnya yang terlihat begitu suram sekaligus menyiratkan kegetiran hatinya yang hancur lebur karena pengkhianatan Johan.
"Demi apa ini teh Pak Haidar ngeliat kesini weehh"
"Serasa di tusuk anjir"
"anjjiiir Haidar di tempat remang-remang aja masih keliatan gantengnya apalagi kalo di tempat terang"
"Siapa yang jomblo"
"duh silaaauuu " komentar dalam live Ardilla makin bergerak cepat.
"Matiin Livenya sekarang juga atau saya tuntut anda dengan ancaman UU IT" perintah Haidar saat mendekati meja Ardilla dengan tatapan dingin pada Ardilla. Johan dan Arni yang mengekori Haidar matanya melotot, dan kali ini terasa lebih mencekam dibandingkan saat Haidar mencengkram kerahnya tadi.
"Ciih ! Siapa lu merintah gue ?!" gerutu Ardilla mencebik tanpa menghiraukan perintah Haidar, tanpa merasa bersalah Ardilla memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Jelas ia merasa terganggu oleh kehadiran Haidar aksi balas dendamnya menjadi buyar, sedang Johan masih melongo saat melihat Ardilla notabennya adalah tunangannya ada di club malam.
"Sayang, kok bisa kamu di sini ?" seloroh Johan seraya mendekati Ardilla.
"Emang cuma lu doang yang bisa masuk terus main-main ke club ini?" jawab Ardilla dengan ketus. Ardilla berdiri angkuh mendongak miring menatap Johan, Arni dan Haidar bergiliran sambil berlipat tangan di d***nya dan ponselnya masih tetap menayangkan live streaming.
"Hajar terus teh"
"Lelaki kardus ngga tau diri"
"itu pereknya lumayan bahenol "
"wiidiih toketnya masih kenceng" ekor mata Ardilla sepintas Ardilla membaca beberapa komentar yang masih bergulir tanpa jeda.
"Sayang kok kamu ngomong kasar gitu sih?"
"Heh! " Ardilla menggeleng kepala sambil memutar bola matanya, "Sejak gue lihat dengan mata kepala gua sendiri gimana b***dnya kelakuan lu sama perempuan gatel ini !" lanjut Ardilla jengkel.
"Sayang, ini ngga seperti yang kamu lihat"
"Mending kita pulang dulu yuk?" lanjut Johan mengabaikan tatapan Haidar yang sudah muak dengan perangai Johan yang bermuka dua.
"Ngga perlu !! Gue bisa balik sendiri " Ardilla ngeloyor begitu saja, kemudian langkahnya terhenti setelah dua langkah. Tubuhnya berbalik kembali menghadap Johan, Haidar dan Arni yang masih mematung.
"By the way, thanks ya, berkat lu para followers gue jadi nambah juga terhibur sama keromantisan kalian berdua" celoteh Ardilla tersenyum mengejek dengan tenang memperlihakan layar ponselnya pada Johan . Mata Johan sekali lagi dibuat terbelalak begitu tahu dirinya sedang menjadi tontonan warga medsos.
"Sayang aku bisa jelasin" Johan panik.
"Sayang sayang pala lu peyang!" hardik Ardilla.
"Sayang ini cuma salah faham,beneran aku bisa jelasin" Johan masih berusaha membela diri padahal dirinya sudah tertangkap basah sejak 1 jam yang lalu.
"Hadeuuh drama busuk"gumam Haidar memijat pelipisnya yang tiba-tiba pening mendengar penuturan basi dari Johan.
"JOHAN !! ARNI ! LU BERDUA. GUE. PECAT! "
__ADS_1
"Tapi pak, ini kan masalah pribadi saya kok main pecat !" protes Johan tak terima menatap nanar pada bossnya itu. Sekali lagi netra Johan terbelalak sempurna saat Haidar memperlihatkan sebuah rekaman CCTV yang memperlihatkan Johan tengah mengobrol dengan Pak Nala, orang yang bekerja sama dengannya untuk melakukan korupsi bahan produksi. GLEK ! Kali ini Johan benar-benar tamat riwayatnya , dengan susah payah dia menelan saliva saat melihat rekamanan CCTV.
Ardilla menaikkan satu alisnya tanpa menghilang smirk mengejek, hatinya bersorak makin puas setelah tahu bertambah lagi satu kebusukan Johan terkuak. Tangan Johan mengepal dengan kuat hingga buku-buku jarinya menjadi putih. Rahangnya mengeras berjalan mendekati Ardilla yang terus memberikannya tatapan seakan dirinya adalah kotoran yang menjijikan.
"Lo ikut gue sekarang!!" dengan kasar Johan mencengkram lengan Ardilla dengan kuat hingga Ardilla memekik kesakitan.
"Lepas !! Sakit Johan!" Ardilla menatap Johan dengan mata menyalang berusaha melapaskan cengkraman kuat Johan, dari sorot matanya tak ada sedikitpun menunjukan riak ketakutan saat Johan menarik paksa Ardilla menuju luar bar.
"Haiish Sial!" pekik Haidar saat melihat Ardilla di seret paksa oleh Johan, segera dia dan Arni pun keluar bar mengikuti Johan yang menyeret Ardilla seperti orang kesetanan.
"Puas lho udah bikin gue malu hah?! Puas ngeliat gue sekarang ancur hah?" bentak Johan ketika sudah sampai di area basement parkir yang cukup sepi menghempaskan pergelangan Ardilla yang memerah karena cengkraman Johan yang terlalu kuat, sudut bibir Ardilla berkedut-kedut menahan radang yang sudah batas tenggorakannya yang mulai terasa perih karena kekecewanya pada Johan.
"Kok jadi lu yang marah ke gue?" sungut Ardilla sambil mengusap pergelangannya yang terasa perih.
"Terus gue harus marah pada siapa? Jelas-jelas lu yang buat perkara pake acara nayangin Live streaming segala"
" kenapa? Lu malu? atau maunya gue tadi bakal labrak lu sama si ****** itu, terus kemudian lu balik maki-maki gue permaluin gue, sambil bawa si ***** ke club? gitu mau lu? Sorry gue masih cukup waras buat ngejatohin harga diri gue buat ngeributin laki-laki bejad macam lu, kagak sudi gue !" geram Ardilla berapi-api.
" Matiin live nya dilla !"Ardilla tak bergeming malah melemparkan smirk mengejek pada Johan yang sadar bahwa dirinya masih melakukan live streaming.
"Ardilla sudah cukup !! Lu udah keterlaluan dengan sikap konyol lu itu !" teriak Johan, dada dan bahunya terlihat naik turunnya dengan cepat.
"Sayangnya belum, gue belum liat lu ancur. lebur Johan.." Ardilla mendongak lantang menantang ke arah Johan.
"Dilla! Gue minta sekali lagi matiin Livenya selagi gue masih sabar sabar sama lo!" pinta Johan yang menatap Ardilla kesal, dengan kedua tangannya mengepal sempurna.
"Ga akan!" ejek Ardilla menatap manik-manik Johan yang menatapnya lekat . Johan mengeratkan gigi, mengangkat tinggi bersiap menampar Ardilla sekuat tenaga.
"STOOOPP !!" Tangan yang hampir saja melayang ke pipi Ardilla untuk beberapa menit ditahan Haidar sebelum akhirnya tangan Johan dihempaskan dengan cukup kuat hingga pemiliknya sedikit terdorong mundur beberapa langkah. Tubuh Ardilla bergetar hebat hingga membuatnya menutup matanya sampai dahinya mengkerut dalam,pun tangannya bersiap menutupi wajahnya yang mungkin akan menerima pukulan Johan.
" Sini lo b**i, lawan gue ! A****G pengecut lo, beraninya lu main tangan ama perempuan !!" Haidar tak hentinya mengumpat caci maki, Haidar menghajar Johan dengan membabibuta, emosinya benar-benar terbakar ketika Johan hampir saja memukul Ardilla tepat dihadapannya.
Bukan tanpa alasan Haidar bisa semurka itu saat melihat Johan akan memukul Ardilla. Tapi kenangan masa kecilnya terlintas jelas begitu saja di pelupuk matanya. Kenangan buruk ketika sang ayah selalu pulang dalam keadaan mabuk lalu memukuli ibunya habis-habisan, hingga pada akhirnya sang ibupun meregang nyawa.
Haidar memang Playboy, suka merusak anak orang, tapi selama dia berhubungan dengan para wanitanya dia tidak pernah berbuat kasar, cenderung memanjakan pasangannya, selama berpacaran Haidar juga cukup setia hanya saja dia mudah bosan, paling lama bertahan hanya 3bulan setelah itu dia akan mencampakan perempuan itu dengan membuat surat perjanjian dan memberi sejumlah uang sebagai kompensasinya.
Deru nafas Haidar begitu memburu, urat-urat di pelipis dahi serta dilehernya ikut menegang. Johan terlihat pasrah saat Haidar memberinya beberapa bogeman secara membabibuta tanpa bisa menahan apalagi perlawanan, wajahnya sudah hancur babakbelur di hajar Haidar, darah segar mengalir membanjiri wajar Johan hampir seluruhnya, untung para petugas keamanan bisa segera menahan Haidar yang terus menyerang Johan seperti orang kesurupan jika tidak sudah dipastika Johan sudah bertemu malaikat Izroil saat itu juga. Johan terhuyung menabrak mobil yang terparkir berada di dekatnya, matana bahkan sudah tak bisa terbuka. Dengan tertatih-tatih Johan berdiri di bantu oleh Arni yang langsung memapahnya ke dalam mobil untuk segera melarikan diri dari amukan Haidar.
"AAARRRRGGHHH B*****N B*****T !! KEMARI LO T*I " geram Haidar masih mengamuk berusaha melepaskan diri dari para petugas yang menahannya, wajah dan matanya merah menyalak. Haidar masih terus meronta kakinya masih ingin berusaha ingin menendang Johan meski mobil Johan sudah melaju pergi, Haidar perlahan bisa mengendalikan emosinya, Haidar mengangguk memberi isyarat kepada para petugas keamaman agar melepaskan dirinya. Setelah di rasa cukup tenang barulah mereka melepaskan cengkraman pada lengan dan tubuh Haidar.
Dengan langkah gontai Haidar lalu mendekati Ardilla yang masih terlihat sangat syok dengan kejadian barusan. Dengan bersimpuh bertempu pada salah satu lututnya Haidar perlahan mengarahkan dagu Ardilla supaya menatap ke arahnya. Terlihat jelas tatapan gadis itu kosong, terlihat pilu dan menyedihkan, air matanya masih menganak tertahan di pelupuk matanya.
"Are you ok?" tanya Haidar dengan tatapan iba, Ardilla hanya mengangguk perlahan ia masih benar-benar syok, saat mengingat Haidar secara membabibuta menghajar Johan sampai sedemikian rupa.
"Keluarkan semua, tidak ada yang melarangmu menangis, jadi jangan ditahan lagi" lirih Haidar serasa terus memeluk Ardilla.
"Johan b*****n, b*******k, aku kurang apa s***n huaaaaa hiks huaaaaaa hiks hiks!?" maki Ardilla sambil memukuli d**a bidang Haidar. 15 menit berlalu Haidar masih dengan sabar terus memeluk menciumi pucuk rambut Ardilla, hingga gadis itu perlahan-lahan melemaskan tubuhnya, Ardilla masih sesenggukan meski tak lagi meraung seperti tadi.
"Masih streaming?" tanya Haidar lembut setelah tangis Ardilla perlahan mereda, gadis itu langsung tersadar bahwa ponselnya yang ia genggam masih menayangkan live instagramnya. Haidar hanya menghembuskan nafasnya yang terasa berat ketika melihat Ardilla buru-buru mematikan livenya.
"Ayo aku antar pulang" ajak Haidar yang sudah berdiri mengulurkan tangannya pada Ardilla. Dengan tatapan nanar, gadis itu menatap Haidar ragu.
"Udah malem, ngga baik ukhti berlama-lama berada di sini, salah-salah nanti malah berubah jadi kunti" canda Haidar mencoba mencairkan suasana. Masih dengan tatapan penuh curiga Ardilla tersenyum tipis mendengar gurauan Haidar. Perlahan dia bangkit dibantu Haidar.
Sepanjang jalan menuju apartement Ardilla hanya hening, karena bosan Haidar pun menyalakan Mp4 mobilnya kemudian sebuah lagu milik Lewis Capaldi mengalun merdu mengisi kehengingan di antara Haidar dan Ardilla.
I'm going under and this time I fear there's no one to save me
This all or nothing really got a way of driving me crazy
I need somebody to heal
Somebody to know
Somebody to have
Somebody to hold
It's easy to say
But it's never the same
I guess I kinda liked the way you numbed all the pain
Now the day bleeds
Into nightfall
And you're not here
To get me through it all
__ADS_1
I let my guard down
And then you pulled the rug
I was getting kinda used to being someone you loved
I'm going under and this time I fear there's no one to turn to
This all or nothing way of loving got me sleeping without you
Now, I need somebody to know
Somebody to heal
Somebody to have
Just to know how it feels
It's easy to say but it's never the same
I guess I kinda liked the way you helped me escape
Now the day bleeds
Into nightfall
And you're not here
To get me through it all
I let my guard down
And then you pulled the rug
I was getting kinda used to being someone you loved
And I tend to close my eyes when it hurts sometimes
I fall into your arms
I'll be safe in your sound 'til I come back around
For now the day bleeds
Into nightfall
And you're not here
To get me through it all
I let my guard down
And then you pulled the rug
I was getting kinda used to being someone you loved
But now the day bleeds
Into nightfall
And you're not here
To get me through it all
I let my guard down
And then you pulled the rug
I was getting kinda used to being someone you loved
I let my guard down
And then you pulled the rug
I was getting kinda used to being someone you loved
Ardilla mematap kosong ke arah luar, menatap langit malam yang terlihat muram baginya. Air matanya masih terus saja mengalir tanpa mampuh dia bendung, di tambah alunan lagu " someone you loved" terasa lebih menyayat dari biasanya.
*************
sarangheo ( ˘ ³˘)❤
__ADS_1
"*******