
Tersisa dua jam sebelum acara inaugurasi presdir baru akan segera di gelar dengan mewah dan spektakuler pastinya. Sementara itu seluruh staff Keamanan dan EO masih sibuk mengecek kembali persiapan dan peralatan untuk acara tersebut. Acara pengukuhan kali ini di rancang sedemikian rupa dan berbeda dari perhelatan biasanya. Berusaha agar para tamu undangan menikmati seluruh acara dan merasakan kesan yang luar biasa dari awal hingga akhir.
Di salah satu ruangan hotel Shangri La, tepatnya di kamar suite room Nayuwan terlihat beberapa orang staff MUA masuk ke kamar tersebut dengan membawa peralatan makeup dan beberapa gaun. Ya beberapa gaun yang akan dipilih lalu di pakai Clara dan Gina. Sedang Nayuwan sudah memesan secara khusus gaun yang akan dikenakannya untuk menghadiri acara inaugurasi malam ini.
"Kang, gaunnya mau ditaruh sebelah mana ?" tanya seorang asissten Kang Lucky yang sedang meratakan primer di wajah Nayuwan dengan lembut.
"Di situ saja, di pojokan itu " seru kang Lucky sambil menunjukan letak dimana gaun itu harus di letakan
Kang lucky kemudian melanjutkan pekerjaan nya merias wajah Nayuwan.
Kang Lucky Lukman adalah MUA langganan keluarga Nayuwan, bukan sekali dua kali ia merias wajah Nayuwan sehingga kang lucky tahu betul karakter riasan seperti apa yang diinginkan Nayuwan, soft Natural. Tentu saja hasil riasannya tak pernah gagal membuat seorang Nayuwan selalu tampil sempurna bak bidadari, makanya Nayuwan menjadikannya sebagai MUA tetap untuk keluarganya.
Selang beberapa menit Gina datang dengan rusuh. Setibanya Gina di ruangan tempat dimana Nayuwan sedang di rias. Langkah Gina berhenti rem mendadak untung tidak terjadi tabrakan dengan staff MUA yang masih sibuk lalu lalang menyiapkan dan menyimpan peralatan, matanya berbinar tertuju pada sebuah gaun yang sangat indah di sebuah manekin.
"Masya Allah, gaunnya cantik banget" Gina menutup mulutnya karena terperangah takjub saat melihat model gaun akan di pakai Nayuwan malam nanti. Gaun yang begitu mewah dengan taburan swarovski dipadu warna champagne, membuat gaun tersebut terlihat makin berkilau namun tetap meninggalkan kesan lembut juga elegant.
"Bu Clara.." Gina mencolek Clara yang juga sedang di rias oleh seorang MUA lainnya.
"Hmmm" Clara hanya menjawab dengan gumaman singkat.
"Sebenarnya ini acara apaan sih ?"Gina pura-pura bertanya sambil menunjukan ekspresi wajah seperti kebingungan
"Inaugurasi Pak Gavin jadi Presdir Teh, kalau Teteh lupa, Emang kenapa teh ?"Clara balik bertanya menatap heran dengan pertanyaan Gina. Bagaimana mungkin Gina lupa tema acara malam ini?
"Hmm Ga apa-apa sih cuma mau mastiin sesuatu." Clara beringsut dari kursinya,dia mengernyitkan dahinya sambil menoleh pada Gina yang terlihat cengengesan.
"Soalnya agak heran aja gitu bu, saya merasa malam ini seperti bukan acara lnaugurasi.. Tapi lebih ke seperti acara lamaran atau resepsi pernikahan seseorang" alis Gina naik turun, lalu memalingkan wajahnya ke arah Nayuwan sambil mengulum senyum menahan tawanya. Sementara Clara rada sedikit l**oading mencerna ucapan Gina. Kemudian menggaguk setelah faham kemana arah obrolan Gina barusan.
"Teh Gina..!" panggil Clara menyipitkan matanya menatap Gina lalu beralih menatap Nayuwan yang sedang di rias dengan tatapan serius.
"Ii..iya bu" jawab Gina sedikit terbata saat melihat ekspresi Clara yang serius.
"Hmmm sepertinya apa yang teteh katakan tadi sepertinya benar.." Ujar Clara tersenyum miring.
"Tapi yang jadi pertanyaannya.. Yang jadi mempelai prianya kira-kira siapa ya? Pak Gavin atau Pak Rendra nih?" lanjut Clara masih dengan wajah serius, telunjuk dan jempolnya menopang dagunya, lalu memiringkan kepalanya ke arah Nayuwan sambil menjentik-jentikan telunjuk pada pipinya.
Nayuwan mengdengkus kasar saat menyadari dirinya tengah menjadi bahan Ghibah adik dan bawahannya.
"Pcckk! Kalian lagi ngomongin apa sih?" hardik Nayuwan dengan nada kesal. Tak terima dirinya dijadikan bahan ghibah apalagi dirinya disanding-sandingkan dengan Gavin dan Rendra.
"Tapi neng,, bener juga lho,, tadi akang juga sampat berpikir gitu.. Mikir kalau sebenernya ini tuh acara lamaran neng Nayuwan bukan inaugurasinya Pak Gavin"sahut kang Lucky ikut nimbrung candaan kedua bocil tadi yang sekarang tengah cekikikan melihat kekesalan di wajah Nayuwan.
"Ini juga !! Apaan coba Kang lucky pake ikut-ikutan mereka, iish" sergah nayuwan sambil berbalik badan ke arah kang lucky dengan mimik wajah makin bete.
"Pokoknya kalo neng Yuwan nikah, harus akang yang jadi MUA nya. Ga boleh yang lain. Ok?" pinta kang Lucky dengan semangat 45. Nayuwan cengo saja matanya mengerjap beberapa kali menatap tak percaya pada ucapan Kang Lucky baruan.
"SETUJU !!" teriak Clara dan Gina yang bertingkah seperti bocil dengan kompak.
"Apaan sih kalian tuh?? Iih ?! Boro-boro nikah, pacar aja ga ada"dengkus Nayuwan tertunduk dan cemberut, merajuk karena terus-menerusan di goda oleh mereka bertiga hingga hingga akhir.
__ADS_1
Dua jam berlalu, tiba saatnya acara di mulai,
Para petugas keamanan hotel dan EO kompak berpakaian formal lengkap dengan earphone di telinga mereka masing, mereka mulai sibuk melakukan metal detektor kepada tamu undangan yang satu persatu mulai berdatangan, mereka juga melakukan pengecekan scan barecode yang tertera pada undangan. Hal ini penting dilakukan mengingat banyak dari para tamu undangan adalah bukan orang-orang biasa, banyak sekali kalangan atas yang diundangan dalam perhelatan malam ini, agar semua berjalan kondusif terkendali maka pengamanan pun dilakukan dengan ekstra ketat agar menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
"TING !!"
Pintu lift terbuka segara, Nayuwan masih berdiri sambil menekan tombol litf untuk mempersilahkam yang di dalam lift bisa keluar dengan nyaman, menunggu beberapa saat sampai menyisakan beberapa orang yang mungkin satu tujuan dengan dirinya menuju venue inaugarusi diadakan.
"Eh eh,, liat deh wanita yg di depan itu, cantik banget kan, artis bukan sih" bisik salah seorang pengguna lift yang kagum dengan kecantikan paripurna ditambah dengan riasan kang Lucki Nayuwan nyaris sempurna.
Nayuwan yang mendengar apa yang mereka bisikan tentang dirinya. Dia hanya tersenyum bangga akan dirinya sendiri.
"TING !" pintu lift terbuka tepat di area venue acara. Nayuwan berjalan dengan penuh percaya diri, mungkin efek dari hasil riasan kang Lucky dan dipadu dengan balutan gaun ia kenakan begitu cantik dan pas di tubunya, sehingga membuat dirinya terlihat lebih elegant. Senyuman ramah selalu terlukis manis saat dirinya memasuki venue.
Hampir semua mata tertuju menatapnya dengan decak kagum. Beberapa karyawan FJC sengaja mendekat padanya untuk sekedar menyapa. Beruntung bagi mereka baik Nayuwan, Clara atau Gina adalah orang-orang cukup terbuka untuk beramah tamah, mereka tetap menyambut setiap sapaan dengan bersahaja meskipun beberapa diantara dari orang-orang itu sama sekali tidak mereka kenal. No *jaim-jaim* lah.

Netra Nayuwan berpendar mencari sosok yang sebenarnya enggan dia sapa, tapi tetap wajib dia sapa karena dia adalah tuan rumah perhelatan akbar ini. Jika bukan karena dia memiliki *privilege* sebagai salah satu pemilik saham di perusahaan Gavin tentu hari ini dia belum tentu bisa langsung bercengkrama dengan beberapa pejabat, artis dan juga mendapatkan pengalaman berbagai ilmu dari para CEO yang hadir dalam acara ini dengan instan. Langkahnya terhenti sejenak, saat dirinya mendapati sosok Gavin yang di cari awal masuk ke venue, lelaki itu tengah mengobrol dengan beberapa orang pria yang mungkin kolega perusahaan pikir Nayuwan. Pikiran Nayuwan tak sepenuhnya salah, sebab memang Nayuwan tak begitu memperhatikan Gavin tengah berbicara dengan siapa.
Gavin sekali tersenyum dan mensesap *champagne* ditangannya. Namun sepertinya Gavin tak begitu menikmati obrolan tersebut,ternyata yang jadi pembahasan adalah Gavin yang sampai saat ini masih enggan untuk menikah, padahal usia sudah mau memasuki usia 38tahun. Angka yang cukup matang untuk seorang bujangan pastiya.
"Iya nih, ngga tau kapan Gavin mau kasih saya cucu, padahal saya juga sudah ingin menimang cucu dari Gavin" celoteh Dewa, Ayah Gavin pada para koleganya. Gavin hanya tersenyum miring sambil menikmati *Champagne* ketika mendengar kelakar tersebut tanpa memberi komentar apapun.
Tak sengaja ekor matanya menangkap sesosok wanita berhijab tengah berjalan menuju ke arahnya. Untuk sesaat Gavin mematung menatap tanpa berkedip, Nayuwan terlihat anggun dan elegant dengan balutan gaun tersebut. Namun itu tidak berlangsung lama, wajahnya kembali berubah suram saat melihat wanita itu sesekali bertegur sapa dengan para tamu undangan lainnya.

Nayuwan menyiapkan dirinya yang sedikit gugup, beberapa kali ia menghela nafas dalam dan panjang, baru kemudian membusungkan d\*\*anya, agar tubuh dan kepalanya menjadi lebih tegap dan lebih percaya diri sebelum dia melangkah ke arah Gavin yang tengah mengobrol bersama dengan beberapa orang pria di sana.
__ADS_1
Gina dan Clara dengan setia mengekori langkah Nayuwan. Senyuman lebar dan manis ia sengaja kembangkan saat dirinya makin mendekati Gavin, sambil sedikit membungkuk Nayuwan menyalami Gavin dan beberapa pria yang sedang bercengkrama itu dengan penuh penghormatan takzim.
"Halo, selamat malam Pak Gavin, Pak Dewa, Pak Danar,dan..."kalimatnya terhenti dirinya memang tak mengenal pria bule di samping Pak Danar.
"Perkenalkan saya Gareen, dan ini kartu nama saya, jika nona berkenan silahkan hubugi saya" sambut pria bule itu memperkenalkan diri sambil menjabat tangan Nayuwan dengan ramah dan sopan. Merekapun saling bertukar kartu nama dan saling memuji penampilan masing-masing.
"Anda sangat cantik sekali malam ini bu Nayuwan" puji Pak Danar
"Berarti sebelum-sebelumnya saya tidak cantik ya Pak?" timpal Nayuwan dengan senyum terkulum.
"Pck bukan begitu bu, tapi malam ini auranya ibu sangat berbeda, seperti aura seseorang yang sedang mau di lamar, apa jangan-jangan saya ketinggalan berita baik?"selidik Pak Danar.
"Tuh kan bu, apa saya bilang, ibu malam ini kaya mau dilamar, aura cantiknya kebangetan" celoteh Gina ikut bersuara, sedang Clara lagi-lagi harus mengulum tawanya.
"Apaan sih kamu? " Nayuwan menghardik bawahannya sambil melempar tatapan tajam pada Gina, kemudian tersenyum sungkan pada Pak Dewa, Pak Danar, Mr. Gareen ,berikut Gavin yang masih menatapnya. Mereka yang pun tertawa saat mendengar celotehan Gina, Nayuwan meringis sungkan karena ulah Gina yang terkadang mulutnya sulit di rem.
"Jadi bener bu?" goda Pak Danar.
"Pck, tidak ada kok pak, saya masih betah sendiri, siapa yang mau menikahi janda beranak dua seperti saya ini, jaman sekarang sangat sulit menemukan ayah sambung yang tepat untuk kedua putri saya yang banyak maunya" jelas Nayuwan dengan senyum manis yang selalu terkembang di bibirnya.
Baik Dewa, Danar dan Gareen pun hanya mengangguk, mereka kagum dengan kemandirian juga menghargai kejujuran Nayuwan mengakui dirinya seorang *singleparent* yang memiliki 2 orang putri yang sudah beranjak remaja,mereka hanya tersenyum tanpa memberi komentar apa-apa lagi, karena sebagai orang bijak mereka sangat faham bagaimana sulitnya menjadi *singleparent* seperti yang Nayuwan jalani selama ini.
Harus menjadi pengganti tulang punggung, sekaligus menjadi ayah untuk anak-anaknya dari usia muda tentu bukan hal yang mudah untuk dijalani. Tidak etis rasaya bila membahasnya lebih jauh lagi mengingat hal itu adalah *privasi* Nayuwan yang sedikit sensitif jika dibahas.
Tatapan Nayuwan kembali pada Gavin yang sejak tadi hanya menyimak.
"Oh Iya Pak Gavin, saya ucapkan selamat atas pengukuhan jabatan barunya, semoga makin sukses dan para karyawan/karyawati yang bekerja di bawah naungan perusahaan bapak semakin sejahtera" ungkap Nayuwan tulus pada Gavin.
"Oh ya, terima kasih banyak. Saya juga berharap melalui acara ini anda bisa menjadikannya sebagai ***kesempatan emas*** jarang-jarang bukan anda bisa hadir di acara semacam ini" ujar Gavin dengan sedikit penekanan. Seketika kening Nayuwan mengernyit, raut wajah Nayuwan yang tadinya ramah berubah suram, dia tertunduk sesaat, kemudian netranya menyipit pada Gavin dengan tajam. "*Cih* ! *mulai ngajak ribut nih si kampret*" cebik Nayuwan dalam hati, dia tahu Gavin melakukan hal itu untuk menjatuhkan harga dirinya secara halus dihadapan ayah dan koleganya. Nayuwan menghela nafas dan kembali mendongak memiringkan sedikit kepalanya tetap dengan tatap menusuk pada Gavin.
"Oh sudah tentu pasti, saya akan gunakan dengan sebaik-baiknya, karena saya memang harus ***menambah air dan menambah sagu*** . Dan saya rasa bisa berkenalan dengan Mr. Gareen mungkin adalah hal yang sangat baik untuk perusahaan rintisan saya ke depannya." balas Nayuwan tanpa menunjukan raut sungkan lagi pada Gavin, lalu mengerling serta melempar senyum manis pada Mr. Gareen yang langsung mengacungkan gelas *Champagne* di tangannya tanda dirinya tengah tersanjung oleh pujian Nayuwan.
"Ya semoga jangan sampai ***seperti Belanda meminta tanah*** saja" cibir Gavin tersenyum miring pada Nayuwan. Sedang Pak Danar, Pak Dewa, dan Mr. Gareen saling berpandangan satu sama lain dengan dahi berkerut dengan tingkah dua orang berbeda jenis kelamin itu. Sedang Clara dan Gina hanya menghela nafas pasrah.
"*Duh ampun ini masa mau berantem lagi, padahal kemarin gue kira mereka bakal jadi rukun selamanya*" gumam Gina kecewa padahal dirinya sudah ngeship bossnya itu dengan Gavin.
"Oh tentu tidak akan, toh selama ini saya sudah menjadi ***harimau yang menyembunyikan*** ***kuku*** bukan? "balas Nayuwan melempar *smirk* pada Gavin.
"Saya tidak sangka jika ibu Nayuwan ini begitu pandai ***bermain kata***" Gavin mendongak dengan wajah serius.
"Saya anggap itu adalah pujian untuk saya, karena biasanya ***gayung tua itu memang gayung pemutus***, benarkan Pak Dewa?" balas Nayuwan sambil melempar senyum manis kepada pria paruh baya yang mungkin usinya seumuran dengan ayahnya.
Pak Dewa pun tergelak seketika
"Sepertinya kamu menemukan lawan yang seimbang wahai anak muda" Pak Dewa menepuk-nepuk bahu Gavin sambil tersenyum miring pada Gavin yang kalak telak oleh Nayuwan. Gavin hanya mendesis sambil meminum habis *champagne* yang masih tersisa setengah dengan gusar.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
sarangheo ( ˘ ³˘)❤
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*\*"""