
( Disclaimer dulu sebelumnya, dalam prosesi ini mungkin author tidak bisa menjelaskan dengan detail, karena author bukan orang Jawa tapi author akan menuliskan secara general saja. Jadi jika ada banyak kekurangan atau kesalahan mohon dimaklumi ya 😊😊😊🙏🏻🙏🏻🙏🏻)
Di Hotel Sheraton Bandung, tabuhan gending dan langgam jawa mengalun di venue tempat acara keluarga Gavin melaksanakan prosesi acara siraman untuk Gavin. Untuk acara ini keluarga Gavin membatasi tamu yang hadir, hanya kerabat dan sabahat saja, meski begitu jumlah yang hadir tidak kurang dari 100 orang.
Tatalaksana upacara adat ini juga sedikit berbeda berbeda mengingat mami Hellen adalah orang Jawa Tengah yang masih memiliki silsilah keturunan Keraton Surakarta maka merekapun mengadakan acara siraman dengan adat Keraton Surakarta. Sedang Dewa sendiri, ayah Gavin adalah orang Jakarta asli yang tidak terlalu mempermasalahkan tentang adat mana yang harus diikuti, manut istri bae. Dalam ritual prosesi siramannya sendiri mereka tengah menunggu pihak keluarga Nayuwan yang menjadi perwalikan keluarga yang akan melalukan upacara serah terima air yang disebut tirta adi, yang kini tengah di jemput oleh Eveline adik kedua Gavin yang sudah menikah yang tengah menjemput air "tirta adi". Secara simbolis upacara adat tersebut akan diwakilkan oleh Faisal dan Clara yang akan menjadi wakil pihak keluarga Nayuwan.
Upacara adat menambahkan atau mencampurkan air siraman calon mempelai wanita dengan air siraman calon mempelai pria ini disebut manuhaken (mempertemukan). Yang itu berarti air suci yang di sebut tirta adi tersebut diambil dari air yang dipergunakan oleh Nayuwan saat siraman.
Gavin nampak tengah bersiap ditemani teman-temannya yang juga tengah bersiap mengenakan pakaian yang sudah disediakan. Gavin nampak lebih gagah aura khas bercahaya sekaligus berseri-seri memancar celemerlang tatkala ia sudah mengenakan pakaian adat Jawi Jangkep dengan dominasi warna hitam pada bagian atas. Pakaian ini terdiri atas beskap hitam disertai motif bunga keemasan di bagian tengah, berkerah agak tinggi dan tidak memiliki lipatan. Bawahan yang berupa kain jarik dengan cara dililitkan ke pinggang. Dengan tambahan seperti aksesoris berupa blankon yang digunakan untuk penutup kepala. Kemudian keris yang disisipkan pada bagian belakang, dan alas kaki berupa selop.
Sedang Rendra, Vito, dan Haidar mengenakan Atela berwarna nude. Atela hampir Mirip dengan beskap namun perbedaannya pada bentuk atela yang simetris dengan letak kancing tepat ditengah atau dibawah leher, sedangkan kancing beskap terletak di bagian dada kanan dan kiri. Bagian belakang juga lebih pendek.
"Ciee ileh belum akad si bapa presdir kita udah tegang aja, Santai napa lu Vin?" seloroh Haidar
__ADS_1
"Berisik lu ah, " hardik Gavin seraya melirik tajam sekilas. Vito dan Rendra tersenyum saat mendengar gurauan Haidar.
"Tenang bray, kita doain moga abis si Vito bulan depan, si Haidar nyusul. Gua mah belakangan aja,, biar tau rasa dia" kata Rendra menceng-cengi Haidar yang baru kembali dari toilet untuk kesekian kalinya.
"Ah tapi gue rasa yang dari tadi tegang itu bukan si Gavin deh, orang yang dari bulak balik ke toilet buang air kecil itu si Haidar kok." sahut Vito yang sedang dibedaki tipis-tipis.
"Eh bener juga ya, eh Dar yang mau sungkeman sama siraman itu kan gue, kok elu yang kena serangan panik?"
"Takut die, kalo misal tiba-tiba salah satu ceweknya tiba-tiba dateng minta tanggungjawab. Bisa-bisa mojang Bandung neng Ardilla gagal dipersunting hahahhaa" gelak Rendra. Orang-orang yang tengah membantu mereka ikut terkekeh karena yang maksud di awal Haidar ingin menggoda Gavin, malah dia yang dibully para sahabatnya itu..
"Masya Allah ada bidadari dari surga" celetuk Haidar tanpa sadar karena terpesona dengan kecantikan mama Hellen yang berdarah campuran Jawa, Jepang, dan masih ada sedikit sentuhan orang Turki.
"Eekkheemm yang ini sudah punya Om" kata Dewa tiba-tiba muncul sembari merangkul pinggang ramping Hellen dengan protektif. Padahal niatnya ia ingin mengambil blankonnya yang tertinggal, namun apes untuk Haidar, Dewa datang tepat disaat ia memuji istrinya. Kontan membuat semua orang tertawa
__ADS_1
"Maaf om, tapi kalo misal tante butuh selimut tambahan boleh kok" seloroh Haidar. Sebelum Dewa menyahut Hellen sudah menyahuti duluan.
"Ogah ah sayang, tante masih betah kok sama Om kamu ini, biar udah tua juga masih greng, masih bisa lah buat smackdown di ranjang 3 ronde, lagian uang papihnya Gavin lebih banyak dari uangmu anak mu" cemes Hellen, yang sontak saja membuat Haidar mati gaya dan membuat semua orang menertawakannya dengan iba.
"Yang sabar ya anak muda"ucap Dewa sembari menepuk - nepuk bahu Haidar saat ia melewatinya karena letak blankonnya tersimpan ada di meja dekat Rendra.
"Ga kebayang kalo si Ardilla tau spek calon lakinya doyan bini orang hahhhaaa" Rendra makin kencang menggoda Haidar yang masih cengo mencerna kalimat mami Hellen.
" Ayo sudah-sudah acaranya udah mau di mulai, itu MCnya udah mulai itu, Eveline udah pergi ke rumah Nayuwan buat isi kendi tirta adi-nya." seru Mami Hellen menyudahi keributan mereka.
10 menit berlalu, semua orang yang hadir sudah berada di tempatnya masing-masing dengan berurutan sesuai dengan tingkat kekerabatannya. Dimulai dari yang paling dijadikan sesepuh hingga paling tingkatannya bawah seperti para keponakan Gavin.
Di tengah tempat acara digelar sudah berdiri seorang pria memakai Atela berwarna biru. Suara bassnya yang tebal mulai membuka acara yang kemudian dilanjutkan dengan menerangkan rangkaian yang akan berlangsung sebentar lagi. Gavin nampak hikmatmenyimak pembawa acara yang sedang membawakan susunan acara akan dilaksanakan pada sore itu ia nampak cukup tenang, atau mungkin berusaha tenang.
__ADS_1
...****************...