
"Kamu dari departement mana hah?! Biar saya adukan ke atasan kamu nanti, karena kamu sudah bersikap kurang sopan sama saya, kamu ngga tau GM perusahaan ini adalah pacar saya !!" bentak perempuan itu bertolak pinggang.
Raut wajah Nayuwan bersikap seolah terkejut dan ketakutan mendengar gertakan si perempuan itu.
"Jangan bu, saya minta maaf, saya salah sudah berlaku sopan sama ibu senior, saya benar-benar minta maaf!!" ujar Nayuwan sembari meraih tangan perempuan itu dan menunjukan wajah memelas,
"Halah kalo udah kaya gini kamu baru melas-melas minta maaf, dasar orang kampung. Ngeliat orang pake baju "sedikit terbuka" langsung julid !!"
"Iya bu saya minta maaf, saya janji saya tidak akan mengulanginya lagi" ucap Nayuwan langsung membungkukan tubuhnya sebagai tanda permintaan maaf.
Entah apa yang dipikirkan pegawai lainnya begitu melihat Nayuwan melakukan hal itu. Satu di antara mereka ada yang langsung mengendurkan simpul dasi gelisah, ada yang tertunduk sambil menggeleng-geleng kepala frustasi, ada juga yang terus menerus melap keringat dari serta pelipis mereka. Dan ada juga yang berusaha menahan tawa mereka sampai harus menggigit bagian dalam bibir mereka, tentu saja mereka adalah Clara dan Gina.
"Mana name tag kamu, sini biar saya kasih ke pihak HRD biar kamu dapet SP !! Orang macam kamu itu memang harus dikasih pelajaran supaya tau diri sama senior!!"
"Saya mohon bu, tolong maafkan saya sekali ini saja" ucap Nayuwan memohon seolah akan menangis.
"Ting !" pintu lift berhenti di lantai 8, yaitu lantai gedung Departemen PPIC,
"Beruntung kamu !! Hah !!" ujar perempuan itu sambil ngeloyor keluar dari lift bersama beberapa pegawai yang juga bekerja di lantai itu.Tinggal Nayuwan, Gina, Clara, serta beberapa orang lainnya. Perlahan Nayuwan menegakan kembali tubuhnya.
"Puas kalian berdua !!" tegur Nayuwan pada Gina dan Clara.
"Buahahahhaaha,, di kira anak magang ngga tuh?!" ujar Clara tertawa sambil memegangi perutnya, begituñun dengan Gina.
" pPffhhtt.." beberapa pegawai hampir saja ikut pecah terbahak begitu Clara dan Gina tak bisa lagi menahan gelak tawanya.
Nayuwan menoleh"Kalian kalo mau ketawa ya ketawa aja ngga usah sungkan" ujar Nayuwan.
Setelah semua pegawai turun semua, aura Nayuwan yang semula terlihat ramah berubah sedikit gelap. sorot mata tajam menatap sinis pintu lift yang tertutup.
"Gina, " panggil Nayuwan berdiri tegak membelakangi Clara dan Gina, kedua tangannya ia masukan ke kantong celananya,
Begitupun dengan Gina menjadi mode serius "Iya bu,"
__ADS_1
"Segera hubungi Pak Harlan, Bu Safira, dan Bu Ega, katakan pada mereka saya tunggu mereka di ruangan saya dalam waktu kurang dari 20 menit" ujar Nayuwan tanpa ekspresi sama sekali wajahnya.
"Baik bu" jawab Gina seraya menundukan kepala saat Nayuwan dan Clara melangkah dari lift menuju ke ruangan mereka masing-masing.
Tersisa satu menit dari waktu yang ditentukan oleh Nayuwan. Dia menyandarkan tubuhnya pada kursi kerjanya yang empuk itu, sembari menutup matanya menikmati alunan musik instrumen yang menenangkan, kedua tangannya bertumpa pada lengan kursi, satu tangannya menopang kepalanya, dan satunya lagi memainkan pulpen dengan gerakan spining.
"Tok tok tok"
"Masuk," seru Nayuwan,
"Maaf Bu, di luar sudah ada pak Harlan, bu Safira, dan bu Ega, katanya di suruh bu Gina untuk menghadap ibu" ujar Novi terlihat sedikit khawatir karena Nayuwan seperti tidak sedang dalam suasana hati yang baik.
"Suruh mereka masuk" perintah Nayuwan tanpa membuka matanya.
"Baik bu" Novi sedikit membungkukan tubuhnya kembali sebelum undur dari ruangan Nayuwan.
"Ceklek" pintu ruangan Nayuwan ia tutup dengan hati-hati setelah menyilahkan Harlan, Safira, dan Ega masuk ke ruangan Nayuwan. Gina yang baru datang dari pantri nampak bingung dengan gelagat Novi yang berdiri mematung di depan meja kerjanya seperti sedang mengkhawatirkan sesuatu.
"Woi, ngelamun aja!?" tegur Gina pada Novi yang sedang melamun. Gadis itu terperanjat sembari menepuk d**anya karena dikejutkan Gina yang menepuk bahunya.
"Lagian masih pagi udah ngelamun, kesambet loh baru tau rasa" cicit Gina menyeruput lattenya.
"Ada apa emangnya?"
"Itu bu, suasana bu Nayuwan hari kok berasa horor gitu ya?"
"Ah biasa itu, paling lagi bad mood, abis berantem kali sam presdir Gavin." sahut Gina pura-pura tidak tahu kejadian tadi waktu di lift.
"hummmm iya kali ya.. by the way bu, mereka emang udah jadian?"
"Doain aja, moga lancar semuanya.."
' Klunting' sebuah pesan masuk ke ponsel Gina.
__ADS_1
"Balik ke ruanganku dulu deh, nanti cerita-cerita lagi,, awas jangan ngelamun lagi"
"Iya bu," angguk Novi kemudian kembali ke mejanya melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda.
Sudah lima menit berlalu Harlan, Safira, dan Ega berdiri mematung dengan perasaan gelisah di ruangan boss mereka.
"Anu bu, permisi boleh kami tau kenapa ibu mendadak memanggil kami ?" Harlan akhirnya memberanikan diri untuk bertanya pada Nayuwan yang terlihat sedang memejamkan matanya. Perlahan kelopak mata Nayuwan terbuka lantas menatap mereka mereka satu persatu dengan tatapan yang menusuk. Nayuwan kemudian beringsut dari sandaran kursinya, lantas ia menaruh lengannya di meja dengan jari tangan saling menyatu.
"Kalian tidak lelah berdiri terus?" tanya Nayuwan tanpa menunjukan ekspresi apapun di wajahnya. Mereka hanya diam, benak mereka dipenuhi rasa was-was takut jika mereka tanpa sadar telah melakukan kesalahan yang merugikan perusahaan. Rongga d**a Nayuwan terlihat terangkat saat dirinya membuang nafasnya, kemudian seulas senyuman terkembang manis dibibirnya,
"Hmmm Pak Harlan gimana istrinya, kabarnya lagi hamil ya?" tanya Nayuwan terlihat lebih ramah.
"Ii iiya bu, istri saya sedang hamil anak pertama kami,"
"Wah selamat ya pak, "
"Iiya bu, terimakasih" ada kebingungan terjadi di sana tidak mungkin kan mereka di panggil hanya untuk mendengar Pak Harlan diselamati sang bigboss.
"Gin, sudah dapet belum, kalo sudah tolong ke ruangan saya sekarang" seru Nayuwan pada Gina melalui interkom.
"Sudah bu, baik saya segera ke sana sekarang"
Tak berselang lama Gina muncul dengan beberapa file ditangannya.
"Ini bu, berkas yang ibu minta" ujar Gina sembari meletakan berkas itu di meja Nayuwan.
"okey, kamu boleh balik ke ruangan kamu"Gina pun segera meninggalkan ruangan tersebut. Nayuwan lagi-lagi terlihat membuang nafasnya saat memeriksa file yang baru saja Gina serahkan kepadanya.
" Hummm maaf ya mood saya hari ini lagi jelek banget, ok, Saya langsung saja, saya cuma mau bilang kalo saya mau buat sedikit revisi untuk pakaian yang boleh atau layak digunakan ke kantor kita ini. Bukan apa-apa cuma belakangan ini saya terlalu sering menemukan pegawai terutama karyawati yang berpakaian sero***k, terlalu terbuka di bagian da**, berekspresi boleh apalagi perusahaan kita juga memiliki cabang di industri fashion tapi tetap harus tau batasannya sampai mana, kan rasanya kurang etis jika kita bertemu atau meeting dengan client dengan pakaian yang boleh dibilang kurang bahan, apa ngga dikira nanti perusahaan kita ini ikut menjual ayam kampus, kan itu mengurangi citra perusahaan ya pak Harlan?" Harlan hanya mengangguk saja karena masih takut untuk berbicara jika mood Nayuwan sedang buruk seperti sekarang.
"Bu Safira, jumlah seluruh pegawai kita berapa ya?"
***********
__ADS_1
sarangheo
( ˘ ³˘)❤( ˘ ³˘)❤( ˘ ³˘)❤