
"Diduakeun ku abah, mugia teteh aya dina panantayungan sareng karidhoan Allah Subhanahu wa ta'ala salawasna, mudah-mudahan ngalaki rabi dugi ka jaga patepung deui di sawarga na Allah, sing barokah, sing dibabarikeun milik rezeki na, sing panjang yuswana sing sarehat lahir bathina, Mudah-mudahan anu jadi picarogeun hidep, jalmi anu lain ukur ngarti kana agama, tapi jalmi anu bisa ngamalkeun pangartina. "(Didoakan oleh abah, semoga teteh ada dalam lindungangan dan keridhoan Allah Subhanahu wa ta'ala selamanya, mudah-mudahan berumahtangga hingga nanti bertemu lagi di surganya Allah. Semoga berka, semoga dimudahkan milik rezekinya, semoga panjang umurnya, semoga semua sehat lahir dan bathinnya. Mudah-mudahan yang jadi calon suamimu, adalah orang yang tidak hanya mengerti agama, namun seseorang yang bisa mengamalkan apa yang ia ketahui )" pungkas pak Hidayat dengan derai air mata yang makin deras membasahi pipinya. Ibu Ririn lantas segera mengambil kembali microphone yang Pak Hidayat kembalikan kepadanya.
"Jungjunan, Neng Nayuwan Gava Pramesti. Eces kadangu ku hidep. Ibu rama hidep atos ngabebaskeun hidep, atos ridho, ikhlas, tur salawasna bakal ngadoakeun hidep. Bral geura miyang bageur, doa aranjeuna bakal jadi kakuatan kanggo hidep. Doa aranjeuna insha Allah diijabah ku Allah nu Maha Agung. Gabrug rangkul ibu rama hidep, pamitan ka aranjeuna duaan bageur," ( Kesayangan, Neng Nayuwan Gava Pramesti. Jelas terdengar oleh mu. Ibu dan ayah mu, sudah membebaskan engkau, sudah ridho, ikhlas, dan selamanya akan selalu mendoakanmu. Pergilah anak baik, doa mereka Insya Allah diijabah Allah yang Maha Agung. Peluk rangkul ibu dan ayahmu, berpamitanlah kepada mereka berdua nak)" ibu Ririn memberi aba-abak kemudian Nayuwan memeluk ayah dan ibunya dengan dengan derai air penuh keharuan. Bahkan pak Hidayat yang sedari tadi sekuat tenaga agar suara tangisnya masih berusaha ia tahan kali ini ia ikut histeris meluapkan dan melebur semua perasaan yang ingin membuncah sejak tadi.
Kidung yang diiringi serunai bambu dan petikan kecapi menanbah pilu suasana prosesi sungkeman Nayuwan. Tidak ada satu orangpun dari mereka yang ikut menyaksikan tidak ikut tenggelam. Bahkan Aiden yang masih SD ikut merasakan kegetiran dan keharuan prosesi tersebut. Ardilla dan Reva mereka sama-sama memeluk Moya yang juga tengah mengisak sesenggukan. Terlebih Moya ia seakan terkenang dengan almarhumah Mamanya yang meninggal 3 tahun silam. Hatinya seakan dirajam berkali-kali lipat ketika mengingat hari di mana sang ibu berpulang ke pelukan yang Maha kuasa. Mereka bertiga mengenang bagaimana jatuh bangunnya perjuangan seorang Nayuwan yang memiliki tekad yang mereka akui lebih kuat dari tekad mereka bertiga. Karena selama bertahun-tahun Nayuwan harus menjadi pengganti tulang punggung untuk keluarganya.
Nayuwan mungkin egois dengan ia tidak pernah meminta bantuan ayah Alea sejak mereka berpisah. Namun baginya itu semua akan ada harga yang tidak bisa dibeli oleh Ayah Alea, yaitu tanggungjawab dan harga diri. Padahal setelah berpisah Nayuwan tidak pernah sayaq melarang Firman untuk datang berkunjung untuk menemui Alea. Nayuwan hanya melarang Firman untuk menemuinya lagi, dan melarang keluarganya untuk mendatangi keluarga Firman. Karena ia sama sekali tidak ingin di anggap menjadi pengemis jika sampai Alea atau keluarganya berkunjung ke keluarga Firman. Nayuwan sama sekali tidak pernah mengatakan hal yang buruk mengenai Firman kepada Alea. Namun ia selalu menegaskan, jika memang Firman ayah yang bertanggungjawab, harusnya tanpa perlu di suruh maka ia akan rajin mengunjungi Alea, atau sekedar berkabar tidak melulu harus selalu membawa buah tangan atau materi. Karena sejatinya yang dibutuhkan seorang anak adalah perhatian, meski itu hanya sekedar mengirim pesan singkat. Dan Firman selama belasan tahun tidak pernah melakukan hal itu. Wajar jika Alea lebih menyayangi dan lebih menganggap Raka sebagai ayahnya dan sama sekali hampir tak menganggap kehadiran Firman ayah kandungnya.
__ADS_1
"Jungjunan, buah hate kembang soca. Jimat ati berang jeung peuting. Doa tuang rama sareng ibu hidep, nyarengan lengkah hidep. Dititipkeun salawasna ka Allah anu Maha kawasa. Sangkan hidep sing bagja tur waluya. Aamiin"(Kesayangan, buat hati, tanda mata. Jimat hati siang dan malam. Doa dari ayah dan ibu mu, menyertai langkahmu Dititipkan selamanya kepada Allah yang Maha kuasa. Agar hidupmu bahagia dan mulia. Aamiin )"Geulis mangga mayun ka tuang ibu palih dieu" (Cantik, silahkan menghadap ke Ibu sebelah sini) Nayuwan lamtai melepas pelukannya dan bersimpuh dihadapan ibunya.
"Buktos bakti hidep kanu jadi indung, mangga ayeuna urang ngalaksanakeun naon anu disebatkeun ngaras." ( Bukti bakti engkau kepada sosok Ibu, silahkan sekarang kita laksanakan apa yang disebut dengan Ngaras.)"
"Neng na rada majeng sakedik"( Nengnya agak maju sedikit )
__ADS_1
"Naha ieu anduk na kelirna bodas, ieu ge simbul. Kanyaah kedeudeuh nu jadi indung kanu jadi anak. Teu geuneuk teu maleukmeuk estuning clik wening clak herang. Angkat dampal sampean ibu kana pangkonan hidep geulis. Sok usapan ku neng bari nginget nginget dosa. Sabaraha kali nyentak tuang ibu? Sabaraha kali ngabohong ka ibu? Tikawit hidep baleg kapungkur dugi ka ayeuna? Bisi.. Can katobatan.. Bisi jadi gantar kakaitan. Ulah jadi tunggul sirungan, catang supaan, ulah jadi hahalang lungsur ridho na Allah.Tobat ka pangeran menta ampunan ka anjeuna. Istighfar tilu wangsulan Neng Nayuwan." (Kenapa handuk ini berwarna putih? Ini juga simbol, kasih sayang, perhatian yang jadi ibu kepada anaknya. Tidak abu-abu hanya putih bersih bening. Angkat telapak kaki ibu ke pangkuanmu cantik. Usap-usap oleh mu sembari mengingat dosa. Berapa kali membentak ibumu? Berapa kali membohongi ibumu? Takut,, Belum tertobati, takut jadi tidak ikhlas, jangan menjadi akhir yang tidak baik, jangan menjadi penghalang turun ridhonya Allah. Tobat ke pangeran minta ampunan dariNya. Istighfar 3 balikan neng Nayuwan.)
"Astaghfirulillahaladzim, Astaghfirullahaladzim, Astaghfirullahaladzim, hampura dosa-dosa abi ya Allah, hiks. .hampura laku lampah abi ka pun biyang ya Allah, hampura ucapan-ucapan hikss abi anu tara disaring ya Allah hikss. Astaghfirullahaladzim hampura abi sok tamelar kanu jadi indung, hikss hampura abi sok kasar ka pun biyang ya Allah hikkdsHampura sadayana kakhilafan abi ka pun Biang ya Allah"( Astaghfirullahaladzim, Astaghfirullahaladzim, Astaghfirullahaladzim, Maafkan dosa-dosa ku Ya Allah, maafkan tingkah laku ku kepada ibu hamba ya Allah, maafkan ucapan-ucapan hamba yang tidak dijaga Ya Allah. Astaghfirullahadzim maafkan hamba suka mengabaikan ibu hamba, maafkan hamba suka kasar kepada ibu hamba. Maafkan segala kekhilafan hamba kepada ibu hamba Ya Allah) " Ucap Nayuwan dengan suara lirih juga serak bercampur dengan isak tangisnya yang makin rapat.
masih lanjut..😂😂
__ADS_1