Merpati Hitam

Merpati Hitam
Selamat Tidur sayang (Freya ku)


__ADS_3

Awan gelap menghiasi langit pada sore itu seakan turut berduka dan menangis dengan tetesan rintik hujan. Jenazah Freya baru dikebumikan esok harinya atas permintaan seluruh anggota keluarga Gunawan karena ingin ikut mengantar Freya ke peristirahatan terakhirnya. Gavin tertunduk hampa meratapi pusara kekasihnya. Gavin terlihat begitu terpuruk atas kepergian Freya, terlebih Freya meninggal dalam pelukannya kemarin siang, para pelayat satu persatu meninggalkan area pemakamanan hingga menyisakan beberapa keluarga Freya dan keluarga serta sahabat Gavin di sana.


Ibu Rianti di dampingi Faldo, mendeketi Gavin yang memeluk pusara Freya dengan putus asa.


"Nak Gavin, tolong relakan Freya pergi nak, biarkan jiwanya tenang," pinta ibu Rianti yang tak tega melihat keadaan Gavin yang begitu hancur, meski keadaan dirinya tak jauh berbeda dengan Gavin, terlebih baru 1 tahun lalu suaminya meninggal penyakit jantung, kini dia harus kembali merelakan putri satu-satunya menyusul mendiang suaminya.


"Kenapa begini bu? Kenapa Freya tega ninggalin kita bu?" ratap Gavin lirih.


"Menangislah nak, menangislah sepuasmu nak, namun berjanjilah bahwa dirimu akan merelakan Freya, ibu tidak melarangmu untuk bersedih, tapi jangan terlalu lama, biarkan Freya beristirahat dengan tenang, Allah terlalu menyayangi Freya hingga ingin menjadikan putri ibu sebagai bidadari penghuni syurgaNya nak" bujuk Rianti sekali lagi.


"Freya.." suara Gavin terdengar lirih dalam isak tangisnya, " Freya hiks .." kembali Gavin menggumamkan nama Freya yang terdengar begitu menyayat hati siapapun yang mendengarnya, seakan turut merasakan betapa hancur Gavin saat itu.


****************


Di sebuah ruangan bercat dominasi hitam dan abu-abu terdengar teriakan seorang pria, histeris meminta dirinya untuk dilepaskan dari ikatan yang mengikat kedua tangannya


"Lepaskan aku.... Pih tolong lepasin Gavin pih."raung Gavin memohon kepada Dewa


"Gavin ngga bisa ngebiarin Freya tidur sendirian di sana Pih, Gavin harus nemenin Freya di sana Pih.. Hiks.. Rendra... Haidar.. please biarin aku ikut Freya ,, hhiks aku ngak bisa hidup tanpa dia Vit,,." rengek Gavin ketika terbangun dengan keadaan kedua tangannya yang terikat.


"PLAK !!!" satu tamparan cukup keras mendarat di wajah Gavin hingga mampu memalingkan wajah pemuda itu ke sisi satunya.

__ADS_1


"Vin, lo tenang dulu, kalo lo terus kek gini kita semua ngga bisa ngelepasin ikatan lu,," bentak Rendra putus asa, hatinya ikut hancur melihat keadaa Gavin yang sudah seperti orang gila saat ini. Gavin terus menerus memberontak histeris meminta ikatannya dilepaskan saat itu juga. Dirinya masih sangat terpukul dan belum bisa menerima kenyaataan bahwa gadis yang begitu ia cintai kini telah berpulang ke rahmatullah.


"Gue cuma pengen ketemu Freya, please, gue harus ngeliat dia buat yang terakhir kalinya,, please gue mohon, hiiikks gue mohon.." pinta Gavin dengan suara sedikit melemah. Dewa akhirnya mengangguk pada Haidar mengizinkannya untuk melepaskan ikatan Gavin saat melihat putranya sudah jauh lebih tenang.


Gavin terduduk lemah meski ikatannya telah dibuka, dia tertunduk dengan frustasi dengan tangan kanannya tertumpu pada lututnya.


"Gue anter lo ke pemakaman Freya besok, tapi setelah itu lu harus ikut gue ke London, deal??" ucap Rendra membuat penawaran dengan Gavin, tentu saja itu semua atas suruhan Dewa yang tak sanggup melihat penderitaan Gavin atas meninggalnya Freya beberapa waktu lalu. Ini sudah hampir mau 6 bulan tapi Gavin malah makin terpuruk, Dewa takut depresi yang sedang di alami Gavin malah makin memburuk, makanya beliau berinisiatif agar Gavin dijauhkan dari Jakarta hingga komdisi mental Gavin kembali pulih. Cara yang di pilih Dewa yaitu mengirim Gavin ke London, yang akan ditemani Satria serta Rendra, sedang Haidar dan Vito akan menyusul mereka kemudian.


Gavin terduduk, tak menjawab penawaran Rendra, kepalanya tertunduk dengan tatapan kosong, rambutnya yang mulai gondrong acak-acakan tidak lagi terurus, tubuhnya lebih kurus, jambang diwajahnya mulai menghiasi wajah Gavin yang terlihat kuyu, sama sekali tidak ada gairah kehidupan di tubuh pemuda 26tahun itu. yang tergambar di wajah tampannya hanya kesedihan dan kepiluan hatinya meratapi kepergian kekasihnya.


*************


Gavin turun dari pesawat dengan langkah tergesa, di lobi bandara sudah ada pak Ucup menunggu dirinya serta Satria, dengan takzim pak Ucup segera menyilahkan Gavin mengikuti dirinya menuju tempat mobil yang sudah terparkir di depan pintu bandara .


"Pak antar saya ke tempat Freya dulu" perintah Gavin dengan nada dingin.


"Baik pak, ke rumah ibu Non Freya atau non Freya pak?"


"Langsung ke rumah Freya saja pak" ketus Gavin. Kemudian pak Ucup pun segera menyalahkan mobilnya dan langsung bergegas ke tempat yang menjadi tujuan majikannya.


Di lahan yang luas, cukup ramai pengunjung yang berjiarah hari ini, namun suasana tetap terasa lebih sunyi bagi Gavin. Gavin bersimpuh di hadapan sebuah makam berbalut rumput jepang yang terlihat subur, di atasnya terdapat batu nisan dari marmer di atasnya bertuliskan nama mendiang kekasihnya, Freya. Kemudian setelah selasai berdoanya ia pun menaburkan bunga dan air mawar diatasnya pusara tersbut, lalu .enaruh 1 bucket bunga anyelir berwarna pink yang memiliki makna

__ADS_1


"aku takkan melupakanmu"



Tangisnya kini telah lama berhenti, tapi berganti dengan kepiluan tak terkira dalam dirinya. Hatinya kembali retak ketika bayangan Freya yang meninggal dalam pelukannya terlintas di pelupuk matanya.


"Apa kabar Fre? Maafin Mas ya, baru bisa berkunjung, Mas harap kamu ngga terlalu kecewa karena Mas terlalu lama berdiam dalam keterpurukan selepas keperginmu beberapa tahun lalu. Maaf jika baru hari ini mas baru bisa berdamai dengan kenyataan bahwa harus bisa merelakanmu agar kamu di sana bisa bahagia." Gavin mengusap lembut nisan marmer milik Freya.


"Sayang, kamu tenang aja, Mas sekarang jauh lebih baik kok, meski mas sangat mencintai kamu, tapi nyatanya Allah lebih mencintai kamu. Mas sekarang ikhlas Fre, Mas janji mas akan bangkit, dan Mas akan hidup dengan baik. Mas sangat mencintai kamu, dan selamanya tak pernah berubah, karena sampai kapanpun kamu adalah wanita yang paling mas cintai" Gavin seakan kehabisan air matanya meski sejak tadi dia begitu merintih menahan sesak di dadanya.


"Mas sayang kamu Fre, dan sangat mencintai kamu.. Sekarang kamu udah bisa beristirahat dengan tenang sayang, selamat tidur Fre.." bulir air matanya kini jatuh tak tertahan lagi ke atas nisan Freya, dengan perlahan Gavin bergerak mencium batu nisan Freya dengan lembut beberapa menit, baru kemudian Gavin beranjak dari simpuhnya lalu berdiri. Tidak tegak, karena rasanya semua ini masih terasa berat untuk dia hadapi meski sudah berlalu beberapa tahun sejak kejadian mengerikan itu.


Dengan langkah gontai, Gavin perlahan meninggalkan area pemakaman yang luas itu, namun ia berjanji akan sering mengunjungi Freya untuk sekedar melepaskan kerinduannya dan tentunya agar Freya tak merasa kesepian.


*********


sarangheo..


( ˘ ³˘)❤( ˘ ³˘)❤


********

__ADS_1


__ADS_2