Merpati Hitam

Merpati Hitam
"Masa berlalu" 1


__ADS_3

Nayuwan meniti anak tangga menuju ke kamarnya di lantai atas sambil membuka amplop coklat berisikan akte cerainya dengan Raka. Dia menghela nafas dalam. Dia terduduk sambil memeluk amplop terserbut. Hatinya sudah tak sesakit dulu, air matanya juga sudah mengering untuk menangisi lelaki yang pernah merajai hatinya.


"Akhirnya aku punya kado perpisahan yang tepat untuk mu" Nayuwan tersenyum getir.


***************


7 tahun yang lalu.


"PLAK !" wajah Nayuwan berpaling dari kiri ke sisi kanan saat Raka menampar wajahnya, tubuhnya bergetar hebat bukan hanya karena tamparan itu saja yang terasa sangat perih dan panas di pipinya, tapi hatinya jauh lebih sakit karena pertengkaran itu disebabkan Raka yang ketahuan selingkuh. Air matanya mengalir deras tanpa bersuara, gerahamnya gemeratak menahan sesak yang seakan tertahan ditenggorokannya.


"Aku harus sesabar apalagi? Aku harus sepenurut apalagi agar kamu bisa menghargaiku? hiks .. hiks" Lirih Nayuwan tertunduk lemah, sesekali isak tangisnya terdengar meskipun dia sudah berusaha keras menyembunyikan kegetiran hatinya. Raka menatap tajam padanya, dari sorot matanya terlihat jelas kemarahan yang masih menyelimutinya. Alih-alih meminta maaf Raka mencengkram kuat lengan Nayuwan lalu mendorong kasar Nayuwan hingga terduduk, tangis Nayuwan pecah meskipun tetap tak mengeluarkan suara. Melihat reaksi istrinya Raka langsung mengambil kunci mobilnya.


"kamu mau kemana?" Nayuwan bangkit setengah berlari meraih lengan Raka, dalam keadaan yang sudah babakbelur dia masih mengiba menahan agar Raka tidak pergi malam itu.


"Bukan urusan mu!"kepis Raka kasar. Dia kemudian menyalakan mobilnya dan pergi meninggalkan Nayuwan yang meraung meratapi dirinya.


Sepanjang malam ia terus mencoba menghubungi suaminya yang pergi entah kemana. Pikirannya kacau, dalam keadaan seperti itu ia tetap mengkhawatirkan suaminya, ia juga terus merutuki dirinya sendiri karena menyidang suaminya sesaat setelah dia tidak sengaja membaca pesan singkat dari ponsel suaminya. Rasa cemburu, marah, sedih hingga bersalah langsung menghujaninya bagai ribuan tombak yang menusuk tepat di ulu hatinya.


Raka sama sekali tak menghiraukan teriakan Nayuwan dia langsung mengendarai mobilnya keluar dari halaman menuju jalan besar. Malam itu dia memang tidak pulang lagi ke rumah, baru pukul empat subuh Raka baru kembali itupun atas nasehat Haris, untuk malm ini dia diperbolehkan menginap di rumahnya untuk menenangkan emosi sahabatnya itu.


Raka dengan perlahan membuka pintu, suasana rumah masih sangat sepi, ruang tamu yang biasa tertata rapi kini tak ayal bak kapal pecah. Raka menghela nafas setelah menyadari amukannya semalam, disekelilingnya berserakan serpihan beling dan barang-barang yang bergelatak sembarangan. Baru beberapa langkah ia memasuki ruang tamu itu, matanya seketika membulat mendapati Nayuwan tergeletak begitu saja diantara serakan barang-barang sambil menggenggam telpon genggamnya. Perasaannya di penuhi rasa panik Raka cepat meraih tubuh istrinya yang tengah pingsan entah sejak kapan.

__ADS_1


"Sayang, sayang bangun, kamu kenapa sayang? Sayang buka matamu.." suara Raka bergetar ia mengguncangkan tubuh Nayuwan dalam dekapannya yang terkulai lemas seperti orang mati, jantungnya berdetak kencang pikirannya kalut mulai menyelimutinya, meskipun Raka sering melakukan KDRT dan sudah beberapa kali ketahuan selingkuh namun dia tetap tidak pernah berpikir untuk melepaskan Nayuwan, di waktu-waktu dalam keadaan normal dia suami yang mencintai istrinya, dan tidak pernah bisa tega jika melihat istrinya kelelahan aplagi sampai terkapar seperti sekarang, kalau di ingat-ingat setelah melakukan KDRT, kemudian istrinya sakit karena ulahnya, kepribadiannya berubah 180° menjadi sisi lembut, penuh perhatian dan sangat memanjakan. Mungkin inilah alasan Nayuwan selalu berpikir bahwa suaminya akan berubah suatu saat nanti,alasan yang selalu membuatnya luluh kembali lalu memaafkan Raka.


Kembali ke Raka yang sedang membopong tubuh istrinya ala bridal style, Raka meletakan tubuh istrinya dengan sangat hati-hati. Ia menggosok tubuh istrinya dengan hati-hati menggunakan minyak angin. Ia juga mengobati bibir Nayuwan yang sobek akibat pukulannya semalam.


"eengghh" Nayuwan mulai tersadar matanya nanar berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. Ia melihat ke sekeliling, kepalanya terasa sangat berat. "Ceklek!" Nayuwan menoleh dengan lemah.


"Sayang, kamu mau ke dokter?" lirih Raka sembari membelai lembut pipi istrinya yang masih bengkak. Nayuwan menggeleng perlahan, ia malah berhambur memeluk suaminya tanpa ia peduli rasa sakit disekujur tubuhnya. Dia membenamkan wajahnya dalam pelukan Raka, ia menangis sejadi-jadinya. Raka membalas pelukan istrinya dan menciumi kening dan pucuk kepala istrinya itu.


"Aku minta maaf kalau udah buat salah hiks.. kamu boleh pukul aku sepuas hati mu sampai amarahmu reda, tapi aku mohon jangan pergiii.. hiks jangan tinggalin aku sendirian seperti semalam.. hiks.. aku ngga mau sendirian hwaaa..aaaaa " tangis Nayuwan pecah sesak di dadanya benar-benar tidak bisa dia tahan lebih lama lagi. Raka menghela nafas panjang. Tenggorokannya terasa tercekik, telinga memanas menyesali perbuatannya semalam. Padahal jelas-jelas dia yang salah karena bermain api dengan wanita lain. Selama ini Nayuwan tidak pernah mengeluh dalam hal apapun. Godaan-godaan rutuknya dalam hati.


"Maafin aku ya yang, aku khilaf" tangis Nayuwan makin pecah, hatinya terasa sangat pilu begitu mendengar permintaan maaf suaminya. Dia hanya menggangguk perlahan. Raka mencium kening istrinya begitu dalam. Perlahan Raka beralih mencium bibir istrinya.


"ssstth.."Nayuwan meringis bibirnya terasa perih, Raka lupa jika bibir istrinya masih terluka.


"Yuwan, buka pintunya ! kalau tidak saya dobrak ini pintu!!" Theo berteriak sambil menggedor pintu kamar Nayuwan membabi buta. Theo khawatir kalau-kalau Nayuwan mencoba bunuh diri lagi. Atas persetujuan yang punya kost akhirnya pintu kamar Nayuwan di dobrak paksa oleh Theo.


"BRAAAK !!!" Theo langsung berlari menghampiri tubuh Nayuwan yang sudah lemas tak sadarkan diri. Ini bukan kali pertama Nayuwan melakukan percobaan bunuh diri dengan obat tidur lagi. Theo langsung membopongnya keluar dengan ala bridal style menuju mobilnya. Ingin rasanya Theo melampiaskan amarahnya pada Raka, lelaki yang sudah membuat Nayuwan seperti sekarang.


Setelah mentalaq Nayuwan beberapa waktu lalu lelaki itu seakan lenyap bak di telan bumi. Dari informasi orang terdekatnya Raka pergi ke luar negeri dengan selingkuhannya.


"Kami sudah menguras isi perut ibu Nayuwan, dalam bebarapa jam dia akan segera sadar, tapi yang harus di perhatikan adalah Psykis ibu Nayuwan sendiri yang sekarang tengah benar-benar hancur. Ini akan sulit kita tangani, karena self-harm nya seperti terus menginstruksi dirinya untuk melakukan bunuh diri saat tengah sendirian. Saran saya bawa ibu Nayuwan ke psykiater agar dapat ditangani dengan lebih tepat dan cepat dan jangan biarkan dia sendirian." Theo menelan salivanya kasar, rahangnya mengeras, mendengus nafas dengan kasar begitu mendengar penjelasan dari dokter barusan, ia benar-benar frustasi dengan keadaan ini.

__ADS_1


Theo berjalan gontai menuju kamar Nayuwan, dia mendekati tempat tidur Nayuwan, lelaki itu menatap lekat wajah perempuan yang disukainya itu, dia mencium kening Nayuwan yang sedang berbaring lemah, ia menatap selang infus menancap di punggung kiri perempuan itu. Getir.


"euungeuh" lengunhan lirih suara Nayuwan yang sepertinya mulai tersadar dari pengaruh obat tidurnya. Ia mengerjap-ngerjapkan mata nanarnya. Samar-samar dia mulai bisa melihat sosok Theo di sampingnya. Nayuwan kembali menghela nafas percuma.


"Kalau mau mati pastiin jangan di rumah orang! Kasian yang punya kosant mu !" cecar Theo dengan mimik wajah tegang dan sinis, lagi-lagi Nayuwan hanya menghela nafas, ia malas berdebat dengan lelaki itu, iapun masih merasakan kepalanya terasa sangat pusing dan berat.


"BRAAK!" Moya, Ardilla, dan Reva berebut masuk ke kamar rawat inap Nayuwan. Nayuwan tersenyum tipis dengan kegaduhan para sahabatnya itu.


"bu kumaha ayeuna, naon anu karasa mana nu nyeri (bu gimana sekarang, apa yang kerasa, mana yang sakit)?" Nayuwan tersenyum getir, bibirnya bergetar menahan tangisnya saat menerima pelukan dari para sahabatnya itu, namun matanya yang berkaca-kaca tidak bisa berbohong , ia berusaha menahan sesak yang tercekat di tenggorokannya. Masih berusaha tegar.


*****************



Profile :Raka Bagaskara, mantan suami Nayuwan.


Bertempramen kasar, sebelum menikah dengan Nayuwan dia seorang pekerja serabutan di Stasiun Manggarai, setelah menikah dengan Nayuwan dia mampu menjadi pengusaha waralaba kuliner yang mempunyai beberapa cabang di Jakarta dan Bogor. Namun akhirnya dia gulung tikar ketika menikahi wanita selingkuhannya. Kemudian dia terus mengejar Nayuwan agar bisa kembali rujuk dengannya. Dasar ODGJ!


*****************************


bantu di up like dan koment yang membangun ya teman-teman biar author makin semangat menulisnya..

__ADS_1


sarang heo 🥰🥰🥰


******************


__ADS_2